Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel 49 Hari Bersama Tawanan Sexy

49 Hari Bersama Tawanan Sexy

Tamara Levinka, model ternama sekaligus tunangan CEO produsen senjata Roger Jenandra, mendadak hilang tanpa jejak. Meski pencarian besar-besaran telah dilakukan, keberadaannya tetap misterius. Namun, setelah empat puluh sembilan hari, Tamara muncul kembali dengan kabar yang mengguncang semua pihak. Di balik kepulangannya, ada Jeff yang terobsesi memilikinya dan Tamara yang rela mengorbankan segalanya demi pria itu. Cinta mereka tumbuh di tengah konflik yang berbahaya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Tamara menjatuhkan bokongnya di atas kursi yang lagi-lagi memiliki model seperti dalam film kerajaan. Berwarna emas dengan bentuk sandaran berukir, spons di bagian dudukan dan punggung memiliki warna krem dengan corak abstrak.

Perempuan cantik itu menghela napas. Jeff, pria itu semakin dipikir semakin aneh, mencurigakan, menakutkan. Tamara tak mengenal Jeff, dia yakin itu. Sedangkan pria itu terlihat begitu santai memperlakukan Tamara, korban culikannya.

"Kenapa?" tanya Jeff. Tangan kekarnya masing-masing memegang pisau dan garpu. Tamara tahu fungsi kedua benda itu adalah untuk sandwich di hadapan Jeff, tapi tetap saja dia merasa ngeri.

"Enggak!" Tamara menggeleng cepat. Dia mengambil pisau dan garpu. Namun, di detik selanjutnya dia kembali meletakkan kedua benda tersebut. Makanan yang terhidang di depannya adalah sandwich, bukan steik. Dia mendongak untuk menatap Jeff yang mulai mengunyah.

"Aneh," ucap Tamara pelan. Baru kali ini dia melihat orang menikmati sandwich dengan pisau dan garpu. Memang tidak salah, tapi itu bukanlah hal yang normal. Lagipula bukannya lebih enak dan nyaman menggunakan tangan kosong.

"Nggak suka?" Setelah menelan makanan dalam mulutnya Jeff menatap Tamara. Paras tampan dengan garis rahang tegas itu berpadu sempurna dengan rumah bak istana ini.

"G-gue kenyang." Tamara mengulum bibir.

Sedari pertama kali dia menatap wajah Jeff, sedikitpun dia tak merasakan kebencian di sana. Hanya raut datar yang tak tertebak. Setiap kata yang pria itu ucapkan pun seperti tak memiliki emosi, hanya mengalun tanpa nada. Tamara dibuat semakin kebingungan memikirkan alasan pria itu membawanya, atau lebih tepatnya menculiknya ke pulau ini.

"Jeff, orang berhoodie malam itu … lo?"

Gerakan pisau yang hampir berhasil memotong bagian tepi sandwich itu terhenti. Tamara menelan ludah, tangannya bergerak pelan meraih pisau di atas meja. Saat Jeff perlahan mendongak, menatap matanya, tengkuk Tamara tiba-tiba merinding. Netra tajam pria itu menatap datar, tapi seakan mampu melubangi keningnya.

"Iya," jawab Jeff singkat. "Kenapa?"

Selama dua detik Tamara hanya mengerjap linglung. Pisau di tangannya dia lepas begitu saja hingga jatuh ke lantai. Kedua tangannya kini mengepal di atas meja, gigi Tamara bergemeretak, menatap Jeff tajam. Bisa-bisanya pria itu berkata begitu santainya mengenai penculikan yang dia lakukan.

"Gila!"

Mendengar hinaan Tamara, ujung bibir Jeff malah terangkat samar. Hal itu membakar amarah Tamara, membuat perempuan cantik itu bangkit berdiri. Menggebrak meja keras, Tamara mencondongkan tubuhnya ke depan. Netra kecoklatan itu menyorot tajam.

