Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anything For You

Anything For You

Andre memendam cinta mendalam pada Samantha, namun segalanya rumit saat pertunangannya di ambang kehancuran. Di tengah kebimbangan Andre, muncul Yansen, dokter yang merawat Samantha. Yansen jatuh hati dan berjanji akan setia mendampingi wanita itu dalam kondisi apa pun. Kini Samantha berada di antara dua pria dengan komitmen berbeda. Siapakah yang akhirnya berhasil memenangkan hatinya di tengah konflik emosional yang kian pelik ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari beranjak sore, keduanya—Andre dan Adriana—masih berkutat dengan pekerjaan masing-masing, keduanya membisu, meski sesekali, Andre mencuri-curi pandang ke arah Adriana. Andre tersenyum geli melihat Adriana menyempilkan sebuah bulpen di cuping telinganya.

“Bu Boss, lagi ada program diskon besar-besaran di toko daerah Mampang, aku disuruh ke sana buat ngurus display sama disuruh bawa banner plus nyari tukang buat nempelin stiker diskon di window display,” ujar Adriana tanpa ada yang bertanya sama sekali.

Andre mendongakkan kepala, manggut-manggut tanpa menyahut sedikit pun.

“Heh, denger nggak?” tanya Adriana sembari menaikkan satu alisnya. Adriana melepas ikatan rambutnya, rambut merah wine miliknya tergerai hampir mencapai pinggang, Andre kali ini menghentikan kegiatannya. Rambut berwarna merah dan panjang itu selalu mencuri perhatiannya, ada rasa yang sulit dikatakan oleh hatinya ketika melihat Adriana menggerai kemudian memuntir rambut panjang itu lalu mengikatnya serupa donat, yang memerlihatkan leher panjang dan putih miliknya. “Eh, Gunung Batu Es, loe dengar nggak yang gue omongin?!”

Andre hanya melirik, kemudian dengan sok malas dia menjawab, “Oh sekarang ‘gue’ sama ‘elo’? Jengkel ya nggak langsung dijawab?”

Adriana membulatkan mulut menyerupai huruf ‘O’ kemudian meringis kesal. “Iya, sekarang ‘gue’ sama ‘loe’, ada larangan gitu kalau aku ngomong begitu? Heh, situ dengar nggak yang barusan aku ngomong?”

“Dengar kok, itu kan pekerjaan kamu, urusan sama aku apa?”

“Nggak ada sih urusannya sama situ, cuma sekadar pemberitahuan. Aku … ehmmm, anu …, arggghhh!”

“Mau minta diantar? Bilang dong, gitu aja kok susah amat mau ngomongnya,” goda Andre. Gemas melihat ekspresi Adriana yang manyun-manyun, sembari mendelikkan kedua mata yang berbulu mata panjang dan tatapan sayunya yang terkadang mengusik Andre.

“Terus, mau nganter nggak?”

“Mager, Mbak. Jalan sendiri ya?”

“Oh shit! I shouldn’t asked you then! Aku—“

Ketukan di pintu menghentikan perdebatan mulut keduanya. Seorang wanita paruh baya, berdiri di depan pintu ruangan Andre dan Adriana, memegang beberapa berkas. Wanita paruh baya berambut pendek dengan highligh berwarna putih di tiap helai rambutnya—alias uban—membetulkan letak kacamatanya. “Bisa berhenti dulu adu mulutnya? Kalian berdua seperti anjing dan kucing, nggak pernah akur, jangan-jangan jodoh?”

“Nggak mungkin!” jawab Adriana. Ketus. Andre hanya tersenyum getir mendengar jawaban Adriana yang spontan tanpa basa-basi seperti peluru yang dilepaskan dari kokangnya.

“Okay, ada kabar bagus,” ujar wanita separuh baya itu.

“Kabar apa Bu Mariana? Kabar bagus apa ya? Kok feeling saya berasa nggak enak,” jawab Adriana.

“Besok pagi kalian berangkat ke Bali. Jadi malam ini, kalian lembur sampai pekerjaan selesai, karena Big Boss mau kalian segera mengerjakan project di Bali. Ehmmm …, tiket yang ada di kamu, Ndre, itu nanti kasih ke saya, mau diubah tanggalnya, harusnya kan lusa, nah jadi besok berangkatnya, so … yang tiket itu nggak berlaku,” jawab wanita paruh baya yang bernama Mariana, manager operational di perusahaan tempat keduanya bekerja.

