Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anak Rahasia Sang Kepala Mafia

Anak Rahasia Sang Kepala Mafia

Lima tahun mengabdi sebagai istri pewaris dinasti mafia Aropa, Dario Mahardika, wanita ini akhirnya menyerah karena suaminya selalu memprioritaskan Arisa. Ia pun pergi membawa koper, surat cerai bertanda tangan, dan kehamilan tiga bulan yang dirahasiakan. Saat Dario menyadari kehilangan ini, sang istri telah lenyap. Sang kepala mafia kini mengerahkan segala kekuasaan untuk mencarinya. Namun, wanita itu telah berubah menjadi ibu dan seniman tangguh yang tidak akan mudah memaafkan pria yang menghancurkan hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 7

Seminggu kemudian, akta cerai itu tiba.

Aku sudah resmi bukan lagi istri Dario. Setidaknya di atas kertas.

Belum ada yang tahu. Tidak Dario. Tidak saudara-saudaranya. Tidak juga para pemangsa yang mengelilingi kami di kalangan sosial. Hanya Tiana yang tahu. Untuk semua orang lain, aku masih Nyonya Mahardika. Tapi bagiku, semuanya sudah berakhir. Aku menghitung hari, melipat hidup lamaku ke dalam koper yang tak seorang pun sadar sudah mulai kupersiapkan untuk pergi.

Tepat ketika aku menarik risleting terakhir, terdengar ketukan di pintu. Asisten Dario berdiri di sana, membawa gaun adibusana. Pesan itu jelas. Aku diharapkan hadir di acara keluarga. Sekali lagi, pertunjukan terakhir.

Aku menatap gaun itu dan hampir tertawa.

Secara hukum, aku bebas. Secara emosional, aku sudah pergi. Namun, malam ini, aku tetap akan mengenakan status sebagai istrinya. Karena Tiana, ibunya, selalu memperlakukanku dengan baik, dan masih ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan sebelum benar-benar menghilang.

Ruang pesta bersinar dengan lampu gantung emas dan tawa yang tipis seperti kaca rapuh. Anggur berkilau di gelas kristal, janji-janji hancur setiap kali bersulang. Dan Arisa berdiri di tengah semuanya, memesona, dikagumi, tak tersentuh.

Para sosialita mengepungnya seperti ngengat pada api.

"Arisa, Dario pasti terobsesi sama kamu," kata salah satu dengan kagum.

"Kalung zamrud itu dibeli langsung dari Satheby. Dia memperjuangkannya habis-habisan."

"Dan ingat waktu di sekolah? Dia menunggumu setiap hari. Saat kamu mengabaikannya seminggu, dia hampir gila, minta saran ke semua orang hanya untuk mendapatkanmu kembali…"

Tawa mereka bergema seperti pecahan kaca.

Dan aku berdiri di sana, tak terlihat, memegang rahasiaku, yaitu akta cerai yang tersembunyi, pengetahuan bahwa aku akan segera menghilang, meninggalkan mereka semua.

Aku berdiri di pinggir, tak terlihat, mendengarkan orang asing menceritakan pengabdian suamiku pada wanita lain.

Aku mengeluarkan ponsel, menghitung waktu menuju penerbangan. Tiga jam. Jika aku berangkat sekarang, aku bisa sampai tepat waktu.

Namun, keheninganku justru membuat mereka melihatku seperti orang lemah. Tak lama kemudian, Serina dan rombongannya mendekat, senyum mereka manis tetapi penuh sindiran.

"Viona." Serina bersuara manis. "Bertahun-tahun menikah dengan kakakku, apa yang bisa kamu tunjukkan? Berdiri di sini, melihat dia bersama wanita yang benar-benar dicintainya."

"Jangan menipu diri sendiri deh. Dia menikahimu hanya karena Arisa pergi. Kamu hanya pengganti, penutup luka yang hanya bisa disembuhkan Arisa."

"Kamu seharusnya pergi bertahun-tahun lalu."

Aku berbalik pergi. Tak ada waktu untuk melayani kebiadaban mereka. Namun, salah satu dari mereka mendorongku dengan keras.

Dunia berputar.

Aku menabrak menara gelas anggur di belakang. Pecahan kaca berdering, cairan emas tumpah ke gaun, serpihan menoreh kulit. Dingin anggur bercampur dengan panas darah.

Desahan terkejut terdengar di kerumunan.

Dari panggung, mata Dario langsung tertuju padaku. Matanya membelalak, lalu beberapa detik kemudian, dia sudah di sisiku, menahan tubuhku seolah aku bisa hancur begitu saja.

"Viona!" Suaranya serak, panik. "Siapa yang menyentuhnya?!"

Tak seorang pun berani menjawab.