"Kenapa lo culik gue? Brengsek! Lo nggak tau

gue siapa? Lepasin gue sakarang juga, atau tunangan gue bakal dateng ke sini, dan nggak akan ada lagi kesempatan buat lo kabur!"

Luapan emosi Tamara Jeff balas dengan raut lugu. Pria itu sengaja membuat Tamara kesal. Jeff mengangkat kedua tangannya ke depan, menunjukkan telapak tangan kosong pada Tamara.

"Lepasin gimana? Aku nggak sekap kamu," katanya berlagak polos.

"Sialan!" Dengan gerakan cepat Tamara meraih piringnya, melempar benda itu sekuat tenaga.

Namun, Jeff dengan sigap mengangkat lengan untuk melindungi wajahnya. Piring itu menghantam lengannya dan pecah, menyisakan luka dengan darah mengucur. Tamara tak menunjukkan raut menyesal sedikitpun.

"Pecah," ucap Jeff, menatap mata Tamara.

Pria itu menghela napas, dia bangkit berdiri dan mengambil langkah menjauh. Ditatapnya pecahan piring di lantai yang dihiasi darah dari lengannya. Dia kembali menatap Tamara, lalu menepuk kedua tangannya di udara.

Dalam hitungan detik, belasan orang berseragam putih dan hitam muncul dari berbagai arah. Tamara membuka mulut syok. Saat seorang perempuan berdiri di dekatnya dan menunduk hormat, Tamara segera menghindar menjauh. Belasan orang itu bekerja sama membersihkan kekacauan kecil yang Tamara buat. Kurang dari lima, meja juga lantai sudah bersih kembali, dan orang-orang itu menunduk hormat sebelum melangkah pergi beriringan.

Kejadian tersebut terlalu tiba-tiba. Tamara berdiri diam dengan mulut terbuka, mencoba mencerna apa yang terjadi. Dia pikir di rumah sebesar ini hanya ada dia dan Jeff. Tapi nyatanya, ada begitu banyak manusia yang entah bersembunyi di mana.

"Sudah." Jeff melangkah mendekati Tamara. "Sekarang, mau melihat laut?" tawarnya seakan tadi tak terjadi apa-apa.

Tamara menatap uluran tangan Jeff. Namun, luka goresan panjang di lengan kanan pria itu menarik perhatiannya. Darah masih merembes keluar, menetes ke lantai mengotori keramik bermotif cantik itu. Tamara meringis membayangakn perih dari luka tersebut, sedangkan Jeff terlihat begitu tenang.

"Ayo," ajak Jeff.

Alih-alih membalas uluran tangan Jeff, Tamara malah memutar kecil tangan pria itu untuk melihat luka goresan tepat di bawah siku. Tamara menggunakan pakaian bagian lengannya untuk membersihkan darah di samping luka. Dia mengusap lembut, takut akan menyenggol luka yang terlihat begitu menyakitkan. Sesekali perempuan itu juga meniup-niup kecil untuk mengurangi rasa perih.

Diperlakukan seperti itu tubuh Jeff menegang. Matanya terpaku pada perempuan yang tak jauh lebih pendek darinya. Tamara yang menunduk untuk meniup luka di tangannya terlihat begitu cantik. Tangan kiri Jeff tanpa sadar terangkat, menyelipkan anak rambut Tamara ke telinga.

"Eh?" Tamara mendongak terkejut. Tapi, tanpa sengaja pandangan keduanya bertemu. Mata gelap Jeff seakan mengunci Tamara, membuat perempuan itu tak bisa membuang muka. Genggaman Tamara pada lengan Jeff mengendur ketika perasaan aneh menelisip di hatinya.

"Tamara …."

Mendengar namanya disebut Jeff untuk pertama kalinya, Tamara merasakan denyut tak nyaman di dada. Seakan ada pisau yang menggores hatinya, mengukir sebuah nama yang tak bisa ia kira. Mencoba menyelam lwybih dalam pada mata kelam itu, Tamara malah terjebak membeku. Tanpa dia tahu alasannya, cairan bening menetes dari ujung matanya.

