
49 Hari Bersama Tawanan Sexy
Bab 3
Tamara menjatuhkan bokongnya di atas kursi yang lagi-lagi memiliki model seperti dalam film kerajaan. Berwarna emas dengan bentuk sandaran berukir, spons di bagian dudukan dan punggung memiliki warna krem dengan corak abstrak.
Perempuan cantik itu menghela napas. Jeff, pria itu semakin dipikir semakin aneh, mencurigakan, menakutkan. Tamara tak mengenal Jeff, dia yakin itu. Sedangkan pria itu terlihat begitu santai memperlakukan Tamara, korban culikannya.
"Kenapa?" tanya Jeff. Tangan kekarnya masing-masing memegang pisau dan garpu. Tamara tahu fungsi kedua benda itu adalah untuk sandwich di hadapan Jeff, tapi tetap saja dia merasa ngeri.
"Enggak!" Tamara menggeleng cepat. Dia mengambil pisau dan garpu. Namun, di detik selanjutnya dia kembali meletakkan kedua benda tersebut. Makanan yang terhidang di depannya adalah sandwich, bukan steik. Dia mendongak untuk menatap Jeff yang mulai mengunyah.
"Aneh," ucap Tamara pelan. Baru kali ini dia melihat orang menikmati sandwich dengan pisau dan garpu. Memang tidak salah, tapi itu bukanlah hal yang normal. Lagipula bukannya lebih enak dan nyaman menggunakan tangan kosong.
"Nggak suka?" Setelah menelan makanan dalam mulutnya Jeff menatap Tamara. Paras tampan dengan garis rahang tegas itu berpadu sempurna dengan rumah bak istana ini.
"G-gue kenyang." Tamara mengulum bibir.
Sedari pertama kali dia menatap wajah Jeff, sedikitpun dia tak merasakan kebencian di sana. Hanya raut datar yang tak tertebak. Setiap kata yang pria itu ucapkan pun seperti tak memiliki emosi, hanya mengalun tanpa nada. Tamara dibuat semakin kebingungan memikirkan alasan pria itu membawanya, atau lebih tepatnya menculiknya ke pulau ini.
"Jeff, orang berhoodie malam itu … lo?"
Gerakan pisau yang hampir berhasil memotong bagian tepi sandwich itu terhenti. Tamara menelan ludah, tangannya bergerak pelan meraih pisau di atas meja. Saat Jeff perlahan mendongak, menatap matanya, tengkuk Tamara tiba-tiba merinding. Netra tajam pria itu menatap datar, tapi seakan mampu melubangi keningnya.
"Iya," jawab Jeff singkat. "Kenapa?"
Selama dua detik Tamara hanya mengerjap linglung. Pisau di tangannya dia lepas begitu saja hingga jatuh ke lantai. Kedua tangannya kini mengepal di atas meja, gigi Tamara bergemeretak, menatap Jeff tajam. Bisa-bisanya pria itu berkata begitu santainya mengenai penculikan yang dia lakukan.
"Gila!"
Mendengar hinaan Tamara, ujung bibir Jeff malah terangkat samar. Hal itu membakar amarah Tamara, membuat perempuan cantik itu bangkit berdiri. Menggebrak meja keras, Tamara mencondongkan tubuhnya ke depan. Netra kecoklatan itu menyorot tajam.
"Kenapa lo culik gue? Brengsek! Lo nggak tau
gue siapa? Lepasin gue sakarang juga, atau tunangan gue bakal dateng ke sini, dan nggak akan ada lagi kesempatan buat lo kabur!"
Luapan emosi Tamara Jeff balas dengan raut lugu. Pria itu sengaja membuat Tamara kesal. Jeff mengangkat kedua tangannya ke depan, menunjukkan telapak tangan kosong pada Tamara.
"Lepasin gimana? Aku nggak sekap kamu," katanya berlagak polos.
"Sialan!" Dengan gerakan cepat Tamara meraih piringnya, melempar benda itu sekuat tenaga.
Namun, Jeff dengan sigap mengangkat lengan untuk melindungi wajahnya. Piring itu menghantam lengannya dan pecah, menyisakan luka dengan darah mengucur. Tamara tak menunjukkan raut menyesal sedikitpun.
"Pecah," ucap Jeff, menatap mata Tamara.
Pria itu menghela napas, dia bangkit berdiri dan mengambil langkah menjauh. Ditatapnya pecahan piring di lantai yang dihiasi darah dari lengannya. Dia kembali menatap Tamara, lalu menepuk kedua tangannya di udara.
Dalam hitungan detik, belasan orang berseragam putih dan hitam muncul dari berbagai arah. Tamara membuka mulut syok. Saat seorang perempuan berdiri di dekatnya dan menunduk hormat, Tamara segera menghindar menjauh. Belasan orang itu bekerja sama membersihkan kekacauan kecil yang Tamara buat. Kurang dari lima, meja juga lantai sudah bersih kembali, dan orang-orang itu menunduk hormat sebelum melangkah pergi beriringan.
Kejadian tersebut terlalu tiba-tiba. Tamara berdiri diam dengan mulut terbuka, mencoba mencerna apa yang terjadi. Dia pikir di rumah sebesar ini hanya ada dia dan Jeff. Tapi nyatanya, ada begitu banyak manusia yang entah bersembunyi di mana.
"Sudah." Jeff melangkah mendekati Tamara. "Sekarang, mau melihat laut?" tawarnya seakan tadi tak terjadi apa-apa.
Tamara menatap uluran tangan Jeff. Namun, luka goresan panjang di lengan kanan pria itu menarik perhatiannya. Darah masih merembes keluar, menetes ke lantai mengotori keramik bermotif cantik itu. Tamara meringis membayangakn perih dari luka tersebut, sedangkan Jeff terlihat begitu tenang.
"Ayo," ajak Jeff.
Alih-alih membalas uluran tangan Jeff, Tamara malah memutar kecil tangan pria itu untuk melihat luka goresan tepat di bawah siku. Tamara menggunakan pakaian bagian lengannya untuk membersihkan darah di samping luka. Dia mengusap lembut, takut akan menyenggol luka yang terlihat begitu menyakitkan. Sesekali perempuan itu juga meniup-niup kecil untuk mengurangi rasa perih.
Diperlakukan seperti itu tubuh Jeff menegang. Matanya terpaku pada perempuan yang tak jauh lebih pendek darinya. Tamara yang menunduk untuk meniup luka di tangannya terlihat begitu cantik. Tangan kiri Jeff tanpa sadar terangkat, menyelipkan anak rambut Tamara ke telinga.
"Eh?" Tamara mendongak terkejut. Tapi, tanpa sengaja pandangan keduanya bertemu. Mata gelap Jeff seakan mengunci Tamara, membuat perempuan itu tak bisa membuang muka. Genggaman Tamara pada lengan Jeff mengendur ketika perasaan aneh menelisip di hatinya.
"Tamara …."
Mendengar namanya disebut Jeff untuk pertama kalinya, Tamara merasakan denyut tak nyaman di dada. Seakan ada pisau yang menggores hatinya, mengukir sebuah nama yang tak bisa ia kira. Mencoba menyelam lwybih dalam pada mata kelam itu, Tamara malah terjebak membeku. Tanpa dia tahu alasannya, cairan bening menetes dari ujung matanya.
Entah kenapa, Tamara merasakan perasaan menyakitkan yang menjerat hatinya.
Anda Mungkin Juga Suka





