Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anakmu Bukan Anakku

Anakmu Bukan Anakku

Edwin Yogaswara terkejut saat dipaksa Gunadi untuk menikahi putrinya, Melati Anastasia. Kemarahannya memuncak ketika mengetahui Melati yang sombong itu ternyata sedang hamil lima bulan. Merasa dijebak dan ditipu mentah-mentah, Edwin harus menjalani pernikahan penuh tekanan ini dengan hati dongkol. Akankah benih cinta muncul di tengah ego mereka yang tinggi, ataukah rumah tangga ini hancur karena pengkhianatan? Ikuti perjalanan pelik mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bab 2

Edwin menghela nafas panjang karena memang tadi siang dia tak berdaya. Pantas saja tenaganya kalah jauh jika dibandingkan dengan empat orang itu, hingga untuk mengelak pun tak bisa.

Suasana di dalam kamar terasa canggung dan sedikit awkward bagi Edwin, tapi Melati terlihat begitu santai.

Melati sendiri asyik memainkan ponsel miliknya. Lalu Edwin pun melakukan hal yang sama. Mengambil benda miliknya dan memberi kabar pada keluarganya di kota tentang keadaanya.

Dua anak manusia berbeda jenis kelamin yang baru saja resmi menjadi sepasang suami-istri itu tidak memiliki niatan sedikitpun untuk memulai pembicaraan.

Edwin pun tidak terlalu menganggap pusing hal itu.

Dia lebih nyaman meski hanya ada keheningan seperti ini, karena dirinya adalah tipe orang yang tidak terlalu suka keramaian.

Sementara itu, Melati yang merasa sedikit kegerahan pun bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar di kepala ranjang setelah sekilas memperhatikan Edwin yang seperti orang sibuk.

Melati menyingkap baju tidurnya, baju tidur berbentuk piyama berwarna merah marun kesukaannya.

Wanita itu juga mencepol asal rambutnya hingga leher jenjangnya yang bersih terekspos sempurna. Di sampingnya, Edwin yang melihat kelakuan Melati hanya menghembuskan nafasnya, merasa terjebak di tempat yang tak seharusnya.

Dibawa secara paksa, pernikahan, ijab kabul, lalu berada dalam satu ruangan bersama wanita asing yang kurang punya sopan santun, itu terlalu aneh baginya.

Dan dia malas berurusan dengan wanita itu.

Melati mengambil kipas kecil lalu mengarahkannya ke mukanya. Saat itu Edwin menyadari sesuatu. Sesuatu yang terlihat sedikit aneh baginya dan sesuatu itu berasal dari Melati.

Ditatapnya wanita itu dengan raut wajah heran dan seksama, terutama pada perutnya yang terlihat membesar.

Melati menoleh padanya, dan mendelik.

"Kenapa heran begitu?" tanyanya ketus, saat Edwin menatapnya tidak percaya. Dia benar-benar kaget melihat apa yang terjadi.

Edwin mundur sampai ujung ranjang.

"Ka-kamu hamil?" ujar Edwin tanpa bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Laki-laki yang baru saja berstatus sebagai suaminya itu begitu syok melihat kebenarannya.

"Kenapa memangnya, kamu baru pertama kali melihat wanita hamil, hm?"

"Jadi benar kamu sedang hamil? Oh ya Tuhan, kenapa aku terjebak dalam pernikahan yang tidak sah ini." Edwin mengusap wajahnya kasar, saat Melati menatap sinis dan tajam ke arahnya.

"Sudahlah, lupakan hal itu. Kami sudah tahu sekarang, jadi aku tak perlu lagi menjelaskannya padamu. Tapi, tetap saja aku harus berterima kasih, bukan?"

"Kau benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa kamu sesantai ini, hm. Apa kamu tak merasa kalau kalian telah menjebakku? Jawab!?"

Melati melihat raut wajah terkejut begitu menatap mata suaminya yang tajam. Namun, dia tidak peduli pada Edwin sama sekali.

