Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Menyerah, Memilih Pergi

Aku Menyerah, Memilih Pergi

Naira mengabdikan hidupnya sebagai istri dan ibu tiri yang tulus bagi Danang dan putranya, Arka. Namun, pengorbanannya selama bertahun-tahun hanya dibalas dengan sikap dingin dan penghinaan. Puncaknya, saat nyawa Naira terancam dalam sebuah serangan keji, suami dan anak tirinya justru mengabaikan permintaannya untuk ditolong. Merasa dikhianati di titik terendahnya, Naira akhirnya memilih bangkit dan meninggalkan keluarga yang tak pernah menghargainya tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Udara subuh Jakarta masih terasa dingin menusuk, namun bagi Naira, dingin itu bagai embusan napas kehidupan yang baru. Setiap langkah kakinya di trotoar yang basah embun terasa ringan, seolah beban berton-ton yang selama ini menghimpit pundaknya telah terangkat. Ia tidak lagi peduli pada pandangan orang atau ke mana kakinya akan melangkah. Yang ia tahu, ia harus jauh dari tempat tidur itu, dari kenangan pahit yang melekat di setiap sudut apartemen. Tas punggungnya terasa ringan, hanya berisi beberapa helai pakaian, dompet dengan sisa uang tunai yang tak seberapa, dan album foto usang. Semuanya adalah milik Naira, yang ia dapatkan sebelum menikah, sebelum ia menyerahkan seluruh identitasnya untuk menjadi "istri Danang" dan "ibu tiri Arka".

Matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur, mewarnai langit kelabu dengan gradasi oranye dan ungu. Naira terus berjalan, tanpa arah. Pikirannya kosong, namun hatinya dipenuhi tekad yang membara. Ia telah melalui malam terburuk dalam hidupnya, dan ia selamat. Ia tidak mati, ia tidak hancur. Ia justru merasa terlahir kembali, dari abu-abu keputusasaan menjadi api keberanian.

Ia berjalan melewati deretan toko yang masih tutup, melewati tukang sayur yang mulai menata dagangannya, dan pedagang nasi uduk yang asapnya mengepul hangat. Aroma makanan yang familiar dulu seringkali membangkitkan senyum di wajahnya. Sekarang, Naira hanya mencium bau kebebasan.

Setelah berjalan hampir satu jam, kakinya terasa lelah. Ia melihat sebuah bangku taman di dekat sebuah halte bus yang sepi. Naira menjatuhkan diri di sana, menarik napas dalam-dalam. Di sinilah ia. Sendirian. Tanpa rumah, tanpa tujuan, tanpa siapa-siapa. Namun, anehnya, tidak ada rasa takut. Hanya ada kelegaan.

Ia mengeluarkan ponsel lamanya dari tas. Ponsel sederhana yang hanya bisa digunakan untuk menelepon dan SMS, hadiah dari mendiang ayahnya sebelum ia meninggal. Ponsel canggih yang diberikan Danang sudah ia tinggalkan di apartemen, bersama semua hal yang mengingatkannya pada kehidupan lama. Ia mencari satu-satunya nomor yang tersimpan di daftar kontaknya yang sudah lama tidak ia hubungi: Maya.

Maya adalah sahabat terbaik Naira sejak SMA. Setelah lulus kuliah, Maya memutuskan untuk merantau ke Bali, mengejar mimpinya sebagai instruktur yoga dan pengusaha kecil. Naira dan Maya sering bertukar kabar di awal pernikahan Naira, namun seiring waktu, komunikasi mereka merenggang. Naira terlalu sibuk mengurus rumah tangga Danang, dan perlahan ia menarik diri dari kehidupan sosialnya. Sekarang, Maya adalah satu-satunya orang yang terlintas di benaknya, satu-satunya harapan yang ia miliki.

Dengan tangan gemetar, Naira menekan nomor itu. Nada sambung yang panjang terasa seperti keabadian. Ia khawatir Maya tidak akan mengangkatnya, atau nomor itu sudah tidak aktif. Namun, di dering ketiga, sebuah suara ceria menyapanya, "Halo, ini siapa ya? Nomor baru?"