Entah kenapa, Tamara merasakan perasaan menyakitkan yang menjerat hatinya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95NXT" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95NXT
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BRIDE OF THE MAFIA
8.1
Milan dikuasai Vicenzo, bos mafia kejam yang mendadak hilang usai misi gagal. Bertahun-tahun kemudian, ia muncul demi menemukan Jill, seniman tunanetra yang buta akibat peluru nyasarnya. Di kota kecil, takdir mempertemukan mereka dalam pusaran cinta dan dendam. Vicenzo harus melindungi Jill dari ancaman musuh lama, sementara Jill berjuang memaafkan pria yang merenggut penglihatannya. Di tengah bahaya, mereka menghadapi masa lalu demi sebuah penebusan.
Sampul Novel Buku Harian Seorang Pengacara Muda
8.3
Edward Cicero adalah pemuda ambisius yang sedang menempuh pendidikan demi menjadi pengacara profesional. Namun, langkahnya di sekolah hukum langsung diuji saat ia harus menangani kasus perdana melawan perusahaan asuransi raksasa. Edward kini terjebak dalam dilema moral yang berbahaya. Ia wajib memenangkan gugatan itu dengan segala cara, termasuk menempuh jalur kriminal, atau ia akan menghadapi konsekuensi pahit berupa pengusiran dari kampusnya.
Sampul Novel Kamu Milikku (Hasrat Gila bersamamu)
9.4
Pesta ulang tahun Thania berubah menjadi petaka saat ia diculik dan menyaksikan kedua orang tuanya dihabisi. Kini, ia terperangkap sebagai tawanan pemuas nafsu seorang bos mafia yang sangat sadis. Di tengah penderitaannya, Thania harus memutar otak untuk menaklukkan hati pria kejam tersebut. Akankah ia berhasil memikat sang mafia agar membantunya mengungkap konspirasi besar di balik kehancuran keluarganya, atau justru terjebak selamanya?
Sampul Novel LOVE BETWEEN TWO BELIEFS
9.3
Stenly Sebastian Miller hancur saat Kimberly memutuskan hubungan dua tahun mereka akibat isu kebangkrutan. Bertekad bangkit, Stenly bersumpah mencari pengganti yang lebih baik. Di tengah luka, ia menyelamatkan Seruni dari serangan Dante yang obsesif. Meski berakhir babak belur demi melindungi Seruni, insiden ini justru memicu ketertarikan Stenly padanya. Kini ia harus memilih: terus meratapi masa lalu atau memulai lembaran baru yang bahagia bersama Seruni.
Sampul Novel Mantanku Panik Setelah Pengunduran Diriku
9.4
Yonatan memutuskan mundur dari dunia musik, memicu sorak-sorai publik dan kepura-puraan Sherwin, sang musisi jenius yang berselingkuh dengan kekasih Yonatan. Di kehidupan lalu, Yonatan hancur akibat tuduhan plagiat karena lagu Sherwin rilis sepuluh menit lebih awal. Fitnah itu memicu perundungan kejam, kebangkrutan, hingga kematian tragis orang tuanya yang dibakar penggemar fanatik, sebelum akhirnya Yonatan mengakhiri hidupnya. Kini, setelah terlahir kembali, Yonatan mengabaikan kepalsuan mereka demi membalas dendam.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 2
8.1
Permana Brata, putra Prabasari dan Baron Smith, memulai misi baru mencari sang ayah. Berbekal pusaka Pedang Kebenaran Sejati serta teknik Sepuluh Syair Bumi Pertiwi dari Ki Sasmaya, ia menghadapi kerasnya dunia persilatan. Meski lahir dari hubungan gelap, tekadnya tak tergoyahkan. Segala rintangan dan musuh yang menghadang diterjang demi menuntaskan pencariannya. Sebuah petualangan penuh aksi dalam membuktikan keteguhan hati di tengah pahitnya konflik.