Sampul Novel Rapat Penting Itu Hanya Dusta

Rapat Penting Itu Hanya Dusta

7.9 / 10.0
Dalam novel modern Rapat Penting Itu Hanya Dusta, pengkhianatan Roni terungkap saat mengabaikan nyawa istrinya demi kucing selingkuhannya. Baca romance novel ini untuk mengikuti aksi balas dendam dan keputusan cerai sang istri yang tak lagi sudi membaca romance stories penuh kebohongan.
Ringkasan Rapat Penting Itu Hanya Dusta
Terjepit di kecelakaan maut, aku memohon bantuan Roni, namun suamiku itu justru membentakku demi sebuah rapat palsu. Nyatanya, dia malah menemani Chika, sekretarisnya, ke dokter hewan. Pengkhianatan ini kian pedih saat Roni meremehkan nyawaku dan memberikan proyek impianku kepada selingkuhannya itu. Di ulang tahun pernikahan ke-10, aku memutuskan untuk berhenti. Meski dia tertawa meremehkan saat aku meminta cerai, aku bersumpah tidak akan pernah kembali lagi.
Baca Selengkapnya

Rapat Penting Itu Hanya Dusta Bab 1

Mobilku hancur menabrak pembatas jalan, kakiku terjepit, dan darah mengucur deras di tengah hujan lebat.

Dalam kepanikan antara hidup dan mati, aku menelepon suamiku, Roni, memohon pertolongan.

Tapi dia malah mematikan teleponku dengan kasar.

"Aku sedang rapat penting! Jangan ganggu aku!" bentaknya sebelum sambungan terputus.

Aku pingsan menahan sakit, mengira dia benar-benar sibuk menyelamatkan perusahaan.

Namun, kebenaran yang kutemukan kemudian jauh lebih menyakitkan daripada luka fisikku.

Di fitur 'Close Friend' Instagram sekretarisnya, Chika, terpampang foto tangan Roni sedang memegang obat kucing.

Caption-nya menusuk hati: "Makasih Pak Bos selalu ada di saat genting."

Ternyata, 'rapat penting' itu hanyalah menemani selingkuhannya ke dokter hewan.

Nyawaku ternyata lebih murah daripada seekor kucing peliharaan pelakor.

Saat aku menuntut penjelasan, Roni malah menuduhku egois dan drama.

"Kamu selamat kan? Bersyukurlah, jangan lebay," katanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Hingga akhirnya, di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-10, dia malah memberikan proyek impianku pada Chika di depan umum.

Cukup sudah.

Aku meletakkan surat cerai dan pengunduran diri di atas meja.

"Tanda tangani ini, Roni. Aku pergi."

Dia tertawa meremehkan, yakin aku tak bisa hidup tanpanya dan akan kembali mengemis.

Dia tidak tahu, kali ini aku tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi.

Bab 1

(Alea Zahra POV)

Aku sedang berbicara di telepon dengan Bibi Rina, bibi dari pihak ibuku yang tinggal di Bali. Suaranya hangat, penuh kasih sayang, dan membuatku merasakan kehangatan yang sudah lama tidak kudapatkan.

"Alea, kamu sungguh-sungguh kali ini? Kamu akan kembali ke Bali?" tanya Bibi Rina, suaranya terdengar antusias.

"Iya, Bi. Aku sudah memikirkannya matang-matang," jawabku, mencoba meyakinkannya dan diriku sendiri.

"Baguslah, Nak. Bali selalu menyambutmu. Lagipula, kamu kan sudah lama tidak pulang. Nanti kan kamu ada pekerjaan juga di sana, kan?" Ada nada ceria dalam suaranya, seolah dia sudah merencanakan segalanya untukku.

Aku tersenyum kecil. "Iya, Bi."

"Ya sudah, nanti kalau sudah sampai, langsung kabari Bibi ya. Bibi akan jemput kamu di bandara."

"Makasih banyak, Bi."

Setelah mengucapkan salam, aku menutup telepon. Rasa lega bercampur haru memenuhi dadaku. Sudah terlalu lama aku tidak merasakan kasih sayang setulus ini. Selama ini, aku hanya berjuang sendirian.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Roni masuk.

Dia baru pulang kerja, tapi ada aroma parfum wanita yang asing, manis dan berlebihan, menempel di tubuhnya, menembus indra penciumanku. Aroma itu bukan milikku.

"Siapa yang telepon?" tanyanya, melirikku sekilas.

Matanya sudah kembali ke layar ponselnya, jemari lincah menari di atas keyboard, seolah percakapan barusan tidak penting.

Aku menatapnya. Ingin sekali aku mengatakan siapa yang barusan menelepon, keinginan yang sudah lama tertahan. Tapi sebelum aku sempat membuka mulut, ponsel Roni berdering.

