
Antara Cinta dan Benci
Bab 3
Akhirnya Hera memilih masuk dengan bibir yang terkatup rapat. Bik Asih memasukan koper milik Hera ke dalam bagasi. Sedangkan kedua orang tua Gama kini berdiri dan menatap cemas ke arah Gama yang masih berdiri di samping mobil.
"Gama! Perlakukan Hera dengan baik. Dia itu istrimu!" pinta Darma yang mencoba mengingatkan Gama tentang status Hera sekarang.
Gama mendengkus masam. Ia meremas kunci mobil yang ada dalam genggamannya. Lalu menatap Darma dengan dagu yang terangkat.
"Jangan khawatir, Pa. Menantu kesayangan kalian tidak akan lecet sedikitpun. Sebaiknya kalian berdoa saja agar aku tidak memperlakukan Hera sama seperti cara kalian memperlakukan Karin. Selamat malam!" ucap Gama sebelum ia masuk ke dalam mobilnya dan duduk di balik kemudi.
Begitu Gama duduk di sebelahnya, seketika Hera merasa suasana di dalam mobil terasa mencekam. Bahkan bulu kuduknya lansung berdiri. Padahal Hera tahu jika lelaki itu bukanlah setan atau semacamnya. Dia adalah manusia sama seperti dirinya.
Darma dan Jessi masih menatap khawatir pada mobil Gama yang kini sudah melaju meninggalkan pekarangan rumah.
"Pa! Mama takut jika Gama akan menyakiti Hera. Gama tidak mengerti jika Karin itu sering mencuci otaknya. Karin tidak sebaik yang ia pikirkan. Wanita itu terlalu licik. Jauh sekali dengan Hera yang polos dan lugu." Jessi meremas tangan Darma. Menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.
Darma mengangguk. Ia paham dengan apa yang Jessi rasakan. Diabaikan oleh anak sendiri pastilah membuat Jessi bersedih. Tetapi yang lebih Jessi takutkan adalah perlakuan Gama pada Hera nantinya.
"Berdoa saja, Ma. Semoga Gama segera bisa melihat kebenarannya. Dia telah banyak salah paham selama ini. Papa yakin meski semarah apapun Gama, dia tidak akan sampai hati menyakiti Hera secara fisik," balas Darma menarik pundak Jessi agar bersandar ke dadanya.
Darma berusaha menguatkan Jessi, padahal dalam hatinya sendiri, Darma mendesah penuh penyesalan.
'Maafkan aku, Tio. Sepertinya aku telah salah menerima wasiatmu. Hera harus menderita menikah dengan putraku,' batin Darma meminta maaf pada Satrio, ayah kandung Hera yang telah meninggal dunia.
***
Gama menghentikan mobilnya. Ia langsung disambut oleh para pelayan yang berdiri menyapanya.
"Selamat datang, Tuan Gama!" sapa mereka. Hera pun keluar dari mobil. Ia menatap takjub pada rumah Gama yang megah dan sangat luas. Bahkan menurut Hera, rumah ini lebih pantas disebut sebagai mansion.
Gama membenarkan kelepak jassnya. Ia menatap tegas pada seluruh pelayan yang menyambutnya, lalu melirik sinis ke arah Hera yang berdiri di sampingnya.
"Dia Hera. Mulai sekarang dia akan tinggal di paviliun bersama dengan kalian. Dan jangan sungkan memberikan pekerjaan padanya. Karena di sini dia tidak akan diperlakukan istimewa!" ucap Gama begitu lantang. Mata Hera dan semua pelayan yang mendengar itu langsung membeliak lebar.
Hera menoleh pada Gama dengan mata yang menyipit. Apa maksud lelaki itu? Hera akan tinggal di paviliun? Tunggu! Bukankah Hera adalah istrinya dan sudah seharusnya berada dalam satu rumah bersama Gama?
Para pelayan Gama tahu jika tuannya itu baru saja menikahi Hera. Mereka hanya bisa menunduk menatap pada kaki mereka masing-masing. Enggan berkomentar ataupun bertanya tentang mengapa Gama bersikap seperti itu pada wanita yang baru saja dinikahinya.
"Apa maksudmu? Aku tinggal di paviliun?" tanya Hera. Keningnya berkerut dalam.
Gama balas menatap Hera dengan mengedikkan bahunya santai. "Ya. Apa ucapanku tadi belum jelas? Kau akan tinggal di paviliun bersama dengan para pelayanku. Kenapa? Kau merasa keberatan, Hera? Atau kau ingin tinggal di rumah ini bersama denganku? Begitu, hmm?" tanya Gama menaikan sebelah alisnya. Ia memasang wajah mengejek pada Hera yang saat ini tercenung melihatnya.
"Jangan pernah bermimpi terlalu tinggi, Hera! Aku tidak mencintaimu! Mungkin kita memang sudah menikah. Tetapi jangan berpikir kalau aku akan sudi menyentuhmu! Hal yang paling mustahil kulakukan!" desis Gama mengangkat telunjuknya dan menekankan setiap kata-katanya pada Hera.
Gama ingin membuat Hera mengerti jika wanita itu tidak bisa masuk dalam kehidupannya. Gama ingin membuat jarak di antara mereka. Hera harus tahu, jika hati Gama lebih keras dari sebuah batu sekalipun.
Hera tidak membalas ucapan Gama. Tetapi ia hanya menatap bola mata lelaki itu dengan tatapan dalam. Mungkin Hera merasa sakit dalam hatinya atas ucapan lelaki itu. Tapi ia lebih memilih diam alih-alih membalas perkataan Gama yang menusuk hatinya.
"Diar!" teriak Gama memanggil salah seorang dari puluhan pelayan itu.
"Iya, Tuan Gama?" Diar bergerak menghampiri Gama dan berdiri di depan tuannya dengan kepala yang sedikit menunduk.
"Antar dia ke kamar yang masih kosong di paviliun. Dan biarkan dia membawa barang-barangnya sendiri!" perintah Gama.
"Baik, Tuan Gama." meski merasa tidak enak pada Hera yang seharusnya diperlakukan spesial di rumah ini karena ia adalah istri dari tuannya, tetapi mau tak mau Diar tetap menjalankan perintah Gama.
Diar mengajak Hera agar membawa kopernya dan mengikutinya ke paviliun. Sebelum pergi, Hera sempat melayangkan tatapan benci pada Gama yang balas menatapnya tajam. Gama tampak tak peduli jika Hera membencinya. Mungkin hal itu justru akan lebih baik bagi Gama karena Hera akan cepat pergi dan menyerah dalam pernikahan ini.
Anda Mungkin Juga Suka





