
Aku Tak Mau Penebusan yang Terlambat
Bab 5
“Ayo, bilang. Kamu mau apa?”
Seolah mengira aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk minta yang muluk-muluk, ia menambahkan dengan nada dingin.
“Tapi hanya boleh perhiasan atau permata. Selain itu, jangan berharap lebih.”
Aku mendongakkan kepala menatap wajahnya, seolah ingin menemukan sedikit jejak masa lalu di sana.
Pertama kali aku bertemu dengan Julian adalah di sebuah pesta. Saat itu, aku jadi bahan olok-olokan para gadis sosialita.
Itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu.
Waktu aku masih tinggal di kota kecil, satu-satunya yang menemaniku hanyalah Kakek. Ia tak mengerti hal-hal yang sedang tren di kalangan anak perempuan. Dan karena biaya sekolahku sudah menghabiskan sebagian besar tabungan Kakek, aku pun sejak kecil tak pernah merengek minta ini-itu.
Baju-baju murah berwarna mencolok yang dibelikan Kakek pun tetap aku pakai. Ia tak paham soal tren celana jeans atau gaya kekinian. Kadang ia bahkan menjahitkan baju untukku dari kain yang dipotong sendiri, sambil berkata, “Anak perempuan harus pakai warna cerah biar kelihatan semangat.”
Setelah aku dibawa kembali ke Keluarga Mentari, seleraku belum sempat menyesuaikan diri. Penampilanku masih terlihat kampungan.
Waktu itu, Mama menyuruh Yolanda untuk membimbingku. Tapi aku hampir tak pernah bisa menemukannya. Akhirnya, aku pun berusaha sendiri.
Dan karena itulah aku jadi bahan tertawaan.
Dulu aku sangat minder, dan tak tahu bagaimana membela diri. Julian lah yang saat itu membelaku, ucapan-ucapannya begitu tajam, hampir membuat mereka menangis.
Saat itu, ia menatapku dengan sangat serius dan berkata,
“Kau ini kenapa penakut sekali? Jangan takut! Kalau ada yang berani mengganggumu, lawan balik! Kalau perlu pukul balik!”
“Lalu bagaimana kalau mereka jadi takut padaku dan tak mau berteman denganku?”
“Jadi kau lebih memilih dibully daripada ditakuti? Nggak punya teman juga nggak apa-apa, aku bisa jadi temanmu.”
Aku menyimpan kalimat itu selama lebih dari lima tahun.
Tapi pada akhirnya, Julian justru memarahiku di depan banyak orang, menuduhku sombong dan suka membully orang lain.
Padahal, jelas-jelas mereka duluan yang membully aku.
Di wajah Julian yang tajam bak terukir dengan pisau itu, sudah tak ada lagi rasa sayang atau naluri melindungiku seperti dulu. Yang tersisa hanyalah kejengkelan dan ketidaksabaran. Ia menunduk dan mendesakku,
“Sudah dipikirkan? Jangan serakah.”
Aku menyembunyikan kedua tangan di belakang tubuhku. Dengan tangan kananku yang masih utuh, aku mengusap pelan jari kelingking kiri yang cacat, lewat lapisan sarung tangan.
Rasa nyeri yang samar, tapi terus-menerus, tak pernah membiarkanku lupa, karena dia, aku pernah mengalami penyiksaan seperti apa.
Dulu, saat aku memohon belas kasihan, aku sempat menyebutkan identitasku. Aku menangis sambil menyebutkan nomor telepon Julian, deretan angka yang begitu kuhafal di luar kepala, tapi justru itulah yang menghancurkan hatiku.
Saat itu, dia berkata.
“Aku nggak kenal siapa itu Mira. Putri Keluarga Mentari cuma satu, namanya Yolanda.”
Tak hanya menolak mengakuiku, ia bahkan memarahi para penagih hutang itu, membuat mereka murka.
Mereka melampiaskan kemarahan pada tubuhku, memaksaku menampar diriku sendiri, berkali-kali, hingga wajahku membengkak parah, bahkan gusiku ikut nyeri. Barulah mereka berhenti.
Wajahku yang bengkak membuatku kesulitan makan. Roti kukus itu terlalu keras, tak sanggup kutelan. Maka mereka menginjaknya hingga remuk, kotor dan hitam, lalu memaksanya masuk ke mulutku.
Mengingat itu semua, lambungku kembali bergejolak dengan rasa mual yang tak bisa ditahan.
Aku menahan rasa mual yang nyaris meledak, lalu mencengkeram kuat jari kelingkingku yang bergeser dari tempatnya, rasa sakit itu membantuku tetap sadar.
“Maaf, aku nggak ingin apa-apa.”
Kening Julian mengernyit. Ia menatapku dengan curiga, sorot matanya penuh peringatan.
“Itu kamu sendiri yang bilang. Jangan nanti datang mencariku dan bikin ribut.”
“Aku nggak punya kesabaran sebanyak itu.”
Aku hanya menggumam pelan, berharap ia segera pergi.
“Aku nggak akan.”
Julian tidak memaksaku memilih apa pun. Mungkin sejak awal dia memang tak berniat memberiku apa-apa.
“Bagus kalau begitu.”
Ia sempat berjalan beberapa langkah, lalu berhenti. Masih membelakangiku, suaranya terdengar berat dan rendah.
“Kalung itu memang aku belikan untuk Yolanda. Jangan coba-coba ganggu dia lagi.”
Belum sempat aku membalas, dia sudah melangkah pergi dengan cepat.
Anda Mungkin Juga Suka





