
Aku Dokter Ibumu, Bukan Pembantumu, Mas!
Bab 3
"Kamu pikir saya senang gitu? Trus melompat-lompat bahagia bisa menikahi si-super sombong. Nggak sudi. Cuh ...!"
****
'Kamu bisa paham nggak sih, dengan bahasa manusia? Saya udah bilang berkali-kali, cepat angkat kaki dari sini. Kami nggak butuh pembantu model kayak kamu. Saya bisa cari orang yang seratus kali lebih baik dari kamu!'
Ucapan kasar Tama itu terus terngiang di kepala Ayu. Sambil berjalan pelan, ia menengok ke kiri dan kanan-mencari-cari apakah sosok menyebalkan itu masih ada.
"Huuh ... untung aja si-sombong itu udah pulang. Aman," gumam Ayu lega. "Nunggu bulan depan baru nongol lagi. Kayak je lang kung- datang nggak diundang, pulang pun nggak diantar. Ih ...."
Ia bergidik sendiri, membayangkan betapa menyeramkannya kalau harus berhadapan dengan Tama lagi.
Tak lama, Ayu berkeliling sambil membawa nampan berisi teh herbal dan camilan sehat buatan sendiri.
"Ibu di mana ya? Dari tadi dicari nggak kelihatan," gumamnya pelan sambil menyusuri sudut-sudut rumah.
Begitu sampai di teras, matanya langsung menangkap sosok Ibu Lestari yang tengah duduk menikmati udara sore.
"Eh, Ibu ternyata di sini toh! Ayu cari-cari dari tadi. Baru pulang, Bu? Gimana kegiatannya hari ini?"
Ayu segera menghampiri, lalu meletakkan nampan di meja kecil di sebelah Ibu Lestari.
"Nih Bu, teh herbal hangat dan camilan sehat. Semuanya aman untuk Ibu," ucap Ayu sambil tersenyum hangat.
Ibu Lestari membalas senyuman Ayu, lalu menepuk sisi kursi rotan di sebelahnya.
"Sini duduk di samping Ibu, Yu."
"Terima kasih, ya, untuk tehnya."
Ayu duduk, dan Ibu Lestari mengambil cangkir yang disodorkan dengan tangan ringan.
"Ibu senang banget hari ini ...," ucapnya, matanya tampak berbinar.
Ayu menoleh penasaran.
"Tadi Ibu ketemu istri-istri teman almarhum suami Ibu. Sudah lama banget nggak ngobrol sama mereka. Rasanya seperti nostalgia."
Senyuman lebar mengembang di wajah Ibu Lestari. Wajahnya tampak cerah-jauh dari kesan lelah.
Ayu ikut tersenyum. Momen seperti itu membuat semua rasa lelahnya seolah terbayar.
"Tahu nggak, Yu? Teman-teman Ibu tadi semuanya diantar cucu dan menantu. Ibu senang banget lihat mereka. Menantunya sopan-sopan dan sayang sama mertuanya," ujar Lestari sambil tersenyum lebar.
Matanya berbinar, penuh kebahagiaan yang seolah ikut menular.
"Lucunya lagi, ada yang bawa cucu kembar. Eh, mereka minta digendong sama omanya. Aduh ... gemes banget!"
Lestari tertawa pelan, tapi tanpa ia sadari, tawa itu perlahan berubah. Air matanya jatuh membasahi pipi.
Ayu yang duduk di sampingnya ikut terdiam, merasakan perubahan suasana yang tiba-tiba.
Wajah Lestari tertunduk. Nada suaranya berubah sendu.
"Tapi Ibu dan mamamu mungkin nggak seberuntung mereka, Yu. Kami nggak tahu ... umur kami sampai kapan. Apakah kami masih sempat melihat anak-anak kami menikah? Punya cucu? Apalagi Ibu, yang sudah sakit-sakitan begini ...."
Itulah unek-unek yang selama ini ia pendam.
Ayu mengelus lembut punggung Lestari.
"Sabar ya, Bu. Ayu yakin ... nggak lama lagi Mas Tama pasti bertemu jodohnya. Ibu jangan sedih, ya?"
Lestari mengangguk lemah, lalu berkata pelan, "Ibu takut, Tama salah pilih. Dia hanya melihat dari tampilan luar. Dia nggak bisa lihat hati orang. Nggak semua yang cantik itu baik, Yu. Harus lihat bibit, bebet, dan bobot."
Air matanya kembali menetes.
Ayu meraih tangan Lestari. "Kita sama-sama doain, ya Bu. Allah pasti kirimkan yang terbaik buat Mas Tama. Dan buat Ibu juga ... menantu yang bisa sayang seperti anak sendiri."
Ia memeluk wanita paruh baya itu sambil mengusap air matanya dengan saputangan.
Tiba-tiba Lestari duduk lebih tegak. Wajahnya serius.
"Maka dari itu, Ibu dan mamamu sudah sepakat dalam satu hal."
Ayu menoleh dengan bingung, tapi masih tersenyum.
"Kami mau menjodohkan kalian."
Ayu tercekat. "Uhuk! Uhuk!" Ia tersedak minuman yang baru saja ia teguk.
"Kamu pelan-pelan dong, minumnya," Lestari mengelus punggung Ayu.
"Maksud Ibu ...?" tanya Ayu, memastikan apa ia salah dengar.
"Iya, Yu. Kami sepakat mau menjodohkan kamu dan Tama."
"Tapi Bu ...."
Ayu tampak gugup. Ia mencari cara untuk menanggapi tanpa menyakiti hati Lestari.
