
30 Days Lover
Bab 2
Suara derap kakiku menggema di ruang gym yang lengang. Hanya ada beberapa orang yang tampak, mungkin karena ini masih pagi buta. Aku mempercepat langkahku di atas treadmill, merasakan peluh mengalir deras di pelipis dan punggungku. Napasku tersengal, tapi aku menikmati sensasi terbakar di paru-paruku, juga pegal di kedua kakiku. Ini adalah caraku melepas penat.
Getaran ponsel yang kutaruh di bangku dekat treadmill menarik perhatianku. Aku melirik sekilas, dan mendengus saat melihat nama yang tertera di layar. Liana. Mau apalagi dia? Semalam dia sudah mengirimiku seabrek pesan penuh umpatan dan makian, yang langsung kuhapus tanpa kubaca. Sekarang dia masih belum menyerah juga?
Aku menggelengkan kepala, berusaha tak mengacuhkannya. Aku sedang tak ingin diganggu. Kulanjutkan lariku selama 15 menit ke depan, sampai kakiku terasa kebas dan napasku nyaris habis. Dengan tertatih aku turun dari treadmill, menyambar handuk dan ponsel, lalu melangkah ke ruang ganti.
Baru saja aku mendudukkan diri di bangku panjang, ponselku kembali bergetar. Kali ini telepon masuk. Aku menatap layar dengan jengah. Lagi-lagi Liana. Apa maunya sih? Tak bisakah dia membiarkanku tenang barang sejenak? Haruskah aku memblokir nomornya agar dia berhenti mengusikku?
Pikiranku kembali melayang ke kejadian semalam. Wajah Liana yang merah padam saat kutinggalkan, tatapan menghakimi para pengunjung restoran lain, noda anggur di kemeja putihku... Lalu tiba-tiba muncul bayangan wajah jelita itu. Alda. Senyumnya yang memesona, suaranya yang merdu, lesung pipinya yang menawan...
Astaga, kenapa aku malah memikirkan Alda? Aku bahkan baru bertemu dengannya sekali, secara tak sengaja pula. Kami hanya berbasa-basi sejenak, tanpa obrolan berarti. Tapi entah bagaimana dia berhasil meninggalkan kesan yang begitu mendalam, sampai-sampai semua kejengkelanku terhadap Liana menguap begitu saja semalam.
Kemudian ucapan Rico, sahabat baikku, terngiang di benakku. Aku pernah bercerita padanya tentang aturan 30 hariku, dan dia hanya menggeleng tak habis pikir. "Sampai kapan kau mau lari dari komitmen, Ray?" tegurnya saat itu. "Suatu saat nanti kau harus berhenti main-main dan mulai serius. Atau kau akan kehilangan kesempatan menemukan cinta sejatimu, seperti yang kutemukan dalam diri Merry." Dia tersenyum penuh arti saat menyebut nama istrinya.
Cih, jangan samakan aku denganmu, batinku saat itu. Kaulah yang beruntung, Rico, bukan aku. Kau tidak pernah mengalami sakit hati seperti yang kualami. Tidak pernah kecewa dan terluka karena ditinggalkan. Kau tak 'kan mengerti perasaanku.
Sambil menghela napas, aku bangkit dan beranjak ke lokerku. Kusambar pakaian ganti dari dalam tas, kemudian melangkah ke bilik shower. Guyuran air dingin sedikit menyegarkan pikiranku yang kalut. Kucoba fokus pada sensasi segar di kulitku, alih-alih memikirkan Liana, Alda, atau ocehan Rico.
Sepuluh menit kemudian, aku sudah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Dengan rambut setengah basah, aku melangkah ke luar gym menuju parkiran. Mobil sedanku sudah menunggu di sana. Sambil bersiul pelan, aku masuk dan menyalakan mesin. Logam dan plastik berderik lembut, lalu deru halus mengudara saat aku menginjak pedal gas.
