
akan ku tuju sampai ke ujung
Bab 2
"Kamu apain anak saya?"
"Maaf tante, niat hati cuman mau kagetin Siera, tapi Siera takut benaran."
Xavier merasa gak enak dengan Siera dan juga mamanya, sampai akhirnya Xavier memilih keluar Siera terdiam.
"Sayang, kamu tadi di apain Xavier dia gak maksa kamu punya anak dia kan?"
"Duh, mama bicara apa sih? gaklah aku itu takut sama dia ma, mana mungkin dia berpikir demikian."
"Tapi kadang mama suka mikir apa yang terjadi ya kalau kalian punya anak pasti cakep."
Siera hanya diam sedangkan Xavier hanya merasa bersalah niat hati mau iseng malah jadi terbawa suasana terus di liat mama mertua, duh gimana ya jelasinnya kalau ketemu lagi.
“Tuan.”
“Apa, kalau gak penting kamu pergi aja kalau penting bicara sekarang! Saya gak punya banyak waktu saya sibuk.”
“Ini penting tuan.”
Xavier masuk ke dalam mobil bersama pengawalnya sontak Xavier melihat ke arah tabletnya yang mengguncang hatinya.
“Ini apaan sih! Sejak kapan saya sama Miranda!”
“Maaf tuan, saya sudah mencoba untuk menundukan berita yang ada, tpi beritanya terus tersebar luas.”
“Bilang ke mereka kalau terus menyebarluaskan berita yang gak ada akan saya akan habisi mereka dengan tangan saya.”
Brak.
Hentakan bunyi yang di pukul Xavier dengan kepalan tangan nya ke arah kepala mobil sontak Xavier jadi tau, kenapa Siera gak suka dirinya.
“Humm.”
“Tuan panggil saya.”
“Ya.”
“Ada apa tuan.”
Xavier menghela nafas dan bingung harus memulai darimana, sontak Xavier dengan tatapan seriusnya kepada pengawalnya.
“Kamu pernah gak suka sama wanita yang baru pertama kali kamu temui, tapi dia gak suka sama kamu padahal kamu memiliki segalanya.”
“Mungkin wanita itu bukan benar-benar gak suka tuan, kadang wanita itu ada dua tipe, satu dia suka menutupi perasaanya biar gak malu karena cinta bertepuk sebelah tangan, dua dirinya emang berani melakukan apapun demi mengejar cintanya.”
Xavier terdiam saat mendengarnya sontak berpikir lagi, kalau Siera yang mana ya dari dua tipe itu, masalahnya dia da di dua tipe itu hingga ga bisa menilai yang mana dia sebenarnya.
“Ugh, pusing.”
“Tuan kenapa, saya salah bicara ya?”
“Gak, itu cek handphone kamu.”
Ting.
“Tuan makasih ini dapat membantu hidup saya, tuan memang baik.”
“Udah jalan deh ke kantor, saya ada kerjaan kan di kantor saya ga mau kerjaan kantor saya makin numpuk, nanti saya ga bisa ketemu dia hihi.”
“Apaan tuan.”
“Jalan!”
Pengawal sontak jalan, Xavier yang lagi di ruang rapat terus kepikiran Siera, apa kelebihan Siera sampai Xavier enggan lupa dengan dirinya..
Xavier selesai rapat dan masuk keruangan kantornya, sampai di ruang kantornya Xavier merasa murka lalu moodnya turun.
“Sayang.”
“Miranda! Kenapa kamu ke sini? Oh ya dan jangan bilang kalau kamu pasangan aku, aku gak da hubungan kayak begitu sama kamu, tolong adain konferensi pers, aku gak mau membuat perkara kecil jadi besar, kamu mau kan keluar dari dunia hiburan karena ini.”
Miranda mendekap Xavier dan Xavier menepis tangannya dengan kasar, Xavier duduk di bangkunya dengan melipat kedua tangan yang di taro ke dagu.
“Miranda! Aku kasih kamu pilihan kamu mau takedown berita itu, atau kamu keluar dari dunia hiburan selamanya dan jangan pernah ada harapan bisa kembali lagi.”
Miranda yang mendengar itu kesal sontak mengepal tangan sedangkan Xavier gak peduli dan cek pekerjaanya.