"Sudahlah, nggak usah lebay begitu. Kamu bisa pergi jika kamu mau. Lagipula acara pernikahannya sudah selesai dan aku tak memerlukanmu lagi di sini."

"Ap-apa?!" Ucapan Melati berhasil dalam membuat suami barunya itu syok berat dan membulatkan matanya yang memerah. Bahkan rahang lelaki itu sampai mengeras.

"Kenapa kamu lihat aku seperti itu? Kaget dengan apa yang aku katakan? Atau mungkin kamu terlalu terkejut? Harusnya kamu tahu kalau aku sedang hamil besar dan kamu tidak perlu heran karena ini adalah hal yang sudah biasa. Jadi tidak perlu kaget seperti itu," ujar Melati panjang lebar. Wanita muda pemilik rambut panjang kemerahan itu terbahak melihat ekspresi yang suaminya berikan.

"Kau benar-benar wanita yang tidak tahu malu." Melati menatap santai seolah tidak merasa bersalah sama sekali, bahkan tanpa ragu memperlihatkan bentuk tubuhnya, dan berputar di depan Edwin yang rampak mengepalkan tangan dengan wajah mengeras.

"Tapi kurasa, aku lumayan cukup menarik di matamu. Lihat."

"Cukup! Dasar kau wanita murahan!" Edwin mengemas kembali pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tas miliknya, tak lupa meraih ponsel yang tergeletak di ujung ranjang. Sementara Melati hanya diam memperhatikan tingkah laku lelaki itu yang sudah bisa dia tebak kalau Edwin akan segera pergi. Tapi, dia tidak gentar, karena yakin ayahnya tak akan diam saja.

Sungguh dia tidak merasa menyesal sekali mengatakan semua itu, lagipula mereka tak saling mengenal. Hanya saja, Melati patut berterima kasih pada ayahnya karena tak membuatnya malu di hari pernikahannya, dan jelas orang-orang tahu kalau dia sudah menikah, andai ada yang membicarakan seputar kehamilannya.

Edwin melangkah menuju ke arah pintu, dan berbalik sekilas menatap Melati yang bersedekap menatapnya dengan dagu terangkat.

"Pergilah, tunggu apalagi," ujarnya pongah tanpa merasa bersalah.

Edwin menghembuskan nafasnya kasar. Dia benar-benar tak habis pikir dengan wanita angkuh plus tak tahu diri. Ditambah ayahnya juga yang sama perangainya. Benar-benar satu turunan. Sama-sama angkuh dan tak tahu malu.

Edwin membuka pintu kamar dengan cepat, namun langkahnya terhenti karena terkejut, saat dua orang lelaki yang juga menyeretnya ke pelaminan tadi, tengah berdiri di sana dengan tangan memegang senjata tajam.

"Apa kalian sengaja menghadangku agar tidak pergi. Ck, benar-benar picik." Edwin berdecak sebal saat kedua orang itu mendekat.

"Kalian pikir aku takut. Majulah, sekarang tenagaku sudah pulih dan melawan cecunguk seperti kalian sangat kecil bagiku." Edwin menyingsingkan lengan baju dan bersiap menghajar, tapi urung saat keduanya malah menatapnya penuh tawa.

"Kamu mungkin tangguh, tapi bagaimana jika ibumu yang lemah itu yang merasakan pukulan senjata kami." Dikeluarkannya ponsel dari saku lelaki itu dan mengarahkannya pada Edwin yang wajahnya langsung berubah pias.

"Kalian?!" Edwin menatap nyalang dimana dua orang lainnya tengah mengawasi ibunya, persis di depan rumah wanita itu.

"Masuklah kembali, dan nikmati saja malam panjangmu!" Mereka berdua tertawa seolah mengejeknya.

Blug!!

'Sialan!!'

Edwin yang makin kesal menutup pintunya kencang, bahkan melati yang menonton di belakangnya, menarik sudut bibirnya ke samping.

'Kena, kau!' gumam Melati puas.

Edwin meremas rambutnya kasar, merasa menjadi laki-laki paling bodoh saat ini karena tak berdaya dan merasa dipermainkan oleh keluarga wanita itu, wanita yang berdiri angkuh, yang bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun.