“Hahaha, Ibu pasti lagi bercanda. Masa besok sih? Terus kami lembur? Berdua gitu? Anu Bu, kerjaannya boleh saya bawa ke rumah?” tanya Adriana sambil cengar-cengir kuda. So, feeling nggak enaknya memang jadi kenyataan pahit sepahit-pahitnya kopi tanpa gula.

“Nggak bisa, memangnya kalian kira lagi mengerjakan pe-er mau dibawa ke rumah segala. Harus kelar malam ini, Big Boss mau cek malam ini juga. Deadline nggak bisa diubah. Lagipula, Andre kan bisa membantu kamu. Oh ya, Andre, hari ini temani Adriana ke Mampang untuk ubah display dan pasang segala macam buat diskon gede-gedean. Sekalian kasih tahu SPG sama SPB di toko, promo apa saja yang akan ada di bulan ini sampai pertengahan bulan depan.” Titah Sang Maharani akan sulit ditolak oleh Adriana dan Andre mengingat perkataannya adalah sebuah ultimatum dan kartu mati yang tidak terbantahkan.

Andre hanya melengos mendengar perintah tak terbantahkan dari Mariana. Wanita paruh baya, berkacamata silinder, bertubuh pendek, dan senang memakai rok di atas lutut itu terkadang memberikan tugas yang bisa membuat keduanya mual-mual mendadak dan mengalami gangguan perut berkepanjangan seharian. “Siap, Bu. Perintah Permaisuri akan saya laksanakan dengan berat hati,” jawab Andre.

“Eh, kok berat hati? Kalian kan nanti dapat liburan dua bulan lebih di Bali, enak dong. Kayak gitu bukan disyukuri, perusahaan tuh membayar semua akomodasi kalian selama di Bali, yang penting kalau beli apa-apa pakai duit perusahaan, ada bonnya, ngerti?!”

“Hehehe, kayak gitu liburan? Aduh, Bu … kalau hanya saya sendiri mungkin saya bisa enjoy, ini kita berdua lho, berdua! Saya sama Si Gunung Batu Es, apa nggak bakal mati mendadak nanti?” protes Adriana.

“Udah, nggak usah membantah. Ini berkas yang harus kalian bawa ke toko, jangan lupa semua materi ada di situ. Ya sudah, saya mau balik ke ruangan saya dulu.” Mariana tak memedulikan ocehan-ocehan Adriana, dia meninggalkan ruangan keduanya sambil melenggang santai. Peduli apa, buatnya tugas adalah tugas, mau di Bali nanti keduanya saling bunuh-bunuhan, itu bukan urusannya, yang penting pekerjaan beres, dan Big Boss happy.

Seperti tersambar petir membayangkan apa yang akan terjadi nanti selama di Bali? Menghabiskan waktu berdua, dan tentunya bukan sebuah momen yang menyenangkan. Sarkasme berlebih, belum lagi kelakuan Andre yang membuatnya sakit kepala, dan hal menyebalkan lainnya, apa mungkin dia bisa bertahan dan hidup sampai nanti tugas keduanya berakhir? Ah, rasanya bukan sekadar migrain, mungkin tumor otak akan segera menyerang kewarasan Adriana.

“Kita berangkat sekarang?” tanya Andre datar, kedua tangannya sibuk merapikan seluruh peralatan yang berceceran.

“Jadi, besok pagi kita berangkat? Aku belum mempersiapkan barang-barangku, ini gila, Ndre.”

“Barang-barangku sudah siap tuh di mobil, tinggal bawa aja. Makanya jadi cewek bisa mengatur waktu dong, mengatur semua persiapan, dan—“

“Oh, jadi … menurutmu, aku ini nggak teliti, aku ini nggak bisa mengatur waktu, dan ceroboh, juga hal-hal buruk lainnya?” Adriana menggebrak meja dan berdiri, tensi darah mendadak meninggi. “Kamu itu benar-benar nggak punya perasaan ya, selalu merasa yang paling benar!”

“Lho kok marah? Adri, kenapa harus marah, aku kan …, terserah deh. Apa yang aku omong selalu kamu anggap sebaliknya, kamu selalu menelan mentah-mentah tanpa menyaring perkataanku, kan?”