Brak.
Miranda keluar dari ruangan Xavier, sntak Xavier melihat handphonenya foto Siera lagi tidur dan tersenyum.
“Kapan ya, aku ketemu kamu belum apa-apa udah kangen, ugh dasar jahat.”
Siera bingung kemana perginya Xavier gak lam Roma datang lalu mendekap Siera, Siera merasa senang saat ada Roma di depannya.
“Roma, kenapa kok kamu di sini.”
“Kamu kalau sakit kenapa gak bilang ke aku Siera, aku khawatir sama kamu.”
“Hah? Kamu khawatir sama aku ada apa Roma? Aku baik-baik aja kok seperti yang kamu lait.”
Roma melihat Siera dari atas sampai bawah dan memutar badan Siera, lalu Roma menyentil hidung Siera, Xavier yang dari jauh melihat itu hanya mengepal tangan sambil menatap ke arah sanah untuk berjaga.
“Jadi kamu gak suka sama aku, karena pria itu Siera?”
Siera dan Roma jalan bersama ke ruangan setelah sampai di ruangan, akhirnya mereka saling melihat satu sama lain.
“Siera kamu mau makan apel kan, aku potongin ya.”
“Ya, tapi kamu tau darimana aku dirumah sakit.”
“Tante, tadi ketemu tante katanya kamu dirumah sakit karena aku panik jadi aku langsung datang liat kamu, kenapa ga boleh ya? Apa kamu gak ngarep aku datang liat kamu.”
“Eh, gak gitu aku senang kok ada kamu malah aku berterima kasih kamu datang Roma, tapi aku gak ngerepotin kamu kan.”
Roma hanya senyum pegang kedua tangan Siera, Xavier yang melihat itu mengerutkan dahi menonjok ke arah tembok.
“Gak kok gak ngerepotin, aku senang di repotin Siera.”
Roma mendekatkan wajahnya kepada Siera, Siera hanya diam melihat ke arah Roma yang tersenyum kepadanya sambil mengusap kepala Siera.
“Siera terus repotin Roma aja, Roma senang kok biar selalu bisa dekat sama Siera, Siera gak keberatan kan.”
Siera hanya menganggukan kepala, Roma merasa Siera lucu dan Roma mengecup kening Siera.
“Siera, cepat sembuh ya biar kita bisa jalan bareng lagi.”
Siera menganggukan kepalanya, gak lama Xavier berpikir dirinya harus menyamar jadi dokter, sontak kepikiran ide itu.
Tok tok tok.
“Dokter, ada apa?”
“Saya mau periksa keadaan Siera, boleh keluar sebentar.”
“Baik dokter.”
Siera bingung bukannya tadi dokter udah cek keadaanya, emang dalam sehari berapa kali pengecekan.
Roma keluar dari hadapan mereka, Xavier terus mengeritkan dahi dan mengepal tangan, Siera menatap ke arah mata dokter yang pakai masker.
“Saya cek keadaan kak Siera dulu ya.”
“Ya dok.”
Siera terus memperhatikan dokter itu, sedangkan Xavier merasa gak fokus karena di liat terus sama Siera.
“Keadaan normal gak perlu d pikirkan, besok udah boleh pulang kalau begitu saya permisi.”
“Dokter tunggu.”
Xavier merasa salah tingkah dan tetap harus bersikap baisa aja, gak lama Siera duduk sambil Xavier berdiri di depannya.
Siera mendekap Xavier dan Xavier merasa jantungnya berdebar tanpa berkata apa-apa, Siera hanya senyum.
“Xavier mau sampai kamu pakai baju dokter buat nipu aku? Aku tau itu kamu.”
Xavier melepas dekapan tersebut tetapi di tarik oleh Siera, demi gamau menyakiti Siera, Xavier hanya memablas pelukan Siera.
“Xavier makasih ya kamu udah ngejaga aku, kamu kenapa jadi pakai baju dokter gini deh, pekerjaan kamu banyak ya.”
Xavier merasa malu saat ketawan Siera, Xavier melepas dekapannya dan Siera menarik wajah Xavier lalu membuka masker Xavier.
Anda Mungkin Juga Suka