Layar ponselnya menampilkan nama "Chika".

Seketika, suara centil Chika Purba memenuhi ruangan, tawa renyahnya terdengar jelas. "Makasih banyak ya, Pak Roni. Kucingku sudah jauh lebih baik sekarang. Pak Roni memang penyelamatku!"

Aku mendengar suara Chika, yang sengaja ditekan seolah sedang merajuk. Roni buru-buru menjauhkan ponsel dari telinganya, menekan tombol volume, dan berkata, "Nanti aku telepon lagi. Ya, Chika. Oke."

Dia berdeham canggung, lalu kembali menghadapku. Aku hanya diam. Berdebat lagi? Untuk apa? Semuanya sudah jelas.

Aku kembali melipat pakaianku, memasukkannya ke dalam koper besar yang tergeletak di lantai. Gerakanku tenang, seolah tidak ada yang terjadi. Kemudian, aku beranjak ke dapur, mengambil gelas, dan membuatkan diriku secangkir teh herbal. Aroma mint dan lemon langsung menenangkan pikiranku.

Roni selesai menelepon. Dia duduk di sofa ruang tamu, mengambil majalah bisnis yang biasa dibacanya.

Dia meraih meja kopi, mencari-cari sesuatu. Tidak ada. Dia mengerutkan kening.

"Teh hangatku mana, Alea?" tanyanya, suaranya terdengar tidak sabar saat matanya melirikku.

Aku menelan ludah. "Aku cuma bikin untuk diriku sendiri," kataku datar.

Roni mendengus. "Kamu ini kenapa sih? Sejak kecelakaan itu, kamu jadi aneh. Kata terapisku, mungkin itu stres pasca trauma. Kamu harusnya bersyukur kamu selamat, bukannya malah menarik diri begini."

Aku menutup mata sejenak. Sudah kuduga dia akan berbicara seperti ini. Roni selalu begitu. Dia selalu punya alasan untuk segala hal, bahkan untuk mengabaikanku.

"Bersyukur?" tanyaku, suaraku terdengar serak. "Bagaimana aku bisa bersyukur, Roni? Aku hampir mati di jalan tol yang sepi itu. Kakiku terjepit, darah mengucur. Aku meneleponmu berkali-kali, tapi kamu mematikannya."

"Sudah kubilang, aku sedang rapat penting!" Roni membentak, matanya memancarkan kemarahan. "Rapat dengan investor! Apa kamu mau perusahaan kita hancur?!"

Aku hanya menatapnya kosong. Saat itu, aku percaya padanya. Aku benar-benar berpikir dia sedang rapat penting, hingga nyawaku sendiri tidak seberapa dibanding saham perusahaannya.

Kecelakaan itu... saat itu hujan sangat deras. Mobilku oleng, menabrak pembatas jalan. Kakiku terjepit, aku tidak bisa bergerak. Panik, aku menelepon Roni. Satu kali, dua kali, tiga kali. Tidak ada jawaban. Panggilan keempat, teleponnya mati. Aku mencoba lagi, tapi teleponnya sudah tidak aktif. Aku ingat bagaimana rasa takut itu merayapiku, bagaimana rasa sakit di kakiku terasa seperti disayat sembilu. Aku bertahan, terus mencoba menelepon orang lain, sampai akhirnya aku pingsan.

Aku baru tahu kebenarannya beberapa hari kemudian. Saat aku melihat postingan di Instagram Chika, di fitur 'Close Friend'. Sebuah foto tangan Roni yang memegang obat kucing, dengan caption manis, "Makasih Pak Bos selalu ada di saat genting."

"Rapat penting?" ulangku, suaraku nyaris tak terdengar. "Itu kamu bilang rapat penting? Menemani sekretarismu ke dokter hewan untuk kucingnya?"

Roni terdiam, wajahnya pias. Dia tidak bisa membantah.

"Kamu tahu, Roni," kataku, melipat sisa pakaian terakhirku. "Saat itu, aku sadar. Nyawaku tidak lebih berharga daripada kucing peliharaan selingkuhanmu."

Hening. Berat.

"Itu sebabnya aku mengajukan gugatan cerai," lanjutku, suaraku semakin mantap.

Roni tiba-tiba berdiri, wajahnya memerah. "Kamu masih saja membahas itu? Kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja? Setelah semua pengorbananku untukmu?"

Dia melemparkan majalahnya ke meja, membuat suara keras.

"Pengorbanan?" Aku menggeleng pelan. "Aku sudah mengorbankan karierku demi membangun perusahaanmu. Aku yang mendesain semua proyek besar, Roni. Aku yang bekerja siang malam di balik layar. Aku yang mengurus semua detail sampai kamu bisa berdiri seperti sekarang."