“Huh? Kamu yang memulai, kamu memancing emosi. Ayo berangkat sekarang! Gerah aku lama-lama di dalam ruangan dengan keadaan kayak begini!”

“Kok gerah, kan ada AC,” Andre menjawab tanpa memedulikan wajah Adriana yang memerah karena kesal. Dia menunjuk ke arah AC dengan telunjuknya tanpa melihat ke arah Adriana.

***

Keadaan jalan di sekitar daerah Kota benar-benar membuat temperamen, kendaraan beroda dua dan empat saling berdesak, menghimpit, tak ada yang mau mengalah, bahkan kendaraan umum seolah ingin merajai jalan besar yang sudah sangat padat, bahkan sulit untuk bergerak. Klakson saling mengadu suara, menciptakan kebisingan yang bisa membuat orang-orang menyumpah serapah, saking kesal.

Andre dan Adriana hanya bisa menarik napas, menggeleng-geleng kepala menyaksikan kemacetan yang tiada duanya. Para penjaja asongan mulai bergerak dari satu mobil ke mobil angkutan umum lainnya, menawarkan jajanan, barang-barang murah, sambil sesekali berteriak mempromosikannya. Adriana melempar pandangan ke arah luar, dirinya tak sadar jika Andre terus memerhatikannya. “Buka jendelanya, aku mau menyalakan rokok, suntuk,” perintah Andre.

“Itu nyuruh?”

“Nggak, cuma memerintah. Bawel banget sih kamu, Adri. Tolong buka jendela ya, Batu. Puas?”

“Ya, ya, ya, Tuan Besar Berhati Es. Sudah saya buka, ehm … rokoknya sekalian mau saya nyalakan?” sindir Adriana.

“Oh baik sekali, iya, tolong dinyalakan ya, Mbak. Enaknya punya asisten kayak begini, nanti sekalian saya minta disuapin, boleh?”

“Iya, saya suapin pakai sekop, ya, Tuan?”—Adriana menyerahkan sebatang rokok yang sudah dinyalakannya—“jangan manja, nggak cocok sama mukamu yang dingin kayak gitu mau manja-manja. Duh, macet begini kapan sampainya? Belum lagi nanti balik lagi ke kantor terus lembur sampai kapan?”

“Nggak usah mengeluh. Kamu tahu nggak?”

“Nggak tahu, memangnya mau ngomong apa?”

“Ingat cita-citaku dulu, sewaktu kita masih kuliah? Kamu tahu kan, aku senang banget membuat gambar, mendesain sesuatu semauku, dan aku ingin memiliki usaha yang bergerak di bidang desain, apa mungkin ya?”

“Nggak ada yang nggak mungkin, Ndre. Suatu saat, kamu pasti bisa mewujudkannya,” jawab Adriana bijak. Ya, cita-cita dan apa yang dikerjakan Andre dan Adriana memang jauh dari jurusan yang mereka ambil sewaktu kuliah dulu. Andre yang pendiam, senang berkutat dengan kesibukannya sendiri, dia ingat Andre pernah membuat sebuah sketsa wajah miliknya dari pensil dan sampai hari ini, sketsa itu ada di dalam laci meja miliknya di kamar. Lagi-lagi hal itu mengingatkannya kepada Rey, cinta pertama yang membuatnya benar-benar sakit hati.

“Kalau aku sampai mewujudkannya, kamu mau bantu aku?” tanya Andre tiba-tiba, dan Adriana tahu, Andre tak bersikap nyinyir, kalimat yang diucapkannya barusan diucapkan dengan sungguh-sungguh.

“Aku akan bantu kamu. Tapi kenapa kamu meminta aku untuk membantumu?”

“Nggak enak nggak ada kamu, nggak ada yang bisa aku nyinyirin,” jawab Andre asal. Pernyataan barusan membuat Adriana ingin menampar wajah Andre dengan kotak tissue yang berada di atas dashboard.

“Oh … oh, kalau begitu aku nggak mau bantu kamu. Semoga mimpimu nggak pernah terwujud!” bentak Adriana.

“Doanya kok gitu? Seharusnya kamu nggak merusak mimpiku, kamu harusnya mendukung, dong. Kan, kalau kita punya perusahaan sendiri, nggak perlu diperintah orang, dan—“

“Tetap aja diperintah, situ kan senang main perintah,” celetuk Adriana memotong kalimat Andre.

“Ah, pegal uratku ngomong sama kamu. Hmmm… Adri,” panggil Andre lembut.