Amarahnya membara di seluruh ruang pesta. "Panggil dokter. Sekarang!" Genggamannya padaku tak goyah. Seolah bisa menambatkanku pada dirinya dengan paksa. Tangannya bergetar di kulitku yang berdarah, rahangnya menegang menahan amarah. Sesaat, aku hampir percaya dia peduli padaku. Bahwa di dalam hati pria ini, mungkin masih ada tempat untukku.

Hingga seorang pengawal berlari masuk, terengah-engah.

"Tuan Dario, Nona Arisa kesakitan. Katanya perutnya sakit. Dia menangis hebat."

Dario membeku. Tangannya menegang menahanku.

"Apa parah?"

"Dia hampir tidak bisa berdiri," kata pengawal itu.

Matanya melompat-lompat antara aku yang berdarah di pelukannya, dan Arisa yang rapuh dan sedang menangis di ruangan lain.

"Viona, aku..."

Aku tahu apa yang akan dia katakan sebelum kata itu keluar.

Aku melepaskan diri, suaraku tenang dan menusuk.

"Pergi. Dia rapuh. Selalu begitu. Dan kamu selalu memilihnya."

Dia terhenti, ketenanganku menghantamnya lebih keras daripada kemarahan apa pun.

"Viona…"

"Jangan khawatir. Aku bisa mengurusnya."

Dan seperti biasa, dia melakukan yang selalu dia pilih. Dia memilih Arisa, meninggalkanku berdiri di pecahan kaca, mendengar janji setengah hati, "Aku akan menebusnya nanti," sebelum berlari ke sisi Arisa.

Kerumunan hanya melihat satu hal, yaitu aku yang ditinggalkan lagi.

Bisik-bisik mereka lebih menyakitkan daripada luka di kulitku.

"Kasihan, ya. Bertahun-tahun, Dario tak pernah mencintainya."

"Dia seharusnya bersyukur Arisa ke luar negeri. Kalau tidak, dia takkan pernah memakai cincin itu sama sekali."

Aku meminjam ruang tunggu untuk membersihkan darah dan membalut lukaku.

Tak seorang pun memperhatikan saat aku menyelinap pergi.

Di vila, aku mengemas barang terakhir. Di meja makan, aku menaruh dua benda, yaitu surat perceraian yang sudah ditandatangani, dan akta cerai yang menandakan semuanya selesai.

Koperku sudah menunggu di pintu. Tanganku menyentuh perut dan aku berhenti sejenak.

Tiga bulan.

Anak di dalam perutku tak akan pernah merasakan sentuhan ayahnya. Dan Dario tak akan pernah tahu bahwa malam ini dia sudah kehilangan lebih dari sekadar seorang istri.

Saat aku membuka pintu, Serina muncul, terengah-engah.

"Kakakku mengirim obat untukmu. Jangan tanya kenapa. Seharusnya dia bersama Arisa, tapi dia menyuruhku mencarimu. Aku cari ke mana-mana..." Dia memutar mata bergumam, "Sejujurnya, ini tidak masuk akal. Seharusnya dia peduli sama Arisa, bukan kamu. Kenapa dia…?"

Gumamnya berhenti saat matanya melihat koperku.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Jelas, 'kan?" jawabku dengan tenang. "Aku pergi. Kakakmu sudah punya Arisa. Dia tak butuh aku lagi."

Dia meraih lenganku, panik. "Tidak… tidak, kamu bercanda, 'kan? Kamu terlalu mencintainya. Ini pasti trik, 'kan? Dia takkan membiarkanmu pergi!"

"Serina." Aku menoleh ke meja. "Kalau gitu, lihat surat ini."

Matanya tertuju pada akta cerai. Warna memudar dari wajahnya. Dia tergagap mundur, bergumam, "Tidak… ini tidak mungkin. Kamu… kamu tak mungkin benar-benar pergi…"

Aku melangkah melewatinya, roda koper bergesekan dengan marmer.

Lima tahun lalu, aku meninggalkan mimpiku demi Dario Mahardika.

Malam ini, aku akan mengambilnya kembali.

Aku tersenyum. Aku merasa ringan, bebas, tanpa beban.

"Aku akan menjalani hidup yang hanya milikku," kataku. Lebih untuk diri sendiri daripada siapa pun.

Vila itu menjulang di belakang dan penuh dengan kenangan. Namun, aku tak menoleh.

Tidak pada rumah itu.

Tidak pada wajah terkejut Serina.

Tidak pada pria yang akan terlambat menyadari apa yang telah hilang.

Dan begitu saja, aku menghilang ke kegelapan malam.

Meninggalkan nama, pernikahan, dan rahasia yang suatu hari akan sangat disesalinya.

Beberapa jam kemudian, Dario kembali. Jas digantung di lengan, mengharapkan rutinitas yang sama, yaitu suaraku, sandal di pintu. Namun, yang menyambutnya hanyalah keheningan.

