
Aku bukan wanita penggoda
Bab 2
“Puss ... puss ...” Anindya memanggil kucing dengan berjalan dengan pelan. “Jangan lari, Yaya ngga jahat kok.”
Anindya melangkah pelan dengan terus memanggil kucing kampung berwarna abu-abu itu. Ketika jarak semakin dekat, tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggil namanya hingga membuat hewan cantik dan menggemaskan itu pergi.
“Yah, kucingnya ...” Lalu Anindya menghela nafas kasar dan berbalik untuk menatap anak-anak nakal yang membuat si abu pergi. “Ini semua karna kalian!”
“Main yuk!” Seperti tidak mengerti situasi salah satu dari ke empat anak itu melanjutkan perkataannya yang semakin membuat Anindya kesal.
“Ngga mau!”
“Lho kok gitu? Biasanya–“
“Kalian semua buat aku kesal!” Gadis kecil itu kembali menatap kepergian si abu dengan sedih, padahal sudah dari beberapa hari yang lalu Anindya ingin menangkapnya, tapi selalu gagal karna kucing itu lari ketika di dekati.
Baru tadi si abu tidak lari saat ia mencoba mendekat, tapi sialnya malah pergi lagi karna kaget mendengar suara dari mantan temannya.
“Kok gitu? Memang salah kami apa?”
Anindya kembali menatap salah satu dari anak lelaki itu dengan tak percaya. “Masih bertanya lagi! Apa kalian tidak lihat kalau tadi aku lagi berusaha mengambil kucing?”
“Oh, jadi cuma karna kucing?” Salah satu anak lelaki yang berusia jauh lebih tua dari Anindya menatap teman-temannya sambil menahan tawa. “Astaga, asal kamu tahu kalau–“
“Pergi dari sini, Yaya ngga mau bermain dengan kalian lagi!” Setelah mengatakan Itu Anindya kembali masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal.
Gadis kecil itu mengintip beberapa anak lelaki dari kaca, kemudian ia mengembangkan senyum ketika melihat mereka meninggalkan rumahnya.
“Huss! Pergi saja dari rumah Yaya,” Anindya lalu berbalik dan berteriak kaget mendapati ayahnya berdiri di belakangnya.
“Kamu kenapa sih Yaya?”
“Ih, Ayah buat aku kaget aja!” Gadis kecil itu memberikan senyum polosnya pada sang ayah yang menaikkan satu alis.
“Kenapa kamu malah senyum-senyum?” Adam sangat tahu keinginan sang anak, tapi ia pura-pura tidak tahu karna tidak ingin putrinya membuat masalah lagi.
“Ayah ... Yaya boleh main bersama anak-anak itu lagi ya?” Anindya menangkup kedua tangan sembari membuat gaya memohon. “Yaya janji ngga buat masalah lagi.”
“Kamu main di rumah saja!” Putus Adam, lalu berbalik dan berjalan menuju ruang tengah lagi.
Anindya tentu saja tidak berhenti sampai di situ, ia mengikuti ke mana pun Adam pergi. Bahkan Gadis itu juga sengaja berdiri sambil bersandar di dinding.
Ayah dari Anindya melihat putrinya sudah cukup lama berdiri di sana sebenarnya tidak tega, tapi ia harus melakukan hal itu mengingat apa yang di lakukan putrinya pada anak panti kemarin.
Adam berusaha keras untuk tidak menoleh dan terus menatap layar televisi. Ia juga tahu kalau putrinya sedang menangis dalam diam, tapi pria itu tidak akan tertipu lagi.
“Ayah jahat, padahal aku cuma mau main tapi tetap saja tidak boleh,” ucap Anindya di sela tangis sandiwaranya. “Di rumah, ngga ada taman. Eh, tadi ada tapi mereka jahat.”
Anindya terus bicara dengan menundukkan kepala, ia juga pura-pura terisak agar semakin memperkuat sandiwaranya.
Di dalam hati, gadis kecil itu yakin kalau sang ayah tidak akan tega melihatnya menangis dan sebentar lagi akan luluh.
“Oke-oke!”
Anindya masih menunduk menahan senyumnya, ia belum mendongak untuk menatap sang ayah.
“Kamu boleh pergi.”
Tanpa menoleh, gadis kecil itu langsung berlari keluar dari rumah. Anindya terseyum bahagia ketika sampai di seberang jalan di mana tempat panti berada.
Rumahnya ada di dalam gang yang jarang di lalui oleh kendaraan besar, sesekali ada motor yang lewat tapi dengan kecepatan rendah mengingat banyaknya anak kecil di sini.
“Ayah mudah sekali di tipunya,” ucap Anindya sambil cekikilan, lalu mengalihkan pandangan ke rumahnya.
Kemudian, anak kecil itu kembali melangkah memasuki gerbang, lalu mengedarkan pandangan dan melihat anak lelaki yang membuatnya terkenal masalah.
“Aku harus balas dendam!” Yaya lalu mendekati anak lelaki itu dan berdiri tak jauh darinya. “Gara-gara kamu, aku di marahi semua orang!”
Anak lelaki itu menurunkan buku dari wajahnya yang membuat Anindya kaget, tapi berusaha agar terlihat kesal dengannya.
“Kamu puas kan, melihat Yaya tidak di sukai semua orang?”
“Maaf,” ucapnya yang membuat Anindya sedikit kaget, namun gadis kecil itu diam hingga anak lelaki itu buka suara lagi. “Aku tidak bermaksud melakukannya.”
“Tapi karna itu Yaya jadi ngga punya teman dan ... di jauhi semua orang,” dengan santainya Anindya duduk di samping anak lelaki itu, lalu menghela nafas kasar. “Yaya sebenarnya juga baru saja di marahi oleh Ayah.”
“Kenapa?”
Anindya mengalihkan pandangan dan tatapannya bertemu dengan lelaki yang beberapa tahun lebih tua darinya. “Ya karna kejadian kemarin!”
Lalu tak ada yang bicara lagi, baik gadis kecil atau anak lelaki itu hanya menatap anak-anak lain yang sedang bermain di halaman rumah tak jauh dari mereka.
Sebenarnya Anindya ingin bicara, tapi urung di lakukannya karna masih kesal dengan anak lelaki di sampingnya.
“Nama kamu siapa?” tanya anak lelaki itu lebih dulu sambil mengalihkan pandangan pada Anindya.
“Yaya, kamu sendiri siapa namanya?”
“Hanya Yaya?”
Anindya mengangguk. “Iya, kamu sendiri?”
“Yezra.”
“Yera?”
“Bukan tapi Yezra.”
“Eja?”
“Bukan-bukan!” Yezra menahan kesabarannya. “Tapi Y-E-Z-R-A.”
“Oh, Yeja.”
Yezra mendengus. “Terserah kamu saja “
“Memang yang aku katakan tadi salah?” tanya anak itu polos, membuat Yezra menghela nafas lelah.
“Ngga salah,” ucapnya malas. “Oh ya, umur kamu berapa?”
“Umur? Hm... berapa ya?” Anindya berpikir dengan gaya lucu, membuat siapa pun bahkan Yezra sendiri gemas. “Enam tahun.”
Yezra menahan tawa karna ucapan serta tangan gadis kecil itu berbeda. “Kalau ini namanya sepuluh.”
“Eh?” Anindya melihat tangannya sendiri, lalu meringis. “Ah, kamu benar.”
Yezra menaikkan satu alisnya. “Benar? Memang kamu tahu ang–“
“Sudah dong, aku bahkan bisa berhitung sampai sepuluh.” Gadis itu mengatakannya dengan sombong membuat Yezra yang tadinya ingin marah mengurungnya.
“Tapi tadi kenapa bisa salah?”
“Oh itu karna ... aku tidak mmelihatnya” Anindya memberikan senyuman polosnya, hingga membuat gingsulnya terlihat. “Kamu sendiri umurnya berapa?”
“Lebih tua darimu, dua belas tahun,” Yezra tersenyum tipis pada gadis kecil ternyata tidak seburuk seperti yang di bayangkan olehnya.
“Oh, berarti Yaya harus panggil Mas sama Yeja ya? Seperti yang di katakan Bunda.”
Yezra mengangguk sambil menahan senyum, kemudian mengalihkan pandangannya. Anak lelaki itu sama sekali tidak ingin bermain dengan anak kecil, tapi sepertinya untuk gadis kecil di samping adalah pengecualiannya.
“Oke, mulai sekarang aku akan panggil Mas Yeja.” Anindya tertawa setelahnya yang membuat Yezra gemas, lalu mengacak rambut gadis kecil itu.
“Kamu lucu.”
“Mas Yeja orang ke empat yang bilang Yaya itu lucu," ungkapnya percaya diri dengan lagi-lagi memberikan senyum lebar pada Yezra.
Anda Mungkin Juga Suka