"Maya... ini aku, Naira," ucap Naira, suaranya tercekat. Mendengar suara Maya, bendungan air mata yang selama ini tertahan akhirnya pecah. Ia terisak tanpa suara.

"Naira? Ya ampun, Naira! Kenapa? Ada apa? Suaramu kenapa begitu?" Maya panik, suaranya berubah khawatir.

Naira berusaha menenangkan diri. "Aku... aku di Jakarta, May. Aku... aku butuh bantuan."

Maya tidak banyak bertanya. Ia hanya berkata, "Baik. Tunggu aku. Kirim lokasimu, aku akan bantu apa pun yang kubisa."

Naira tidak tahu bagaimana, tapi Maya adalah penyelamatnya. Maya tidak berada di Jakarta, namun ia punya beberapa kenalan yang bisa dihubungi. Setengah jam kemudian, sebuah taksi berhenti di depannya. Seorang wanita muda dengan kacamata dan senyum ramah turun dari mobil. "Naira? Aku Dewi, temannya Maya. Maya menyuruhku menjemputmu."

Naira hanya mengangguk, terlalu lelah untuk berbicara. Dewi membantunya memasukkan tas ke bagasi, lalu mereka melaju membelah kota Jakarta yang mulai ramai. Dewi tidak banyak bertanya selama perjalanan, seolah ia mengerti bahwa Naira sedang tidak ingin berbicara. Ia hanya menyalakan musik instrumental yang menenangkan dan sesekali melirik Naira di kaca spion, tersenyum kecil.

Dewi membawa Naira ke sebuah rumah kos sederhana namun bersih di daerah Jakarta Selatan. "Ini milik bibiku. Sementara kamu bisa tinggal di sini dulu. Tenang saja, sudah kubayar untuk seminggu ke depan. Kamu bisa istirahat dulu," ucap Dewi lembut, menyerahkan kunci kamar kepada Naira.

Naira menatap Dewi dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Dewi. Aku tidak tahu harus bilang apa..."

"Jangan dipikirkan. Yang penting kamu aman sekarang. Maya akan menghubungimu nanti," Dewi tersenyum tulus.

Setelah Dewi pergi, Naira masuk ke dalam kamar kos. Kamar itu kecil, hanya ada kasur, lemari kecil, dan meja. Tapi bagi Naira, kamar itu terasa seperti surga. Ini adalah tempat di mana ia bisa bernapas lega, tanpa tatapan dingin, tanpa pengabaian. Ia menjatuhkan diri di kasur, membiarkan tubuhnya rileks. Ia tidak tahu kapan terakhir kali ia merasa seaman ini.

Namun, ketika pikirannya mulai tenang, ingatan akan malam yang mengerikan itu kembali menghantamnya. Wajah pria itu, cengkeraman tangannya, rasa sakit, dan yang paling parah, tatapan mata Danang yang kosong saat ia memohon pertolongan. Kata-kata Danang yang dingin, "Seharusnya aku tidak pernah menikahimu." Semua itu berputar-putar di kepalanya, memicu gelombang mual dan pusing yang hebat.

Naira bangkit, berjalan ke kamar mandi kecil di sudut kamar. Ia menyalakan keran, membasuh wajahnya berulang kali. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Mata yang bengkak, memar di leher dan lengan, dan luka batin yang tak terlihat. Ia menyentuh memar di lehernya. Bekas itu terasa nyata, membuktikan bahwa malam itu bukanlah mimpi buruk. Itu adalah kenyataan, kenyataan yang kejam.

Ia duduk di lantai kamar mandi, memeluk lututnya, dan menangis. Tangisan yang berbeda dari sebelumnya. Ini adalah tangisan pelepasan, tangisan kesadaran bahwa ia telah bertahan, tangisan atas semua yang telah ia korbankan. Ia menangisi Naira yang dulu, Naira yang penuh cinta dan harapan, yang kini telah hancur dan mati. Tapi dari kematian itu, ia yakin, akan ada kelahiran kembali.