"Ibu bercanda, 'kan? Ayu yakin Mas Tama sudah punya calon. Kita tunggu aja Bu, siapa tahu sebentar lagi Tama kenalkan orangnya."
"Ibu dan mamamu takut dapat menantu yang salah. Yang cuma sayang sama pasangan, tapi galak sama mertua. Ibu nggak sanggup kalau harus ngerasain itu."
Wajah Lestari terlihat cemas.
Ayu berusaha mencairkan suasana.
"Duh, Ibu sih kebanyakan nonton sinetron India. Jadi baper terus. Hahaha ...."
Ia mengelus punggung Lestari, mencoba menenangkan.
"Ibu harus hargai keputusan Mas Tama. Yang jalani rumah tangga, 'kan dia. Kita cukup mendoakan yang terbaik, bukan memaksakan."
"Tapi ... Ibu tetap yakin, orangtua bisa tahu mana yang cocok untuk anaknya."
Ayu hanya tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan.
Ia memilih mengalah untuk mengakhiri pembicaraan itu. Karena kalau dilawan, diskusi ini tak akan ada habisnya.
"Ayo, Bu. Kita makan malam. Ayu sudah siapkan semuanya," ucap Ayu lembut.
Namun, Ibu Lestari menahan langkahnya, menatap Ayu serius.
"Janji ya, Yu. Kamu akan pertimbangkan rencana perjodohan kami?"
Ayu tersenyum menenangkan, meski hatinya bergejolak.
"Iya, Bu. Ayu janji akan pikirkan baik-baik. Ibu jangan khawatir, ya ...."
Ia lalu membantu Ibu Lestari berdiri. Senyumnya tetap terjaga, meski pikirannya dipenuhi keresahan. Ia tak ingin Lestari terbebani, apalagi sampai jatuh sakit.
Saat mereka berjalan menuju ruang makan, Ayu menggumam dalam hati:
'Dijodohkan sama si-Sombong? Apa kata dunia? Belum kiamat, aku udah duluan masuk neraka! Ini nggak boleh terjadi. Nggak bisa.'
Namun langkahnya terhenti.
"Eh ... ayo dimak-"
Ucapan Ayu terputus. Tama tiba-tiba datang dan langsung duduk manis di meja makan, dengan wajah penuh senyum.
"Selamat malam, Bu. Ayo kita makan?" katanya riang.
Senyumnya lebar, seperti baru dapat kabar gembira.
Lestari dan Ayu saling berpandangan-heran.
Tama biasanya ogah menyentuh makanan rumah, tapi kini malah tampak seperti pelanggan tetap.
"Mmm ... enak banget," gumam Tama sambil terus makan. "Bi Inah, besok tolong bawain bekal ke kantor, ya."
"Iya, Den," jawab Bi Inah dari dapur sambil mencuci piring.
Tama menikmati setiap suapan. Ia bahkan memuji masakan yang sebenarnya ... bukan buatan Bi Inah. Tapi Ayu.
"Ibu les-in Bi Inah masak, ya? Sekarang masakannya naik kelas," katanya polos.
Ayu dan Lestari hanya diam, menahan senyum. Mereka tahu, jika Tama tahu itu buatan Ayu, pasti langsung dihina tanpa ampun.
Setelah makan, suasana agak cair. Namun, Ayu memilih diam, seperti biasa-tak ingin menyulut api yang bisa meledak kapan saja.
Malam semakin larut. Saat semua penghuni rumah sudah tertidur, ketukan terdengar di pintu kamar Ayu.
"Tok ... tok ... tok ...."
"Ayu, keluar. Temui saya di teras. Bikin kopi."
Dengan malas, Ayu menurut. Ia tahu Tama tak akan berhenti kalau tak dituruti.
Tama duduk di kursi teras, menyambut kopi buatan Ayu dengan ekspresi puas.
"Duduk kamu," katanya tajam sambil menyeruput.
Lalu, nada suaranya berubah dingin-tajam seperti pisau.
"Dengar baik-baik. Jangan kamu besar kepala karena Ibu saya selalu belain kamu. Jangan GR soal perjodohan itu. Kamu cuma numpang di rumah ini. Lebih baik angkat kaki sebelum kebusukan kamu dan Ibu kamu ketahuan. Pake alasan 'sahabat' buat nyuci otak Ibu saya? Hah!"
Ayu mengepalkan tangan. Darahnya naik.
"Kamu pikir saya senang? Melompat kegirangan bisa nikah sama pria super sombong, super nyebelin kayak kamu? Gak sudi! Cuh ...!"
Ayu berdiri dengan mata menyala. Ia ingin meledak.
Tapi demi Ibu Lestari, ia menahan segalanya. Ia hanya ingin masuk kamar dan menenangkan diri.
Namun, Tama menahan.
"Yu ... Ayu! Saya belum selesai bicara! Kamu mau ke mana?" suaranya meninggi.
Ayu terus berjalan. Bahunya menegang.
Namun, tanpa sengaja kaki Ayu tersandung oleh kaki meja dan membuat tubuhnya terhuyung jatuh ke arah Tama dan jatuh dalam pelukan Tama.
'Eh ... Kok bisa begini sih?' sahut Ayu dalam hati.
Dan tiba-tiba, Tama mendekatkan wajahnya.
Napas mereka nyaris bertemu. Ayu membeku.
Lalu ....
****
"Mendengarkan bukan berarti menyetujui, tapi menunjukkan rasa hormat."
Anda Mungkin Juga Suka





