
Ayah Pembawa Masalah
Bab 3
"Kamu pikir kamu hebat karena jadi seorang akuntan? Kalau disuruh kerjakan saja, kenapa banyak bicara?" Dia menunjuk ke arah hidungku dan mengumpat, "Aku sudah susah payah mempertahankan hubungan baik dengannya, tapi kamu menghancurkannya begitu saja! Aku sudah bilang kepadanya kalau kamu bakal mengurus masalah laporan rekening itu!"
Aku berkata dengan berani, "Nggak mau, Ayah saja yang kerjakan! Kalau aku kerjakan dan polisi menemukan sesuatu, aku bakal dipenjara!"
"Mana mungkin bakal ketahuan semudah itu! Kamu saja yang malas!"
Ayah menyingsingkan lengan bajunya, mengangkat tangannya untuk memukulku lagi.
Pada saat itu, pintu terbuka dan ibu masuk bersama kakakku.
Aku berlari untuk bersembunyi di belakang ibu. Namun, begitu melihat amarah ayah, ibu justru mendorongku ke depan.
"Kamu bikin ayah kesal lagi? Kalau kamu akan dipukul, sana maju dan jangan melibatkanku!"
Sejak kecil, setiap kali ayah memukulku, ibu dan kakakku akan bersembunyi jauh-jauh.
Mereka takut akan terkena amarah ayah juga.
Aku sedikit bergidik.
Setelah mengetahui bahwa ayah memukulku karena aku menolak untuk membuat laporan palsu, kakakku juga mengerutkan kening. "Verlina, kamu saja yang nggak pengertian. Cuma bikin laporan palsu, kamu nggak akan mati. Kamu bikin malu Ayah, kamu memang pantas dipukul!"
Ibu melanjutkan, "Benar, jangan bilang kamu nggak bisa. Itu sama-sama pekerjaan akuntan, ibu tahu kemampuanmu."
Kata-kata ibu mengingatkanku.
Ayah sudah pensiun, tetapi ibu belum pensiun. Ibu baru akan pensiun dua tahun lagi.
Ibu adalah seorang akuntan di sebuah perusahaan milik negara.
Unit ibu memiliki tunjangan yang bagus dan gaji yang tinggi. Setelah kakak lulus, ibu melakukan semua yang dia bisa agar kakak juga bisa masuk ke tempat kerjanya.
Setelah aku lulus, dia takut aku akan mengambil pekerjaannya di unit mereka, jadi dia tidak bisa menunda pensiun.
Jelas-jelas aku berhasil lolos wawancara, tetapi dia menggunakan relasinya untuk menghapus namaku dalam daftar.
Aku mengepalkan tanganku saat memikirkannya.
Aku menatap ayah lagi dan langsung melunak, "Ayah, maafkan aku. Aku harusnya nggak bilang begitu di depan teman Ayah. Aku memang bisa mengerjakan laporan rekening itu, tapi aku nggak cukup berpengalaman, takut malah bikin salah. Pengalaman Ibu sangat luas, kenapa nggak minta Ibu saja buat mengerjakannya?"
Mendengar kata-kata itu, ayah mengalihkan pandangannya ke ibu.
Ibu menatapku dengan tatapan kosong.
"Endra, unit tempat kerjaku lagi sibuk. Laporan ini ...."
Sebelum ibu sempat menyelesaikan kalimatnya, ayah sudah menyela.
"Verlina benar, dia nggak cukup berpengalaman, kamu saja yang mengerjakannya."
Ibu baru akan mengatakan sesuatu, tetapi ayah memelototinya, membuatnya kembali menelan apa yang ingin dia katakan.
Bukan hanya meminta ibu menyelesaikan laporan itu, ayah juga hanya memberi ibu waktu satu malam untuk menyelesaikannya.
Malanya, ayah kesal karena ibu terus menyalakan lampu, jadi dia mengusirnya keluar.
Ibu menyelesaikan laporan rekening sepanjang malam di ruang tamu, terus menghela napas dalam prosesnya.
Dia juga tidak tahu cara menggunakan komputer, jadi harus menggunakan kalkulator.
Aku tidur sepanjang malam dan berangkat kerja dengan kondisi segar.