Lagu dari radio mengalun memenuhi kabin, tapi pikiranku tak di sana. Aku masih sibuk memikirkan kata-kata Rico. Apakah aku memang harus mengubah caraku selama ini? Apakah aku harus berhenti membatasi semua hubunganku? Tapi... aku takut. Aku belum siap membuka hatiku lagi, mempercayai seseorang lagi. Bagaimana jika aku kembali terluka?
Tanpa sadar, tanganku meraih ponsel yang kuletakkan di dashboard. Satu tanganku masih memegang kemudi, sementara jariku yang lain menari lincah di atas layar, membuka kontak dan mencari nama Liana. Harus kuakhiri semua ini. Jika dia memang tak bisa menghargai keputusanku, lebih baik kuhilangkan saja jejaknya dari hidupku. Tekadku sudah bulat.
Nomor Liana sudah kutemukan. Tanpa ragu, kutekan opsi 'Blokir'. Seketika semua pesannya lenyap. Semua panggilannya tersumbat. Semua aksesnya padaku tertutup. Aku menghembuskan napas panjang. Cara yang pengecut, mungkin. Tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk melindungi diriku.
Beberapa menit kemudian, aku sudah sampai di tempat janjianku dengan Rico. Sudah lama kami tidak bertemu, jadi aku mengajaknya makan siang bersama hari ini. Mungkin dengan begini, aku bisa sedikit melupakan masalahku.
Begitu aku melangkah memasuki restoran, mataku langsung menangkap sosok Rico yang melambai ke arahku. Dia duduk di meja dekat jendela, dengan kemeja biru muda dan celana kain hitam. Wajahnya yang tak banyak berubah sejak terakhir kali kami bersua menyunggingkan cengiran khas saat aku mendekat.
"Akhirnya kau datang juga!" sambutnya riang seraya menepuk pundakku. "Aku sampai lumutan menunggumu dari tadi. Aku nggak bisa lama-lama soalnya, sejam lagi aku ada meeting di sini."
Aku terkekeh dan menarik kursi di seberangnya. "Sori, tadi macet di jalan," dalihku sambil meraih buku menu. "Omong-omong, kau sudah pesan duluan?"
"Belum, aku kan setia menanti kedatangan Yang Mulia Rayhan." Rico menyeringai, yang hanya kubalas dengan putaran bola mata.
Seorang pramusaji datang menghampiri, siap mencatat pesanan kami. Aku memesan pasta seafood kesukaanku, sementara Rico memilih steak tenderloin dengan kentang goreng. Si pramusaji membungkuk sopan dan berlalu setelah kami sebutkan pesanan minuman.
"Jadi," Rico membuka percakapan begitu kami tinggal berdua, "aku dengar semalam kau berulah lagi."
Dahiku mengernyit tak suka. "Berulah apanya? Aku cuma menerapkan aturan 30 hariku seperti biasa. Liana saja yang terlalu emosional dan tak bisa menerimanya," tandasku membela diri.
Rico menggelengkan kepala. "Kau ini benar-benar, ya. Sudah berapa banyak korbanmu selama ini? Apa kau tidak kasihan pada mereka?" cetusnya, nadanya seperti seorang ayah yang lelah menasihati anaknya yang bandel.
"Aku bukan pembunuh atau apa, Rico. Mereka bukan korbanku. Lagi pula, bukankah sejak awal aku sudah jujur pada mereka? Aku tak pernah berjanji apa-apa. Mereka sendiri yang memutuskan untuk menjalin hubungan denganku," kilahku keras kepala.
Rico mendesah putus asa. "Ray, kau tak bisa menghindari komitmen seumur hidup. Suatu saat nanti kau pasti membutuhkan pendamping. Seseorang yang berjalan di sisimu kala suka dan duka. Seperti aku dan Merry."
Rahangku mengeras. Lagi-lagi Rico mengungkit tentang Merry. "Tolong jangan samakan aku denganmu atau orang lain. Kau beruntung menemukan cintamu, aku tidak. Kita berbeda. Takdir kita berbeda."