“Ya?”

“Kamu … masih mengingat Rey? Eh, jangan marah ya, aku nggak ada maksud bertanya apa-apa kayak gini. Apa benar, setiap melihat aku, kamu selalu teringat perlakuan Rey ke kamu?”

“Rey, sudah kubuang jauh-jauh dari benakku. Memang, setiap aku melihat kamu, sejenak rasa benci dan kesal itu muncul begitu saja. Entahlah, aku juga nggak mengerti, kenapa bisa seperti itu, Ndre. Oh ya, bisa mampir di tok roti dulu, kita ke Holland Bakery sebentar, aku lapar, boleh?”

“Iya, aku menepi dulu ya, mau cari yang bisa buat parkir mobil.”

Andre menepikan mobilnya, dan bergerak pelan, toko roti yang dimaksud tak begitu jauh dari tempat keduanya terjebak kemacetan, meski mereka harus meyeberang untuk mencapai toko tersebut. Adriana merasakan lapar yang teramat sangat, sejak tadi perutnya terus berdendang segala macam rupa lagu, rasa lapar itu membuat perutnya sedikit perih.

Langit sedikit mendung, sepertinya akan hujan lagi, belum lama langit terang bekas hujan di pagi hari, sekarang sudah mulai malu-malu dan berwarna kelabu. Andre sudah memarkirkan mobilnya di tepi jalan tepat di depan sebuah ruko. “Aku turun dulu ya.” Adriana membuka pintu diikuti Andre.

Keduanya bersiap untuk menyeberang, Adriana melangkah lebih dulu sambil membentangkan tangan—memberhentikan kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya. Adriana tak sadar sebuah motor ninja berkecepatan tinggi yang tak peduli jika jalanan sedang macet-macetnya menghajar dengan kasar, dan ….

“Minggir!” Andre langsung dengan reflek menarik tangan Adriana dan mendekap Adriana dengan tangan satunya. “Goblok! Nggak punya mata barangkali, nggak lihat ada cewek mau menyeberang!” maki Andre.

“Sorry,” ujar Adriana pelan. Jantungnya berdetak dengan cepat, tak bisa membayangkan jika saja Andre tak menarik tangannya, pasti motor tadi sudah menyerempet kakinya.

Andre masih mendekap Adriana sambil terus menyeberang jalan, dia tak sadar melakukannya.

Seandainya kamu bisa terus bersikap manis seperti ini, tentu urat-urat di leherku tak perlu menegang setiap saat berbicara denganmu. Ternyata, perhatian dan juga kebaikanmu yang dulu tak pernah berubah, Ndre.

“Kamu nggak apa-apa, Adri? Ada yang luka?” tanya Andre ketika keduanya telah sampai di depan toko roti. Andre langsung melepas dekapannya di bahu Adriana, dia baru sadar sejak di ujung jalan sampai di depan toko roti dia masih mendekap Adriana.

“I’m okay, Ndre. Thanks ya, kamu mau ikut masuk atau ikut ke dalam?”

“Kamu masuk aja, aku tunggu di luar. Jangan lama, sepertinya sebentar lagi mau hujan, aku nggak mau hujan-hujanan di tengah kemacetan, jadi cepat sedikit,” jawab Andre kembali dengan sifat ketusnya.

“Iya, bawel!”

Adriana melangkah masuk ke dalam toko roti. Andre menyandarkan tubuhnya ke tembok di depan toko, satu tangannya mengeluarkan sebungkus rokok, dan menyalakannya, satu tangannya mengeluarkan handphone di dalam saku kantong celana kerjanya. Beberapa SPG di toko sebelah mencuri-curi pandang ke arah Andre, Andre dengan masa bodoh tak mengacuhkannya. Tangannya sibuk mengetik sesuatu, Andre membuka profil facebook miliknya dan mengetik sesuatu di dinding laman miliknya.

Resah ini semakin menggeliat manja di dalam hati,

Ingin mendesah dalam sepi,

Namun … raguku menggoda,

Dia … selalu sudi hadir di dalam setiap lamunku,

Untukmu, aku tak pernah beranjak pergi.

