
30 Days Lover
Bab 3
Aku memandang sekeliling ruang rapat dengan tatapan tajam. Lima belas pasang mata balas menatapku, ada yang penuh rasa ingin tahu, ada pula yang diliputi kegugupan. Tentu saja, tak setiap hari sang pemimpin perusahaan memanggil rapat dadakan seperti ini.
"Oke, kita mulai saja," ujarku tegas, membuka diskusi. "Progres proyek Senopati Suites sudah sampai mana?"
Arya, kepala tim desain, buru-buru menyahut. "Sejauh ini masih lancar, Pak. Gambar dan maket sudah 90% jadi. Minggu depan siap diserahkan ke klien," lapornya.
Aku mengangguk puas. "Bagus. Pastikan tidak ada keterlambatan. Klien kita yang satu ini cukup cerewet."
"Siap, Pak!" Arya memberi hormat, setengah bercanda.
Aku mendengus geli, tapi tak urung merasa bangga juga. Timku memang bisa diandalkan. Merekalah yang membuat Mahendra Associates menjadi salah satu firma arsitektur ternama saat ini.
"Lalu, bagaimana perkembangan proyek di Menteng?" tanyaku lagi.
Kali ini giliran Vero, si jenius perhitungan, yang menjawab. "Semua berjalan sesuai rencana, Pak. RAB dan RKS sudah final. Minggu depan kita bisa mulai pekerjaan fondasi," urainya.
"Oke. Tolong diawasi ketat ya. Jangan sampai ada masalah di lapangan," pesanku.
"Tentu, Pak. Saya sendiri yang akan turun tangan," Vero meyakinkan.
Aku tersenyum. Ada alasan kenapa aku mempercayakan aspek krusial macam anggaran dan penjadwalan pada Vero. Meski masih muda, dia punya kemampuan analisis yang mumpuni.
Rapat berlanjut nyaris satu jam penuh. Kami membahas proyek-proyek lain yang sedang berjalan, juga rencana ekspansi untuk tahun depan. Sejauh ini, semuanya terkendali. Tidak ada masalah berarti yang tak bisa kami atasi.
Pukul sebelas siang, aku membubarkan rapat. Semua peserta mulai beranjak meninggalkan ruangan, kecuali Mila, sekretaris sekaligus asisten pribadiku. Dia menghampiriku dengan senyum sumringah, sebelah tangan memegang map biru.
"Pak, ini data-data yang Bapak minta tadi pagi," ujarnya seraya menyodorkan map itu padaku. "Sudah lengkap, tinggal ditandatangani saja."
Dahiku berkerut. "Data apa ya? Saya kok lupa," tanyaku bingung.
Mila terkikik. "Aduh Pak, masa lupa? Data tender proyek gedung Damar Holdings, kan? Yang kemarin Bapak minta saya kumpulkan company profile dan portfolio-nya?"
Ah ya, tender itu! Aku menepuk dahi, merasa tolol karena bisa-bisanya melupakan proyek sebesar itu. Tender ini akan menjadi peluang besar bagi Mahendra Associates untuk menancapkan kukunya di kancah properti tingkat atas.
"Kalau begitu, saya baca dulu ya. Nanti siang saya tanda tangan," ujarku pada Mila.
"Oke, Pak. Saya tunggu di ruangan saya saja ya." Mila membungkuk sopan sebelum undur diri.
Aku menghempaskan diri di kursi, menghela napas panjang. Kurenggangkan dasi yang terasa mencekik leher, lalu menyandarkan kepala ke sandaran empuk. Perlahan, kuraih ponsel dari saku jas.
Jemariku otomatis membuka aplikasi pesan. Lagi-lagi pandanganku tertuju pada sederet kalimat yang sejak semalam tak henti mengusik pikiranku.
"Halo, Rayhan. Aku Alda. Rico bilang kamu minta nomorku. Silahkan di simpan. Senang berkenalan denganmu.”
Sejak balasan singkatku semalam - yang hanya berisi "Sama-sama, Alda. Aku juga senang bertemu denganmu." - aku belum mengirimkan pesan lagi. Bukannya tak ingin, tapi aku takut. Takut perasaan aneh yang kurasakan saat melihat Alda semalam akan semakin menguat jika aku semakin sering berinteraksi dengannya.
Aku tak seharusnya merasa seperti ini. Tidak pada wanita yang baru kutemui dua kali. Wanita yang bahkan nyaris tak kukenal. Bukankah selama ini aku selalu bisa mengendalikan hatiku? Tak pernah membiarkannya terlibat terlalu jauh?
