Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Asa di Ujung Senja

Asa di Ujung Senja

Nada terpaksa menikahi cucu Ndoro Brata demi melunasi utang orang tuanya. Ia menjadi pengantin pengganti setelah calon istri Abian melarikan diri pasca kecelakaan yang membuat pemuda playboy itu buta. Abian yang dulunya urakan kini berubah menjadi sosok pemarah dan dingin kepada Nada. Di tengah sikap kasar sang suami dan tekanan besar dari keluarga konglomerat tersebut, Nada harus berjuang mempertahankan perannya dalam pernikahan yang penuh luka dan air mata ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Maaf, Den. Saya ndak tahu, di mana kamar Den Bian."

"Tepat di ujung lorong sana, itu kamar Abian! Bawa putraku ke kamarnya dan layani dia dengan baik karena mulai detik ini, kamu adalah budak yang harus melayani semua keinginan putraku! Termasuk urusan ranjangnya!"

Setelah berkata demikian, wanita paruh baya itu segera berlalu untuk melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti ketika melihat sang putra dituntun oleh Nada. Sementara wanita belia itu nampak meneteskan air mata, seiring kepergian wanita paruh baya yang merupakan ibu mertuanya, yang sama sekali tidak mempedulikan perasaan Nada. Nada merasap

begitu terhina, tetapi sayangnya dia tidak dapat berbuat apa-apa.

"Tidak usah menangis, Dik, karena itu percuma. Jalani saja peranmu sebagai istri adikku. Kamu boleh datang padaku jika kamu butuh sandaran, kalau ada yang menyakitimu."

Kata-kata yang kemudian diucapkan oleh seorang pemuda yang diyakini Nada sebagai kakak Abian karena mereka berdua memiliki garis wajah hampir serupa, membuat Nada sedikit merasa lega. Setidaknya, masih ada yang peduli pada Nada di rumah besar keluarga Ndoro Brata. Nada pun tersenyum pada pemuda yang baru saja menghampiri mereka berdua.

"Terutama, jika kamu merasa kesepian karena adikku tidak mampu memuaskanmu di atas ranjang," lanjut pemuda itu dengan senyuman seringai di wajah, yang membuat Nada seakan terjun bebas dari ketinggian, lalu terempas oleh kenyataan jika di rumah besar ini tak ada seorang pun yang sudi membelanya.

"Astaghfirullah ... kupikir, dia adalah orang baik."

"Kamu beruntung sekali, Bro. Istrimu cantik dan masih polos," kata pemuda itu kemudian, pada sang adik.

"Kalau Mas Aji suka, ambil aja. Bian juga enggak minat sama sekali dengan gadis kampung seperti dia. Bian 'kan terpaksa nikahi dia karena enggak mau membuat keluarga menjadi malu," jawab Abian tanpa merasa berdosa. Padahal, apa yang baru saja dia katakan berhasil melukai perasaan Nada.

Wanita belia itu pun semakin tertunduk dalam. Sehina inikah menjadi anak dari orang yang tak punya apa-apa hingga seenaknya mereka menginjak-injak harga diri Nada?

"Hem, really? Tapi aku enggak yakin kamu akan menolaknya jika nanti kamu bisa melihat lagi, Bro. She is so beautifull," puji Aji seraya melirik Nada yang masih tertunduk.

"Tidak ada gadis yang secantik Zizi, Mas!" tegas Abian.

"Ck ... dia lagi. Udahlah, Bro. Kamu itu harus bisa move on."

"Enggak semudah itu, Mas. Mas tahu 'kan aku dulu seperti apa? Hanya Zizi yang benar-benar mampu menaklukkan hatiku.

Perkataan Abian barusan tentang Zizi yang diyakini Nada sebagai mantan tunangan pemuda itu, yang kabur tepat sepuluh hari sebelum pernikahan, membuat Nada merasa semakin insecure berada di sana.

"Mbak Zizi itu pasti sangat cantik dan berpendidikan tinggi. Dia juga pasti berasal dari keluarga kaya, seperti keluarga Ndoro Brata."

"Kalau Mas Aji mau pakai dia, pakai aja, Mas. Mau malam ini juga, silakan," lanjut Abian, membuat Nada seketika mendongak menatap pemuda yang baru saja menikahinya dengan tatapan tidak percaya.

"Sip, lah, kalau begitu," sahut Aji cepat.

Nada menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak, Den! Sa-saya, saya bukan ...."

Aji tergelak melihat raut wajah Nada yang ketakutan. "Jangan khawatir, Manis! Aku bukan tipe pemaksa. Aku akan buat kamu jatuh cinta dan bertekuk lutut, lalu memohon sendiri padaku untuk kupuaskan."

