Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Asa di Ujung Senja

Asa di Ujung Senja

Nada terpaksa menikahi cucu Ndoro Brata demi melunasi utang orang tuanya. Ia menjadi pengantin pengganti setelah calon istri Abian melarikan diri pasca kecelakaan yang membuat pemuda playboy itu buta. Abian yang dulunya urakan kini berubah menjadi sosok pemarah dan dingin kepada Nada. Di tengah sikap kasar sang suami dan tekanan besar dari keluarga konglomerat tersebut, Nada harus berjuang mempertahankan perannya dalam pernikahan yang penuh luka dan air mata ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Maaf, Nduk, jika kamu harus menanggung semua ini," kata seorang wanita paruh baya dengan air mata bercucuran, sambil mengusap dengan lembut punggung sang putri yang menangis di atas pangkuan.

"Tapi kenapa harus Nada, Bu? Nada baru saja lulus sekolah dan Nada juga masih ingin melanjutkan ngaji di pesantren, Bu." Gadis belia itu masih saja tergugu.

"Kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi yang bisa dijual untuk membayar hutang bapakmu pada Ndoro Brata, Nduk. Hanya ini satu-satunya cara agar keluarga kita bisa terbebas dari hutang yang kian lama, kian terasa mencekik." Bu Mul terdengar menghela napas berat.

"Lagi pula, keputusan bapakmu sudah bulat, dan tidak dapat diganggu gugat, Nduk. Beberapa waktu lalu, bapak sudah menyetujui pernikahanmu dengan Den Bian," lanjutnya seraya menyeka air mata yang terus saja menyeruak.

"Kenapa ndak Mbak Gina saja, Bu? Mbak Gina 'kan sudah dewasa dan sudah saatnya berumah tangga? Lagipula, bukankah Mbak Gina tergila-gila pada cucu bungsu Ndoro Brata itu, Bu?" Nada yang sudah mulai reda tangisnya, mendongak menatap sang ibu.

"Mana mungkin mbakmu itu mau, Da? Lagian, mbakmu itu cantik! Sayang, kalau gadis cantik seperti Gina harus menjadi pengantin pengganti untuk pemuda buta seperti cucu Ndoro Brata itu!" Sang bapak yang baru saja tiba di ambang pintu kamar Nada, menyahut. Suaranya terdengar begitu ketus.

"Apa? Bu-buta?" bibir Nada bergetar. Ingin rasanya, Nada tidak mempercayai apa yang barusan dia dengar.

"A-apa yang dikatakan bapak tadi benar, Bu?" tanya Nada hendak memastikan pada sang ibu karena sang bapak sudah keburu pergi dari sana, setelah mengatakan tentang kondisi pemuda yang akan menikahinya sore ini.

Bu Mul hanya bisa mengangguk, seraya menatap sang putri bungsu dengan tatapan sendu.

Air mata Nada kembali mengucur deras. Pilu hatinya mengetahui kenyataan getir yang harus dia terima. Sang bapak yang berhutang pada Ndoro Brata untuk berjudi dan mabuk-mabukan, tetapi dia yang dipaksa mengorbankan diri untuk menjadi pengantin pengganti bagi pemuda buta yang ditinggal kabur oleh calon istrinya, tanpa diberi kesempatan untuk mengenal terlebih dahulu pemuda tersebut.

"Sudah, Nduk, hapus air matamu! Sebentar lagi acara akan dimulai. Persiapkan dirimu untuk menjadi istri cucu Ndoro Brata," kata Bu Mul, setelah beberapa saat mereka berdua sama-sama terdiam.

Nada segera beranjak dari tempatnya bersimpuh di pangkuan sang ibu. Gadis belia itu lalu duduk di kursi rias dan merapikan riasannya dari sisa air mata. Sekuat hati Nada berusaha untuk tidak lagi menangis karena dia tak ingin membuat sang ibu semakin bersedih.

"Kenapa harus selalu aku jika itu mengenai hal-hal yang tak mengenakkan? Sedangkan untuk sesuatu yang membahagiakan, pasti Mbak Gina yang bapak dahulukan? Kenapa bapak selalu saja pilih kasih pada kami berdua? Bukankah, aku ini juga anak kandungnya?"

Nada bermonolog dalam diam. Tatapannya tertuju pada gambar dirinya yang ada pada pantulan cermin rias di hadapan. Tanpa terasa bulir bening kembali mengalir dari sudut netranya, setelah sang ibu keluar dari kamar, dan meninggalkan Nada sendirian.

Sementara di ruang keluarga, di rumah besar milik keluarga Ndoro Brata, semua orang sudah berkumpul termasuk sang mempelai pria. Acara akad nikah untuk Abian yang seyogyanya akan digelar secara mewah, tetapi akhirnya dilaksanakan secara sederhana karena pengantin wanitanya berganti, itu pun segera dimulai. Satu per satu acara berjalan dengan lancar hingga bacaan qabul terucap dari bibir pemuda yang saat ini tak dapat melihat karena kecelakaan akibat kebut-kebutan di jalanan.

