
Aku Menyerah, Memilih Pergi
Bab 3
Bulan-bulan berlalu di Jakarta, dan Naira mulai menemukan ritme baru dalam hidupnya. Rumah kos Bibi Dewi telah menjadi tempatnya berlindung, sebuah sarang nyaman di tengah kota yang penuh hiruk pikuk. Hubungannya dengan Dewi dan Bibi semakin erat, mereka bukan lagi sekadar teman kos, melainkan keluarga baru yang memberinya kehangatan dan dukungan yang selama ini ia rindukan. Pagi-pagi ia akan bangun, melakukan yoga singkat di halaman belakang ditemani Maya, jika sahabatnya itu sedang berada di Jakarta. Setelah itu, ia akan tenggelam dalam pekerjaannya sebagai freelance designer. Malamnya, terkadang mereka akan menghabiskan waktu bersama, bercerita atau sekadar menonton televisi, menciptakan suasana kekeluargaan yang tak pernah ia dapatkan di rumah Danang.
Proyek-proyek freelance mulai berdatangan secara konsisten. Naira bekerja keras, mencurahkan seluruh kreativitas dan energinya untuk setiap desain. Ia tidak hanya berusaha memenuhi harapan klien, tetapi juga melebihi ekspektasi mereka. Reputasinya mulai terbangun, dari mulut ke mulut, dan ulasan positif di platform freelance membuatnya semakin dikenal. Uang yang ia hasilkan, meskipun belum besar, cukup untuk menopang hidupnya secara mandiri, membayar sewa kos, dan bahkan menyisihkan sedikit untuk tabungan darurat. Setiap transfer masuk adalah bukti nyata kemandiriannya, sebuah kemenangan kecil yang membangun kembali harga dirinya.
Maya sesekali datang mengunjungi dari Bali, membawa serta semangat positif dan ide-ide baru. Ia selalu mendorong Naira untuk mencoba hal-hal baru, keluar dari zona nyamannya. "Naira, kamu punya bakat seni yang luar biasa. Kenapa tidak mencoba membuat karyamu sendiri dan menjualnya? Mungkin lukisan abstrak, atau desain produk?" saran Maya suatu hari, saat mereka sedang menyeruput kopi di kedai favorit mereka.
Naira tersenyum kecil. "Aku tidak tahu, May. Aku hanya ingin fokus pada desain klien dulu."
"Jangan takut bermimpi lebih besar, Naira," balas Maya lembut. "Kamu sudah melewati neraka, apa lagi yang bisa menakutimu?"
Kata-kata Maya selalu memicu pikiran Naira. Ia memang telah melewati masa-masa terburuk. Rasa sakit akibat pengkhianatan Danang dan pengabaian Arka masih menyisakan luka yang dalam, namun intensitasnya perlahan meredup, digantikan oleh kesibukan dan fokus pada masa depan. Ia mulai mengikuti seminar online tentang branding dan marketing untuk usaha kecil, dan memikirkan kemungkinan untuk membangun brandnya sendiri di masa depan.
Namun, di balik semua kemajuan ini, bayangan insiden malam itu masih sering menghantuinya. Terkadang, Naira akan terbangun dengan keringat dingin, napas terengah-engah, teringat wajah pria yang menyerangnya dan tatapan kosong Danang. Ada trauma yang belum sepenuhnya sembuh, sebuah luka yang masih harus ia obati. Dewi, yang menyadari hal itu, menyarankan Naira untuk mencari bantuan profesional.
"Naira, tidak ada salahnya mencari psikolog. Kamu sudah melalui hal yang sangat berat. Itu akan membantumu memproses semua trauma ini," kata Dewi suatu malam, saat Naira tampak gelisah.
Awalnya, Naira ragu. Ia merasa malu, seolah mencari psikolog adalah tanda kelemahan. "Aku tidak butuh itu, Dewi. Aku baik-baik saja."
"Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja, Naira," Dewi memegang tangannya. "Kuat itu bukan berarti kamu harus menanggung semuanya sendiri. Terkadang, kuat berarti kamu berani mengakui bahwa kamu butuh bantuan."
