Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Bukan Pengganti, Aku Istri Sahmu!

Aku Bukan Pengganti, Aku Istri Sahmu!

Ditinggal kabur oleh Andi di hari pernikahan membuat hidup Sarah hancur seketika. Demi menutupi aib keluarga, Bayu yang merupakan kakak Andi terpaksa maju menggantikan posisi sang adik di pelaminan. Namun, kehidupan baru Sarah penuh penderitaan karena sikap Bayu yang sangat dingin dan tak acuh. Di balik kebencian itu, tersimpan misteri besar mengenai alasan hilangnya Andi. Sarah kini terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan rahasia gelap.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, apartemen yang seharusnya menjadi sarang cinta itu terasa semakin dingin. Sarah terbangun dengan kepala berat, sisa-sisa mimpi buruk masih menempel erat. Bayangan Elena, wanita di foto Bayu, terus menghantui pikirannya. Siapa dia? Mengapa Bayu menyimpannya begitu tersembunyi? Dan mengapa namanya terukir dengan begitu jelas di ingatan Sarah?

Bayu sudah berangkat kerja. Seperti biasa. Apartemen terasa hening, hanya ada suara dengung AC yang monoton. Sarah memutuskan untuk melakukan apa yang ia rasa perlu: mencari tahu lebih banyak tentang Elena. Ia tahu ini melanggar privasi Bayu, tapi rasa penasarannya sudah tak terbendung. Ini bukan lagi sekadar mencari tahu kenapa Andi kabur, tapi juga tentang memahami pria yang kini menjadi suaminya, dan mengapa ia begitu dingin.

Ia membuka laptopnya, mencari di internet. Nama "Elena" terlalu umum. Ia mencoba mencari dengan kombinasi "Elena" dan "keluarga Pratama"-nama belakang Andi dan Bayu. Hasil pencarian pertama menunjukkan sebuah berita lama dari beberapa tahun lalu. Sebuah kecelakaan mobil tragis.

Jantung Sarah berdegup kencang saat ia membaca judulnya: "Kecelakaan Maut Merenggut Nyawa Mahasiswi Berprestasi, Elena Pratama."

Pratama. Nama belakang yang sama. Sarah segera mengklik berita itu. Di sana, sebuah foto terpampang jelas: wajah Elena yang tersenyum cerah, sama persis dengan yang ada di foto Bayu. Dan di bawah foto itu, tertera nama lengkapnya: Elena Pratama, adik kandung Bayu Pratama.

Dunia Sarah seolah runtuh. Elena adalah adik Bayu. Bukan kekasihnya, tapi adiknya sendiri. Lalu, mengapa Bayu menyimpan fotonya dengan tatapan yang begitu pilu? Mengapa ia begitu dingin setelah kematian adiknya? Dan apa hubungannya semua ini dengan Andi?

Berita itu merinci kronologi kecelakaan. Elena tewas di tempat kejadian akibat benturan keras. Pengemudi mobil lain dinyatakan bersalah karena mengemudi di bawah pengaruh alkohol. Namun, ada satu detail kecil yang menarik perhatian Sarah: Andi Pratama, kakak Elena, juga berada di dalam mobil saat kejadian, namun berhasil selamat dengan luka ringan.

Sarah merasakan darahnya berdesir dingin. Jadi, Andi ada di sana. Ia selamat, sementara adiknya meninggal. Sebuah kemungkinan menyeruak di benaknya, sebuah pemikiran yang begitu kelam dan mengerikan: mungkinkah Andi merasa bersalah? Apakah ini alasan di balik kepergiannya yang tiba-tiba? Sebuah trauma yang tak tertahankan?

Sarah terus membaca setiap detail berita. Disebutkan bahwa Elena adalah mahasiswi kedokteran yang cemerlang, dikenal ceria dan penuh semangat. Ia adalah kebanggaan keluarga Pratama. Kehilangan Elena pasti menjadi pukulan telak bagi mereka, terutama Bayu sebagai kakak sulung.

Ia ingat bagaimana Bu Rima sering menyebutkan tentang seorang anak perempuan yang hilang, dengan nada sedih. Sekarang Sarah mengerti siapa yang dimaksud.

