Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel 49 Hari Bersama Tawanan Sexy

49 Hari Bersama Tawanan Sexy

Tamara Levinka, model ternama sekaligus tunangan CEO produsen senjata Roger Jenandra, mendadak hilang tanpa jejak. Meski pencarian besar-besaran telah dilakukan, keberadaannya tetap misterius. Namun, setelah empat puluh sembilan hari, Tamara muncul kembali dengan kabar yang mengguncang semua pihak. Di balik kepulangannya, ada Jeff yang terobsesi memilikinya dan Tamara yang rela mengorbankan segalanya demi pria itu. Cinta mereka tumbuh di tengah konflik yang berbahaya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sinar matahari menelisik dari celah jeruji jendela, menyorot mata yang mengerjap. Perlahan, kelopak yang terpejam itu terbuka memperlihatkan lensa bulat kecoklatan di dalamnya. Suara eluhan menyusul setelah mata indah itu terbuka sepenuhnya.

Tamara, yang tengah terbaring di atas ranjang bertabur kelopak mawar putih itu berusaha bangkit duduk. Dia memutar kepala, mencoba mengenali ruangan yang ia tempati. Asing. Ini bukan kamarnya atau kamar seseorang yang ia kenal.

"Gue di mana?" tanyanya, yang dijawab gemerisik daun di luar jendela.

Tamara beringsut ke tepi ranjang, menurunkannya kakinya yang tak beralas ke lantai dingin. Dengan bertumpu pada tiang-tiang ranjang, Tamara berdiri dan melangkah menuju jendela. Terdapat gorden putih di masing-masing ujung jendela berjeruji besi.

Saat silau matahari mengenai matanya, Tamara reflek memgangkat tangan. Dia menyipit, tak bisa melihat dengan jelas pemandangan di luar sana. Yang pasti Tamara bisa menangkap beberapa pohon yang bergoyang seiring dengan tiupan angin. Pemandangan yang indah, tempat yang tepat untuk beristirahat dari hiruk pikuk dunia.

Namun, bagaimana bisa dia sampai ke sini. Tatapan Tamara beralih pada tubuhnya. Gaun putih bermotif bunga-bunga kecil hingga bawah lutut terpasang rapi, memiliki lengan panjang dengan karet di bagian pergelangan.

"Gimana gue bisa ada di sini?"

Tamara meringis menyentuh kepala. "Tadi malem gue nganter Shakira pulang, terus gue telpon sama—"

Mulut Tamara membulat, dia kembali ke ranjang yang memiliki empat buah tiang dan selambu putih, persis ranjang putri dalam film.

"Hp gue, hp gue."

Laci berwarna krem di sisi ranjang Tamara buka kasar. Buku-buku dan benda lain di dalam sana tak begitu Tamara pedulikan. Matanya hanya awas mencari benda pipih yang dia beli tiga bulan lalu. Tetapi, hingga semua isi dalam laci berserakan di lantai, dia belum juga menemukan ponselnya.

"Sial!"

Tamara berdiri gelisah. Matanya terjatuh pada pintu dengan warna senada, krem. Kakinya yang tak beralas melangkah cepat. Ternyata pintu itu tak terkunci, membuat Tamara bisa keluar dari kamar itu dengan mudah.

Tak jauh berebeda, interior di luar ruangan juga layaknya dalam film kerajaan. Tangga panjang dengan model melingkar menghubungkan lantai dua—tempat Tamara berada—dan lantai satu. Bangunan itu begitu besar, tapi tak ada satupun orang yang tertangkap mata Tamara.

"Apa gue cuma mimpi?" ragu Tamara.

Kakinya melangkah hati-hati di atas marmer putih tulang dengan motif indah berwana emas. Merasakan hawa dingin yang menembus kulitnya, Tamara menggosok-gosok lengan berlapis kain tipis agar lebih hangat. Rasa dingin ini, entah berasal dari pendingin ruangan, atau berasal dari dalam dirinya.

Tamara menatap railing tangga yang sepertinya terbuat dari besi. Kepalanya memutar waspada, mencari keberadaan sosok lain di sana. Saat lagi-lagi hanya kekosongan yang Tamara temukan, dia bergegas menuruni tangga. Kaki jenjangnya melangkah cepat di atas anak tangga yang beralas karpet merah.

"Pagi."

Langkah Tamara membeku. Dia mengangkat kepala yang sebelumnya terlalu fokus pada anak tangga. Tepat di depan anak terakhir tangga, seorang pria tengah berdiri dengan tangan menggenggam secangkir kopi.

