
Antara Cinta dan Benci
Bab 2
Kening Darma berkerut dalam. "Mengapa? Tinggalah dulu di rumah Papa selama satu dua hari, Gama. Setelah itu baru kalian boleh pulang," pinta Darma. Terlihat jelas sekali dari raut wajah Darma dan Jessi jika mereka berdua sangat menyayangi Hera.
Apalagi Jessi sedari tadi tak henti menggenggam tangan Hera. Seolah menguatkan wanita itu. Dan melihat itu membuat Gama mendengkus sebal.
"Kalian tidak pernah berkata semanis itu saat hari pertama pernikahanku dengan Karin!"
"Gama! Jangan lagi menyebut namanya di rumah ini!" seru Darma mengacungkan sebelah telunjuknya pada Gama yang berdiri di hadapannya sambil berpangku tangan.
Sementara Hera terkejut mendengar Darma yang sampai semarah itu begitu Gama menyebut nama Karin.
'Jadi benar. Gama sudah menikah sebelumnya dan nama istri pertamanya adalah Karin? Tapi kenapa sepertinya Papa Darma dan Mama Jessi terlihat tidak menyukai Karin?' Hera kembali bergumam dalam hati.
Hera merasa menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa di rumah ini. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi di antara Gama, kedua orang tuanya dan Karin.
"Hera! Kau ikut naik ke lantai atas bersama dengan Bik Asih ya," pinta Darma menoleh pada Hera dan menatapnya hangat. Hera paham jika sebenarnya Darma tidak ingin ia mendengar perdebatan di antara mereka.
"Baik, Pa." selayaknya menantu yang baik. Hera mengangguk dan berjalan menuju tangga. Namun langkahnya terhenti saat Gama kembali bersuara dan menyindir dirinya.
"Hanya karena ayah dari gadis itu meninggalkan sebuah wasiat, lalu Papa menjadikan aku korbannya! Aku terpaksa menerima pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan!" ucapan Gama terdengar penuh emosi. Membuat ulu hati Hera serasa diremas dengan tangan tak kasat mata.
Tubuh Hera membeku. Meski Bik Asih berkali-kali mengajaknya menaiki tangga, tetapi kedua kaki Hera seolah sudah dipaku. Tidak bergerak sedikitpun dari sana.
"Ayahnya Hera adalah sahabat Papa. Dia orang yang sangat baik dan Papa sangat berhutang budi padanya. Jika bukan karena jasa ayahnya Hera, kita tidak akan mungkin bisa menikmati hidup yang mewah seperti ini! Dulu perusahaan Papa berada diambang kebangkrutan dan hanya Ayahnya Hera yang menolong kita, Gama," papar Darma berusaha menjelaskan tentang jasa dari ayahnya Hera pada Gama.
Tetapi Gama menggelengkan kepalanya. Ia malah menyungginngkan senyum kecut. Seakan menganggap semua ucapan yang keluar dari mulut Darma tidak masuk akal.
"Aku baru dengar jika balas budi bisa dibalas dengan mengorbankan anak sendiri!" desis Gama membalas telak ucapan papanya.
Darma menatap putranya dengan mata yang membeliak. Ia tidak menyangka jika Gama akan berpikiran seperti itu. Padahal tidak sedikitpun Darma berniat menjadikan Gama sebagai korban. Tahukah Gama jika apa yang selalu Darma lakukan adalah demi kebaikannya?
"Kau memang tidak akan mengerti. Selamanya kau tidak akan pernah mengerti apa yang berusaha Papa lakukan untukmu, Gama. Karena dulu wanita itu sudah mencuci otakmu untuk membenci kami!" Darma meninggikan suaranya. Ia bahkan enggan menyebut nama Karin saking tidak sukanya dengan menantu pertamanya itu.
Gama mengepalkan tangannya. Amarahnya mendidih hingga ke ujung kepala. Ia tidak suka jika ada orang yang menjelek-jelekkan Karin. Karin adalah wanita yang sangat ia cintai. Meskipun saat ini wanita itu telah tiada.
Sedangkan Hera yang menyaksikan perdebatan di antara kedua orang itu hanya meremas pagar tangga dengan tangan kanannya. Hera dibuat semakin tidak mengerti dengan bagaimana Darma bisa sebenci itu pada Karin.
"Bagus. Aku memang tidak suka jika nama Karin keluar dari mulut kalian. Di hari pertama aku membawa Karin sebagai pengantinku ke rumah ini, bahkan sampai kematiannya, kalian tidak pernah menyukai dia. Kalian selalu memperlakukan Karin dengan tidak adil. Dia istriku! Dan sampai kapanpun hanya Karin yang pantas menjadi istriku. Bukan dia!" tegas Gama lalu ia mengarahkan telunjuknya pada Hera yang berdiri di anak tangga. Hera terhenyak melihat Gama yang kini menatapnya penuh amarah. Rahang lelaki itu terlihat mengeras seakan ingin menerkamnya.
Tetapi Hera hanya balas menatap datar lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Ia tidak ingin menunjukkan rasa takutnya. Gama hanyalah manusia sepertinya. Hanya saja bedanya, dia mungkin tak memiliki hati.
Setelah itu, Gama melangkah cepat menghampiri Hera. Merenggut tangan istrinya dengan kasar hingga membuat Hera sedikit meringis kesakitan.
"Aaakhh.."
"Gama! Kau mau kemana?! Lepaskan Hera! Jangan perlakukan dia sekasar itu!" Darma dan Jessi berseru panik melihat Gama yang berjalan keluar rumah dan menarik tangan Hera menuju mobil. Mereka mengejar langkah Gama dari belakang. Takut sekali jika Gama akan menyakiti menantu mereka.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan! Kalian tidak perlu ikut campur. Mulai sekarang aku ini adalah suaminya 'kan? Hhh... setidaknya begitulah yang terjadi," kata Gama yang masih saja menarik tangan Hera.
"Lepaskan tanganku! Aku bisa jalan sendiri. Tidak perlu kau tarik-tarik seperti ini!" Hera memberontak. Membuat Gama menghentikan langkah dan menatapnya dengan tatapan setajam elang.
Hera merasa tertohok ditatap seperti itu. Ia merasa seperti sedang berhadapan sedang singa yang lapar.
"Masuk!" perintah Gama menujuk ke arah pintu mobil. Hera menatap Gama dengan benci. Ia tidak pernah diperlakukan sekaras ini oleh kedua orang tuanya. Tapi sialnya Hera juga tidak bisa menampar Gama. Ia ingat jika lelaki itu sudah berstatus suaminya.
Anda Mungkin Juga Suka





