
Akhir dari Penantianku
Bab 3
Grukk...grukk.. "Pak sebaiknya anda makan dulu! bapak ingin makan apa biar saya carikan?"Ujar Rey memberanikan diri.
Sudah kesekian kalinya Rey mendengar suara perut direkturnya itu berbunyi, namun setiap kali Rey bertanya direkturnya itu selalu memilih untuk menunda makannya.
"Tak usah! sebaiknya kalau kau lapar kau makan saja sendiri!"Tolak Aris.
"Tapi pak, bagaimana saya bisa makan sementara anda selaku atasan saya menahan lapar"Ujar Rey iba, Rey benar-benar tak tega melihat kondisi atasannya yang tampak lemas karena belum makan sama sekali.
"'Sudahlah kau makan saja! jangan khawatirkan aku, aku sedang menunggu seseorang datang kemari membawakan makan siangku."
Aris terpaksa mengakuinya, saat melihat bawahannya yang tak juga beranjak makan karena setia untuk membantunya menahan lapar.
"Ah apakah itu Nona Ana?"
Batin Rey bertanya-tanya.
"Ah *mengapa aku bodoh sekali, memangnya siapa lagi yang bisa membuat seorang pria dingin seperti pak direktur sampai rela menahan lapar hanya karena menanti masakannya*"
Wajah Rey menampakan expresi terkejut karena ini pertama kalinya pria itu mengundang seorang wanita ke perusahaannya, sepertinya direkturnya itu memang sudah memantapkan hatinya pada gadis itu.
"Ah baiklah kalau begitu saya permisi dulu pak"Pamit Rey seraya membungkuk.
Sementara Aris hanya menanggapinya dengan anggukan, setelah Rey menghilang di balik pintu, dia kembali melirik ke arah Arloji yang ada di pergelangan tangannya.
"*Apakah gadis itu yang terlalu lama datang atau aku yang sudah tak sabaran"
Batin Aris.
Setelah itu Aris beranjak ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci wajahnya yang tampak kusut, dia ingin menata penampilannya se oke mungkin untuk bertemu gadis itu.
"Udah pak berhenti di sini aja!"
Ujar Ana menyela pada supir taxi itu.
Supir taxi itu pun langsung buru-buru menghentikan taxinya. "Ini pak ongkosnya!"
Ujar Ana seraya menyerahkan jumblah uang yang di pinta supir itu.
"Makasih neng."
"Sama-sama."
Setelah itu Ana pun langsung keluar taxi.
Dia sempat ternganga saat melihat pemandangan perusahaan yang berlogo kan CTIA grup itu.
Dari luar kelihatan sekali kalau perusahaan itu nampak megah sekali,
Ana merasa tak percaya kalau perusahaan itu milik majikannya sendiri.
Saat Ana memasuki lobby lagi-lagi dia di buat terperangah dengan kondisi gedung perusahan majikannya itu.
"Maaf mbak, saya kemari ingin bertemu pak Aris, untuk mengantarkan makan siangnya,"
Ujar Ana memberitahu pada resepsionis itu.
Resepsionis itu tak langsung menjawab melainkan pandangannya menelusuri seluruh tubuh gadis itu.
*Sejak kapan pak Aris menerima tamu seorang perempuan bahkan menyuruhnya mengantarkan makanan ke kantor*?"
Dia masih merasa janggal dengan gadis itu, di lihat dari penampilan sama sekali tak terlihat modis, bahkan wajahnya tak menggunakan make up sama sekali sungguh berbeda dengan mantan kekasih direkturnya Bellena.
Bahkan Bela selaku wanita yang pria dingin itu sangat cintai saja tak pernah direkturnya temui, pasti selalu ditolak dengan alasan sibuk mengurus pekerjaan.
"'Silahkan anda duduk dulu di ruang tunggu! saya akan memberitahu pak direktur dulu.
Masih setengah tak percaya resepsionis itu pada Ana,Akan tetapi lebih memilih untuk memberinya harapan.
"Baiklah, Sahut Ana lalu berjalan ke arah ruang tunggu.
"Siapa tu cewek?"
Tanya temannya yang lain, saat melihat gadis itu duduk di ruang tunggu.
"Gak tau, katanya mau nganter makanan buat pak direktur."
"Alah memang tu cewek siapa?