Ibu terlihat cemberut saat berangkat kerja.
Kemarin aku sempat melihat laporan rekening itu. Bukan hanya berantakan, tetapi juga harus disesuaikan. Kalau sampai ketahuan, bisa-bisa akuntan yang mengurusnya masuk penjara.
Namun, semua itu tidak penting lagi bagiku.
Selama akhir pekan, aku pergi ke luar kota.
Keluarga ini sangat mengerikan, jadi aku akan cari waktu untuk pindah.
Sepulang dari melihat-lihat rumah, aku berbaring di tempat tidur sambil berpikir untuk memilih rumah yang tepat.
Ketika mendongak, aku melihat bahwa satu set karya lengkap Jahdim hilang dari rak buku.
Itu adalah edisi kanonik, peninggalan teman baikku.
Untuk menjaganya agar tidak lapuk, aku bahkan sampai mengemasnya dengan baik.
Otakku langsung mandek dan aku langsung bergegas ke ruang tamu.
"Ayah, di mana koleksi lengkap Jahdim milikku?"
Melihat reaksiku, ayah terlihat terkejut, tetapi sikapnya kembali seperti biasa dengan cepat.
"Sudah aku kasihkan orang."
Aku menjaga amarahku dengan mengatakan, "Kasih ke siapa?"
Ayah berkata, "Apa pedulimu Ayah kasihkan ke siapa?"
Emosiku memuncak. "Dikasihkan ke siapa?"
"Aku kasihkan sama Ferdy." Ayah dengan dingin menatapku. "Kamu harus bersyukur karena Ferdy suka sama buku itu. Kalau nggak, kamu bakal menyinggungnya!"
"Kenapa memangnya kalau aku menyinggungnya? Dia bukan ayahku, kenapa memangnya kalau aku menyinggungnya? Buku itu pemberian temanku. Ayah memberikannya begitu saja, apa Ayah nggak memikirkan perasaanku?"
Setelah mengatakan ini, air mataku langsung jatuh.
Kemarahan dari dua kehidupanku langsung meledak.
Ayah terdiam selama beberapa detik dan berdiri, mengangkat tangannya untuk memukulku.
"Sial, kamu pikir kalau harga diri ayahmu nggak sebanding sama buku sialan itu? Beli lagi saja, apa susahnya, pasti dapat! Dua hari ini kamu selalu membangkang, jadi hari ini aku akan memberimu pelajaran!"
Saat ini, aku sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Aku bergegas ke dapur untuk mengambil pisau dapur, dan menebaskan pisau itu ke udara.
"Mau memberiku pelajaran? Kalau begitu aku akan membunuhmu. Jadi, hari ini kita berdua harus mati."
Kakak memelukku dari belakang dan merebut pisau itu dari tanganku dengan kekuatan yang luar biasa.
"Verlina, kamu gila! Kenapa menodongkan pisau ke Ayah? Kamu tahu sendiri bagaimana sifat Ayah. Kamu yang nggak menjaga barangmu dengan baik, kenapa malah nyalahin orang lain?"
Aku mengangkat mata untuk menatapnya.
Kakak tidak pernah membelaku ketika aku dipukuli dan hanya bisa berbicara sinis.
Kakak mencoba membela ayah hanya karena aku menodongkan pisau dapur kepada ayah.
Keluarga ini benar-benar menyebalkan.
Melihat mataku, kakakku mengerutkan kening. "Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu yang salah! Itu cuma buku, kenapa dibesar-besarkan begitu? Ayah suka memberikan sesuatu buat orang lain juga demi kebaikan kita, demi kebaikan keluarga kita."
Aku tertawa dingin. "Kamu berkata seperti itu karena barang itu bukan milikmu!"
Kakakku berkata dengan tenang, "Kalaupun itu sesuatu milikku, aku nggak akan keberatan."
Pada saat itu, ibu yang ada di kamar tiba-tiba menjerit keras.
Dia berlari keluar dengan membawa buku tabungan.
"Uang, di mana uangku?" Ibu panik. "Uangku hilang."
Kakak bertanya, "Uang apa?"
Ibu menjawab putus asa, "Uang buat beli mobil dan uang buat mas kawin."
Anda Mungkin Juga Suka