Selama beberapa saat, Rico hanya terdiam. Mata dan mulutnya membuka seolah ingin membantah, tapi tak ada suara yang keluar. Aku memalingkan muka, menatap ke luar jendela. Suasana di antara kami mendadak canggung dan tak nyaman.
Untungnya saat itu makanan pesanan kami datang, sedikit mencairkan ketegangan. Dengan lahap kusuap nasi pastaku. Samar-samar tercium pula aroma seafood - udang, cumi, kepiting - yang berpadu dengan creamy pasta. Perpaduannya sungguh menggugah selera.
Selama beberapa saat kami makan dalam diam. Hanya denting pelan alat makan yang sesekali terdengar. Rico tampaknya tak ingin mendesakku lagi, dan aku sangat menghargai itu. Kurasa dia paham bahwa aku sedang tak ingin membahas kehidupan asmaraku.
Saat piring kami sudah tandas dan pramusaji datang mengambilnya, barulah Rico kembali angkat bicara. "Well, aku tak bermaksud mencampuri urusanmu atau menggurui. Kau sudah dewasa, kau tentu tahu apa yang terbaik untuk dirimu. Aku hanya ingin kau bahagia, Ray."
Suaranya begitu bersungguh-sungguh, hingga rasa kesalku menguap begitu saja. Aku tahu niat Rico baik. Dia sahabatku, tentu saja dia ingin melihatku bahagia. Tapi dia mungkin tak paham, bahwa kebahagiaanku bukan pada komitmen atau hubungan jangka panjang. Setidaknya untuk saat ini.
"Aku tahu, Rico. Tapi saat ini aku bahagia dengan caraku sendiri. Tolong hargai itu," tuturku akhirnya. Kuharap Rico menangkap nada final dalam suaraku.
Dia mengangguk, menyerah. "Baiklah, aku takkan memaksamu lagi. Tapi berjanjilah padaku, Ray. Jika suatu saat nanti kau menemukan seseorang yang membuatmu ingin berubah, genggamlah dia erat-erat. Jangan sampai kau kehilangan cinta sejatimu hanya karena rasa takut."
Aku tertegun. Nasihat Rico kali ini memang tak menyinggung soal aturanku secara spesifik, tapi entah kenapa terdengar lebih bermakna. Lebih menyentuh hati. Seolah dia tahu bahwa cepat atau lambat, aku pasti akan menemukan orang yang tepat. Yang membuatku rela melepaskan prinsipku.
"Oke," aku menyanggupi, meski agak berat hati. "Akan kuingat itu."
Percakapan kami ganti topik setelahnya. Membahas soal pekerjaan, keluarga, juga rencana Rico untuk berlibur ke Eropa akhir tahun ini. Kami larut dalam obrolan ringan yang menyenangkan, seolah persahabatan kami tak pernah terusik. Inilah yang kusuka dari Rico: meski kami sering tak sependapat, kami bisa dengan cepat melupakan perselisihan dan kembali akrab seperti sedia kala.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang saat perhatian Rico teralih ke arah pintu masuk. "Oh, itu dia datang!" serunya.
Aku menoleh mengikuti arah pandangnya, dan terkesiap kaget. Alda! Ya Tuhan, itu benar-benar Alda! Apa yang dilakukannya di sini?
Aku terpana melihatnya berjalan menghampiri meja kami. Gaun merah marun selututnya tampak anggun membalut tubuh rampingnya. Rambutnya yang coklat berkilau tertimpa cahaya matahari yang menerobos masuk jendela. Dan senyumnya, astaga... Hatiku seolah meleleh dibuatnya.
"Hai, Rico! Maaf aku agak terlambat," sapanya ceria, sama sekali tak menyadari keberadaanku.
Rico bangkit dan menjabat tangannya. "Santai saja, aku juga baru selesai makan," balasnya. Lalu dia menoleh padaku. "Ah, kenalkan! Ini Rayhan, teman SMA-ku yang pernah kuceritakan."