Beberapa Jam Kemudian

Naira terbangun dari tidurnya yang singkat namun lelap. Ia tidak tahu berapa lama ia tertidur. Samar-samar, ia mendengar suara ketukan di pintu. "Naira? Ini aku, Dewi. Aku bawakan makanan."

Naira bangkit, membuka pintu. Dewi tersenyum, membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas teh manis. "Kamu harus makan. Sejak tadi subuh pasti belum makan, kan?"

Naira mengangguk. "Terima kasih, Dewi. Kamu baik sekali."

"Maya cerita sedikit. Dia bilang kamu butuh waktu. Makanlah dulu, baru nanti kalau kamu siap, kita bisa bicara," kata Dewi, matanya menunjukkan empati.

Bubur ayam itu terasa hambar di lidah Naira, namun ia berusaha menghabiskannya. Tenaga yang hilang perlahan kembali. Setelah makan, Dewi duduk di kursi kecil di dekat meja.

"Maya bilang kamu ada masalah dengan suamimu dan anaknya," Dewi memulai dengan lembut. "Apa kamu mau cerita? Aku bisa jadi pendengar yang baik."

Naira ragu sejenak. Namun, melihat ketulusan di mata Dewi, ia merasa sedikit lebih lega. "Aku... aku tidak tahu harus mulai dari mana."

"Dari mana saja yang membuatmu nyaman," sahut Dewi.

Naira mulai bercerita, suaranya pelan dan bergetar. Ia menceritakan bagaimana ia bertemu Danang, bagaimana ia dengan tulus mencintai Arka seperti anaknya sendiri, bagaimana ia mengorbankan mimpinya. Ia menceritakan pengabaian yang ia rasakan selama bertahun-tahun, sikap dingin Danang dan Arka, dan bagaimana ia merasa seperti seorang pelayan di rumahnya sendiri.

Dewi mendengarkan dengan sabar, sesekali mengangguk, tanpa memotong. Ia tidak menunjukkan ekspresi kaget atau menghakimi, hanya simpati yang dalam.

"Dan semalam..." Naira berhenti sejenak, menelan ludah. "Ada pria masuk ke apartemen. Dia... dia menyerangku. Aku berteriak, aku memohon pertolongan. Aku menelepon Danang, aku yakin dia mendengarku." Air mata kembali menggenang di mata Naira. "Dia pulang, Dewi. Aku melihatnya. Dia melihatku. Tapi dia... dia mengabaikanku. Dia menutup pintu, seolah tidak terjadi apa-apa. Dia bahkan menuduhku berbohong, membuat drama."

Dewi meraih tangan Naira, menggenggamnya erat. "Ya Tuhan, Naira... itu mengerikan."

"Lebih mengerikan lagi, dia bilang... dia bilang seharusnya dia tidak pernah menikahiku. Setelah semua yang kuberikan. Aku... aku tidak bisa lagi di sana, Dewi. Aku tidak bisa." Naira terisak lagi, membiarkan semua rasa sakit itu keluar.

Dewi mengusap punggung Naira lembut. "Kamu sudah melakukan hal yang benar, Naira. Keluar dari sana adalah keputusan terbaik. Tidak ada yang pantas diperlakukan seperti itu, apalagi oleh orang yang seharusnya melindungimu."

Setelah tangisannya mereda, Dewi bertanya, "Lalu, sekarang kamu mau bagaimana, Naira?"

Naira menghela napas. "Aku tidak tahu, Dewi. Aku tidak punya apa-apa. Aku tidak punya pekerjaan, tidak punya tabungan yang banyak. Aku... aku hanya ingin bisa hidup tenang, jauh dari mereka."

"Bagaimana dengan pekerjaanmu dulu? Desainer grafis, kan?" tanya Dewi.

Naira menggeleng. "Sudah lama sekali aku tidak menyentuh itu. Kemampuanku pasti sudah ketinggalan jauh."

"Jangan pesimis dulu. Dunia desain grafis selalu berkembang, dan kalau kamu punya dasar yang kuat, itu bisa dipelajari lagi," Dewi meyakinkan. "Maya juga menyarankan agar kamu tidak terburu-buru mencari kerja. Yang penting pulihkan dirimu dulu. Fisik dan mentalmu."