"Kamu ingin sarapan?" tanyanya.

Bibir Tamara terkatup rapat, tangannya yang bertengger di atas railing mengerat.

"S-siapa?" tanyanya.

"Jeff," jawab pria itu singkat.

"Saya nggak kenal kamu. Ini di mana?" Tamara menelan ludah, berusaha keras agar tak terlihat takut.

Netra hitam pria itu, Jeff, mengarah lurus pada Tamara. Bukannya menjawab, dia malah berbalik santai. "Turun, kita sarapan," ucapnya.

"Hei! Anda siapa?"

Teriakan Tamara sama sekali tak dia pedulikan. Sontak model cantik itu menggeram kesal, tangannya yang berkeringat dingin menjambak rambut kuat. Namun, dia tetap mengikuti langkah Jeff. Dia bahkan melompati dua anak tangga agar cepat sampai ke belakang punggung pria itu.

Tangan Tamara mengepal di udara, matanya menatap tengkuk Jeff. Dia menghitung dalam hati. Setelah hitungan ke tiga, kepalan tangannya terayun sekuat tenaga menghantam tengkuk Jeff.

"Ah!" adu Jeff, memegangi tengkuknya. Dia berbalik, menatap Tamara dengan alis bertaut.

"K-kok nggak pingsan?" Tamara melangkah mundur. Karena tak memperhatikan langkah, kaki kiri perempuan itu tersandung kaki kanannya sendiri, membuatnya jatuh terduduk.

Bahkan setelah mendapat pukulan dari Tamara, Jeff masih berdiri tegak. Dia menatap Tamara datar. Saat Tamara beringsut mundur, Jeff melangkah maju.

"Sudah?" tanyanya. "Ayo sarapan."

Mata Tamara melotot mendengarnya. Apalagi setelah mengatakan hal itu, Jeff berbalik dan melangkah santai meninggalkan Tamara. Perempuan berparas cantik itu menyentuh dada yang berdegup kencang. Tentu saja bukan karena cinta.

"Gua kira, gue bakal dibunuh," lirihnya.

"Ayo!"

Seruan itu membuat Tamara terlonjak. Ternyata Jeff masih di sana, berjarak sekitar lima meter darinya. Melihat mata tajam yang menatap tanpa emosi itu membuat Tamara segera bangkit. Dia berlari kecil menghampiri Jeff, yang langsung melanjutkan langkah.

"J-Jeff!"

"Hm?"

Saat jarak mereka mulai dekat, Tamara menghentikan langkah. Setidaknya, harus ada jarak sekitar dua meter di antara mereka. Kalau-kalau Jeff terlihat hendak menyerangnya, Tamara bisa melarikan diri.

"G-gue di mana? Maksud gue, i-ini di mana?"

Jeff berhenti sejenak, hanya untuk menggedikkan bahu. Sontak saja Tamara kembali mengepalkan tangan di udara. Namun, demi keamanan nyawanya, tangannya kembali dia turunkan ke samping tubuh.

"L-lo, yang bawa gue ke-ke sini?"

"Hm."

Kepalan tangan Tamara mengerat. Dengan mulut terkulum rapat Tamara mendorong tubuh Jeff, membuat pria itu terhuyung ke depan.

Kesempatan bagi Tamara, perempuan itu berlari secepat tenaga. Ternyata rumah itu jauh lebih luas dari dugaannya. Entah sudah berapa kali Tamara masuk keluar ke berbagai ruangan, hingga akhirnya bisa melihat sepasang pintu berukir naga.

Tamara tertawa. Pria tadi, Jeff, sepertinya

terlalu terobsesi dengan hal-hal berbau kerajaan. Rumah yang sudah seperti istana, bahkan dia mendandani Tamara dengan pakaian layaknya seorang putri.

"Orang gila," celanya.

Sekali lagi Tamara melihat ke belakang. Beruntung dia tidak melihat keberadaan Jeff. Tidak ada suara langkah yang mendekat juga. Tamara bergegas meraih pintu besar itu. Sekuat tenaga dia mencoba menarik pintu itu hingga terbuka.

"Nggak dikunci?" bingungnya.

Walaupun merasa curiga, Tamara tetap melangkah keluar. Dia berlari tanpa alas di atas pasir lembut. Telinganya dapat menangkap deburan ombak yang menabrak karang. Buih putih di ujung pantai seakan berteriak mengejak Tamara.

"I-ini di mana?" Langkah perempuan itu memelan.