"Saya terima nikah dan kawinnya Nada Assyifa binti Mulyono dengan mas kawin tersebut di atas, tunai."

Kata sah berkumandang ke seluruh penjuru ruangan, hingga dapat didengar oleh Nada yang masih duduk terdiam di depan meja rias, di kamar yang disediakan untuknya. Gadis itu pun kembali meneteskan air mata. Dia sama sekali tak menyangka jika saat ini statusnya telah berubah menjadi nyonya. Nyonya dari seorang pemuda yang sudah pasti tak pernah mengharapkan kehadiran wanita biasa seperti Nada dalam hidupnya.

Suara pintu yang dibuka dari luar, memaksa Nada menghapus air mata lalu berusaha untuk tersenyum pada Ndoro Putri Brata yang menjemputnya ke kamar.

"Tidak usah menangis dan sok bersedih! Kamu akan lebih enak hidup di sini, daripada di rumah orang tuamu yang sempit, dan hampir rubuh itu!"

Kata-kata wanita berusia senja yang wajahnya masih terlihat kencang karena rajin melakukan perawatan itu, mampu menggoreskan luka di hati Nada. Gadis belia itu pun hanya bisa menunduk dalam dengan bibir terkunci rapat, tak berani untuk bersuara. Melihat jika wanita belia di hadapan takut padanya, wanita berusia senja itu pun tersenyum jumawa.

"Ingat! Kamu dinikahi cucuku hanya untuk menggantikan mantan tunangannya yang kabur! Jadi, jangan pernah berharap jika keberadaanmu di sini akan diratukan layaknya seorang istri, dan menantu! Kamu itu hanya babu yang harus merawat Abian! Kamu sudah kami beli dari bapakmu yang pemabuk itu! Dan sebagai babu, kamu tentu harus bisa menempatkan diri!"

Sayatan tajam dari lidah Ndoro Putri Brata, kembali melukai perasaan Nada. Gadis berparas ayu itu pun hanya bisa kembali meneteskan air mata. Kepala Nada semakin menunduk dalam dan dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menatap wanita tua yang merupakan eyang dari suaminya.

"Ya, Rabb ... inikah takdir hidupku? Jika memang pemuda itu adalah jodoh yang Engkau kirim untukku, ikhlaskan hatiku agar dapat menerima semua ini."

Nada bahkan tidak berani meminta lebih pada Tuhannya dan hanya satu yang dia minta, yaitu keikhlasan hati.

"Ayo, keluar!" Suara Ndoro Putri Brata yang kembali meninggi, berhasil menyeret Nada dari lamunan. Pengantin wanita itu kemudian mengikuti langkah eyangnya Abian, menuju ke tempat acara dengan langkah lunglai.

Nada lalu dibimbing oleh sang ibu yang tadi menyusul Ndoro Putri Brata hendak menjemput sang putri ke kamar untuk menyalami Abian, pemuda yang baru saja mengucapkan qabul sebagai bentuk penerimaannya atas diri Nada.

"Maafkan ibu," bisik Bu Mul dengan suara tercekat di tenggorokan, sebelum Nada sampai di dekat pemuda buta yang saat ini telah sah menjadi suaminya. Wanita paruh baya tersebut menggenggam erat tangan sang putri, seolah takut melepaskan Nada untuk menjadi bagian dari keluarga besar Ndoro Brata.

Nada mengeratkan genggaman tangan sang ibu. Gadis bermata bulat itu tahu jika ibunya tak menginginkan pernikahan ini terjadi. Akan tetapi, wanita paruh baya yang telah melahirkan Nada itu tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

"Semua akan baik-baik saja, Bu," balas Nada, mencoba menenangkan hati sang ibu.

Selanjutnya, prosesi acara berlangsung secepat kilat. Tak ada pemasangan cincin kawin. Hanya Nada yang menjabat tangan sang suami dan menciumnya dengan takdzim, tanpa ada balasan kecupan di kening. Lalu mereka berdua melakukan sungkeman pada orang tua, yang terkesan hanya sebatas formalitas belaka.

"Aku lelah, bawa aku ke kamar! Aku mau istirahat!" Perintah Abian, setelah semua proses mereka lalui bersama. Suara pemuda itu terdengar begitu arogan.

Nada hanya dapat mengangguk, patuh. Wanita yang saat ini mengenakan kebaya putih lengkap dengan hijab berwarna senada yang menutup rapat kepalanya itu, lalu membimbing sang suami untuk ke dalam. Namun, setibanya di depan kamar yang Nada tempati, wanita belia itu menjadi bingung sendiri.