Mereka berdua terdiam beberapa saat. Naira merasa sedikit lega setelah mencurahkan isi hatinya.

"Kamu punya keluarga lain di Jakarta?" tanya Dewi.

Naira menggeleng. "Orang tuaku sudah meninggal. Aku anak tunggal."

"Baiklah. Kalau begitu, kamu bisa tinggal di sini selama kamu butuh. Bibi sangat baik. Kita bisa mengatur biayanya nanti. Yang penting kamu pulih," Dewi tersenyum. "Dan soal kasusmu... kamu mau lapor polisi?"

Naira terpaku. Lapor polisi? Membayangkan harus menceritakan kembali kejadian itu, membayangkan tatapan skeptis, dan mungkin harus bertemu Danang lagi di kantor polisi, membuatnya mual. "Aku... aku tidak tahu. Aku terlalu lelah."

"Tidak apa-apa. Itu hakmu. Kamu bisa mempertimbangkannya nanti," Dewi mengangguk. "Yang penting, sekarang, fokus pada dirimu sendiri."

Membangun Kembali Pondasi

Hari-hari berikutnya di rumah kos Bibi Dewi terasa seperti terapi bagi Naira. Lingkungan yang sederhana dan tenang, ditambah perhatian tulus dari Dewi dan Bibi, perlahan menumbuhkan kembali tunas-tunas harapan dalam dirinya. Dewi sering mengajaknya berjalan-jalan di taman, minum kopi di kedai kecil, atau sekadar mengobrol santai. Ia tidak pernah memaksa Naira untuk bercerita, namun selalu ada di sana sebagai pendengar setia.

Naira mulai membaca buku-buku yang ia bawa, mencoba menyelami dunia lain untuk melarikan diri dari bayang-bayang masa lalu. Ia juga mulai menggambar sketsa-sketsa kecil di buku catatannya, sebuah hobi yang sudah lama ia tinggalkan. Gerakan tangannya yang luwes, garis-garis yang membentuk pola abstrak, memberikan sedikit ketenangan di tengah gejolak batinnya.

Namun, bayangan Danang dan Arka seringkali masih muncul. Terutama di malam hari, saat keheningan melingkupinya. Ia akan terbangun dengan keringat dingin dari mimpi buruk, di mana ia kembali diserang, atau melihat tatapan dingin Danang. Setiap kali itu terjadi, ia akan bangkit, membasuh wajahnya, dan mencoba mengingatkan diri sendiri bahwa ia aman, bahwa ia sudah bebas.

Suatu sore, saat Naira sedang melamun di teras kos, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Maya.

Naira, bagaimana kabarmu? Aku sudah dengar dari Dewi. Aku sangat sedih mendengar semua yang kamu alami. Aku ingin kamu tahu, aku selalu ada untukmu. Jangan merasa sendiri. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang saja padaku. Kita sahabat selamanya, kan?

Air mata Naira menetes membaca pesan itu. Maya, yang dulu ia abaikan demi keluarga barunya, kini justru menjadi salah satu penopang terbesarnya. Naira mengetik balasan: Aku baik-baik saja, May. Aku sangat berterima kasih padamu dan Dewi. Aku tidak tahu harus bagaimana tanpamu.

Maya membalas cepat: Jangan bicara begitu! Kita sudah seperti saudara. Sekarang, fokus saja untuk sembuh. Kita akan melaluinya bersama. Aku akan cari tiket ke Jakarta minggu depan. Kita perlu bertemu!

Naira tersenyum. Senyum tulus pertama yang ia rasakan dalam waktu yang sangat lama. Kehadiran Maya memberinya kekuatan baru.

Beberapa Hari Kemudian

Maya benar-benar datang. Ia tiba di rumah kos dengan senyum lebar dan pelukan erat yang langsung membuat Naira merasa hangat. Maya, dengan rambut panjang tergerai dan kulit eksotis karena sering berjemur di Bali, terlihat begitu hidup dan bebas.

"Naira! Ya ampun, aku merindukanmu!" Maya memeluk Naira erat, mengabaikan tubuh Naira yang masih sedikit ringkih.