Tiba-tiba, suara kunci pintu berputar. Sarah terlonjak, buru-buru menutup tab browser dan mematikan laptopnya. Ia tak menyangka Bayu akan pulang secepat ini.

"Kau di rumah?" Suara Bayu terdengar dari ruang tamu. Ia tampak mengenakan setelan kasual, bukan jas kantornya.

Sarah keluar dari kamar, jantungnya masih berdebar. "Ya. Ada apa?"

Bayu melangkah ke dapur, mengambil sebotol air dingin dari kulkas. "Aku lupa mengambil beberapa dokumen penting. Akan kembali ke kantor sebentar lagi."

Sarah mengangguk, berusaha terlihat tenang. Ia mencuri pandang ke arah Bayu. Wajahnya tetap datar, namun kini, setelah mengetahui tentang Elena, Sarah bisa merasakan aura kesedihan yang tak terlihat menguar dari dirinya. Seolah ada awan gelap yang selalu mengikutinya.

"Bayu..." Sarah memberanikan diri. "Aku... aku melihat foto di kamarmu."

Bayu menegang. Ia berbalik, menatap Sarah dengan tatapan tajam yang membuat Sarah sedikit gentar. "Kau menggeledah barang-barangku?" Suaranya rendah, penuh peringatan.

"Maaf," kata Sarah, "Aku tidak bermaksud lancang. Tapi... aku penasaran." Ia menarik napas dalam-dalam. "Dia adikmu, kan? Elena."

Seketika, mata Bayu yang tadinya dingin kini memancarkan sesuatu yang lain. Ada kilatan kesedihan yang mendalam, juga sedikit amarah. Ia tak menjawab, hanya membuang muka.

"Aku membaca berita tentang kecelakaannya," lanjut Sarah, suaranya pelan. "Aku turut berduka cita, Bayu. Aku tidak tahu."

Keheningan menggantung di antara mereka. Keheningan yang sarat dengan emosi yang tak terucap. Bayu akhirnya berbalik, menatap Sarah lagi. Matanya kini tampak lelah.

"Dia adalah segalanya bagi keluarga kami," kata Bayu, suaranya bergetar tipis, nyaris tak terdengar. Ini adalah kali pertama Sarah mendengar Bayu menunjukkan sedikit emosi, sedikit kelemahan. "Dia adalah anak paling pintar, paling ceria. Masa depannya cerah."

"Dan Andi ada di sana saat itu," sambung Sarah, pelan.

Bayu mengangguk, rahangnya mengeras. "Andi mengemudikan mobil saat itu."

Sarah terhenyak. Andi yang mengemudi? Berita yang ia baca hanya menyebutkan ada pengemudi lain yang bersalah karena alkohol. Tapi tidak menyebutkan bahwa Andi adalah pengemudi mobil yang sama dengan Elena. Kenapa detail penting ini tidak disebutkan?

"Jadi, Andi yang mengemudi?" Sarah bertanya lagi, ingin memastikan.

Bayu menghela napas panjang. "Saat itu, mereka baru pulang dari pesta. Elena memohon pada Andi untuk mengantarnya pulang, padahal Andi sudah minum sedikit. Dia menolak, tapi Elena terus memaksa. Akhirnya, Andi menyerah." Ia berhenti sejenak, memejamkan mata. "Dan di tengah jalan, kecelakaan itu terjadi. Sebuah truk melaju kencang dari arah berlawanan, menabrak sisi penumpang di mana Elena duduk."

Sarah merasakan nyeri di dadanya. Sebuah kecelakaan yang tragis. Dan Andi, adiknya, adalah pengemudi yang selamat.

"Dia menyalahkan dirinya sendiri," kata Bayu, matanya terbuka, menatap jauh ke depan. "Dia tidak pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Sejak itu, dia berubah. Dia jadi pendiam, sering melamun, dan selalu menghindari keramaian. Dia hidup dalam bayangan rasa bersalah."

Sekarang Sarah mengerti. Mengapa Andi menghilang. Itu bukan pengkhianatan murni, tapi lebih kepada pelarian dari hantu masa lalu. Pelarian dari rasa bersalah yang tak terhingga.

"Lalu, kenapa kau tidak menyalahkannya?" tanya Sarah, suaranya lembut. "Kau kehilangan adikmu."

Bayu menatap Sarah, matanya kembali dingin, seperti dinding es yang tak tertembus. "Menyalahkan tidak akan mengembalikan Elena," katanya datar. "Dan Andi sudah cukup menderita."

Jawaban itu membuat Sarah terdiam. Ia mengerti sekarang. Dinginnya Bayu bukan karena ia tidak merasakan apa-apa, melainkan karena ia memilih untuk mengubur semua emosinya dalam-dalam. Ia membangun tembok untuk melindungi dirinya dari rasa sakit. Dan mungkin, untuk melindungi Andi juga.

"Apakah ini alasanmu setuju menikahiku?" tanya Sarah. "Untuk melindungi keluarga dari aib, tapi juga untuk menutupi rasa bersalah Andi? Untuk membuatnya tetap bisa bersembunyi?"

Bayu tak menjawab. Ia hanya menatap Sarah, ekspresinya tetap sulit dibaca. Lalu, ia berbalik. "Aku harus pergi."

Ia mengambil kunci mobilnya dan keluar dari apartemen, meninggalkan Sarah sendirian dengan segala penemuan barunya. Apartemen itu kembali hening, namun kini, keheningan itu terasa berbeda. Ada lapisan kesedihan yang begitu pekat, seolah-olah hantu Elena masih berkeliaran di setiap sudut.

Sarah duduk di sofa, otaknya berputar cepat. Jadi, ini rahasia yang menyelimuti keluarga Pratama. Rahasia yang membuat Andi kabur, dan rahasia yang membuat Bayu menjadi sedingin es. Sebuah tragedi yang merenggut nyawa seorang gadis muda, dan meninggalkan luka yang tak tersembuhkan bagi orang-orang yang dicintainya.

Kini ia mengerti mengapa Bayu begitu acuh padanya. Ia bukan hanya menikahinya demi nama baik, tapi juga sebagai tameng. Tameng dari pertanyaan-pertanyaan yang tak terhindarkan, tameng dari sorotan publik, dan tameng dari kehancuran yang lebih parah jika kepergian Andi terungkap.

Pernikahan mereka, yang dulunya terasa seperti lelucon kejam, kini terasa seperti bagian dari sebuah tragedi yang lebih besar. Sarah merasa terperangkap. Ia adalah korban, tapi juga bagian dari solusi yang menyakitkan.

Beberapa hari berikutnya, meskipun Sarah sudah mengetahui sebagian dari rahasia Bayu, tidak ada yang berubah dalam rutinitas mereka. Bayu tetap Bayu yang dingin dan jauh. Namun, kini Sarah menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Ada rasa iba, sedikit pengertian, dan sebuah pertanyaan besar yang terus mengganggunya: sampai kapan Bayu akan hidup dalam bayangan masa lalu? Sampai kapan ia akan membiarkan kesedihan itu membekukan hatinya?

Ia mencoba mendekati Bayu lagi, dengan cara yang berbeda. Ia mencoba menyiapkan sarapan yang lebih bervariasi, sesekali meninggalkan catatan kecil di meja kerjanya, mencoba menciptakan sedikit kehangatan di tengah badai es yang mengelilingi mereka. Tapi Bayu jarang merespons. Catatan itu tetap di sana, tidak tersentuh. Makanan yang ia siapkan hanya dimakan sedikit. Dinding itu masih kokoh berdiri.

Suatu malam, Bayu pulang lebih awal dari biasanya. Ia tampak lelah. Sarah sedang menonton televisi di ruang tamu.

"Sudah makan?" tanya Sarah, mencoba membuka percakapan.

Bayu hanya mengangguk, melemparkan tas kerjanya ke sofa. Ia berjalan ke arah kulkas, mengambil air.

"Aku bisa masak sesuatu kalau kau mau," tawar Sarah.

Bayu menggeleng. "Tidak perlu. Aku tidak lapar."

Keheningan kembali melanda. Sarah merasa frustrasi. Ia ingin membantu, ingin mencoba menembus dinding itu, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.