Perkataan Dewi membuat Naira berpikir. Akhirnya, ia setuju untuk mencoba. Dewi membantunya mencari psikolog yang baik dan bisa ia percaya. Sesi pertama terasa canggung. Naira kesulitan untuk membuka diri, suaranya tercekat setiap kali ia mencoba menceritakan kejadian malam itu. Namun, psikolog itu sangat sabar dan suportif. Perlahan, dengan bimbingan profesional, Naira mulai bisa mengeluarkan semua beban yang selama ini ia pendam. Ia belajar teknik-teknik pernapasan untuk mengatasi serangan panik, dan cara mengelola emosi negatif yang muncul. Setiap sesi adalah langkah kecil menuju kesembuhan, menuju penerimaan.
Setahun Kemudian
Satu tahun telah berlalu sejak Naira meninggalkan apartemen Danang. Setahun yang penuh perjuangan, namun juga penuh pertumbuhan. Naira tidak lagi tinggal di rumah kos. Ia sudah mampu menyewa sebuah studio apartemen kecil yang minimalis namun nyaman, dengan cahaya matahari yang melimpah. Di sana, ia punya ruang kerjanya sendiri, sebuah meja besar dengan monitor ganda, drawing tablet, dan rak buku yang penuh dengan buku-buku desain dan inspirasi.
Naira tidak lagi hanya menerima proyek freelance kecil. Ia telah membangun reputasi yang solid dan portofolio yang mengesankan. Beberapa klien besar mulai mempercayakan proyek-proyek penting kepadanya, dari mendesain website hingga mengembangkan brand identity lengkap. Penghasilannya meningkat dratistis. Ia bahkan sudah bisa menabung untuk dana darurat dan investasi kecil.
Hubungannya dengan Maya dan Dewi tetap kuat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, merayakan setiap pencapaian Naira. Maya, yang kini menetap di Jakarta untuk mengembangkan brand activewear yoganya, sering meminta Naira untuk mendesain materi marketing untuknya. Ini adalah kerja sama yang menyenangkan, di mana persahabatan dan profesionalisme bertemu.
Suatu malam, saat Naira sedang merayakan selesainya proyek besar dengan Maya dan Dewi di sebuah restoran, Maya berkata, "Naira, kamu tahu? Kamu sudah banyak berubah."
Naira tersenyum. "Berubah bagaimana?"
"Dulu, kamu seperti bunga yang layu, selalu murung. Sekarang, kamu mekar. Matamu bercahaya, senyummu tulus, dan kamu punya semangat yang membara," jelas Maya. "Aku bangga padamu, Naira."
Dewi mengangguk. "Betul sekali. Kamu adalah bukti nyata bahwa dari kehancuran bisa lahir kekuatan yang luar biasa."
Naira merenung. Perkataan mereka benar. Ia memang telah banyak berubah. Ia tidak lagi takut, tidak lagi merasa tidak berharga. Ia telah menemukan kembali dirinya, Naira yang kuat, mandiri, dan berani. Ia juga telah belajar memaafkan-bukan memaafkan perbuatan Danang dan Arka, tetapi memaafkan dirinya sendiri karena telah membiarkan dirinya menderita begitu lama.
Meskipun ia telah bangkit, sesekali bayangan masa lalu masih muncul. Terutama ketika ia melihat keluarga yang harmonis di jalan, atau anak-anak yang memanggil ibunya dengan penuh kasih sayang. Ada sedikit rasa cemburu, sedikit kerinduan akan sesuatu yang tidak pernah ia miliki. Namun, ia tidak lagi membiarkan perasaan itu menguasai dirinya. Ia mengingatkan dirinya bahwa kebahagiaan tidak hanya datang dari satu bentuk keluarga, dan bahwa ia punya banyak cinta dan dukungan dari orang-orang di sekelilingnya sekarang.
Titik Balik yang Tak Terduga
Suatu pagi, ponsel Naira berdering. Nomor asing. Ia mengangkatnya dengan ragu.
"Halo, dengan Naira?" suara seorang wanita.
"Ya, ini saya," jawab Naira.
"Saya dari Divisi Humas Yayasan Peduli Anak Yatim Piatu. Kami mendapatkan kontak Anda dari seorang teman, katanya Anda adalah desainer yang sangat berbakat. Kami sedang mencari desainer untuk proyek besar kami, kampanye penggalangan dana nasional. Apakah Anda bersedia meluangkan waktu untuk berdiskusi?"
Jantung Naira berdegup kencang. Ini adalah Yayasan besar yang sering ia dengar. Sebuah proyek dengan dampak sosial yang signifikan. "Tentu saja. Kapan saya bisa bertemu?"
