
Akhir dari Penantianku
Bab 2
Langsung keluar kembali.
"Nyonya, bajunya sudah saya bungkus semuanya, "lapor pelayan itu.
" Ya, antar semuanya ke mobil! "
"Baik nyonya," setelah selesai pelayan itu menaruhkan semua barang yang mereka pesan ke bagasi mobil, keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Drett..dret...
Ponsel Rika bergetar. Rika pun langsung buru-buru mengangkat teleponnya.
"Wah benarkah? "Ujar Rika saat mendengar penuturan si penelponnya itu.
"Ya, "sahut si penelepon itu.
"Aku akan segera ke sana sekarang juga," sahut Rika
"Sementara Ana hanya diam, mendengarkan percakapan Ibu majikannya itu.
" Sayang jalan-jalannya kita tunda dulu ya? Saat ini ada urusan yang lebih penting dari ini, "ujar Rika memberitahu.
"Ia tidak apa-apa Bu," sahur Ana saat ditanya oleh ibu majikannya itu.
Ana menjawabnya dengan tersenyum karena yang berinisiatif mengajaknya jalan-jalan adalah ibu majikannya itu.
****
Malam ini
Dreett..drett
Aris yang saat itu masih berada di kantornya karena lembur, langsung menghentikan pekerjaannya sejenak saat mendengar getar ponselnya itu.
"Halo Ma," ujar Aris saat teleponnya sudah terhubung.
"Sayang mama dan Ana saat ini sedang berada di rumah sakit a, cepat kemarilah," suara Rika terdengar begitu panik.
"Ma ada apa? Apa yang terjadi pada Ana? "
"Sayang mama tidak punya waktu untuk memberitahumu, sebaiknya kau seharus ke sana sekarang juga!"
Telepon pun langsung terputus.
Aris langsung buru-buru menunda pekerjaannya terlebih dahulu, lalu melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di rumah sakit yang telah dikatakan oleh mamanya tadi.
" Ya Tuhan Ada apa ini? Hambamu ini bahkan belum menyatakan perasaannya kepada Gadis itu, tolong lindungi dia ya Tuhan. "
Entah mengapa saat ini hatinya begitu berdebar tak karuan saat membayangkan Gadis itu kenapa-napa, apalagi saat mendengar penuturan mamanya yang terdengar begitu panik tadinya.
Di rumah sakit.
Setelah memarkirkan mobilnya, Aris pun langsung berlarian masuk ke dalam untuk mengetahui keadaan pembantunya itu.
"Ma, mana Ana? Dia Kenapa? "Tanya Aris seraya memasang wajah panik saat melihat kedua orang tuanya itu tengah berdiri di luar kamar ruang inap.
"Sayang kamu tenang dulu, ayo duduk! "
"Tidak mah, harus tidak bisa tenang kalau harus belum tahu kabar tentang gadis itu."
"Oke tapi kamu tenangkan dirimu kamu terlebih dahulu! Ini kan lagi di rumah sakit sayang."
"Tenang gimana Ma? Ini menyangkut nyawa seseorang, kalau terjadi apa-apa dengan gadis itu Aris tidak akan bisa memaafkan diri Ari sendiri Ma," Aris sudah di merasa frustasi dibuatnya.
Andi dan Rika hanya tersenyum saat melihat ulah anak bujangnya itu.
"Masuklah ke dalam, tapi ingat jangan berisik!" Pesan Rika.
"Tanpa banyak bertanya lagi Aris pun langsung masuk ke dalam. Sesampainya di dalam hari semakin dibuat terperanjat saat melihat seorang wanita yang tengah terbaring di atas ranjang.
"Pak Aris, anda kemari!" Sapa perempuan itu.Ana yang mendengar percakapan itu pun lantas menoleh.
"Ah bapak" Sapa Ana.
Di tangannya tengah menggendong seorang bayi mungil yang sangat tampan.
"Ya tuhan, pemandangan apa ini? indah sekali;" Gumam Aris.
Saat melihat gadis itu, lalu berjalan mendekat ke arah Ana, tanpa memperdulikan perempuan yang menyapanya tadi.
"Ana apa kau sangat menyukai bayi?" Tanya Aris seraya membelai lembut pipi halus bayi itu.
"Ya, Ana sangat menyukai mereka."
"Aku bisa memberikanmu bayi yang lebih mungil dan tampan dari ini," Ujar Aris seraya mengerlingkan matanya sebelah.
Anis langsung tersenyum mengembang mendengar percakapan mantan direkturnya itu, dia benar-benar tak menyangka pria es itu memang sudah mencair.
"Ya tuhan, pria ini berbicara apa? memberikan bayi, memangnya segampang itu mendapatkan bayi?"
Wajah Ana menunjukan expresi kebingungan mendengarkan ucapan majikannya itu.