Naira membalas pelukan itu, air mata mengalir lagi, kali ini air mata kebahagiaan. "Aku juga merindukanmu, May."

Mereka berdua menghabiskan waktu berjam-jam mengobrol, dari cerita masa lalu hingga apa yang terjadi pada Naira. Maya mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengumpat kesal mendengar perlakuan Danang dan Arka.

"Mereka itu iblis!" seru Maya marah. "Bagaimana bisa manusia sekejam itu? Danang itu pecundang besar! Dan Arka, anak itu tidak tahu diri!"

"Aku tidak tahu, May," Naira menghela napas. "Aku hanya ingin melupakannya."

"Kamu tidak bisa melupakannya, Naira. Tapi kamu bisa menyembuhkannya," Maya menatap Naira serius. "Kamu harus mengakui rasa sakit itu, baru kamu bisa melangkah maju."

Maya banyak bercerita tentang kehidupannya di Bali, tentang komunitas yoganya, tentang bagaimana ia belajar mencintai dirinya sendiri, dan bagaimana ia menemukan kedamaian batin. Naira mendengarkan dengan seksama, merasa terinspirasi.

"Aku punya ide," kata Maya suatu sore. "Bagaimana kalau kamu mencoba yoga? Aku bisa mengajarimu beberapa gerakan dasar. Ini bagus untuk menenangkan pikiran dan menyembuhkan tubuh."

Naira ragu. Ia tidak pernah terlalu tertarik pada yoga atau hal-hal spiritual semacam itu. "Aku tidak yakin, May. Aku terlalu kaku."

"Itu hanya alasan! Coba saja dulu. Aku yakin kamu akan menyukainya," Maya tersenyum.

Dengan bujukan Maya, Naira akhirnya setuju. Setiap pagi, mereka berlatih yoga di halaman belakang kos yang kecil. Awalnya, tubuh Naira terasa pegal di mana-mana, gerakannya canggung dan kaku. Namun, Maya dengan sabar membimbingnya, mengoreksi posturnya, dan mengajarkannya cara bernapas yang benar.

Perlahan, Naira mulai merasakan perubahannya. Bukan hanya tubuhnya yang menjadi lebih lentur, tetapi pikirannya juga. Gerakan yang berulang dan fokus pada pernapasan membantunya menyingkirkan pikiran-pikiran negatif yang sering muncul. Ia merasa lebih tenang, lebih fokus, dan tidurnya pun mulai membaik.

"Lihat, kan? Kamu punya potensi!" Maya berseru gembira melihat Naira berhasil melakukan pose downward-facing dog dengan cukup baik.

Naira tersenyum. "Mungkin. Terima kasih, May."

Selain yoga, Maya juga mendorong Naira untuk kembali ke dunia desain grafis. "Kamu punya bakat, Naira. Jangan disia-siakan. Aku tahu kamu bisa."

Maya memberinya beberapa buku dan tutorial online tentang software desain grafis terbaru. Awalnya, Naira merasa canggung. Ia harus membiasakan diri dengan antarmuka yang berbeda, fitur-fitur baru, dan tren desain yang berubah drastis. Namun, seiring waktu, ia mulai menemukan kembali kegembiraannya dalam menciptakan sesuatu. Jari-jarinya terasa luwes menari di atas mouse, memindahkan bentuk dan warna menjadi sebuah komposisi yang harmonis. Ia menghabiskan berjam-jam di depan laptop Dewi, mempelajari kembali semua yang ia lupakan.

Naira mulai membuat portofolio sederhana dari desain-desain latihannya. Setiap proyek kecil yang ia selesaikan, memberinya rasa pencapaian. Itu adalah hal kecil, namun sangat berarti baginya, karena itu adalah langkah pertama menuju kemandirian.

"Bagaimana kalau kamu mencoba mencari proyek freelance kecil?" saran Maya suatu hari. "Mungkin dari situs-situs freelance atau grup Facebook."

Naira menimbang-nimbang. "Aku tidak yakin, May. Aku belum percaya diri."