Kugelengkan kepala kuat-kuat. Tidak, Rayhan. Kau tak boleh goyah hanya karena senyuman manis seorang wanita. Bukankah kau sudah berjanji pada dirimu sendiri?
Dengan satu gerakan mantap, kumasukkan kembali ponsel ke saku jas. Kusambar map biru pemberian Mila, lalu melangkah keluar ruangan. Lebih baik aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Aku tak boleh membiarkan pikiranku berkelana ke mana-mana.
***
Restoran ini tampak lengang saat aku tiba. Wajar saja, ini kan masih terlalu awal untuk makan siang. Biasanya aku juga baru makan siang pukul dua, setelah selesai mengecek semua pekerjaan di kantor. Tapi entah mengapa hari ini aku ingin sedikit bersantai. Mungkin karena rapat tadi pagi yang cukup melelahkan.
Aku memilih meja di dekat jendela kaca, dengan pemandangan taman yang hijau dan asri. Seorang pramusaji datang menghampiri, memberikan menu dan siap mencatat pesanan.
Tanpa pikir panjang, kupesan spaghetti bolognese dan es lemon tea. Menu andalanku setiap kali mampir ke restoran ini.
Si pramusaji mencatat dengan cekatan, lalu membungkuk sopan sebelum undur diri. Aku bersandar di kursiku, sambil memandang ke luar jendela. Cuaca di luar cukup terik, tapi syukurlah ruangan ini dilengkapi penyejuk udara yang membuatku nyaman.
Samar-samar, sayup-sayup suara obrolan tertangkap telingaku. Aku menoleh ke meja di sebelah kiriku. Tampak satu keluarga kecil - pasangan suami istri dan anak perempuan mereka, mungkin usianya sekitar 3 tahun - tengah menikmati santap siang mereka. Si anak duduk di kursi untuk balita di sebelah sang ibu, sementara ayahnya duduk di seberang meja.
"Kamu tuh nggak pernah peduli sama aku! Bisanya cuma kerja, kerja, dan kerja terus!" Suara si istri terdengar meninggi, membuat beberapa pengunjung restoran menoleh.
"Tapi aku kan kerja juga buat kamu dan Acha, Liv. Buat siapa lagi memangnya?" sahut si suami tak mau kalah.
"Halah, alesan! Bilang aja kamu emang lebih sayang sama kerjaan kamu daripada aku dan anak kita!" hardik si istri.
Si suami berdecak kesal. "Jangan ngelantur deh. Aku nggak suka di rumah nggak ngapa-ngapain, makanya aku sibuk kerja. Daripada bengong nggak jelas."
"Oh, jadi maksud kamu aku ini pengangguran nggak jelas, begitu?" Si istri tersenyum sinis.
"Aku nggak bilang gitu ya! Kamu tuh yang suka baper sendiri!"
Aku mengernyit mendengar pertengkaran mereka yang semakin sengit. Ya ampun, kok bisa-bisanya mereka adu mulut di tempat umum begini, sih? Bikin malu saja!
Isakan lirih dari si anak kecil membuatku menoleh. Rupanya ocehan keras orangtuanya membuat gadis mungil itu ketakutan. Air mata mengalir di pipi tembamnya.
Sang ibu sepertinya tak menyadari kondisi putrinya yang mulai terisak. Dia masih asyik berdebat kusir dengan suaminya. Kini bahkan tangannya mulai menuding-nuding, sementara suaranya naik satu oktaf.
Aku meringis. Pemandangan di hadapanku ini sungguh mengingatkanku pada masa lalu yang sudah susah payah kukubur dalam-dalam...
Masa di mana aku sering melihat Mama dan Papa saling memaki, bahkan di depanku yang masih bocah ingusan. Masa di mana rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman berubah bagai neraka. Masa di mana aku selalu merasa menjadi anak paling tidak berguna, sampai-sampai orang tuaku tak pernah akur.
Tanpa sadar, tanganku terkepal erat di atas meja. Amarah mulai menggelegak di dadaku. Kenangan akan perceraian Mama dan Papa yang pilu menyeruak dari sudut memoriku yang paling kelam.
Raungan tangis si anak kecil menyadarkanku. Dia kini terlihat histeris, membuat beberapa tamu lain menatap ngeri. Tapi anehnya, orangtuanya masih bergeming dalam perdebatan mereka yang mulai memanas. Bahkan sepertinya mereka sudah lupa sedang ada di mana.