Pertemuan itu berjalan lancar. Naira mempresentasikan ide-idenya dengan percaya diri dan profesionalisme. Pihak yayasan terkesan dengan visi dan portofolionya. Mereka sepakat untuk bekerja sama, dan ini adalah proyek terbesar yang pernah Naira dapatkan.
Proyek ini bukan hanya tentang uang, tetapi juga tentang memberikan dampak. Naira selalu punya impian untuk bisa berkontribusi pada masyarakat, dan inilah kesempatannya. Ia mencurahkan seluruh jiwanya ke dalam proyek ini. Desain-desainnya tidak hanya indah secara visual, tetapi juga menyampaikan pesan yang kuat dan menyentuh hati.
Kampanye itu diluncurkan dengan sukses besar. Desain Naira menjadi viral di media sosial, menarik perhatian publik dan media. Donasi mengalir deras, dan Yayasan Peduli Anak Yatim Piatu berhasil mencapai target penggalangan dana jauh di atas ekspektasi mereka.
Berkat keberhasilan ini, nama Naira semakin melambung. Ia tidak hanya dikenal sebagai desainer berbakat, tetapi juga sebagai desainer yang peduli dan punya visi. Tawaran kerja sama dari berbagai pihak mulai berdatangan, termasuk dari perusahaan-perusahaan besar dan agensi periklanan ternama. Ia akhirnya bisa memilih proyek yang benar-benar ia sukai, dan bekerja dengan tim profesional yang menghargai karyanya.
Naira juga diundang untuk menjadi pembicara di beberapa acara desain dan entrepreneurship, berbagi kisahnya tentang bagaimana ia bangkit dari keterpurukan dan membangun karirnya dari nol. Di panggung, ia berbicara dengan keyakinan, menginspirasi banyak orang. Ia tidak lagi merasa malu dengan masa lalunya, justru menjadikannya sebagai kekuatan untuk memotivasi orang lain.
Pertemuan yang Tak Terduga
Suatu hari, Naira menghadiri sebuah acara penghargaan bagi para entrepreneur muda di Jakarta, di mana ia juga menjadi salah satu nomine. Ia mengenakan gaun malam yang elegan, rambutnya ditata rapi, dan senyum percaya diri terpancar di wajahnya. Ia bukan lagi Naira yang rapuh dan murung, melainkan wanita yang kuat, berkelas, dan penuh inspirasi.
Di tengah keramaian acara, saat ia sedang berbincang dengan beberapa kolega, matanya menangkap siluet yang familiar. Seseorang yang berdiri tak jauh darinya, dikelilingi oleh beberapa pria berjas. Jantungnya berdebar, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena sedikit terkejut.
Itu Danang.
Penampilan Danang tampak lebih lusuh dari terakhir kali Naira melihatnya. Jasnya terlihat sedikit kedodoran, dan ada kerutan lelah di wajahnya. Rambutnya sedikit acak-acakan, dan tatapannya tidak lagi setajam dulu. Ia tampak jauh lebih tua dari usianya.
Naira mencoba mengabaikannya, melanjutkan percakapan. Namun, takdir punya rencana lain. Danang, yang sepertinya baru menyadari kehadirannya, menoleh. Mata mereka bertemu.
Mata Danang membelalak. Ada keterkejutan, ketidakpercayaan, dan sedikit rasa malu yang terpancar di wajahnya. Ia tidak menyangka akan bertemu Naira di acara semacam itu, apalagi melihat Naira yang begitu berbeda, begitu bercahaya. Ia seolah melihat hantu yang bangkit dari kubur.
Naira menatapnya tanpa ekspresi, tanpa senyum, tanpa kebencian. Hanya kehampaan. Seolah Danang hanyalah orang asing yang kebetulan berpapasan dengannya. Ia tidak menunduk, tidak berpaling, ia mempertahankan kontak mata itu, membiarkan Danang melihat betapa jauhnya ia telah melangkah.
Danang terlihat salah tingkah. Ia mencoba tersenyum canggung, namun Naira tidak membalas. Ia hanya mengangguk tipis, sebuah isyarat dingin yang mengakhiri pertemuan mata mereka. Kemudian, Naira berbalik, melanjutkan percakapan dengan teman-temannya, seolah Danang tidak pernah ada.
Ia tidak ingin meladeninya. Tidak ada lagi sisa emosi yang tersisa untuk Danang. Kemarahan, kesedihan, kekecewaan-semuanya telah lenyap, digantikan oleh ketenangan dan acuh tak acuh.
