
180 Days
Bab 3
Perjalanan lima belas menit yang terasa seperti abad telah berlalu sejak Mas Arga berhenti merancau. April masih duduk di tempatnya, terperangkap dalam aliran pikiran yang berputar-putar, mencoba mencerna segala yang telah terjadi. Keingintahuannya tentang wanita yang disebutkan oleh Arga masih mengganjal di hatinya, tetapi tak ada jawaban yang memuaskan.
"Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi di balik selimut sana?" gumam April, mencoba mencari pemahaman atas perilaku yang tak biasa itu.
Namun, tanpa penjelasan lebih lanjut dari Arga, kegelisahan April hanya semakin memuncak. Dia terombang-ambing antara keinginan untuk bertanya dan rasa hormat pada privasi dan ruang pribadi Mas Arga.
Setelah berusaha beberapa kali memejamkan mata, April akhirnya merasakan kelelahan yang memaksanya untuk tertidur. Air mata yang telah menetes dari matanya menandai perjalanan emosional yang berat. Mata yang lelah akhirnya menutup diri, membawanya ke alam mimpi, tempat dia berharap menemukan kedamaian meskipun hanya untuk sesaat.
Keheningan akhirnya menyelimuti kamar, membiarkan April dan Arga terlelap dalam mimpi masing-masing.
***
Cahaya pagi yang lembut merayap masuk melalui sela-sela jendela, menyentuh setiap sudut ruangan dan memberikan kehangatan pada tubuh April yang terbangun dari tidurnya. Namun, hangatnya cahaya itu juga membawa keingintahuan dan kekhawatiran yang menyeruak di dalam dirinya.
April membuka mata perlahan, membiarkan pandangannya mengelilingi ruangan. Ada getaran kecil dalam dirinya, harapan kecil bahwa semua yang terjadi semalam hanyalah mimpi buruk. Namun, saat tangannya menyentuh bekas tempat tidur Arga, kepastian menerpanya. Ranjang yang basah membuktikan bahwa kenyataan semalam bukanlah ilusi.
Sementara itu, ranjang Arga kosong, menandakan bahwa ia telah meninggalkan kamar. Hari weekend yang seharusnya diisi dengan kebersamaan, namun Mas Arga seperti menghilang tanpa jejak.
Air mata April mulai menggenang di matanya saat dia menyadari bahwa cairan yang basah itu bukanlah air mata biasa, melainkan kenangan yang telah lama terpendam. Begitu banyak waktu telah berlalu sejak Arga merasakannya, dan semalam adalah momen yang membawa kembali sensasi yang telah terlupakan.
Dengan langkah-langkah gemetar, April membersihkan wajahnya dan mengambil nafas dalam-dalam. Meskipun hatinya hancur, tanggung jawabnya sebagai istri menghadapinya. Dia tahu dia harus menjalani rutinitas harian, bahkan jika hatinya terasa berat dan penuh kekhawatiran.
Perlahan tapi pasti, April mengikuti jalur rutinitasnya. Tidak ada tanda-tanda Arga di sekitar, dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantui pikirannya. Namun, untuk saat ini, dia harus melanjutkan hari seperti biasa, menyembunyikan kepedihan dan ketidakpastian di balik senyumnya yang rapuh.
***
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, April duduk di teras depan, merenung sambil menyesap secangkir teh. Pekerjaan sehari-hari telah selesai, namun pikirannya masih dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Apakah harus meminta berpisah atau mempertahankan rumah tangga yang masih seumur jagung ini?
Dalam keheningan yang menyelimuti teras, April merenungkan setiap pilihan yang terbuka di hadapannya. Keputusan sulit itu menghantui pikirannya, dan cangkir tehnya menjadi semakin dingin tanpa disadari.
Tiba-tiba, pandangannya teralih ketika mobil Arga memasuki pelataran rumah tetangga, tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Hatinya berdegup kencang saat melihat Arga turun dari mobil, diikuti oleh seorang wanita yang dikenalnya sebagai Sisil, penghuni rumah tetangga.
Wajah April merefleksikan kejutan dan kebingungan. "Jadi, yang dimaksud Mas Arga di dalam rancauannya kemarin adalah Sisil," gumamnya dengan nada lirih. Semua pertanyaan yang menghantui pikirannya seketika mendapatkan jawaban, meskipun jawaban itu membawa kekecewaan dan rasa sakit.
Dia berdiri, langkahnya mengarah ke gerbang rumah, mencoba memastikan bahwa penglihatannya tidak keliru. Namun, kenyataan tak terelakkan, dan pertemuan Arga dengan Sisil menggambarkan cerita yang belum pernah terbayangkan oleh April.
Anda Mungkin Juga Suka





