
Aku Menantu, Bukan Pembantu
Bab 3
Pagi sekali Reza sudah pamit pergi ke kantor karena harus kembali bekerja lagi seperti biasanya. Ia tidak bisa libur terlalu lama atau perusahaan akan tercoreng jelek di mata yang lainnya.
"Sayang, kamu jangan mengerjakan pekerjaan apapun di sini. Tetap diam layaknya seorang ratu di rumah ini, kamu istriku." Reza berkata sebelum memasuki mobilnya.
Irene menatap kesal dengan ucapan Reza yang baru saja ia dengar. Selepas lelaki itu pergi, Irene melemparkan beberapa pakaian kotor ke hadapan Fera yang masih berdiri diambang pintu melangkah masuk. Wanita itu tersentak kaget ketika kakinya sudah dipenuhi pakaian. Ia tidak mengerti apa maksud dari mertuanya itu.
"Ini pakaian siapa, Ma?" tanya Fera.
"Cuci semua pakaian itu," titah Irene.
"Apa?"
"Jangan banyak bertanya, tugas kamu di sini masih banyak. Semua pekerjaan rumah ini kamu yang harus menyelesaikannya."
"Tapi kata Mas Reza saya tidak boleh bekerja," ucap Fera yang tidak mau membantah perintah dari suaminya.
"Saya ini mertua kamu, harusnya kamu juga bisa mendengarkan apa yang saya perintahkan. Harus saya bilang sama kamu, kalau saya terpaksa menyetujui pernikahan kamu sama anak saya, saya tidak mau mempunyai menantu miskin dan kampungan kayak kamu!"
Fera benar-benar tertegun dengan pernyataan dari Irene, sungguh hatinya merasa sakit kala ucapan itu terdengar jelas di telinganya. Ia tahu hidupnya tidak semewah kehidupan Irene, tetapi Fera juga berhak untuk dihargai.
"Jangan pernah menyangkal apa yang saya katakan!"
Fera tidak mau berdebat apalagi dengan mertuanya, lalu ia pun mengambil semua pakaian itu dan mencucinya. Setelah mencuci, Irene juga memerintahkan pada wanita itu membersihkan halaman depan rumah.
Tanpa membantah, Fera juga melakukannya. Ia menyapu daun-daun di dekat pagar rumahnya, tetapi kefokusannya beralih pada Ibu-ibu yang terus memperhatikan ke arahnya. Fera merasa heran, sehingga ia cepat-cepat menyelesaikan tugasnya dan masuk ke rumah karena mereka berbisik-bisik dengan yang lainnya.
Wanita itu memang tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi Fera rasa mereka sedang membicarakannya. Saking terfokus pada orang tadi, sehingga Fera pun berhasil menabrak asisten rumah tangga.
"Ya ampun, maaf-maaf Bi. Saya benar-benar gak sengaja," sesal Fera.
"Gak apa-apa, Non. Lah, kok Non Fera bawa sapu buat apa?"
"Ini saya barusan abis nyapu halaman depan, Bi."
"Ngapain sih, Non? Kan udah ada Bibi di sini, lagian semua pekerjaan yang ada di sini adalah tugas Bibi."
"Gak apa-apa kok, Bi. Itung-itung saya bantuin meringankan pekerjaan Bibi aja," ucap Fera sambil tersenyum membuat asisten rumah tangga menggelengkan kepalanya.
Wanita itu mengambil sapu yang masih ada di tangan Fera, "Biar Bibi aja yang lanjutin, Non Fera istirahat aja."
Fera pun mengucapkan terima kasih yang kemudian masuk ke rumah. Sedangkan, asisten rumah tangga itu keluar dari pagar rumah tersebut untuk membuang sampah, ia tidak sengaja mendengar beberapa orang yang lewat membicarakan Fera.
Orang itu bilang kalau Fera adalah menantu yang tidak bisa apa-apa, ia hanya bisa shopping. Fera tidak bisa melakukan tugasnya sebagai seorang istri sekaligus menantu, mungkin niatnya menikah hanya untuk mengambil harta Reza.
"Apa maksud kalian membicarakan Non Fera seperti itu?" tanya asisten rumah tangga tersebut.
"Heh, kamu itu cuma pembantu jadi gak usah ikut campur, deh."