"Ana bolehkah aku mengendong bayi mungil ini? mulai sekarang aku ingin belajar menggendong bayi, agar nantinya sudah tak canggung lagi, Pinta Aris.
"Ya tentu saja pak' Sahut Ana. Lalu ingin menyerahkan bayi mungil itu.
"Wah aku berdebar sekali, ini pertama kalinya aku menggendong seorang bayi, bagaimana cara menggendong yang benar?"
"Coba rentangkan tangan bapak seperti saya!" Ujar Ana memberi instruksi.
"Apakah begini sudah benar?" Tanya Aris untuk memastikan.
Sambil menunjukan posisi kedua tangannya yang sudah terbentang demi menggendong bayi mungil itu.
"Ya."
Setelah itu Ana pun langsung menyerahkan bayi mungil itu secara pelan-pelan ke tangan pria itu.
Jantung Aris menjadi berdebar tak karuan saat menggendong bayi itu. Ana dapat melihat kalau wajah pria itu tampak tersenyum sumringah saat menggendong bayi mungil itu.
"Wah pak Aris seperti seorang ayah yang menggendong anaknya" Gumam Ana.
Tanpa sadar bibirnya tersenyum lebar saat melihat pemandangan itu.
Sementara Anis dan yang lainnya, yang saat itu sudah berkumpul di dalam ruangan itu, hanya tersenyum simpul saat melihat pemandangan keduanya yang tampak seperti sebuah keluarga yang begitu harmonis itu.
"Ehmmm ehmmm, sayang mama rasa kau harus bayar sewa pada kedua orang tuanya, karena tanpa seijin mereka menyentuh bayinya!" Ujar Rika memperingatkan.
Aris pun langsung tersadar saat mendapat teguran dari mamanya itu, semenjak dia memasuki kamar itu, dia memang terlalu bersemangat sampai melupakan siapa pemilik bayi itu.
"Terima kasih banyak, karena bapak sudah mau berkunjung kemari" Ujar Wisnu dan Anis berbarengan.
"Ehmm..ehmm."
Aris merasa bersalah sekali kepada bawahannya itu, bagaimana bisa dia begitu bersemangatnya saat menggendong bayi mereka, sementara ayah dan ibunya, sudah diusir dari perusahaannya.
"Sudah berapa hari kau berdiam di sini?"
Tanya Aris pada wanita yang tengah terbaring lemah di atas ranjang itu.
"Tiga hari pak, dan besok kami sudah diijinkan untuk pulang."
"Baiklah, bagaimana kalau minggu depan cuti suamimu aku potong, kau punya orang lain bukan untuk membantu mengurus bayimu?"
"Ah ya pak' Sahut Anis.
"Wisnu minggu depan bekerjalah kembali, waktu cuti untuk bersenang-senang dengan bayimu sudah habis."
"Maksud bapak?" Wisnu masih tak mengerti dengan ucapan pria itu.
"Kau sudah boleh bekerja kembali di perusahaan' Ujar Rika menjelaskan.
"Benarkah? terimakasih banyak pak'
Sahut Wisnu lalu berlutut di kaki pria itu karena bahagia.
Dia tak menyangka pria itu akan membawanya bekerja ke perusahaannya lagi.
Sementara Anis juga tak kalah terkejutnya mendengar penuturan atasannya itu, dia juga sangat bahagia karena pria itu masih mempercayakan perusahaannya kepada suaminya.
"Bangunlah! aku hanya tak rela kalau bayi mungil ini akan kelaparan karena ayahnya tak punya pekerjaan," Ejek Aris.
"Sayang jangan diambil hati! pria ini memang memiliki penyakit sindrom gengsi, dia mengatakan itu karena dia sangat membutuhkanmu" Ujar Rika menjelaskan saat melihat raut wajah Wisnu saat ini.
"Mama!"
Aris malu sendiri mendengar ucapan mamanya itu.
Setelah itu yang terdengar hanyalah suara tawa renyah yang keluar dari dalam ruangan itu.
"Bagaimana sayang, kau suka bukan dengan kejutan yang mama berikan?" Bisik
Rika di telinga anaknya itu. Di saat mereka tengah berjalan keluar dari rumah sakit untuk pulang.
Sementara Ana dan Andi yang tengah berjalan di depan mereka hanya sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.
"Kejutan? mama tahu bercandanya mama itu udah kelewatan!" Aris kesal sekali karena sudah tertipu dengan permainan mamanya itu.
"Hahaaa kalau mama tidak begitu memangnya kau mau datang, tidak kan?"
"Hmmm."Kesal sekaligus sebel, punya mama yang punya berbagai cara untuk mengelabui putranya sendiri.
"Tapi kau puas bukan saat melihat pemandangan yang begitu indah malam ini?"