"Bayu..." Sarah menghela napas. "Sampai kapan kau akan seperti ini?"

Bayu berbalik, tatapannya tajam. "Seperti apa?"

"Dingin. Jauh. Mengunci dirimu dari semua orang," kata Sarah, suaranya sedikit meninggi karena frustrasi. "Kau tidak bisa terus-menerus membiarkan masa lalu mengikatmu seperti ini."

Wajah Bayu mengeras. "Kau tidak mengerti apa-apa."

"Aku mengerti bahwa kau kehilangan adikmu!" seru Sarah. "Aku mengerti bahwa Andi merasa bersalah. Aku mengerti semua ini bukan salahmu, dan kau memikul beban yang sangat berat! Tapi kau tidak bisa terus-menerus menyiksa dirimu seperti ini!"

Bayu melangkah mendekat, matanya berkilat marah. Ini adalah kali pertama Sarah melihat emosi yang begitu jelas di wajahnya. "Kau tidak punya hak untuk menghakimiku, Sarah," desisnya. "Kau tidak tahu rasanya kehilangan seseorang yang kau cintai di depan matamu sendiri."

Kata-katanya menusuk hati Sarah. Ia memang tidak tahu rasanya kehilangan seorang adik. Tapi ia tahu rasanya dikhianati, ditinggalkan di altar, dan dipaksa menikah dengan orang asing.

"Aku tidak menghakimimu," jawab Sarah, suaranya sedikit bergetar. "Aku hanya... aku ingin kau tahu, kau tidak sendirian. Kita bisa melewatinya bersama."

Bayu tertawa hambar. Tawa yang tidak mengandung kebahagiaan sama sekali, hanya kepedihan. "Bersama? Kau dan aku? Kita bahkan tidak saling mengenal, Sarah. Pernikahan ini hanyalah sebuah... kesepakatan."

"Kesepakatan yang mengikat kita seumur hidup!" bantah Sarah. "Apakah kau akan menghabiskan sisa hidupmu di balik dinding es ini, Bayu? Apakah kau akan terus-menerus hidup dalam bayangan Elena dan rasa bersalah Andi?"

Bayu terdiam, tatapannya kosong. Lalu, ia berbalik, meninggalkan Sarah berdiri sendirian di ruang tamu. Ia masuk ke kamarnya, dan Sarah mendengar suara pintu ditutup dengan keras.

Sarah merasa lelah. Sangat lelah. Ia ingin menangis, tapi air matanya sudah kering. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Ia hanya ingin semua ini berakhir.

Beberapa minggu berikutnya, ketegangan di antara mereka semakin terasa. Sarah mencoba menjaga jarak, merasa sia-sia untuk mencoba menembus pertahanan Bayu. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan kota, mencari buku, atau mengunjungi kafe untuk sekadar melarikan diri dari kesunyian apartemen.

Suatu sore, saat Sarah sedang membaca di ruang tamu, ponsel Bayu yang tergeletak di meja berdering. Sebuah nama asing tertera di layar: "Bu Dian". Sarah tak sengaja melihatnya. Nomornya tidak tersimpan di daftar kontak Bayu, yang aneh. Bayu selalu menyimpan semua kontak penting.

Sarah ragu-ragu. Haruskah ia mengangkatnya? Ponsel itu terus berdering. Akhirnya, rasa penasaran mengalahkan keraguannya. Ia mengangkat telepon itu.

"Halo?" kata Sarah.

"Halo? Ini Bu Dian," suara seorang wanita paruh baya terdengar dari seberang. "Apakah ini nomor Bapak Bayu Pratama?"

"Ya, ini nomornya. Maaf, Bayu sedang mandi. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Sarah, berusaha terdengar ramah.

"Oh, Anda siapa ya?" Suara Bu Dian terdengar sedikit terkejut. "Saya ibunya Andi."

Jantung Sarah berdegup kencang. Ibu Andi? Bukankah Bu Dian itu Ibu Rima? Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Saya Sarah," jawab Sarah, sedikit waspada. "Istrinya Bayu."

Ada keheningan sejenak di seberang telepon. Lalu, Bu Dian tertawa hambar. "Istrinya Bayu? Oh, saya lupa. Kalian baru menikah ya. Maaf, saya bukan ibunya Andi. Saya hanya kenalan lama keluarga Pratama. Saya menelepon untuk memberitahu Bayu bahwa saya melihat Andi di luar kota kemarin. Dia terlihat... baik-baik saja."

Ucapan "baik-baik saja" itu membuat Sarah tercengang. Andi baik-baik saja? Selama ini mereka panik, mengira Andi dalam masalah, dan sekarang ada yang melihatnya baik-baik saja? Dan lagi, kenapa wanita ini mengaku sebagai "ibu Andi" di awal?

"Di mana dia?" tanya Sarah cepat. "Di kota mana? Apa dia sendirian?"

"Maaf, saya tidak bisa memberikan detail lebih lanjut, Nyonya Sarah," jawab Bu Dian, suaranya sedikit gugup. "Saya hanya ingin menyampaikan pesan itu kepada Bayu. Tolong sampaikan ya. Saya permisi dulu."

Sambungan telepon terputus. Sarah menatap ponsel Bayu di tangannya. Firasat buruknya semakin kuat. Wanita itu berbohong. Mengaku sebagai ibu Andi, lalu meralatnya, dan enggan memberikan detail tentang keberadaan Andi. Ini semua terasa sangat mencurigakan.

Saat Bayu keluar dari kamar mandi, handuk melilit pinggangnya, Sarah segera menghampirinya.

"Bayu, ada telepon untukmu," kata Sarah, menyerahkan ponselnya. "Dari seorang wanita bernama Bu Dian. Dia bilang dia melihat Andi."

Wajah Bayu yang tadinya santai langsung menegang. Ia merebut ponselnya, matanya menatap Sarah tajam. "Apa yang dia katakan?"

"Dia bilang dia melihat Andi di luar kota, dan dia terlihat baik-baik saja," jawab Sarah. "Tapi dia terdengar aneh. Pertama dia mengaku ibunya Andi, lalu meralatnya. Dan dia tidak mau memberi tahu di mana Andi berada. Aku rasa... aku rasa dia berbohong."

Bayu segera memeriksa ponselnya. Ia membuka daftar panggilan terakhir dan memutar ulang nomor Bu Dian. Namun, hanya ada nada sambung, lalu suara operator yang mengatakan nomor tidak aktif.

"Sial!" Bayu membanting ponselnya ke meja. Amarah yang jarang terlihat kini jelas terpancar di wajahnya.

"Ada apa, Bayu?" tanya Sarah, khawatir. "Siapa Bu Dian itu sebenarnya?"

Bayu mengusap wajahnya kasar. "Dia adalah perawat pribadi Elena setelah kecelakaan itu. Dia juga menjadi semacam penasihat bagi Andi setelah kejadian itu. Dia tahu banyak tentang rahasia keluarga kita."

"Jadi, dia bohong tentang ibunya Andi?"

Bayu mengangguk. "Tentu saja. Ibuku tidak akan menelepon seperti itu." Ia menatap Sarah, matanya berkilat tajam. "Mengapa kau mengangkat telepon pribadiku?"

"Aku tidak sengaja, Bayu! Ponselmu berdering terus dan aku pikir itu penting!" Sarah membela diri. "Tapi ada sesuatu yang aneh. Kenapa dia menghubungi Anda secara rahasia seperti ini?"

Bayu terdiam, menatap kosong ke depan. "Dia pasti melihat sesuatu. Sesuatu yang dia tidak ingin orang lain tahu."

"Apa yang tidak ingin dia tahu?" tanya Sarah, hatinya mencelos. "Ada apa lagi yang disembunyikan?"

Bayu menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi ini tidak baik." Ia mengambil ponselnya lagi, tampak berpikir keras. "Aku harus mencari tahu siapa Bu Dian ini dan mengapa dia menghubungiku."

Untuk pertama kalinya, Sarah melihat Bayu menunjukkan kepanikan. Ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik semua ini, sesuatu yang bahkan membuat Bayu yang sedingin es itu merasa terancam.