Nada merinding mendengar perkataan Aji. "Sepertinya, kakaknya Den Bian ini orang yang sangat berbahaya. Aku harus berusaha untuk selalu menghindarinya."

"Maaf, Den Bian. Mari, saya antar ke kamar," ajak Nada kemudian, sengaja ingin menyudahi obrolan dengan Aji.

Nada buru-buru membimbing Abian untuk melanjutkan langkah menuju kamar pemuda itu. Wanita berwajah ayu tersebut terkesima ketika membuka pintu kamar yang berukuran luas dan melihat interiornya. Kamar Abian begitu mewah bak kamar hotel berbintang lima, yang pernah Nada lihat pada layar kaca di rumah.

Nada masih berdiri terpaku di ambang pintu ketika suara Abian membuyarkan lamunannya. "Aku mau ganti baju, cepat siapkan!"

"I-iya, Den," jawab Nada tergagap, lalu menuntun Abian untuk duduk di tepi ranjang berukuran besar yang polos tanpa taburan mawar, selayaknya ranjang pengantin baru.

Nada pun menyentil keningnya sendiri dengan pikiran yang baru saja terlintas di kepalanya. "Bagaimana mungkin ada taburan mawar? Aku 'kan bukan pengantin yang diharapkan oleh Den Bian."

"Enggak pakai lama! Siapa tadi nama kamu?" sentak Abian ketika Nada masih saja terdiam di dekatnya.

"Saya Nada, Den. Baik, akan saya siapkan segera."

Nada hanya bisa menghela napas panjang. Bagaimana mungkin pemuda yang sudah menjadi suaminya itu melupakan nama yang tadi Abian sebutkan ketika mengucap kata qabul saat akad nikah? Sekali lagi, Nada harus menerima kenyataan jika kehadirannya di rumah besar ini bagai serpihan debu yang tak berarti apa-apa, bahkan tak terlihat.

Setelah menyerahkan pakaian ganti untuk Abian, Nada lalu berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Akan tetapi, langkah Nada terhenti di ambang pintu bertepatan dengan hadirnya seorang pelayan di rumah besar keluarga Ndoro Brata.

"Ada apa, Bu?" tanya Nada pada wanita berusia sekitar 40 tahun itu.

"Maaf, Den. Bibi disuruh Ndoro Putri Brata untuk memindahkan pakaian Neng Nada ke kamar Aden." Bukannya menjawab pertanyaan Nada, pelayan itu malah berbicara pada Abian yang nampak mengerutkan dahi mendengar kedatangannya.

Sang pelayan lalu membungkuk hormat pada pemuda yang tak dapat melihat apa yang dilakukannya itu, sebelum masuk ke kamar Abian. Sepertinya, semua pelayan di rumah besar itu diharuskan untuk memberikan penghormatan kepada seluruh anggota keluarga Ndoro Brata.

"Maksud Bibi? Gadis kampung itu tidak mungkin sekamar denganku, kan?" tanya Abian dengan nada protes.

"Sebagai babu yang akan melayanimu 24 jam, dia harus tinggal di kamar yang sama denganmu, Nang. Itu semua demi kebaikan kamu," kata Ndoro Putri Brata yang menyusul ke kamar sang cucu.

"Terserah Eyang sajalah," kata Abian pada akhirnya karena setiap ucapan sang eyang adalah perintah yang harus dituruti oleh semua orang.

"Ayo, Mur, kita keluar! Biar dirapikan sendiri pakaian anak itu!"

Setelah kepergian Ndoro Putri Brata dan pelayannya barusan, Nada masih berdiri mematung. Gadis belia itu terlihat bingung, tak tahu apa yang harus dia lakukan. Nada memandangi koper berukuran kecil miliknya yang hanya berisi beberapa potong pakaian saja, yang barusan diantarkan pelayan.

"Maaf, Den. Apa boleh, saya menyimpan baju-baju saya di lemari?" tanya Nada kemudian yang terdengar ragu.

"Hem."

Nada menghela napas lega, meski hanya gumaman yang dia dapatkan dari Abian. Tanpa berkata-kata lagi, Nada segera merapikan pakaian miliknya di lemari yang masih kosong.

Setelah rapi, Nada segera menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Namun, di dalam kamar mandi wanita belia itu bukannya segera berganti, tetapi malah menangis. Nada menumpahkan segala kesedihan hatinya di sana.

Entah berapa lama Nada menangis, tahu-tahu kumandang adzan maghrib terdengar dari kejauhan. Nada pun buru-buru mengganti pakaian, lalu berwudhu.

"Maaf, apa Den Bian sudah sholat maghrib? Kita sholat berjama'ah, yuk!" ajak Nada dengan suara yang terdengar sangat lembut, tetapi tak ada respon apa pun dari Abian hingga beberapa saat Nada menunggu. Akhirnya, Nada pun menggelar sajadah di sudut ruangan, lalu sholat maghrib sendirian.