"Kepercayaan diri itu datang setelah kamu memulai, Naira. Bukan sebelum itu," Maya meyakinkan. "Kamu harus berani. Anggap saja ini latihan. Kalaupun gagal, kamu tidak rugi apa-apa."

Dengan dorongan Maya, Naira akhirnya memberanikan diri. Ia membuat profil di beberapa platform freelance, mengunggah beberapa desain terbaiknya, dan mulai melamar proyek-proyek kecil, seperti mendesain logo sederhana atau banner media sosial.

Penantian itu terasa panjang. Berhari-hari ia menunggu, memeriksa emailnya berkali-kali. Ia sempat merasa putus asa. Mungkin ia memang tidak punya bakat, mungkin ia sudah terlalu lama berhenti.

Namun, pada suatu sore, sebuah email masuk. Sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang kuliner tertarik dengan portofolionya dan ingin memesan desain logo. Jantung Naira berdebar kencang. Ia tidak percaya. Ini adalah kesempatan pertamanya.

Naira segera memberitahu Maya dan Dewi. Mereka ikut gembira dan menyemangatinya. Dengan panduan dari Maya dan Dewi yang sesekali memberinya semangat, Naira mulai mengerjakan proyek pertamanya. Ia mencurahkan seluruh perhatian dan kemampuannya. Ia begadang beberapa malam, memikirkan konsep, memilih warna, dan menyempurnakan setiap detail.

Ketika ia mengirimkan draf desain pertama kepada klien, ia menunggu dengan cemas. Keesokan harinya, balasan email datang.

Kami sangat menyukai desainnya! Ini persis seperti yang kami bayangkan. Terima kasih banyak, Naira!

Senyum lebar mengembang di wajah Naira. Ini adalah senyum kebahagiaan yang sejati, hasil dari kerja kerasnya sendiri, dari usahanya untuk bangkit. Honor dari proyek itu tidak terlalu besar, namun bagi Naira, itu adalah kemenangan besar. Itu membuktikan bahwa ia mampu, bahwa ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.

Uang itu ia gunakan untuk membeli beberapa peralatan desain dasar yang lebih baik, dan sisanya ia simpan. Ia juga menyisihkan sedikit untuk membayar sewa kos kepada Bibi Dewi, meskipun Dewi menolaknya. "Sudah kubilang, jangan dipikirkan. Kamu bisa membayar nanti kalau sudah stabil."

Naira bersikeras. "Ini bukan hanya soal uang, Bi. Ini soal harga diri. Aku ingin bisa mandiri."

Bibi Dewi akhirnya tersenyum dan menerima uang itu. "Anak baik. Kamu akan jadi wanita yang kuat, Naira."

Bayangan Masa Lalu dan Tekad Baru

Kabar tentang kepergian Naira akhirnya sampai ke telinga Danang. Pagi itu, saat ia bangun dan menemukan surat Naira di meja, ia hanya mengerutkan kening. "Apa-apaan ini? Drama lagi?" gumamnya.

Namun, ketika ia menyadari Naira benar-benar tidak ada, dan barang-barangnya pun tidak ada, barulah ia merasakan sedikit kejutan. Ia menelepon Naira, namun nomornya tidak aktif. Ia mencoba menghubungi Maya, namun Maya tidak mengangkat teleponnya.

Danang tidak panik. Ia merasa lebih pada kekesalan. "Wanita itu selalu saja membuat masalah," pikirnya. Ia tidak mengerti mengapa Naira harus pergi hanya karena 'insiden kecil' semalam, yang menurutnya hanyalah ilusi Naira semata. Ia yakin Naira hanya mencari perhatian, dan pada akhirnya akan kembali.

"Mana Mama?" Arka bertanya saat sarapan, melihat meja makan kosong kecuali sarapan yang biasa disiapkan Naira.

"Mama pergi," jawab Danang singkat, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Arka tidak bertanya lagi. Ia hanya mengangkat bahu, lalu mengambil roti bakar dan memakannya sendiri. Tidak ada kerinduan, tidak ada kekhawatiran. Hanya keacuhan yang sama seperti biasanya. Danang melihat itu dan merasa lega. Setidaknya Arka tidak terlalu terpengaruh.