Hanya satu paragraf yang diketiknya, kemudian Andre memejamkan kedua matanya, sembari menarik satu isapan rokok dan mengembuskan asap ke atas, terbawa angin kemudian lenyap. Gundah itu semakin menggoda hati, tak tahu harus berbuat apa, dia tak ingin mengusik bayang lalu yang sebenarnya membuat dirinya sakit setiap Adriana mengatakannya, sehingga ragu selalu menyerang dirinya. Andre tak pernah memperbolehkan Adriana untuk menambahkan dirinya di daftar pertemanan di facebook miliknya, sejuta alasan dibuatnya; jarang dibuka, jarang update status, facebooknya kurang menarik, dan malas meng-add cewek bawel dan nggak penting kayak dirinya—meski Adriana adalah seseorang yang sangat penting dan berarti untuk dirinya. Itu bukan sebuah bual, melainkan kejujuran yang tak pernah diungkapnya.

“Aku benci kamu, Adri,” gumam Andre pelan disela resahnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA DARI MASA LALU
9.5
Kehidupan Luwina hancur setelah ayahnya terseret korupsi. Terjebak di negeri asing tanpa harta, ia diselamatkan oleh Reyhan, pria yang mengaku sebagai kakak tirinya. Namun, kepulangannya ke tanah air justru memicu konflik baru. Luwina bertemu kembali dengan Hardin Putra Surawijaya, pria yang dulu menghancurkannya hingga hamil. Ironisnya, Hardin adalah sahabat Reyhan sekaligus suami dari Katrina, mantan kekasih kakaknya tersebut.
Sampul Novel Dear Clarissa
7.9
Dua tahun di Jakarta, Clarissa berjuang menjaga diri saat bekerja di dunia malam. Namun, misinya terancam sejak Arga hadir sebagai pelanggan tetap yang obsesif. Meski Clarissa benci laki-laki dan berusaha menjauh, kekuasaan Arga membuatnya sulit lepas. Arga harus berjuang keras menaklukkan hati Clarissa sambil menghadapi penolakan saudaranya yang memicu konflik besar. Akankah Clarissa menyerah pada pria yang kini terus menguntit hidupnya itu?
Sampul Novel Istri Bayaran Untuk Bos Galak
8.9
Keinginan Devan untuk memiliki Cecil kembali berujung pada ancaman yang sangat ekstrem. Meski masa kontrak mereka telah berakhir, Devan menolak melepaskan wanita itu begitu saja. Dalam suasana penuh tekanan, sang bos yang angkuh bersumpah akan menghamili Cecil agar ia tak bisa pergi lagi. Cecil yang ketakutan mencoba memohon, namun Devan justru semakin terobsesi untuk mengikatnya melalui kehadiran seorang anak demi mempertahankan hubungan mereka.
Sampul Novel Janda Lugu
8.4
Terlilit hutang akibat ditipu, Arka melarikan diri ke kampung halaman untuk menghindari kejaran rentenir. Di sana, ibunya justru menjodohkannya dengan Nilam, janda kaya raya. Arka pun berniat menikahi Nilam demi menguras hartanya. Namun, ketulusan Nilam perlahan meluluhkan hati Arka hingga ia menyesali niat busuknya. Saat rahasia terbongkar, Nilam yang kecewa justru meminta pernikahan formalitas belaka. Mengapa sosok yang semula lugu itu berubah drastis?
Sampul Novel KONTRAK CINTA DENGAN SAHABATKU
9.8
Qeiza Noura terkejut saat Arlando, sahabat masa kecilnya, mendadak mengajukan tawaran pernikahan tepat setelah ia putus cinta. Lewat sebuah perjanjian, mereka sepakat menikah selama satu tahun saja sambil tetap bebas mencari pasangan sejati. Namun, mampukah ikatan kontrak tersebut berakhir sesuai rencana awal, atau justru benih cinta yang tulus mulai tumbuh di antara mereka seiring berjalannya waktu? Sebuah kisah romansa tentang batas antara persahabatan dan cinta.
Sampul Novel Lupakan Aku
8.0
Sita terjebak dalam romansa indah bersama Raka, pria yang menjadi cinta pertamanya sejak masa kuliah. Hubungan mereka awalnya terasa sempurna dan penuh kebahagiaan. Namun, kenyataan pahit mulai muncul saat Sita menyadari jurang status sosial di antara mereka. Sebagai gadis dari keluarga sederhana, ia merasa terancam oleh posisi Raka sebagai putra pengusaha ternama. Akankah restu berpihak pada mereka, ataukah perbedaan kasta ini mengakhiri segalanya?