Namun, di tengah-tengah obrolan, ia mendengar suara Danang memanggil, "Naira..."
Ia mengabaikannya. Ia tidak menoleh. Ia tidak ingin lagi ada dalam dunianya.
Danang berjalan mendekat. "Naira, bisakah kita bicara sebentar?" Suaranya terdengar ragu, ada nada putus asa di sana.
Naira akhirnya menoleh, menatapnya. "Ada apa?" tanyanya datar.
Danang melihat perubahan di mata Naira. Tidak ada lagi keputusasaan atau kesedihan yang dulu sering ia lihat. Yang ada hanyalah ketegasan, kekuatan, dan sedikit keangkuhan yang sehat. Ia merasa ciut.
"Aku... aku ingin bicara tentang... tentang Arka," Danang memulai, suaranya pelan. "Dia... dia sering mencarimu."
Alis Naira terangkat. "Mencari saya? Setelah setahun? Setelah apa yang kalian lakukan?"
Danang menunduk. "Aku tahu kami salah, Naira. Aku tahu aku sangat salah."
Naira tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatapnya, menunggu.
"Hidup kami... tidak sama lagi sejak kau pergi, Naira," lanjut Danang, suaranya sedikit bergetar. "Rumah berantakan, Arka semakin sulit diatur. Dia... dia tidak mau makan, tidak mau sekolah dengan benar. Dia sering bertanya tentangmu."
Naira menahan napas. Ini bukan urusannya lagi. Tapi mendengar Arka mencarinya, entah kenapa, sedikit meluluhkan hatinya yang beku. Namun, ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh lagi ke dalam lubang yang sama.
"Itu adalah konsekuensi dari pilihan kalian, Danang," kata Naira dingin. "Kalian mengabaikanku. Kalian membiarkanku mati."
Mata Danang memancarkan rasa bersalah. "Aku tahu. Aku menyesal, Naira. Aku benar-benar menyesal. Bisakah... bisakah kamu kembali? Demi Arka. Dia membutuhkanmu."
Naira tertawa, tawa hampa tanpa emosi. "Kembali? Setelah semua yang kalian lakukan? Setelah kalian memperlakukanku seperti pelayan, setelah kalian membiarkanku nyaris mati? Danang, aku sudah mati di malam itu. Dan Naira yang kau kenal, Naira yang mencintaimu dan Arka, sudah tidak ada lagi."
Ia menatap Danang lurus di mata, memastikan setiap kata terpatri dalam benak pria itu. "Aku sudah punya kehidupan sendiri sekarang. Kehidupan yang aku bangun dari nol, tanpa kalian. Aku bahagia. Aku tidak butuh kalian lagi."
Danang tampak hancur. Wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca. "Tapi Arka... dia anakmu juga, Naira."
"Arka bukan anakku," potong Naira tegas. "Dia anakmu. Dan aku bukan ibunya."
Kata-kata itu bagaikan tamparan keras bagi Danang. Ia terdiam, tak mampu lagi membantah. Naira telah menutup pintu rapat-rapat.
"Aku pergi," kata Naira, lalu ia berbalik, meninggalkan Danang yang terpaku di tempatnya.
Ia berjalan menuju panggung, di mana namanya baru saja diumumkan sebagai salah satu penerima penghargaan. Ia naik ke panggung dengan langkah mantap, senyum yang merekah di bibirnya. Kilatan kamera menyambutnya, dan tepuk tangan bergemuruh di seluruh ruangan.
Ketika ia memegang piala penghargaan itu, matanya berkaca-kaca. Bukan karena kesedihan, melainkan karena kebahagiaan dan rasa syukur. Ia telah sampai di titik ini. Ia telah membuktikan bahwa ia bisa bangkit, bahwa ia bisa berdiri tegak, bahwa ia bisa bahagia.
Malam itu, di puncak kesuksesannya, Naira memandang ke depan. Ia tidak tahu apa lagi yang akan terjadi di masa depan, namun ia tahu satu hal: ia akan menghadapinya dengan kekuatan, keberanian, dan tekad yang baru. Masa lalunya telah mengukir dirinya, namun masa depannya akan ia ukir sendiri, dengan tangan dan hatinya.
Anda Mungkin Juga Suka
![Sampul Novel Ayo Kencan Pura-Pura, Temanku [21+]](https://v.melolo.com/b1265344voduse1318177724/746474e05001834806828084334/3oYJytb4k58A.webp!15491.webp)




