
akan ku tuju sampai ke ujung
Bab 3
“Nah begini kan baru Xavier yang aku kenal, kamu kenapa nyamar jadi dokter.”
“Gak kok, aku pergi dulu ya tugas aku uda selesai.”
Siera menahan Xavier dan Xavier melihat ke arah Siera dengan diam, Siera mendekap wajah Xavier.
“Kamu gaboleh pergi kalau kamu gak jelasin ke aku.”
Glug.
Xavier menelan salivanya karena bingung serta panik mau menjawab apa sampai akhirnya Xavier mengaku kalah kepada Siera.
“Aku cemburu kamu sama pria lain.”
“Maaf ya kayak anak kecil, tapi aku gak suka kamu sama dia.”
“Haha, emang kamu siapanya aku sampai cemburu.”
Xavier yang mendengar itu hanya diam sontak mengehela nafas gak lama saat mau pergi di tahan oleh Siera dan di kecup oleh Siera.
“Mana mungkin aku biarin orang yang selamatin diri aku pergi begitu aja.”
“Jadi?”
“Jadi apa.”
“Kita pacaran.”
Siera mendorong Xavier dan Xavier hanya diam sambil melihat ke arah Siera, Siera melipat kedua tanganya.
“Kamu dalam tahap pertimbangan jadi jangan senang dulu mengerti!”
“O-oke sayang aku udah senang kok.”
“Sayang sayang apaan pergi sanah!”
Saat Xavier mau pergi ditahan lagi oleh Siera, Xavier hanya menutup mata Siera tersenyum melihat Xavier, siera hanya memakaikan masker yang dia tarik tadi.
“Ngapain tutup mata? Emang kamu kira aku mau ngapain?”
Xavier terdiam saat ingin menjauh Siera mengecup Xavier dengan mengunakan masker Xavier tertegun melihat Siera.
“Pergi sanah, jangan pernah lagi pura-pura jadi siapapun bakal di hukum nanti.”
Xavier hanya menganggukan kepala, sampai akhirnya Siera menutup muka nya dengan kedua tanganya.
“Siera, lu orang gila yang pernah ada, arrgh kok gua senang ya.”
Roma masuk dan bingung apa yang terjadi dengan Siera, gak lama Siera kembali normal lagi biar Roma gak curiga.
“Roma, kamu belum pulang?”
“Ya ini aku mau pulang, kamu mau aku temanin.”
“Gausah, aku bisa sendiri kok lagian di sini banyak orang ada dokter dan suster aku tinggal panggil mereka.”
“Ok kalau gitu, aku pulang ya bye kamu cepat sembuh kalau butuhh apa-apa telepon aku, biar aku datang.”
Siera hanya senyum kepada Roma, Roma keluar dari ruangan Siera. Siera merasa rindu akan Xavier tapi Xavier belum datang.
Xavier di dalam mobil hanya bisa senyum tidak bisa berkata apa-apa, pengawalnya hanya diam melihat Xavier.
“Tuan pria itu udah pulang apa tuan juga mau pulang.”
“Gak, saya mau di sini kamu pulang aja, besok pagi bawain saya kemeja makasih.”
“Baik tuan.”
Xavier jalan ke dalam ruangan Siera, Siera sedang tidur sedangkan Xavier hanya senyum kepada Siera yang lagi tidur.
“Manusia cantik ini ngapain aja cantik emang boleh ya secantik ini?”
“Aku cantik ya? Makasih sampai di liatin begitu.”
Xavier yang ketahuan berkata dalam hati tentang Siera, membuatnya malu gak lama Siera bangun membuka matanya.
“Kamu gak tidur? Aku kira kamu tidur.”
“Gak, aku nungguin kamu. Aku kira kamu udah pulang, ada apa kamu ke sini?”
“Kamu tau kan alasan aku ke sini?”
Siera menggeleng kepala, gak lama Xavier menjelaskan kepada Siera. Siera duduk sambil dengar cerita Xavier.
“Siera.”
“Humm.”
“Aku sama miranda gak ada hubungan apa-apa, aku di jebak sama dia jadi kalau ada skandal apapun tentang aku jangan percaya, kecuali diri aku sendiri yang bicara ya.”