Bela aja setiap datang kemari gak di temuin malah di suruh pulang"
Sahut temannya. "Udahlah gak usah di gubris,
Kasih pelajaran aja, biar lain kali tu cewek gak punya muka lagi datang ke sini.!"
"la ya, ngapain juga gue pedulin tu cewek kampungan,"
Sahut resepsionis tadinya.
Setelah itu keduanya pun langsung sibuk sendiri tanpa memperdulikan
Ana yang sedari tadi harap-harap cemas menatap ke arah mereka demi menunggu pemberitahuannya.
"Apakah pak Aris masih sibuk?"
Gumam Ana dalam hati.
Bahkan sudah sekitar 20 menit an
Ana duduk menunggu di sana, namun resepsionis itu tak kunjung memanggilnya.
"*Sebaiknya aku bersabar saja terlebih dahulu, mungkin pak
Aris saat ini masih sibuk*" Batin Ana lagi.
Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah menunggu pemberitahuan dari resepsionis itu, karena ponselnya tertinggal di rumah gara-gara terlalu terburu-buru ke sana tadinya.
Sementara itu.
Rey yang saat itu baru saja menyelesaikan makan siangnya di kantin kantor untuk mempersingkat waktu sudah terlihat di lobby hotel untuk segera kembali ke ruangannya.
"Nona Ana."
Gumam Rey saat melihat gadis itu.
Rey pun langsung berjalan menghampiri gadis itu.
"Kenapa anda masih duduk di sini nona? pak direktur sudah menunggu anda dari tadi, bahkan beliau belum makan siang sama sekali demi menunggu anda."
Rey begitu panik saat membayangkan kondisi atasannya itu saat ini, tadinya saja sudah terlihat begitu lemas karena menunggu gadis itu,
Rey takut pria itu kenapa-napa.
"Ya tuhan benarkah?
Ini semua salah saya, tolong antar saya ke sana segera."
Entah kenapa Ana lebih merasa panik di banding takut saat membayangkan pria itu belum makan siang sama sekali, dia begitu khawatir akan kesehatan pria itu.
Setelah itu keduanya pun langsung mempercepat langkahnya untuk menuju ke ruangan Aris.
Resepsionis yang tadinya pun langsung terbelalak saat melihat pemandangan itu.
"Ya tuhan, sepertinya gadis itu tidak berbohong, bahkan pak Rey sendiri yang turun tangan membawanya ke ruangan direktur,"Ujar Resepsionis itu.
Wajahnya sudah nampak pucat, seluruh tubuhnya juga gemetaran, mereka tahu apa konsekuensinya kalau sampai membuat direkturnya itu marah. "Ini semua salahmu, tadinya aku sudah akan memberitahu pak direktur, tapi gara-gara kau melarangku. jadi aku mengacuhkannya."
"Hei kalau memang niatmu ingin memberitahu direktur, kenapa kau harus mendengarkan apa kata orang lain, dia berurusan denganmu, aku tak ada sangkut pautnya dengan ini semua."
Keduanya pun langsung terlibat di dalam cek cok mulut saling melemparkan kesalahan.
Tok..tokk..
"Masuk!"
Suara Aris terdengar sangat lemas karena belum makan.
Ana pun langsung masuk ke dalam, di lihatnya majikannya itu tengah terbaring di atas Shofa.
"Pak maafkan Ana karena sudah datang terlambat, ini semua salah Ana."
Aris dapat melihat kalau wajah gadis itu nampak panik saat melihat kondisinya saat ini.
"Kenapa kau datang terlambat? aku nyaris saja mati kelaparan menunggumu! apa kau sengaja membuatku menunggu lama agar aku cepat mati?"
Tiba-tiba timbul keinginan di hatinya untuk mengerjai gadis itu saat melihat wajahnya yang tampak panik.
"Tidak! mana mungkin Ana sengaja melakukannya, Ana hanya menuruti kata-kata resepsionis itu saja, jadi
Ana kira bapak sedang sibuk, maka dari itu Ana terus menunggu di sana."
Entah kenapa timbul keinginan untuk memperjelas semuanya agar pria itu tak salah paham padanya.
"Berapa lama kau menunggu di sana?"
"'Sekitar dua puluh menit'an pak."
"*Kurang ajar! berani sekali resepsionis itu membuat wanitaku duduk menunggu di sana*"
Wajah Aris sudah memerah karena geram sembari mengeratkan kepalan tangannya.
Karena bawahannya berani tak
Anda Mungkin Juga Suka