Aku tak tahan lagi melihat ini semua. Aku tak tega melihat si kecil itu menangis ketakutan gara-gara ulah egois orangtuanya. Aku tak mau dia merasakan apa yang pernah kurasakan dulu...
Cepat-cepat aku memanggil pramusaji, memintanya mengambilkan bill untuk membayar semuanya, meskipun makanan yang aku pesan belum aku sentuh sama sekali. Tanganku gemetar saat menyerahkan uang tip, tapi pramusaji itu hanya melempar senyum penuh pengertian padaku.
Tanpa menoleh lagi, aku melesat pergi dari restoran itu. Suara tangis si anak dan obrolan makin lama makin sayup, teredam deru mobil yang lalu-lalang di jalan raya.
Kuhempaskan diriku di kursi pengemudi, pikiranku kalut. Denyut menyakitkan mulai berdentum-dentum di pelipisku. Nafasku terasa sesak, seolah ada ular yang melilit paru-paruku.
Kudesahkan nafas panjang, mencoba menguasai diriku kembali. Ayolah, Rayhan. Kau sudah bukan anak kecil lagi. Berhentilah membayangkan yang tidak-tidak. Berhentilah menyamakan dirimu dengan bocah ingusan tadi. Kau sudah jauh lebih beruntung daripada dia. Kau sudah lepas dari masa lalu yang menyesakkan itu.
Tapi mengapa dadaku masih terasa nyeri? Mengapa bayangan wajah ketakutan anak itu tak mau enyah dari benakku? Mengapa aku begitu ingin berlari ke dalam dan menyelamatkannya dari keegoisan orangtuanya?
Aku menggeleng kuat-kuat. Tidak. Itu bukan urusanku. Aku tak punya hak untuk ikut campur masalah orang lain. Aku hanyalah orang asing bagi mereka. Lalu untuk apa aku pusing? Segera kunyalakan mesin mobil. Lebih baik aku segera kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.
***
"Itu dia, Pak Rayhan sudah datang." Suara Mila yang ceria menyambutku begitu aku tiba di kantor.
"Meeting-nya masih lama kan, Mil?" tanyaku sambil melangkah masuk ruangan, berusaha mengenyahkan kejadian di restoran tadi dari pikiranku.
"Iya Pak, masih sekitar satu jam lagi. Tapi Bapak... tidak apa-apa? Wajah Bapak kok pucat begitu?" tanya Mila cemas.
Aku tersenyum menenangkan. "Nggak apa-apa, cuma sedikit pusing. Kamu tolong buatkan aku kopi ya," pintaku.
Mila mengangguk, masih dengan raut waswas. "Baik Pak, akan segera saya buatkan."
Aku menghempaskan diri di kursi kerja, memejamkan mata sejenak. Aroma kayu manis dari pengharum ruangan sedikit menenangkanku. Sejenak aku hanya duduk bersandar, berusaha mengosongkan pikiran.
Kemudian kudengar pintu diketuk, disusul langkah kaki dan bunyi cangkir diletakkan di meja. Aku membuka mata. Mila meletakkan secangkir kopi hitam di hadapanku, lengkap dengan sepiring camilan manis, semacam kue kering.
"Kopi dan kudapan untuk meredakan pusing, Pak. Masih ada waktu untuk beristirahat sebentar sebelum meeting," ujarnya sambil tersenyum.
"Terima kasih, Mila. Tolong panggilkan Dani ke ruanganku sekarang," kataku.
Dani adalah kepala tim procurement, bagian logistik. Aku ingin meminta laporannya tentang kemajuan pengadaan untuk proyek Senopati Suites.
Tak berapa lama, Dani muncul di ruanganku. Pria bertubuh subur itu tersenyum lebar, tapi aku langsung menginterupsi sebelum dia sempat mengucap salam.
"Bagaimana progres pengadaannya, Dan? Lancar?" tanyaku tanpa basa-basi.
Dani berdeham. "Sejauh ini masih aman, Pak. Saya sudah koordinasi dengan Pak Arya. Material utama seperti semen, pasir, dan besi beton sudah didatangkan ke site. Tinggal menunggu yang lain-lain," lapornya.
"Hmmm, oke. Tapi jangan kendor. Pantau terus, jangan sampai ada yang terlambat. Klien kita sangat strict soal waktu," aku memperingatkan.
"Siap, Pak! Saya akan memastikan semuanya berjalan sesuai jadwal," Dani mengiyakan mantap.
Aku mengangguk. "Ya sudah, kamu boleh kembali. Terima kasih laporannya," ujarku mengakhiri diskusi.