Dalam hati, Edwin menarik semua ucapannya. Ucapan yang sudah dirinya katakan tadi. Tentang dirinya yang akan mulai mencoba menerima Melati dan juga menerima pernikahan ini. Namun, pada kenyataannya pernikahan ini hanya dilakukan oleh keluarga Melati untuk menutupi aib keluarga mereka sendiri tanpa peduli padanya walau dengan jalan dan cara apapun.

Keluarga Melati benar-benar licik dan tidak berperasaan.

Edwin menyugar rambutnya ke arah belakang dengan kasar. Dia benar-benar frustasi dan kesal.

Laki-laki muda yang rambutnya sudah acak-acakan itu pun berjalan gontai ke arah sofa yang ada di kamar itu.

Dan memutuskan membaringkan dirinya di sofa dan memejamkan matanya. Saat ini bukan hanya raganya yang lelah, tapi pikirannya juga.

Suara langkah Melati terdengar mendekat di telinganya, Edwin sigap membuka matanya kembali dan menatapnya tajam.

"Mau apa lagi, kau?! Jangan kau pikir kalau aku harus melakukan hal itu juga padamu. Kau mengerti maksudku?!" Edwin menatap tajam pada perut wanita itu, yang dia perkirakan sudah hamil lebih dari lima bulan.

Ck. Melati berdecak, lalu melempar bantal ke arahnya.

"Jika tak mau tidur satu ranjang denganku, setidaknya kamu memakai bantal untuk alas tidurmu. Lagipula siapa yang mau berhubungan denganmu. Jangan mimpi!"

Edwin kembali berbaring tanpa memperdulikan wanita itu yang saat berdiri semakin kelihatan bentuk tubuhnya yang seperti huruf 'D' besar itu. Bodohnya, Edwin tak menyadari hal itu saat mereka dipertemukan di depan penghulu.

"Dengar Melati, atau siapapun kamu. Aku merasa belum siap untuk itu dan aku pun bingung harus mengambil keputusan seperti apa. Tapi, akan kupastikan kedepannya kau dan keluarga sialanmu itu tak akan bisa memperalatku lagi."

Suara Edwin terdengar serius, tapi Melati masih bertahan dengan wajah angkuhnya. Sementara Edwin merasa seperti memakan buah simalakama. Semua keputusan akan membuatnya merasa dirugikan.

Di satu sisi, dirinya tidak bisa menceraikan Melati begitu saja karena wanita itu sedang hamil meski dia tak tahu entah anak siapa. Dan lagi, keduanya baru saja menikah, bahkan belum satu hari. Di sisi lain, dirinya juga tidak bisa bertahan dalam hubungan seperti ini. Ini sudah pasti merugikan dirinya. Apalagi saat melihat sikap Melati padanya. Wanita itu begitu angkuh, acuh, dan tak tahu malu. Bahkan seperti tidak merasa bersalah sama sekali.

'Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?' bisiknya Edwin dalam hati. Dia benar-benar kalut, kesal, marah dan juga benci bercampur satu. Tapi disaat seperti ini dia tak berdaya.

Tadi siang dia mencoba menerima dan pasrah. Mencoba menerima pernikahan terpaksa yang dilakukan. Namun, ternyata dibalik itu semua ada hal yang keluarga wanita itu tutup-tutupi. Benar-benar keterlaluan dan tidak memiliki perasaan.

Entah berapa jam lamanya Edwin terjaga tanpa bisa memejamkan matanya. Padahal jiwa dan raganya terasa sangat lelah.

Dia menghembuskan nafas panjang sambil melafalkan doa-doa. Edwin menoleh, menatap ke arah ranjang dimana Melati sudah terlelap dengan tenangnya. Tanpa merasa bersalah padanya karena secara langsung telah menjebaknya.