"Maaf, Den Bian. Aden mau istirahat di kamar mana?" Nada menyebut pemuda yang sudah sah menjadi suaminya itu dengan sebutan aden karena dia teringat dengan ucapan Ndoro Putri Brata bahwa dirinya hanyalah seorang babu untuk Abian.

"Tentu saja di kamarku sendiri! Memangnya, kamu mau membawaku ke mana? Apa ke kamarmu?" Abian yang berbicara dengan wajah yang mengarah pada Nada, terlihat sangat kesal.

"Kamu pikir, aku ini siapa, hem? Apa pantas, kamu membawaku ke kamar babu sepertimu?" lanjutnya yang terdengar begitu menyakitkan di telinga Nada. Wanita berwajah ayu itu pun hanya dapat menghela napas panjang untuk mengurai rasa sesak di dalam dada.

bersambung ...

🌹🌹🌹

Halo... Assalamu'alaikum semua 🥰

Ketemu lagi kita di lapak ini, setelah sekian purnama😄

Jika kalian syuka dengan cerita terbaruku ini, jangan lupa tinggalkan jejak, yah... Love dan komen 😊

Dan sambil nunggu cerita ini up kembali, mampir, yuk, di novelku yang udah tamat "Luka Lara". Terima kasih 🙏

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam dan kehilangan
9.1
Kebahagiaan Ardian, polisi muda berbakat, hancur seketika saat istrinya, Mira, tewas mengenaskan. Mira adalah wartawati kriminal yang terbunuh saat meliput kasus pembunuhan berantai yang tengah diselidiki Ardian. Di hadapan jenazah sang istri dan ayah mertuanya, Ardian bersumpah untuk menuntaskan misteri ini. Ia bertekad memburu sang pembunuh dengan tangannya sendiri demi membalaskan dendam atas hilangnya nyawa wanita yang paling ia cintai.
Sampul Novel FENGYING LIE
8.7
Kejadian tak terduga menimpa Fengying saat dirinya tiba-tiba diserang oleh dua pria misterius. Pukulan keras salah satu dari mereka membuatnya jatuh tersungkur hingga pergelangan tangannya terluka. Dengan penuh amarah, Fengying bangkit dan memaki pelaku yang menyerangnya. Namun, lawan justru memberikan ancaman mematikan. Mereka menuntut Fengying untuk segera menyerahkan pedang miliknya, atau nyawanya akan dihabisi di tempat itu juga tanpa ampun.
Sampul Novel I Love You, Om Bodyguard!
8.6
Demi melunasi utang sang ayah, Mayzura terpaksa menghadapi pernikahan dengan pria tua. Saat mencoba melarikan diri bersama kekasihnya, ia diselamatkan oleh Sadewa dari ancaman penjahat. Sadewa pun ditugaskan menjadi pengawal pribadinya hingga hari pernikahan tiba. Namun, kedekatan mereka justru memicu perasaan cinta yang tak terduga. Mampukah Sadewa melewati segala rintangan demi Mayzura? Lantas, apa rahasia besar di balik identitas asli sang bodyguard?
Sampul Novel Iblis Suci
9.1
Limdong tumbuh dalam kesendirian setelah orang tuanya tewas demi publik. Ia dikucilkan karena kekuatan dahsyat di tubuhnya sering meledak tanpa kendali, membuat siapapun tak berdaya melawannya. Demi mencari perhatian yang tak pernah ia dapatkan, Limdong sering bertingkah jahil, namun hal itu justru membuatnya kian dijauhi. Di tengah pengasingan sosial tersebut, ia memendam ambisi besar untuk menjadi Raja. Mampukah sosok yang dianggap aneh ini meraih mimpinya?
Sampul Novel Kafan Hitam
9.6
Desa Ciboeh mencekam usai Mbah Atim, sang penjaga makam, ditemukan tewas tanpa kepala. Tragedi ini memicu serangkaian teror mistis yang mengusik ketenangan warga. Rojali, seorang pemuda lulusan pesantren, bertekad membongkar misteri kematian tersebut. Penyelidikannya justru menyeretnya ke rahasia kelam masa lalu tentang warga yang hilang, kelompok misterius Kalong Hideung, dan takdir hidupnya sendiri. Di tengah kegelapan, sebuah tawaran bantuan gaib datang menghampiri.
Sampul Novel SANG MATAHARI
9.1
Menjelajahi hutan rimba yang sarat akan keajaiban serta aura penuh misteri, Aria Stormheart melangkah maju dengan penuh keteguhan. Sosok petualang pemberani ini membawa pedang bercahaya yang selalu setia tergantung di pinggangnya. Di tengah perjalanannya, Aria merasakan perpaduan antara gejolak kegembiraan dan rasa cemas yang menyelimuti hati. Setiap langkahnya di dunia fantasi ini menjadi bukti keberanian sang penjelajah dalam menghadapi segala tantangan.