"Pemandangan indah, maksudnya? Aris pura-pura tak mengerti dengan ucapan wanita paruh baya itu.
"Sudahlah! kau tak pantas menjadi seorang aktor kalau berhadapan dengan mamamu ini, tunggu apa lagi, sebaiknya kau nyatakan perasaanmu padanya sekarang, mama sudah tak sabar ingin gendong cucu Ujar Rika seraya memperagakan tangannya seperti tengah menggendong seorang bayi
Ya Aris akui dia memang sangat berterimakasih pada mamanya itu, berkat mamanya dia bisa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri pemandangan yang begitu menyejukan hatinya itu.
"Mama cepatlah sedikit!" Suara Andi terdengar kesal. Saat melihat cara istrinya yang berjalan begitu lambat, padahal saat ini dia sudah kelelahan.
"lya, iya pap," Sahut Rika pada suaminya itu.
"Ya udah sayang mama duluan ya, ingat! jangan lama-lama." Pesan Rika lalu berlarian kecil ke arah suaminya yang sudah berdiri di dekat mobil.
"Hemmmmm."
Aris hanya menjawab sekenanya.
"Ana ibuk balik dulu ya, ingat baju yang ibu belikan tadi siang harus di pakai, ibu gak mau lihat kamu pakai baju lamamu lagi!"
"Ah i..iya buk."
Ana terpaksa mengiyakannya, dari pada harus berurusan dengan ibu majikannya itu, gara-gara membantah ucapannya.
Setelah melepaskan pelukannya pada gadis itu, Rika pun langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya.
"'Aris mama tunggu kabarnya," Ujar Rika seraya melambaikan tangannya pada putranya itu.
Kini tinggal mereka berdua, sepanjang perjalanan pulang ke rumah keduanya hanya tenggelam dengan pikiran masing-masing.
"Sepertinya pak Aris terlalu lelah hari ini, sebaiknya lain kali saja aku membahasnya."
*****
"Woahh.... akhirnya ujian sekolah udah selesai, gimana kalau kita mampir ke kafe dulu Na, buat rayain kemerdekaan kita!"
Ajak Sheri.
"Merdeka apanya Sher? wong pengumuman kelulusan aja belum di pajang di mading, mana tahu kita lulus apa enggak."
"Jangan ngomong gitu lah Na! perkataan adalah doa, mudah-mudahan aja kita bisa lulus tahun ini."
"lya-iya, semoga kita lulus tahun ini, Sahut
Ana semangat.
Setelah ada taxi yang lewat di hadapan mereka, keduanya pun langsung melambaikan tangannya, untuk pergi ke
Cafe yang mereka maksud.
"Pak ke Cafe A ya!" Ujar Ana memberitahu.
"Baik neng" Sahut si supir lalu melajukan mobilnya.
"Gimana udah ngomong belum sama majikan lho soal kemarin?" Tanya Sheri.
Dret...dret..
Ponsel Ana bergetar.
Melihatnya di sana tertera no majikannya.
"Nanti dulu ya Sher, gue angkat telepon dulu."
Sementara Sheri hanya mengangguk menanggapinya.
"Hallo pak?" Tanya Ana setelah teleponnya sudah terhubung.
"Ehmmm, Ana apa kau sudah pulang ujian?" Sahut si penelepon.
"Ah ia pak Ana baru saja pulang."
Ana sempat merasa gugup saat berbicara dengan majikannya itu, karena ini adalah kali pertamanya majikannya sampai harus menghubunginya lewat telepon, setelah berbulan-bulan bekerja di sana.
"Baiklah kalau begitu, buatkan aku makan siang, setelah selesai langsung antarkan ke kantorku!"
Perintah Aris.
"Mengantarkan ke kantor?" Batin Ana.
Dia semakin khawatir, kalau sampai dia ke kantor majikannya itu, akan bagaimana lagi pandangan orang-orang terhadapnya nanti.
"Ana apa kau masih mendengarku?"
"Ah ya pak, Ana akan berusaha secepatnya untuk memasaknya, dan mengantarkannya ke sana."
"Ya, ku tunggu." Setelah itu panggilan pun sudah terputus.
"Kenapa Na?" Tanya Sheri.
Saat melihat raut wajah sahabatnya itu yang sudah berubah.
"Aduh maaf ya Sher, gue tiba-tiba ada urusan mendadak, gimana kalau lain kali aja kita ke cafe nya?"
"Ya udah gak papa kok' Jawab Sheri.
"Maaf banget ya?" Ana masih merasa tak enak akan sahabatnya itu.
"Iya gak papa."
Setelah itu Ana pun langsung meminta supir taxi tersebut, untuk mengantarkannya ke rumah majikannya.
Anda Mungkin Juga Suka