Malam itu, Bayu tidak kembali ke kantor. Ia sibuk menelepon seseorang, berbicara dengan nada rendah yang Sarah tak bisa dengar. Sarah hanya bisa menduga bahwa Bayu sedang mencoba mencari tahu keberadaan Bu Dian, atau mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Andi.

Sarah sadar, ia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton dalam drama ini. Ia sudah terlalu jauh terlibat. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, demi dirinya sendiri, dan demi menemukan kedamaian dalam kekacauan ini.

Bayangan Elena, rasa bersalah Andi, dan kini misteri Bu Dian. Semuanya terasa seperti benang kusut yang harus diurai. Dan Sarah, entah mengapa, merasa bahwa ia adalah satu-satunya yang bisa melakukannya.

Keesokan harinya, Bayu bangun pagi-pagi sekali. Sarah mendengar suara-suara dari ruang kerja Bayu. Ia mengintip. Bayu duduk di depan komputernya, mengetik dengan cepat, sesekali berbicara di telepon dengan suara berbisik.

Sarah memutuskan untuk mengambil inisiatif. Ia mencari nama "Bu Dian" dan "perawat pribadi Elena Pratama" di internet. Setelah beberapa pencarian, ia menemukan beberapa artikel lama dari majalah kesehatan yang menyebutkan tentang perawat yang membantu pasien trauma pasca-kecelakaan. Sebuah nama muncul beberapa kali: Dian Kencana. Dan sebuah foto kecil yang samar, namun Sarah yakin itu wanita yang sama.

Ia mencoba mencari informasi lebih lanjut tentang Dian Kencana. Ia menemukan bahwa Dian pernah bekerja di sebuah klinik rehabilitasi di pinggir kota. Sarah mencatat alamatnya.

Ketika Bayu akhirnya keluar dari ruang kerjanya, matanya terlihat merah, seolah ia tidak tidur semalaman.

"Kau akan ke kantor?" tanya Sarah.

Bayu mengangguk. "Ada beberapa hal penting yang harus kuselesaikan."

"Aku ikut."

Bayu menatapnya terkejut. "Ikut ke mana?"

"Ke mana pun kau pergi mencari tahu tentang Bu Dian itu," jawab Sarah, tekadnya bulat. "Aku tidak akan diam saja di sini. Aku punya hak untuk tahu, Bayu."

Bayu menghela napas panjang, tampak enggan. "Ini bukan urusanmu, Sarah."

"Ini urusan kita berdua, Bayu," tegas Sarah. "Aku sudah jadi istrimu. Kita terikat dalam pernikahan ini. Dan semua ini dimulai karena Andi. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian, terutama jika ada rahasia lain yang disembunyikan."

Bayu menatapnya dalam, tatapannya menyiratkan pertimbangan. Akhirnya, ia mengangguk. "Baiklah. Tapi kau harus patuh padaku. Jangan ikut campur jika aku menyuruhmu diam. Dan jangan membuat masalah."

"Aku janji," kata Sarah, merasa sedikit lega. Setidaknya, Bayu akhirnya membiarkannya terlibat.

Mereka berangkat. Bayu mengemudi dalam diam, sementara Sarah mencoba memahami setiap ekspresi di wajahnya. Ia tahu ini adalah langkah pertama menuju pengungkapan kebenaran. Kebenaran yang mungkin akan sangat menyakitkan, tapi harus mereka hadapi.

Destinasi pertama mereka adalah alamat klinik rehabilitasi tempat Dian Kencana pernah bekerja. Bangunan itu tampak tua dan tak terawat. Mereka masuk, dan seorang resepsionis paruh baya menyambut mereka.

"Kami mencari Dian Kencana," kata Bayu dengan nada resmi. "Apakah dia masih bekerja di sini?"

Resepsionis itu mengerutkan kening. "Dian Kencana? Dia sudah lama tidak bekerja di sini, Pak. Sudah hampir dua tahun."

Jantung Sarah mencelos. Dua tahun? Itu berarti Dian sudah tidak bekerja di sana sejak lama.

"Apakah Anda tahu di mana dia sekarang?" tanya Bayu.

