
Anak Durhaka Dibutakan Nafsu
Bab 2
Telepon kembali diputus. Aku sama sekali tidak menyangka, hanya karena beberapa kalimat Stacy, Carlos bisa salah paham mengira yang kecelakaan itu ibuku. Teleponku untuk meminta uang pun dianggapnya aku sedang membantu adikku.
Di tanganku ada setumpuk kwitansi biaya rumah sakit, sementara perawat berdiri di depan pintu menunggu. Dadaku penuh rasa marah bercampur panik. Namun ketika kucoba menelepon lagi, nomorku malah sudah diblokir.
Aku benar-benar panik dan mencoba semua cara untuk menghubunginya, tetapi semuanya tidak berhasil. Katanya sibuk, tapi ketika memblokirku, kenapa tidak merasa itu buang-buang waktu?
Yang sedang berbaring di ruang gawat darurat itu adalah ibunya sendiri! Stacy bahkan tidak punya bukti apa-apa, tapi dia percaya begitu saja!
Aku menahan diri mati-matian, agar tidak kehilangan kendali di depan begitu banyak orang di rumah sakit. Sekarang bukan saatnya untuk menghitung semua kesalahan Carlos. Tidak ada yang lebih penting daripada nyawa ibu mertua.
Aku segera mencari beberapa teman dan meminjam ke sana-sini, hingga akhirnya berhasil mengumpulkan 200 juta. Kemudian, aku bergegas turun untuk membayar biaya rumah sakit.
Ketika kembali ke depan ruang gawat darurat, seluruh punggungku sudah basah kuyup oleh keringat. Aku mengepalkan tangan dengan erat sambil menatap lampu merah di atas pintu ruang operasi yang masih menyala. Aku terus berdoa, semoga ibu mertuaku bisa selamat.
Ibu mertuaku selalu memperlakukanku dengan sangat baik. Karena tahu keluargaku sendiri cenderung lebih menyayangi anak laki-laki, jadi ibu mertuaku malah menganggapku seperti anak perempuannya sendiri.
Meskipun sudah lama bercerai dengan ayah Carlos dan membesarkan Carlos sendirian, ibu mertuaku bukan tipe ibu yang terlalu menuntut atau ingin menguasai anak. Sebaliknya, dia sangat menghargai privasi kami.
Ibu mertuaku tinggal di apartemen lain. Dia hanya datang menjengukku dan Carlos setiap akhir pekan, sambil membawa makanan kesukaan kami.
Kali ini juga sama seperti biasanya. Hanya karena Carlos sempat mengatakan bahwa dia suka acar waktu terakhir kali menelepon, ibu mertuaku langsung ingat. Begitu selesai dibuat, dia buru-buru mengantarkannya. Namun di perjalanan pulang, ibu mertuaku malah kecelakaan.
Padahal jarak dari rumah ke tempat kami sangat dekat, hanya perlu menyeberang satu persimpangan jalan saja.
Aku mendengar dari orang baik hati yang mengantar ibu mertua ke rumah sakit, katanya pengemudi lawan diduga mabuk dan melaju dengan kecepatan tinggi. Tubuh ibu mertuaku sampai terpental beberapa meter dan darah berceceran di mana-mana.
Mengingat kembali ucapan perawat saat aku baru datang tadi, hatiku semakin tidak tenang.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang gawat darurat. Dia menggeleng pelan sambil menghela napas. "Operasinya agak terlambat, kami sudah berusaha sekuat tenaga. Pasien sekarang masih sadar, tapi kemungkinan ...."
"Silakan keluarga masuk untuk bicara terakhir kalinya."
Kegugupan yang kutahan sejak tadi akhirnya pecah. Kakiku menjadi lemas dan aku jatuh terduduk di lantai. Air mata yang kutahan mati-matian tak lagi bisa dikendalikan.
Namun, aku tidak bisa membuang waktu. Dengan langkah terhuyung, aku bangkit lagi, lalu masuk ke ruang perawatan.
Tubuh ibu mertua penuh dengan selang dan jarum infus. Padahal beberapa jam lalu, dia masih tersenyum ceria padaku, berkata bahwa lain kali akan membawakan kue hijau buatannya agar aku bisa mencicipinya.
Namun kini, dia hanya bisa terbaring di ranjang dan wajahnya tampak sangat pucat. Melihat aku masuk, dia berusaha keras menyunggingkan senyum.
"Minerva, kamu datang ya? Carlos mana?"
Anda Mungkin Juga Suka