Beberapa hari berlalu, Naira tidak kembali. Danang mulai merasakan dampaknya. Tidak ada lagi sarapan yang disiapkan, cucian menumpuk, dan rumah terasa kotor. Ia harus mencari ART (asisten rumah tangga) baru, dan itu tidak mudah. Arka juga mulai mengeluh karena tidak ada yang menyiapkan makanannya atau mengurus keperluannya.

"Papa, makananku kok begini terus?" Arka mengeluh suatu hari, menunjuk nasi goreng instan.

Danang hanya mendengus. "Ya sudah, makan saja apa yang ada. Mama sedang tidak ada."

"Kapan Mama pulang?" tanya Arka.

"Tidak tahu," jawab Danang datar. Ia tidak mau membicarakan Naira lagi. Bagi Danang, Naira adalah masalah yang sudah selesai. Ia telah membuang sampah dari hidupnya.

Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Danang merasa sedikit terusik. Ia teringat tatapan Naira yang penuh luka di malam itu, kata-kata yang diucapkan Naira tentang dirinya yang mengabaikan. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Naira berbohong, Naira hanya membuat drama. Tapi ada keraguan kecil yang terus menggerogoti.

Sementara itu, Naira terus berjuang. Ia mendapatkan beberapa proyek freelance kecil lainnya. Penghasilannya belum stabil, namun cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk menabung sedikit demi sedikit. Ia juga mendaftar kursus singkat online tentang desain web untuk memperluas kemampuannya.

Maya, yang masih di Jakarta, terus menjadi pendukung terbesarnya. Ia selalu ada untuk menyemangati Naira ketika ia merasa putus asa, atau merayakan setiap keberhasilan kecilnya. Mereka sering berbagi cerita, tawa, dan sesekali air mata.

"Naira, kamu tidak akan percaya," kata Maya suatu hari, saat mereka sedang makan siang di sebuah warung. "Aku bertemu Danang."

Naira terkesiap. "Di mana?"

"Di kafe dekat kantor lamamu. Dia sedang makan siang sendiri. Aku sengaja menghampirinya," Maya bercerita dengan nada sengit. "Aku bilang padanya apa yang sudah dia lakukan itu keji. Aku bilang dia adalah pria paling tidak bertanggung jawab yang pernah kutemui."

Naira merasa tegang. "Lalu apa katanya?"

"Dia hanya terdiam. Kaget, mungkin. Aku bilang padanya bahwa kamu baik-baik saja, dan kamu tidak akan pernah kembali padanya. Aku bilang kamu akan jauh lebih bahagia tanpanya," Maya tersenyum puas. "Dia terlihat seperti pecundang."

Naira merasakan campur aduk emosi. Ada sedikit kepuasan mendengar Danang terdiam, namun juga rasa sakit yang kembali muncul. "Terima kasih, May. Tapi kamu tidak perlu melakukannya."

"Aku perlu, Naira! Itu untukmu. Untuk membalas sedikit apa yang sudah dia lakukan," Maya menatap Naira serius. "Sekarang, kamu harus fokus pada dirimu sendiri. Kamu harus membuktikan pada mereka, dan terutama pada dirimu sendiri, bahwa kamu bisa sukses tanpa mereka."

Kata-kata Maya menancap dalam benak Naira. Ia tidak ingin membalas dendam, tidak ingin membuktikan apa pun kepada Danang atau Arka. Ia hanya ingin hidup. Tapi perkataan Maya memiliki kekuatan untuk memotivasi. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu, bahwa ia pantas mendapatkan kebahagiaan.

Hidup Naira kini berputar pada tiga hal: menyembuhkan diri, belajar, dan bekerja. Ia tahu ini akan menjadi jalan yang panjang dan sulit, namun ia tidak gentar. Ia telah melihat sisi tergelap manusia, dan ia telah bertahan. Ia telah kehilangan segalanya, namun ia telah mendapatkan kembali dirinya sendiri.

Suatu malam, saat ia sedang menyelesaikan desain untuk klien barunya, ia berhenti sejenak. Ia melihat refleksi dirinya di layar laptop. Wajahnya tidak lagi tampak lelah dan muram. Ada kilatan cahaya di matanya, kilatan tekad dan harapan. Ia tersenyum, senyum yang tulus, senyum dari seorang wanita yang telah menemukan kembali kekuatannya.