Resepsionis itu menggeleng. "Maaf, Pak. Kami tidak memiliki informasi kontak staf yang sudah berhenti."

Mereka meninggalkan klinik dengan tangan kosong. Bayu tampak semakin frustrasi.

"Aku sudah menduga ini tidak akan mudah," gumam Bayu, saat mereka kembali ke mobil.

"Lalu, apa rencana selanjutnya?" tanya Sarah.

Bayu menyalakan mesin mobil. "Kita akan mencari tahu alamat rumah lamanya. Aku punya beberapa koneksi yang bisa membantu."

Mereka menghabiskan sisa hari itu dengan mencari jejak Dian Kencana. Bayu menggunakan koneksinya di kepolisian dan beberapa perusahaan investigasi swasta. Sarah duduk di sampingnya, mengamati setiap gerak-geriknya, setiap panggilan teleponnya. Ia melihat sisi lain dari Bayu, sisi yang gigih dan fokus, sisi yang jarang ia tunjukkan.

Malam harinya, setelah berjam-jam pencarian, mereka akhirnya mendapatkan alamat yang mungkin merupakan alamat rumah Dian Kencana. Sebuah rumah kecil di daerah pinggiran kota.

Mereka tiba di sana saat hari sudah gelap. Rumah itu tampak sepi, lampunya mati. Bayu ragu sejenak, lalu ia turun dari mobil, diikuti Sarah.

Bayu mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, lebih keras. Masih hening.

"Mungkin dia tidak ada di rumah," bisik Sarah.

Bayu mencoba memutar gagang pintu. Terkunci.

"Kita tidak bisa menyerah begitu saja," kata Bayu, tatapannya menyapu sekeliling. "Dia pasti ada di sini, atau setidaknya ada jejaknya."

Tiba-tiba, dari kegelapan di samping rumah, terdengar suara gemerisik. Bayu dan Sarah serentak menoleh. Seorang pria tua muncul dari balik semak-semak, membawa karung sampah.

"Mencari siapa, Nak?" tanya pria tua itu, suaranya serak.

"Kami mencari Dian Kencana," jawab Bayu. "Apakah dia tinggal di sini?"

Pria tua itu mengangguk pelan. "Oh, Dian. Dia memang tinggal di sini. Tapi dia sudah pergi."

"Pergi ke mana?" tanya Sarah cepat.

"Dia pergi beberapa hari yang lalu, Nak. Terburu-buru sekali," jawab pria tua itu. "Sepertinya ada masalah. Dia bilang dia harus pergi jauh, ke luar kota. Tidak tahu kapan akan kembali."

Jantung Sarah mencelos. Bu Dian sudah pergi. Ia sudah mengantisipasi mereka.

"Apakah dia meninggalkan sesuatu? Pesan? Alamat baru?" tanya Bayu, suaranya dipenuhi kekecewaan.

Pria tua itu menggeleng. "Tidak ada, Nak. Hanya beberapa barang yang ditinggalkan. Dia menyewa rumah ini."

Sarah dan Bayu saling pandang. Mereka terlambat. Bu Dian sudah menghilang, sama seperti Andi.

"Ada sesuatu yang aneh," kata Sarah, saat mereka kembali ke mobil. "Kenapa dia pergi terburu-buru setelah meneleponmu?"

"Dia pasti tahu kita akan mencarinya," jawab Bayu, rahangnya mengeras. "Atau, ada orang lain yang mencarinya."

"Siapa?" tanya Sarah.

Bayu terdiam, tatapannya kosong menatap jalanan. "Entahlah. Tapi ini semua terasa semakin rumit."

Sarah merasakan kelelahan yang luar biasa. Seharian ini mereka mencari tanpa hasil. Namun, di balik kelelahan itu, ada api kecil yang menyala. Semakin banyak rahasia yang terungkap, semakin ia merasa harus menemukan kebenarannya.

Ia mencuri pandang ke Bayu. Pria itu tampak frustrasi, tapi juga ada tekad yang kuat di matanya. Ia tidak akan menyerah. Dan Sarah, kini, tidak akan membiarkannya menyerah sendirian. Pernikahan ini mungkin berawal dari sebuah kesalahan, dari sebuah tragedi, tapi kini, ia mulai merasakan ikatan lain yang muncul. Ikatan dalam menghadapi badai bersama.

