
Anything For You
Bab 2
[Andre]
Don’t do anything by half. If you love someone, love them with all your soul. When you go to work, work your ass off. When you hate someone, hate them until it hurts – Henry Rollins
Kutegakkan posisi dudukku, kursi di dalam pesawat yang kutumpangi tak sedikit pun membuatku merasa nyaman. Ingatan-ingatan berkabut berputar di dalam pikiranku, segala macam kejadian yang terkadang membuatku diriku sadar, aku sepertinya mulai atau memang sudah gila? Tubuhku sudah terlalu letih, lelah, dengan semua tanggungjawab serta beban yang entah kulakukan untuk siapa, yang aku mengerti, aku hanya ingin membuktikan kepada dunia, bahwa aku sanggup, aku mampu berdiri dengan kedua kakiku tanpa harus menyandarkan diri pada sebuah pilar.
Masih satu jam lagi sisa penerbangan, aku melirik ke arah pangkuanku, enam buah kotak berisi bapkia untuk seorang perempuan yang akan kutemui tak berapa lama lagi. Seorang perempuan yang tak pernah kujumpai sebelumnya, hal yang membuatku ingin menemui dia hanya karena perasaan bersalahku, sempat mengejek status facebook yang dibuatnya mengenai kematian. Sungguh, aku tak pernah berpikir bahwa apa yang ditulisnya adalah sebuah hal yang ‘mungkin’ benar adanya, dia baru menyelesaikan sebuah operasi pengangkatan tumor, itu yang dikatakannya beberapa hari saat aku mengirim pesan bbm kepadanya. Aku … Andre, yang sebelumnya tak pernah peduli pada apapun, entah kenapa bisa merasakan perasaan seperti ini kepada perempuan yang aku tak tahu apakah keberadaannya benar adanya.
Penerbangan yang seharusnya pukul setengah delapan pagi mengalami penundaan yang sangat menjengkelkan selama satu jam, aku tak mengerti mengapa mereka menunda penerbangan begitu lama? Apa mungkin para pilot dan pramugari saling asyik bercumbu terlebih dahulu sehingga harus tertunda seperti ini? Sudahlah, malas memikirkannya.
Di sebelah kananku duduk seorang lelaki tua, di sebelah kiriku duduk seorang gadis muda dengan pakaian yang sangat minim. Terbesit di pikiranku, apa gadis di sebelahku ini tahan dengan udara dingin di dalam pesawat nantinya? Pakaiannya benar-benar membuatku mendengus sinis, bahkan lelaki tua di sampingku pun mencondongkan badannya ke depan, memalingkan wajahnya, menatap gadis itu dengan kedua alis bertaut, apakah yang ada di pikirannya sama denganku? Gadis itu cantik, rambutnya panjang berwarna merah tembaga dengan ujung ikal, wajahnya tirus, hidungnya sangat mancung, bibirnya tipis dan tajam, sepertinya aku sudah bisa membayangkan jika dia berbicara pasti sangat ketus, kedua alisnya yang tebal, sekilas gadis tersebut mengingatkan pada seorang artis wanita yang cukup terkenal, tapi aku lupa namanya. Sepertinya dia berada pada situasi serta kostum yang tidak tepat, aku yakin dia pasti akan menggigil kedinginan nantinya, apalagi bagian bawah dia hanya mengenakan hot pants.
*
Aku berusaha memejamkan kedua mataku, memerangi rasa lelah yang teramat sangat, baik di tubuh maupun di dalam pikiranku. Seperti ini yang kurasakan, terkadang rasa hampa dan kosong datang menyerang secara tiba-tiba, kemudian berganti menjadi ingatan-ingatan yang sebenarnya sangat ingin kulupakan—setidaknya berusaha untuk melupakan—tapi tak semudah yang dipikirkan orang lain, semakin aku menginginkannya enyah dari dalam otakku, semakin kuat pikiran-pikiran tersebut menyerang diriku, membuatku diriku sadar … aku tak akan mampu melawan.
Terkadang, teringat kembali bagaimana kehidupanku dulu begitu menyakitkan, membuatku merasa dunia tak pernah adil, aku benci pada dunia, yang ada hanya kebohongan, dan pengkhianatan.
Dunia memang tak pernah tanggung-tanggung dalam mengubah kehidupan seseorang, meski harus melalui proses yang benar-benar menyakitkan, juga mengorbankan segala hal yang kaupunya; kebaikan, ketulusan, juga harga diri, menjadi; tak memiliki rasa.