Alda berpaling ke arahku. Matanya yang bulat dan coklat sedikit melebar, kentara terkejut. "Lho, kamu... Rayhan yang semalam itu?"
Aku berdeham, salah tingkah. "Eh, iya... Halo lagi, Alda." Susah payah kucoba memasang senyum. Dunia ini ternyata sempit sekali! Bagaimana bisa aku bertemu lagi dengannya secepat ini, bahkan dalam lingkaran pertemananku sendiri?
"Wah, jadi kalian sudah saling kenal?" Rico memandang kami bergantian, wajahnya diliputi keterkejutan sekaligus penasaran.
"Kami tak sengaja bertemu di restoran semalam," jelas Alda. "Atau lebih tepatnya, tak sengaja bertabrakan." Ia tertawa kecil, mengirim getaran aneh ke dasar perutku.
Rico terbahak. "Astaga, Ray! Jangan bilang kau sedang kabur dari 'korban'-mu yang lain saat itu?" godanya, membuatku melotot galak.
Alda mengernyit tak paham, tapi buru-buru tersenyum. "Omong-omong Rico, bukankah kau mau memperkenalkanku pada rekan bisnismu?"
"Oh iya, hampir lupa!" Rico menepuk dahinya. "Ayo, ikut aku. Sebentar lagi mereka akan datang, kita tunggu saja di ruang VIP." Ia mengerling jahil padaku. "Maaf Ray, sepertinya aku harus mengakhiri pertemuan kita hari ini.”
Aku hanya bisa tersenyum kecut menatap kepergian Rico dan Alda. Hatiku mencelos, diliputi perasaan hampa yang tak bisa kumengerti. Kenapa aku merasa begitu... kehilangan? Padahal aku baru dua kali bertemu Alda, nyaris tak mengenalnya. Tapi kehadirannya seolah membawa secercah cahaya yang menerangi kelamnya hatiku.
Logikaku berteriak ini semua tak masuk akal. Aku tak seharusnya merasakan perasaan sekuat ini pada orang asing. Aku tak bisa membiarkan diriku hanyut dalam angan semu yang mungkin hanya berujung luka. Bukankah selama ini aku sudah kebal dengan segala omong kosong tentang cinta? Bukankah aku telah bersumpah takkan pernah jatuh cinta lagi?
Tapi sisi hatiku yang lain, yang selama ini kukubur dalam-dalam, perlahan bangkit dan berbisik lembut. Mungkin ini kesempatanmu, Rayhan.
Aku menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pikiran itu. Tidak, aku tidak bisa gegabah. Aku harus memikirkan ini baik-baik. Tak boleh ada keputusan yang diambil berdasarkan emosi sesaat.
Tapi... haruskah aku menyerah begitu saja? Membiarkan Alda pergi tanpa berusaha mengenalnya lebih jauh? Tanpa mencoba membuka sedikit hatiku yang telah sekian lama membeku?
Kurogoh ponselku dari saku celana, dengan tangan gemetar mengetik pesan singkat untuk Rico.
"Bro, boleh minta tolong? Kirimi aku nomor Alda dong. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya. Please, penting banget nih."
Kutekan tombol "kirim" sebelum sempat berubah pikiran. Jantungku berdebar tak karuan menanti balasan Rico. Semoga... semoga dia mau membantuku...
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Dua puluh menit.
Aku mulai putus asa. Mungkin Rico takkan mau memberikan nomor Alda padaku. Mungkin dia menganggapku kurang ajar, berani mendekati teman wanitanya. Mungkin... ah, entahlah. Mungkin ini pertanda aku harus menyerah saja.
Tepat ketika aku hendak beranjak meninggalkan kafe dengan perasaan kecewa, ponselku bergetar.
Secepat kilat kuraih dan membuka pesan masuk. Mataku membelalak tak percaya saat melihat nama pengirimnya.
Alda.
Anda Mungkin Juga Suka