Namun, ia tahu, perjalanan ini baru saja dimulai. Dan rahasia yang tersembunyi jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Apa lagi yang disembunyikan Dian Kencana? Dan mengapa ia memilih untuk menghilang? Dan yang terpenting, apa peran Andi dalam semua misteri ini?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Assalamu'alaikum, Mas CEO!
8.3
Hanif, pimpinan INANTA Group, bukanlah CEO angkuh pada umumnya. Ia adalah sosok religius yang mengutamakan ibadah di tengah kesuksesan. Namun, hidupnya berubah saat putrinya, Aisyah, bertemu Aida, seorang office girl yang sangat mirip dengan mendiang ibunya. Ikatan kuat antara Aisyah dan Aida membuat pertunangan Hanif dengan Soraya terancam gagal. Di antara tanggung jawab dan keinginan sang anak, ke manakah hati Hanif akhirnya akan memilih berlabuh?
Sampul Novel Gigolo Kampungan
8.9
Alex adalah pemuda tampan yang bertahan hidup sebagai gigolo di kota besar. Meski dikelilingi kemewahan dan wanita yang mencari kehangatan, ia merasa hampa karena profesi ini hanya bersifat sementara. Terdorong kebutuhan ekonomi sejak muda, Alex mahir memikat hati klien demi nafkah. Namun, di balik pesonanya, ia memendam kesepian mendalam dan krisis identitas. Setiap malam usai bekerja, ia merenungi nasibnya dan mendambakan kehidupan yang lebih bermakna.
Sampul Novel Istri Bodoh, Mantan Miliarder
8.1
Alisa terjebak dalam pernikahan menyesakkan bersama Dion, suami super pelit yang hanya memberinya uang belanja dua puluh lima ribu rupiah sehari untuk enam orang. Selain tekanan ekonomi, Alisa harus menelan makian mertua setiap hari. Situasi memburuk saat ia memergoki Dion mendekati mantan kekasihnya. Di tengah kemelut, Alisa menemukan aplikasi penghasil uang dan merahasiakannya. Namun, saat mencoba membongkar skandal Dion, ia justru difitnah menggoda ayah mertuanya sendiri.
Sampul Novel Ke(m)bali Mengejar Cinta Pelangi
8.3
Meski terus ditolak, sebuah insiden tak terduga justru menjalin benang merah antara Laskar dan Pelangi. Namun, Pelangi menyadari cintanya tak mungkin dipaksakan karena Laskar telah bertunangan dengan Natalia. Akankah ikatan misterius ini mampu menyatukan mereka, atau justru membuat keduanya kembali menjadi orang asing? Pelangi memahami bahwa meski mulutnya berkata rela, hatinya tetap merasa berat untuk benar-benar melepaskan sosok Laskar dari hidupnya.
Sampul Novel MENGHINDARI SUAMI TUKANG KAWIN
9.5
Sena tersadar akan memori masa lalunya setelah gagal mengakhiri hidup berulang kali. Memasuki kehidupan kedelapan, ia bertekad mengubah nasib tragisnya dengan berhenti mengejar sang suami. Sambil merawat mertua, Sena menabung diam-diam untuk bercerai karena tahu suaminya sangat pelit harta. Namun, rencana itu terusik oleh sekretaris ayah mertuanya yang dahulu membencinya, kini justru berbalik menggoda dan menawarkan bantuan untuk membalas dendam pada suaminya.
Sampul Novel My Hot and Cool CEO
9.6
Niat Mel membantu aktor idolanya, Ezio Clay, justru berujung pada malam tak terduga bersama Axel Nolan Xavier, bos besar industri berlian. Terpikat oleh Mel, Axel memanfaatkan pengaruhnya untuk memaksa gadis itu masuk ke dalam pernikahan kontrak. Konflik memuncak saat terungkap bahwa Ezio adalah adik Axel yang kabur. Ezio pun bertekad merebut Mel kembali. Di tengah persaingan saudara ini, Mel mulai bimbang karena rasa nyamannya pada Axel kian tumbuh.