Dani memberi hormat sebelum undur diri. Aku menghela napas, lalu menyesap kopiku perlahan. Pahitnya cairan pekat itu sedikit mengusir penat di kepalaku. Rasa hangat yang familiar membasuh tenggorokanku, membuatku sedikit lebih rileks.
***
"Oke, kita mulai saja. Seperti yang kalian tahu, perusahaan kita akan mengikuti tender untuk proyek gedung pusat Damar Holdings. Ini kesempatan besar bagi kita untuk melebarkan sayap ke ranah properti kelas atas. Kalau kita berhasil memenangkan tender ini, nama Mahendra Associates akan semakin bersinar," aku membuka rapat dengan nada optimis.
Semua peserta rapat mengangguk antusias, jelas sama bersemangatnya denganku untuk memenangkan tender ini.
"Jadi, apa langkah pertama kita, Pak?" tanya Arya.
Aku tersenyum. "Tentu saja membuat proposal yang luar biasa menarik, yang membuat Damar Holdings tak bisa menolak tawaran kita. Kita harus menunjukkan visi dan inovasi kita dalam desain, sesuatu yang membuat gedung ini nanti menjadi landmark yang ikonik," jelasku.
"Apa kita sudah tahu tim dari perusahaan konstruksi yang akan menjadi mitra kita nanti, Pak?" Vero menyeletuk.
Oh. Aku tertegun. Benar juga. Untuk proyek sebesar ini, Mahendra Associates tak mungkin bekerja sendirian. Kami butuh perusahaan konstruksi yang kompeten dan berpengalaman sebagai mitra. Biasanya untuk hal-hal begini, Mila yang mencari tahu dan menyiapkan informasinya.
"Mila, tolong cari tahu soal itu ya. Kita perlu tahu rekam jejak dan portofolio mereka, supaya bisa menyesuaikan isi proposal nanti," pintaku pada Mila yang duduk di sebelahku.
"Baik, Pak. Nanti saya carikan datanya," Mila menyanggupi.
Rapat berlanjut dengan diskusi tentang konsep desain yang akan kami tawarkan pada Damar Holdings. Berbagai ide kreatif dilontarkan, dari penggunaan green architecture, pemanfaatan energi terbarukan, sampai desain atap yang unik. Aku mendengarkan dengan seksama, sambil sesekali menimpali atau memberi arahan.
Di tengah-tengah rapat, pintu ruangan diketuk. Mila beranjak untuk membukanya. Tak lama kemudian, dia kembali dengan secarik kertas di tangannya.
"Maaf mengganggu, Pak. Ini data perusahaan konstruksi yang akan menjadi mitra kita untuk proyek Damar Holdings," bisiknya di telingaku sambil menyodorkan kertas itu.
Aku mengernyit heran. Cepat sekali. Aku baru minta tolong Mila untuk mencari tahu sekitar setengah jam yang lalu. Tapi toh kuterima juga kertas itu, membaca deretan tulisan yang tertera di sana.
Jantungku seolah berhenti berdetak saat melihat sederet nama di baris paling bawah. Sebuah nama yang membuat pikiranku langsung kalut, sekaligus hatiku berdebar tak karuan.
Alda Meriska - Ketua Tim Proyek Konstruksi PT Agrapana
Napasku tercekat.
Apa ini sungguhan? Apa aku tak salah baca? Jadi... aku akan bertemu lagi dengan Alda dalam tender ini? Bahkan kami akan menjadi mitra kerja?
Seketika memoriku melayang pada pertemuan singkat kami di restoran malam itu. Senyumnya yang menawan, tawanya yang renyah, caranya menatapku dengan sorot penasaran... Semua itu kembali membanjiri ruang ingatanku, memenuhi setiap rongga dalam diriku dengan rasa hangat yang asing sekaligus menyenangkan.
Apakah ini takdir?
Ataukah ini hanya permainan semesta yang ingin menguji keteguhan hatiku sekali lagi?
Aku tak tahu harus senang atau gusar. Tak tahu harus antusias atau gentar. Yang kutahu hanya satu - aku, Rayhan Mahendra, tak bisa lari lagi. Aku harus menghadapi perasaanku sendiri. Aku harus menghadapi... Alda.
Kutatap sekali lagi sederet nama di kertas dalam genggamanku. Bibirku melekuk perlahan, membentuk senyum samar.
Kita berjumpa lagi, Alda Meriska.
Anda Mungkin Juga Suka





