
Anak Rahasia Sang Kepala Mafia
Bab 6
Saat akhirnya aku kembali ke vila, para staf nyaris menangis lega.
"Bu! Syukurlah Anda kembali. Tuan Dario panik sekali beberapa hari terakhir. Apa pun yang kami lakukan tak pernah membuatnya puas. Dia tidak tidur, tidak makan…"
Suara mereka saling bertumpuk, penuh kegembiraan gugup, seolah ketidakhadiranku hampir menghancurkan seluruh rumah tangga ini.
Jadi memang begitu. Tanpaku, Dario kehilangan keseimbangan.
Akan tetapi, dia harus terbiasa. Sebentar lagi, aku akan pergi untuk selamanya, dan hidupnya hanya akan dipenuhi kesunyian yang kutinggalkan.
Aku tersenyum tipis, menenangkan staf, lalu melangkah masuk ke rumah. Vila itu gelap, tidak ada satu pun lampu yang menyala, hanya cahaya bulan yang retak menembus jendela.
Dario duduk di sofa, sosoknya seperti bayangan yang disayat cahaya pucat, profil tajamnya sulit dibaca.
Saat akhirnya dia menatapku, pandangannya terlalu lama tertahan. Suaranya rendah, menyimpan sesuatu yang tak bisa kusebutkan.
"Ke mana saja kamu?"
Aku melepas mantel, suaraku datar.
"Di pantai. Melukis."
Alisnya mengerut. "Sejak kapan kamu tertarik melukis?"
Bukan sejak kapan, tetapi selalu.
Aku dulunya murid berbakat, wanita yang pernah bermimpi ke akademi seni dan galeri, sebelum kesetiaan mengikatku pada nama Dario. Sebelum hidupku tenggelam oleh kerajaan Mahardika.
Namun, aku tak menjelaskan itu padanya. Aku hanya menuang segelas air dan menjawab ringan, "Aku menyukainya."
Dia mengusap pelipis, menghela napas.
"Soal malam di restoran, aku tak bermaksud meninggalkanmu. Arisa selalu rapuh, lemah. Aku tumbuh dengan melindunginya, jadi instingku..."
Suaranya tersendat saat aku diam saja.
"Kamu juga tidak menolak waktu itu," desaknya, sedikit kesal. "Lalu kenapa tiba-tiba menghilang? Kamu tahu Arisa sudah pindah ke apartemennya sendiri. Semua… itu sudah selesai. Jangan dendam soal hal sepele."
Sampai sejauh itu dianggap sepele?
Nada suaranya penuh teguran, seolah rasa sakitku hanyalah gangguan kecil. Seolah luka bakar di lenganku tak sepenting kepura-puraan Arisa yang rapuh.
Aku tak menjawab. Aku menoleh ke tangga, tetapi suaranya memecah kesunyian lagi.
"Viona."
Aku menoleh, dan untuk pertama kalinya, kulihat dia berdiri dengan goyah.
"Aku lapar. Buatkan aku pasta."
Aku mengangkat tangan yang dibalut perban, kain kasa tampak kontras di cahaya bulan.
"Lupa ya? Tanganku masih terbakar."
Ekspresinya berubah, sekejap terlihat… hampir seperti penyesalan. Namun, aku tak menunggu lebih lama. Aku berpaling dan menaiki tangga.
Keesokan paginya, dia menghentikanku di lorong, membawa sebuah kotak beludru.
Aku membukanya. Isinya perhiasan zamrud. Langka, berkilau, berat oleh kemewahan.
Dia membersihkan tenggorokannya dengan canggung.
"Soal malam itu. Aku… terlalu fokus pada Arisa. Seharusnya aku lebih memperhatikanmu. Anggap ini sebagai permintaan maafku."
Dadaku sesak. Lima tahun.
Lima tahun diam, acuh, diabaikan. Dan baru sekarang aku mendapat hadiah pertamaku darinya.
Bukan karena cinta, tetapi penebusan. Bukan untukku, tetapi untuk rasa bersalahnya terhadap Arisa.
Aku teringat ribuan hadiah yang tersimpan di kantornya, semuanya dipilih dengan cermat untuk Arisa. Tawa pahit hampir terdengar dari tenggorokanku, tetapi kutelan.
Aku sudah lama berhenti mengharapkan apa pun dari Dario Mahardika. Dan sekarang? Aku tak butuh permata itu.
Aku ragu sesaat, cukup hingga dia salah paham.
"Kalau kamu tidak suka… asistenku yang membelinya di lelang. Aku bisa cari yang lain."
Sebelum aku sempat menjawab, suara Serina terdengar saat dia masuk, menyeret Arisa bersamanya.
"Kak Dario, sudah kubilang Arisa tidak seharusnya pindah. Kamu terlalu mencintainya untuk membiarkannya pergi. Paling tidak, sering-seringlah mampir, ya?"
Dia masuk dengan Arisa di belakangnya, penuh canda riang.
Kata-katanya membeku di telingaku, lalu kotak beludru di tanganku menarik perhatiannya.
"Ya Tuhan! Dario, kamu benar-benar beli itu? Arisa tadi bilang dia sangat menyukainya!"
Hatiku jatuh.
Ternyata begitu. Bukan untukku. Tidak pernah untukku.
Pipi Arisa memerah, matanya menunduk dengan kesopanan yang dipelajari. Dan Dario ragu, pandangannya terselip ke arahnya, bukan padaku.
Zamrud itu berubah menjadi es di telapak tanganku. Hadiah pertamaku darinya, dan itu bahkan bukan milikku.
Aku menekan kotak itu ke tangan Arisa, suaraku tenang, tajam seperti memotong udara.
"Kalau itu untukmu, ambil saja."
Ruangan hening, terdiam.
Bibir Serina terbuka dengan senang, Arisa berkedip seolah tersengat, dan Dario kali ini tak menatap Arisa. Matanya menatapku, gelisah, hampir putus asa.
Namun, kerusakan sudah terjadi. Harapan sekejapku telah padam.
Di hatinya, Arisa akan selalu nomor satu. Apakah dia menyebutnya cinta atau kesetiaan, tak ada bedanya. Bagiku, rasanya sama saja.
Dan dalam kesunyian itu, aku tahu sesuatu telah bergeser tak bisa kembali.
Aku bukan wanita yang sama lagi.
Saat dia goyah, aku teguh.
Saat dia melekat pada Arisa, aku sudah melepaskan setiap ikatan yang menahanku di sini sedikit demi sedikit, diam-diam, tanpa riuh.
Paspor sudah siap, sketsaku digulung dan disembunyikan, tanggal-tanggal tertanam di pikiranku seperti hitungan mundur yang hanya aku dengar.
Dunianya bisa runtuh di sekelilingnya, tetapi aku tak akan menoleh ke belakang. Bukan karena lapar, bukan karena rasa bersalah, bahkan bukan karena cintanya. Karena apa pun yang mengikatku pada Dario Mahardika telah terbakar menjadi abu.
Anda Mungkin Juga Suka