Tubuh semampai itu berputar. Netra kecoklatan itu bergetar. Kanan, kiri, depan, belakamg, hanya ada lautan yang tertangkap matanya. Rumah mega layaknya istana tempat Jeff berada itu dikelilingi oleh lautan.

"P-pulau?"

"Tidak jadi sarapan?"

Alunan suara tenang itu membuat Tamara terlonjak. Perempuan itu jatuh terduduk, menatap Jeff yang berjalan tenang ke arahnya dengan kedua tangan di dalam saku.

"Hm?" Jeff berhenti di depan Tamara. Dia mengeluarkan tangan kanan dari dalam saku, mengulurkannya ke depan wajah Tawaran.

"Ayo.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BRIDE OF THE MAFIA
8.1
Milan dikuasai Vicenzo, bos mafia kejam yang mendadak hilang usai misi gagal. Bertahun-tahun kemudian, ia muncul demi menemukan Jill, seniman tunanetra yang buta akibat peluru nyasarnya. Di kota kecil, takdir mempertemukan mereka dalam pusaran cinta dan dendam. Vicenzo harus melindungi Jill dari ancaman musuh lama, sementara Jill berjuang memaafkan pria yang merenggut penglihatannya. Di tengah bahaya, mereka menghadapi masa lalu demi sebuah penebusan.
Sampul Novel Buku Harian Seorang Pengacara Muda
8.3
Edward Cicero adalah pemuda ambisius yang sedang menempuh pendidikan demi menjadi pengacara profesional. Namun, langkahnya di sekolah hukum langsung diuji saat ia harus menangani kasus perdana melawan perusahaan asuransi raksasa. Edward kini terjebak dalam dilema moral yang berbahaya. Ia wajib memenangkan gugatan itu dengan segala cara, termasuk menempuh jalur kriminal, atau ia akan menghadapi konsekuensi pahit berupa pengusiran dari kampusnya.
Sampul Novel Kamu Milikku (Hasrat Gila bersamamu)
9.4
Pesta ulang tahun Thania berubah menjadi petaka saat ia diculik dan menyaksikan kedua orang tuanya dihabisi. Kini, ia terperangkap sebagai tawanan pemuas nafsu seorang bos mafia yang sangat sadis. Di tengah penderitaannya, Thania harus memutar otak untuk menaklukkan hati pria kejam tersebut. Akankah ia berhasil memikat sang mafia agar membantunya mengungkap konspirasi besar di balik kehancuran keluarganya, atau justru terjebak selamanya?
Sampul Novel LOVE BETWEEN TWO BELIEFS
9.3
Stenly Sebastian Miller hancur saat Kimberly memutuskan hubungan dua tahun mereka akibat isu kebangkrutan. Bertekad bangkit, Stenly bersumpah mencari pengganti yang lebih baik. Di tengah luka, ia menyelamatkan Seruni dari serangan Dante yang obsesif. Meski berakhir babak belur demi melindungi Seruni, insiden ini justru memicu ketertarikan Stenly padanya. Kini ia harus memilih: terus meratapi masa lalu atau memulai lembaran baru yang bahagia bersama Seruni.
Sampul Novel Mantanku Panik Setelah Pengunduran Diriku
9.4
Yonatan memutuskan mundur dari dunia musik, memicu sorak-sorai publik dan kepura-puraan Sherwin, sang musisi jenius yang berselingkuh dengan kekasih Yonatan. Di kehidupan lalu, Yonatan hancur akibat tuduhan plagiat karena lagu Sherwin rilis sepuluh menit lebih awal. Fitnah itu memicu perundungan kejam, kebangkrutan, hingga kematian tragis orang tuanya yang dibakar penggemar fanatik, sebelum akhirnya Yonatan mengakhiri hidupnya. Kini, setelah terlahir kembali, Yonatan mengabaikan kepalsuan mereka demi membalas dendam.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 2
8.1
Permana Brata, putra Prabasari dan Baron Smith, memulai misi baru mencari sang ayah. Berbekal pusaka Pedang Kebenaran Sejati serta teknik Sepuluh Syair Bumi Pertiwi dari Ki Sasmaya, ia menghadapi kerasnya dunia persilatan. Meski lahir dari hubungan gelap, tekadnya tak tergoyahkan. Segala rintangan dan musuh yang menghadang diterjang demi menuntaskan pencariannya. Sebuah petualangan penuh aksi dalam membuktikan keteguhan hati di tengah pahitnya konflik.