Dia sudah mampu mengubahku, mengubah kehidupanku.
Dia mampu membuatku lupa siapa diriku yang dulu, yang membuatku enggan mengingatnya kembali.
Dunia juga mengajariku, tak ada yang bisa kaupercaya bahkan dirimu sendiri, sekuat apapun orang lain meyakinkan bahwa mereka itu terpercaya, seolah dunia berkata, ‘dirimu lebih jujur ketimbang orang lain, mereka berusaha kembali mengubahmu, kelak kembali membuatmu terjatuh lebih sakit’.
Aku bukan siapa-siapa, bukan seorang super hero, atau seorang terkenal yang selalu muncul di setiap adegan film atau bahkan pesohor yang dipuja-puja oleh para kaum-kaum musafir dengan pikiran-pikiran serupa khayalan miliknya. Aku hanya seorang lelaki biasa yang berusaha menjawab tantangan dunia padaku, aku ingin dunia menatapku, aku bisa berdiri tegak sedemikian rupa setelah ratusan kali merasakan pahit yang tak berkesudahan, bahkan aku akan membayar dunia atas perlakuannya beserta bunga deposito lebih di dalamnya, ya, aku akan membuatnya mengakui, bahwa aku bukanlah aku yang dulu, aku sudah benar-benar berubah.
“Sebentar lagi pesawat akan lepas landas, tolong sabuk pengamannya dipakai, Pak.” Seorang wanita dengan seragam pramugarinya mendatangi tempat duduku dan menyentuh pelan lenganku, hingga membuyarkan semua isi di dalam otak.
“Ok. Maaf, saya akan pasang seat belt kembali, saya tadi melamun, jadi tidak mendengar pengumuman.”
Pramugari hanya tersenyum, kemudian kembali berjalan ke kursi di belakangku.
Sebentar lagi, ya, sebentar lagi aku sampai, aku akan kembali melanjutkan kewajibanku di tempat ini, mengejar sesuatu yang membuatku berpeluh-peluh dan menyadari bahwa bersantai sejenak adalah sebuah kemewahan yang harus ditunda untuk sesaat. Aku tak ingin waktu berputar ke masa lalu, aku memang menikmati apa yang kujalani sekarang, meski pada akhirnya aku kehilangan diriku, seutuhnya….
Entah mengapa, aku memiliki perasaan jika dengan aku kembali ke tempat ini, ke Bali, akan ada sesuatu yang terjadi.
Di balik awan, aku melihat betapa kecilnya pulau yang beberapa saat lagi hendak disinggahi, bahkan pulau ini masih lebih besar ketimbang apa yang tersisa di hati, seandainya ada kata lebih tepat dari setitik debu, mungkin itulah yang kurasakan.
Seandainya aku tak menarik dirinya ke dalam duniaku, mungkin hal seperti ini sekarang tak akan pernah terjadi, aku yang bersalah di awal, menariknya kembali ke dalam duniaku, mampu membuatku mengubah diriku, membiarkanku menjadi sebuah permainan dan dunia beserta isinya pada akhirnya menertawakanku. Betapa tidak? Kau berusaha membuat dirimu diakui dengan segala daya dan upaya, meski dengan segala keterbatasan yang kau miliki, kau percayakan segalanya kepada Tuhan, kau bahkan memasrahkan seluruh keberadaanmu padanya percaya bahwa Tuhan akan membuat kalian bersatu selamanya, tetapi saat kau berjuang hampir ke titik nadir, sebuah tragedi menginjak harga diri dan keberadaan dirimu, sehingga kau terbuang dari asalmu, berusaha mencari tempat tersudut, melarikan diri dari kenyataan, meyakinkan hatimu bahwa yang kau dapatkan ‘mungkin’ saja sebuah mimpi, Tuhan pasti membangunkanmu. Setelah itu, kau sama sekali tak terbangun, karena kau memang tak pernah mendapat bunga tidur, di dalam sadar sesadar-sadarnya dirimu.
Dia menghancurkanku hanya dengan sebuah kalimat, yang membuatku sadar, jadi harga sebuah cinta dan ketulusan hanya sebatas rupiah, dan itu tak hanya terjadi sekali atau dua kali bahkan berulang-ulang. Sebuah kalimat yang mengubahku selamanya.
“Kenapa kau melakukannya?”
“Aku butuh uang!”
Saat itu dunia di sekitarmu tertawa dan mengejek, dan kau merasa, kau adalah orang paling naif yang memercayai arti sebuah CINTA.
Anda Mungkin Juga Suka