Naira tahu, ini barulah awal. Ia harus terus maju, terus berjuang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, namun ia yakin, apa pun tantangannya, ia akan menghadapinya dengan kepala tegak. Ia adalah Naira, dan ia akan berdiri tegak di atas kakinya sendiri.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayo Kencan Pura-Pura, Temanku [21+]
8.2
Yena, Hao, Scott, dan Luna adalah sahabat karib hingga pengkhianatan muncul di pesta ulang tahun Scott. Scott ternyata berselingkuh dengan Luna selama setahun, menghancurkan hati Yena. Di tengah luka, Hao mengajak Yena menjalin hubungan pura-pura demi memicu kecemburuan mantan mereka. Meski awalnya saling tidak tertarik dan terikat kontrak tanpa rasa, sandiwara ini justru memicu getaran nyata. Kini, mereka terjebak antara dendam atau cinta yang baru tumbuh.
Sampul Novel Crossing Love
9.6
Miya Tamama adalah gadis polos yang menyimpan trauma masa kecil hingga dunianya kehilangan warna. Di tengah hidup yang kelabu, muncul Tamama Kunai, putra konglomerat sekaligus investor di sekolahnya yang memberi warna baru di hati Miya. Meski mendapat kasih sayang dari kakaknya, dokter Koko Tamama, ternyata ada pria lain yang juga mengamati Miya secara rahasia. Akankah cinta sang pewaris mampu menyembuhkan luka lama dan mengubah takdir hidup Miya selamanya?
Sampul Novel Harga Seorang Ratu Mafia
9.5
Pernikahan politikku dengan Marco Ricci seharusnya menyatukan dua klan besar Jakarta, namun pengkhianatannya menghancurkan segalanya. Di sebuah klub, aku menyaksikan Marco memeluk Angelia, gadis yatim yang dianggap adik, dengan penuh gairah. Sadar hanya menjadi alat kekuasaan sementara hati Marco milik wanita lain, aku memilih melawan. Aku membatalkan pertunangan kami dan memutuskan menikahi Dante Wiryawan, rival terberat keluarga kami, demi aliansi baru yang tak terduga.
Sampul Novel Hasrat Agak Laen
9.7
Temukan narasi romansa modern yang unik dalam novel ini. Karya ini menyajikan perpaduan menarik antara realitas dan fiksi, di mana lebih dari separuh alurnya diangkat dari kisah nyata. Meski beberapa bagian dimodifikasi dan ditambah unsur imajinatif sebagai variasi, esensi ceritanya tetap terasa autentik. Persiapkan diri Anda untuk rangkaian peristiwa yang mungkin sulit dipercaya namun benar-benar bisa terjadi. Segera buktikan sendiri keunikan kisahnya sekarang juga.
Sampul Novel Istri Polos sang Milyarder
8.6
Hidup Cantika hancur saat seseorang tak bertanggung jawab membuatnya gagal membayar biaya medis ayahnya. Demi melunasi utang rumah sakit, ia terpaksa menjadi istri kedua seorang milyarder dan setuju mengandung anaknya. Namun, impian akan pernikahan indah sirna saat realita berubah menjadi penderitaan layaknya neraka. Akankah gadis polos ini tetap bertahan dalam siksaan tersebut, atau justru memilih melarikan diri dari sang suami demi kebebasannya?
Sampul Novel Jerat Hasrat Tetangga Tampan
9.4
Kehidupan rumah tangga Andini yang terasa hambar mendadak terusik oleh kehadiran Andreas, tetangga baru yang masih muda dan menawan. Pesona luar biasa pria tersebut membangkitkan gairah terpendam dalam diri Andini yang selama ini padam. Meski menyadari statusnya sebagai wanita bersuami, ia terus terbayang akan sentuhan Andreas. Kini, Andini terjebak dalam dilema moral antara kesetiaan pernikahan atau godaan hasrat dari brondong yang sangat sulit ia tepis.