Edwin berbalik, lalu mencoba memejamkan matanya. Dia butuh istirahat sekarang, karena besok dia akan memikirkan masalah itu dan mencari solusinya. Yang terpenting sekarang adalah tidur. Mengistirahatkan pikiran dan raganya yang lelah. Hingga beberapa saat kemudian, Edwin benar-benar terlelap dan mengarungi pulau mimpi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Donat Penyelamat
8.9
Cita menjalani biduk rumah tangga penuh rintangan bersama Danang, pria yang terpaut sepuluh tahun lebih tua darinya. Badai besar menghantam saat sebuah kecelakaan tragis membuat kaki Danang lumpuh total. Kini, Cita terpaksa memikul beban sebagai tulang punggung keluarga sendirian. Tak hanya berjuang demi ekonomi, ia pun harus menghadapi penolakan keras dari mertuanya sendiri. Akankah cinta mereka bertahan dan menemukan kebahagiaan di tengah cobaan berat ini?
Sampul Novel Dua Sahabat yang Bercerai
8.7
Mely dan sahabatnya, Winda, memutuskan untuk menikah dengan dua bersaudara dari Keluarga Wicaksono yang kaya raya. Namun, di hari pernikahan mereka, Riko Wicaksono yang merupakan seorang dokter justru pergi meninggalkan Mely demi membantu mantan kekasihnya mencari anjing yang hilang. Kepergian Riko memicu serangan jantung fatal pada nenek Mely hingga meninggal dunia. Diliputi rasa duka dan kekecewaan mendalam atas sikap dingin suami mereka, kedua sahabat ini sepakat untuk mengajukan gugatan cerai, meninggalkan penyesalan mendalam bagi dua bersaudara Wicaksono.
Sampul Novel Invisible Rich Man
9.5
Davin, pewaris takhta bisnis global, memilih menyamar sebagai petugas kebersihan demi menemukan cinta yang tulus. Di Jakarta, ia bertemu Vania, wanita yang menerima dirinya apa adanya tanpa memandang status sosial. Meski Vania berhasil melewati berbagai ujian kesetiaan yang diberikan Davin, hubungan mereka kini menghadapi rintangan baru yang lebih besar. Keluarga konglomerat Davin muncul menentang keras kedekatan mereka dan berusaha memisahkan keduanya.
Sampul Novel Mas, aku lelah
9.0
Kayara Adeluwis terpaksa menikahi Steven Alexander demi menggantikan kakaknya, Kalisa, yang kabur sebelum pernikahan. Dua tahun hidup dalam ikatan tanpa cinta, Kayara gagal meluluhkan hati dingin suaminya hingga ia merasa sangat lelah. Namun, Steven menolak bercerai sebelum Kalisa ditemukan kembali. Terjebak dalam pernikahan penuh konflik dan gairah, mampukah Kayara lepas dari jeratan Steven, atau justru ia akan selamanya terperangkap dalam hubungan menyakitkan ini?
Sampul Novel Menikahi Ayah Kekasihku
8.0
Celeste terikat pernikahan paksa dengan pengusaha berkuasa, Dominic Mercer. Namun, hidupnya berubah menjadi petaka saat mengetahui bahwa suami barunya adalah ayah dari Adrian Mercer, kekasih rahasianya selama tiga tahun. Terjepit dalam rumah tangga dingin penuh rahasia, Celeste bimbang antara mengungkap kebenaran atau memendamnya. Jika pengkhianatan ini tercium oleh Dominic yang kejam, konsekuensi mengerikan telah menanti Celeste dan Adrian.
Sampul Novel Menjaga Jodoh Orang
9.1
Setelah lima tahun menjalin hubungan, Terry secara sepihak menunda pernikahannya dengan Candice. Di sebuah kelab malam, Candice justru menyaksikan Terry melamar Vivian. Terry berdalih tindakan ini demi mengabulkan permintaan terakhir Vivian yang sedang sakit, yakin Candice tidak akan pernah pergi karena cinta matinya. Namun, Terry keliru. Di hari pernikahannya dengan Vivian, saat Terry berusaha menyembunyikan rahasia tersebut, dia justru mendapati kabar bahwa Candice juga melangsungkan pernikahannya sendiri hari itu.