Nada pun melanjutkan dengan tadarus Al-qur'an ketika dilihatnya Abian sedang tidur. Nada mengaji sampai waktu isya' tiba, lalu lanjut mengerjakan sholat empat rakaat tersebut. Usai berdo'a dan merapikan mukena serta sajadah, Nada kembali dibuat bingung.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku menawarkan diri untuk melayani Den Bian?"

Meski pernikahan mereka berdua bukan karena cinta, tetapi kini Nada telah menjadi seorang istri, dan wajib baginya melayani jika Abian menginginkan. Begitulah yang Nada pelajari ketika masih mengaji di pesantren. Meski ragu, Nada kemudian berjalan perlahan mendekat ke arah ranjang.

Baru saja Nada berjalan beberapa langkah, terdengar suara ketus Abian yang membuat Nada kembali terluka.

"Kamu ingat 'kan, apa yang sudah mama dan eyangku katakan tadi? Kamu itu hanya babu yang harus melayani semua keperluanku! Maka, jangan pernah berani kamu menawarkan diri, apalagi menggodaku karena aku tidak tertarik padamu!"

bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam dan kehilangan
9.1
Kebahagiaan Ardian, polisi muda berbakat, hancur seketika saat istrinya, Mira, tewas mengenaskan. Mira adalah wartawati kriminal yang terbunuh saat meliput kasus pembunuhan berantai yang tengah diselidiki Ardian. Di hadapan jenazah sang istri dan ayah mertuanya, Ardian bersumpah untuk menuntaskan misteri ini. Ia bertekad memburu sang pembunuh dengan tangannya sendiri demi membalaskan dendam atas hilangnya nyawa wanita yang paling ia cintai.
Sampul Novel FENGYING LIE
8.7
Kejadian tak terduga menimpa Fengying saat dirinya tiba-tiba diserang oleh dua pria misterius. Pukulan keras salah satu dari mereka membuatnya jatuh tersungkur hingga pergelangan tangannya terluka. Dengan penuh amarah, Fengying bangkit dan memaki pelaku yang menyerangnya. Namun, lawan justru memberikan ancaman mematikan. Mereka menuntut Fengying untuk segera menyerahkan pedang miliknya, atau nyawanya akan dihabisi di tempat itu juga tanpa ampun.
Sampul Novel I Love You, Om Bodyguard!
8.6
Demi melunasi utang sang ayah, Mayzura terpaksa menghadapi pernikahan dengan pria tua. Saat mencoba melarikan diri bersama kekasihnya, ia diselamatkan oleh Sadewa dari ancaman penjahat. Sadewa pun ditugaskan menjadi pengawal pribadinya hingga hari pernikahan tiba. Namun, kedekatan mereka justru memicu perasaan cinta yang tak terduga. Mampukah Sadewa melewati segala rintangan demi Mayzura? Lantas, apa rahasia besar di balik identitas asli sang bodyguard?
Sampul Novel Iblis Suci
9.1
Limdong tumbuh dalam kesendirian setelah orang tuanya tewas demi publik. Ia dikucilkan karena kekuatan dahsyat di tubuhnya sering meledak tanpa kendali, membuat siapapun tak berdaya melawannya. Demi mencari perhatian yang tak pernah ia dapatkan, Limdong sering bertingkah jahil, namun hal itu justru membuatnya kian dijauhi. Di tengah pengasingan sosial tersebut, ia memendam ambisi besar untuk menjadi Raja. Mampukah sosok yang dianggap aneh ini meraih mimpinya?
Sampul Novel Kafan Hitam
9.6
Desa Ciboeh mencekam usai Mbah Atim, sang penjaga makam, ditemukan tewas tanpa kepala. Tragedi ini memicu serangkaian teror mistis yang mengusik ketenangan warga. Rojali, seorang pemuda lulusan pesantren, bertekad membongkar misteri kematian tersebut. Penyelidikannya justru menyeretnya ke rahasia kelam masa lalu tentang warga yang hilang, kelompok misterius Kalong Hideung, dan takdir hidupnya sendiri. Di tengah kegelapan, sebuah tawaran bantuan gaib datang menghampiri.
Sampul Novel SANG MATAHARI
9.1
Menjelajahi hutan rimba yang sarat akan keajaiban serta aura penuh misteri, Aria Stormheart melangkah maju dengan penuh keteguhan. Sosok petualang pemberani ini membawa pedang bercahaya yang selalu setia tergantung di pinggangnya. Di tengah perjalanannya, Aria merasakan perpaduan antara gejolak kegembiraan dan rasa cemas yang menyelimuti hati. Setiap langkahnya di dunia fantasi ini menjadi bukti keberanian sang penjelajah dalam menghadapi segala tantangan.