"Kamu jangan egois, Alea! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!" Roni mencoba meraih tanganku, tapi aku menghindar.

"Terlambat, Roni. Semua sudah terlambat."

Dia mengepalkan tangannya, menatapku dengan mata berapi-api. Dia tahu aku sudah memutuskan. Dia tahu aku tidak akan menyerah.

Roni membanting pintu kamarnya, membuat seluruh ruangan bergetar. Aku hanya memejamkan mata. Aku tidak peduli lagi. Aku tidak akan membiarkan kemarahannya menguasai diriku.

Dengan tenang, aku menyelesaikan tugasku. Aku memasukkan sikat gigi dan pasta gigi ke dalam tas kecil, meletakkannya di atas koper. Aku menyalakan lampu tidur, lalu merebahkan diri di tempat tidur.

Tiba-tiba, ponselku berdering. Sebuah pesan masuk. Dari Roni.

"Alea, jemput aku sekarang. Aku ada di bar dekat kantor. Jangan lupa bawakan jas dan kunci mobilku."

Aku membaca pesan itu, amarahku kembali membuncah. Dia pikir aku masih istrinya yang akan menuruti semua perintahnya?

Beberapa detik kemudian, ponselku kembali berdering. Pesan lain dari Roni.

"Jemput sekarang, Alea! Aku sudah menunggu lama! Jangan membuatku menunggu, kamu tahu aku tidak suka menunggu! Ini kewajibanmu!"

Aku memejamkan mata, menghela napas panjang. Aku sangat lelah. Aku ingin tidur. Tapi aku tahu, jika aku tidak menjemputnya, dia akan mengamuk.

Dengan enggan, aku bangkit dari tempat tidur. Aku akan menjemputnya. Tapi ini adalah yang terakhir kali.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Rapat Penting Itu Hanya Dusta

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Masih Bocil, Om
9.5
Ulang tahun ke-18 yang seharusnya indah berubah menjadi kenyataan pahit bagi seorang gadis muda. Ia terpaksa menikah dengan David, pria dewasa yang asing baginya. Alih-alih romantis, interaksi mereka justru diwarnai perdebatan konyol soal kartu kredit versus uang tunai untuk membeli jajanan. Di tengah ketidakpastian masa depan pernikahannya, sosok Dinar muncul dan terang-terangan menanti status jandanya. Akankah ia menemukan bahagia atau justru terjebak sengsara?
Sampul Novel Bercinta dengan Playboy
9.1
Hati Risa hancur berkeping-keping setelah dikhianati oleh Alan, tunangannya sendiri. Didorong rasa sakit hati, ia nekat menerima tawaran kencan satu malam dari Alva, rekan kerjanya yang dikenal sebagai playboy. Risa berniat menggunakan Alva demi membalas dendam pada Alan. Namun, situasi menjadi rumit karena Alva ternyata sepupu Alan. Akankah pembalasan ini berakhir lancar saat Alan menyadari hubungan terlarang antara tunangan dan saudaranya?
Sampul Novel Ranjang Panas Tuan Mafia
9.0
Leo De Vana, pemimpin bengis mafia Cosa Nostra, telah menutup hatinya selama lima tahun akibat pengkhianatan masa lalu. Kebenciannya pada wanita runtuh seketika saat ia terobsesi pada seorang siswi SMA dalam pandangan pertama. Haus akan kepemilikan, sang predator memerintahkan anak buahnya untuk menangkap gadis itu malam ini juga. Demi menjerat sang mangsa selamanya, Leo nekat merampas kehormatannya agar ia menjadi milik mutlak sang tuan mafia.
Sampul Novel Spoiled Husband
9.8
Mosa yang berusia 25 tahun harus menghadapi kenyataan pahit setelah menikah dengan Roni. Meski suaminya berumur sepuluh tahun lebih tua, Roni terbukti tidak mandiri dan sangat bergantung pada ibunya. Bagi Mosa, usia bukanlah jaminan kedewasaan karena Roni gagal memperlakukannya dengan layak. Di tengah sikap suami yang kekanak-kanakan, Mosa mulai mempertanyakan masa depan rumah tangga mereka. Akankah ia tetap bertahan atau memilih pergi?
Sampul Novel Terbongkarnya Perselingkuhan Suamiku
8.9
Menghadapi kenyataan pahit bahwa pasangan hidupmu telah berkhianat di belakangmu, keputusan besar apa yang akan kau ambil? Apakah kau memiliki kelapangan hati untuk memberikan kesempatan kedua dan memaafkan segala kesalahannya? Ataukah kau memilih untuk mengakhiri segalanya dan menyelesaikan pengkhianatan ini secara hukum di pengadilan? Dilema antara cinta dan keadilan kini menjadi beban berat yang harus segera diputuskan demi masa depanmu sendiri.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan