
Aku dan "Sahabatku"
Bab 3
Aku berjalan keluar dengan santai, sementara Aldi membantu Melinda naik ke kursi di samping sopir.
Setelah itu, Aldi langsung menginjak pedal gas dan melaju pergi bahkan tanpa melirik ke arahku.
Aku berjalan mengelilingi mal untuk membunuh waktu, lalu pulang ke rumah Keluarga Noran.
Begitu aku pulang, aku langsung melihat Melinda yang sedang duduk di sofa di ruang tamu. Ekspresinya terlihat gembira.
Saat melihatku pulang, dia pun memijat pelipisnya sambil berkata, "Agnes, Kak Aldi mengundangku untuk tinggal sebentar di sini sampai lukaku sembuh. Kamu nggak keberatan, 'kan?"
Aku meletakkan barang yang kubawa dan bertanya dengan nada mengejek, "Kamu sudah nggak punya batas privasi, ya?"
"Agnes! Ngapain kamu di sini!" tegur Aldi dengan dingin. "Apa mungkin Melinda akan terluka kalau bukan karena kamu menakut-nakutinya?"
"Dia akan tinggal beberapa lama di sini untuk memulihkan diri! Kamu yang menyebabkan semua ini, jadi kamu juga yang harus merawatnya!"
Ah, aku mengerti. Aldi berharap aku, sang putri kandung dari keluarga kaya ini, melayani Melinda?
Aku pun mengambil tas tanganku lagi dan mulai berjalan keluar. "Oke, aku nggak akan mengganggu kalian. Aku pulang ke rumah orangtuaku saja."
"Kamu!" Aldi sontak terdiam. Melinda yang berdiri di belakangnya pun memasang ekspresi sedih seolah-olah aku mengasihaninya, lalu berkata dengan lembut, "Sudahlah, Agnes, ini juga bukan masalah besar. Aku nggak butuh permintaan maafmu."
"Kak Aldi itu pria baik-baik. Kuharap kamu bisa menyayanginya dengan sepenuh hati."
Ekspresi Aldi sontak terlihat lembut, ekspresi yang belum pernah kulihat semenjak kami menikah.
Dia memegangi tangan Melinda sambil memerintahkan kepala pelayan, "Bibi Alma! Tolong bersihkan kamar di lantai dua dan siapkan segala sesuatu yang Melinda inginkan!"
Setelah itu, dia menoleh ke arahku dan berkata dengan tidak sabar, "Kamu tunggu di sini! Aku akan membereskan semua ini denganmu ketika aku kembali!"
Aku refleks tertawa. "Oke, kutunggu di sini. Aku mau lihat siapa yang ingin menyelesaikan masalah dengan siapa."
"Kalau kamu sebegitunya mencintai putri sopirku, nanti kuminta orangtuaku untuk memberikannya kepadamu!"
Melinda sontak terhuyung, matanya tampak berkaca-kaca dan dia berkata dengan terisak, "Agnes, aku tahu kamu masih marah padaku. Tapi, aku begini karena aku benar-benar menganggapmu sebagai sahabat dan juga saudaraku."
"Kalaupun kamu nggak bisa memahamiku, kamu nggak seharusnya menuduhku begini ...."
Aku mungkin akan termakan tipu dayanya jika bukan karena terlahir kembali.
Aku pun bangkit berdiri dan menatap Aldi yang sedang melindungi Melinda dalam pelukannya, lalu berkata dengan nada mengejek, "Kamu bilang Aldi itu pria baik-baik? Bukannya dia lagi sibuk memelukmu sekarang? Masa iya kamu masih menganggapnya pria baik-baik?"
"Jangan-jangan yang kamu sebut bajingan itu hanyalah pria yang mau tidur denganmu seperti semua mantanku dulu?"
"Agnes!" Aldi menunjuk ke arahku dengan marah. "Melinda baru saja membuatku mendengar rekaman obrolan itu! Dia nggak ada hubungannya dengan mantanmu!"
"Dia hanya mengobrol santai saja, lalu menyadari kalau mereka menyimpan niat jahat! Dia justru berbaik hati mengingatkanmu!"
"Lalu, kamu! Kamu sebenarnya semurahan apa sampai-sampai punya mantan sebanyak itu!"
Melinda menangis diam-diam di sampingnya dan berkata dengan suara pelan, "Ini bukan salah Agnes, Kak Aldi. Aku memang nggak seharusnya terlalu ikut campur dengan urusannya."
Aldi memegang bahu Melinda dengan lembut sambil berkata dengan nada menghina, "Dia itu cuma putri angkat keluargamu, dia nggak terlahir dengan pembawaan sebagai seorang putri kaya."
"Keluarga Sanara benar-benar sudah meremehkan Keluarga Noran! Masa iya mereka membiarkan bajingan yang bahkan nggak tahu bagaimana menghargai dirinya sendiri menjadi menantu Keluarga Noran!"
Lihat, ini adalah bajingan ke-21 yang berhasil Melinda buktikan kepadaku. Kali ini aku sangat berterima kasih pada Melinda.
Aku pun duduk menyilangkan kaki, lalu bertanya dengan santai, "Jadi, kamu mau membatalkan pertunangan ini sekarang?"
Aldi dan Melinda sontak tertegun.
Sedari dulu, Melinda hanya berani berpura-pura menjadi aku untuk merusak hubunganku. Mana mungkin dia berani memutuskan untuk membatalkan pertunangan seperti ini?
Aldi pun tersadar dari keterkejutannya dan berkata dengan tegas, "Baguslah kalau kamu tahu diri! Posisi sebagai istriku itu sama sekali nggak ditujukan untuk wanita berjiwa bebas sepertimu!"
"Kalau kamu tahu diri, cepat pergi dari sini dan jangan mengotori rumah Keluarga Noran lagi!"
"Sembarangan saja bicara!" Begitu Aldi selesai bicara, suara bentakan marah pun terdengar dari luar. "Membatalkan pertunangan? Kamu nggak berhak memutuskan soal itu!"
Semua orang refleks melihat ke arah sumber suara. Ayahku, Roman Sanara, berjalan masuk dengan ekspresi cemberut. Di belakangnya ada ibuku dan orangtua Aldi yang sama-sama terlihat kesal.
Anda Mungkin Juga Suka