"Saya berhak ikut campur jika kalian membawa nama baik majikan saya!"
"Bukan urusanmu jika kita membicarakan majikanmu itu!" tegas salah satunya seraya pergi diikuti oleh yang lainnya.
Wanita itu tidak berbicara lagi, ia hanya diam sambil memikirkan bahwa siapa yang sudah menyebarkan berita tidak benar ke masyarakat. Sedangkan, Fera saja selama menikah dengan Reza tidak kunjung pergi keluar untuk berinteraksi dengan mereka.
"Jangan sampai Non Fera mendengar hal ini atau dia akan merasa kesal," ucapnya sambil masuk kembali ke area tempat itu.
Ia dikagetkan oleh Irene yang sudah berada di hadapannya tepat di ambang pintu masuk ke rumah itu.
"Ibu," ucapnya.
"Ina, Fera mana?" tanya Irene.
"Dia tadi masuk ke dalam, mungkin Nona ada di kamarnya."
Irene menatap kesal, lalu bergegas ke tempat yang dimaksud. Ia mengetuk pintu kamar Reza dengan kasar, sehingga Fera cukup terkejut.
"Iya, Ma?" tanya Fera sambil membuka pintu.
"Ada apa kamu bilang? Kerjaan kamu itu masih banyak, jangan seenaknya diam di kamar aja!"
"Maaf, Ma."
Irene membelalakkan matanya, lalu ia menyuruh Fera untuk menyeterika pakaiannya. Ia pun melakukannya, tetapi ternyata hasil dari pekerjaannya tetap saja tidak dihargai oleh Irene, ia bilang kalau Fera tidak bisa bekerja. Menyetrika baju saja tidak rapi sedikit pun.
Fera adalah orang biasa, ia tidak menggunakan seterika ketika berada di rumahnya karena memang tidak punya. Sehingga, ketika saat ini menggunakannya Fera pun tidak tahu.
"Dasar gak becus kerja, lain kali kamu belajar."
Wanita itu hanya mengangguk dengan ekspresi wajah datarnya. Bahkan, ketika Irene pergi pun Fera masihh berdiri menatap kepergiannya. Irene berbalik melihat ke arah gadis itu sambil mengatakan agar Fera melakukan pekerjaan lain.
"Kamu siapkan buat makan malam aja, nanti Reza pasti pulang pengen makan."
"Iya, Ma. Fera akan masak sekarang," jawab Fera.
Ia bergegas memasuki dapur, mencuci bahan-bahan untuk memasak, memotong beberapa sayuran dan melakukan hal yang lainnya. Ina datang ke sana karena ketika ia masih bersih-bersih ternyata mencium bau makanan dari dapur.
"Non Fera, ngapain masak? Udah-udah, Non. Biar Bibi aja yang masak, Non duduk aja di situ." Ina berbicara sambil mengambil pisau dan sayuran yang sedang dipotong oleh Fera.
Namun, tiba-tiba Irene datang ke sana menegur Ina agar tidak ikut campur memasak karena Fera mau membuat makanan untuk suaminya.
"Tapi, Bu. Kasian Non Fera kalau disuruh masak," protes Ina.
"Heh, saya itu majikan kamu. Saya yang menentukan nasib kamu di sini, jadi sebaiknya kalau bicara sama saya pikir-pikir dulu."
"Bi, udah saya aja yang masak." Fera berbicara pada wanita itu.
Dengan berat hati Ina pun mengangguk pelan, lalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Irene pun berkata pada Fera agar melanjutkan pekerjaannya.
"Iya, Ma."
Ina berada di tempat lain, ia sedang merapikan beberapa hiasan yang ada di rumah itu. Ia memikirkan Fera, Ina merasa kasihan pada wanita itu karena selalu mengerjakan tugasnya sedangkan di pandang jelek oleh orang sekitar padahal itu tidaklah benar karena Ina tahu sendiri kenyataannya seperti apa?
'Saya tidak akan mungkin bisa melawan Ibu agar Non Fera tetap diam saja, tapi saya kasihan dia sebagai menantu malah harus bekerja keras di sini.' Ina membatin.
'Berbicara sama Pak Reza pun rasanya gak mungkin, gimana kalau dia gak percaya sama saya?'
Anda Mungkin Juga Suka