“Alasan aku harus percaya kamu apa, emang aku siapa kamu? Kita ini apa? Dan untuk apa aku tau tentang kamu.”
Xavier yang mendengar itu hanya bisa diam tanpa kata, setelah di pikir-pikir lagi perkataan Siera memang benar, memangnya mereka ini apa.
Xavier berdiri dan melihat ke arah Siera dengan menahan rasa sedihnya, gak lama Siera melihat ke arah Xavier.
“Aku pulang ya, kalau kamu butuh apa-apa panggil dokter dan suster. Maaf aku udah ganggu kamu, kamu pasti gak nyaman sama aku. Aku gak bakal ganggu kamu kok bye Siera.”
Siera yang mendnegar itu emrasa sakit hati yang gak bisa di jelaskan, sampai akhirnya Xavier hanya diam telepon supirnya.
“Pengawal jemput sekarang.”
Xavier pulng dan langsung ke ruang kerjanya minum hingga mabuk, gak lama ada telepon dari rapat, tetapi Xavier masih tidur sepanjang hari karena perkataan Siera.
Siera yang uda mau pulang dari rumah sakit, merasa sepi dan hampa saat gak ada Xavier yang menemani dirinya tetapi ada Roma yang selalu sigap.
“Siera ayo pulang bareng.”
“Ya Roma makasih ya.”
“Sini barang kamu, aku aja yang bawa kamu duduk aja di mobil bareng tante ya.”
“Ya.”
Siera masuk ke dalam mobil Roma dan menunggu Xavier hingga datang, Siera menghela nafas mama melihat Siera.
“Sayang, kamu kenapa?”
“Aku gapapa ma.”
“Benaran?”
Siera hanya menganggukan kepala, mamanya yang tau hanya diam saja Siera cek keadaan Xavier tetapi gak ada kabar apa-apa, Roma masuk dengan banyak bicara dengan Siera hanya saja Siera keliatan gak suka dengan topik yang ada.
Sampai dirumah Siera masuk kedalam rumah sedangkan Roma bingung ada apa, semenjak di rumah sakit Siera langsung berubah dengannya.
Xavier yang masih rapat keluar negeri memikirkan Siera terus, tapi Xavier harus bisa melupakan Siera agar dirinya tidak terhanyut dengan Siera.
“Tuan.”
“Ya ada pa?”
“Nona Siera udah pulang dan kelihatan sedih mungkin karena tuan gak liat, nona Siera?”
Xavier hampir senyum mendengar perkataan pengawal pribadinya, tetapi Xavier tetap bersikap cuek dan dingin.
“Oh kan cowo yang kemarin jemput dia ya kan?”
“Benar tuan, sepertinya pria itu mencintai nona Siera, begitu juga dengan nona Siera.”
Xavier yang awalnya mau senang seketika menghancurkan pulpen yang ada di tanganya sambil mengerutkan dahi.
“Minta pen baru, soal Siera jangan bahas lagi ayo pergi rapat.”
Xavier sontak pergi ke perjalanan rapat tanpa memikirkan Siera, Siera pergi sendiri makan es krim Xavier yang melihat itu ingin sekali menghampiri Siera, saat mau turun ada Roma di sampingnya Xavier menahankan dirinya untuk gak keluar.
“Jalan!”
“Baik tuan.”
Siera merasa ada Xavier tapi kemana perginya Xavier, apa sekarang Siera juga mulai berhalusinasi adanya Xavier di sekelilingnya.
“Siera, ada apa?”
“Gak ada Roma, ayo kita pulang.”
Roma hanya senyum setelah sampai rumah Siera lebih banyak diam dan tidak mau memikirkan lagi soal Xavier karena dirinya dan Xavier memang beda dunia dan tidak bisa di paksa.
“Sayang anak mama, ada apa?”
“Gak kok ma, aku mau tidur dulu malam ma.”
Mama hanya diam dan menggeleng kepala udah tau anaknya mengapa tapi si anak masih menutupi saja keesokan paginya di kantor.
Bruk.
Siera ga mau melihat ke arah orang yang ditabraknya hanya bisa bersedih tanpa memikirkan apapun.
Anda Mungkin Juga Suka