"Viona?" Panggilannya bergema di seluruh rumah.

Tak ada jawaban. Pelayan kebingungan. Salah satu menunjuk lemah ke meja makan dengan surat yang sudah menunggu di atasnya. Dario melangkah cepat, meraihnya.

AKTA CERAI.

Tandatangannya sendiri, yang tidak ingat kapan dia bubuhkan. Sertifikat resmi yang sudah final.

Rahangnya mengeras. "Tidak mungkin."

Lalu matanya menangkap folder kedua. Map polos dengan tulisan klinik.

Dia membukanya. Huruf hitam itu bertuliskan RSIA Florance. Pasien: Viona Nandita. Minggu keberapa, perkiraan tanggal lahir, catatan pengawasan ketat.

Hamil. Viona telah membawa anaknya. Dia pergi bukan hanya sebagai istri, tetapi sebagai ibu dari kehidupan yang bahkan belum Dario ketahui.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, tangan Dario bergetar.

"Viona…" bisiknya menggores udara kosong.

Rumah itu tak memberi jawaban.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "B15739" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B15739
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadis Cantik Milik Mafia
8.8
Sephi, gadis gigih yang diusir bibinya akibat fitnah kejam, berusaha bangkit demi mengubah nasib. Takdir mempertemukannya dengan Aldo, CEO dingin sekaligus pemimpin kriminal berpengaruh di Eropa, saat wawancara kerja. Aldo yang tak tersentuh dan hanya peduli pada keponakannya, mulai merasakan getaran cinta pertama melihat ketulusan Sephi. Akankah pesona Sephi meluluhkan hati sang mafia yang kaku? Simak kisah penuh ketegangan dan perubahan hidup yang tak terduga.
Sampul Novel Gairah yang Berapi-api: Istri CEO yang Bersalah
7.9
Di malam pengantin, Rogelio bersumpah menyiksa Marian karena menganggapnya penyebab kematian sang kakak. Meski dibenci dan tak disentuh, sebuah insiden memaksa mereka tidur bersama hingga Marian hamil. Di tengah penghinaan Rogelio, pria itu justru diam-diam melindungi aset dan keselamatan istrinya dari gangguan orang lain. Saat Marian berniat kabur membawa rahasia kandungannya, Rogelio justru memeluknya erat dan menolak melepaskan ibu dari calon anaknya tersebut.
Sampul Novel Istri Tanpa Suami
8.7
Aminarsih, gadis yatim piatu, dinikahi seorang CEO kaya demi menangkal kutukan nasib buruk pria itu, yang mana semua istrinya selalu meninggal dua hari setelah menikah. Alih-alih diperlakukan layak, Aminarsih justru disembunyikan di dalam rumah kosong yang menyeramkan. Di tengah kesendirian dan kengerian tempat itu, ia harus bertahan hidup dengan hanya mengandalkan bantuan dari sebatang pohon apel serta hewan-hewan seperti tikus, kecoak, dan semut yang kini ia anggap sebagai keluarganya.
Sampul Novel Jebakan Cinta Pertama untuk Kesayangan Bos
8.2
Setelah delapan tahun terpuruk, harapan Agnes untuk memulai hidup baru hancur saat cinta pertamanya kembali. Gerald Ogawa hadir bukan untuk mencinta, melainkan membalas dendam atas pengkhianatan masa lalu dengan mengincar jabatan Agnes. Di tengah tekanan itu, Agnes harus berjuang sebagai ibu tunggal demi membesarkan anaknya. Mampukah ia bertahan menghadapi kekejaman Gerald saat rahasia masa lalu perlahan terkuak dan mengancam hati mereka berdua?
Sampul Novel Jodohku Soulmateku
9.5
Fahri dan Damar sepakat menjodohkan Dita dan Bagas sejak kecil. Namun, kondisi kesehatan Fahri yang memburuk serta krisis finansial di perusahaan Damar memaksa pernikahan dini saat Dita berusia 16 tahun. Usai akad, mereka terpisah tanpa pernah bertemu selama bertahun-tahun. Takdir mempertemukan mereka kembali saat Dita hampir lulus jadi dokter spesialis dan Bagas telah menjabat CEO. Mampukah pernikahan lama yang dingin ini berubah menjadi cinta sejati?
Sampul Novel Kau Tak Pernah Mencintaiku
9.3
Aurora terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Leandro, pengusaha sawit kaya. Meski hidup mewah, ia menderita akibat dominasi ibu mertua dan kekejaman adik iparnya. Leandro tak pernah memihaknya hingga Aurora merasa terasing. Penderitaannya memuncak saat kakak kandungnya, Ravela, hadir dan mulai menggoda suaminya. Pengkhianatan ini menghancurkan jiwa Aurora, terutama ketika ia menyaksikan Ravela keluar dari kamar Leandro pada suatu malam yang kelam.