
Young Master's Love
Bab 3
Zeana mengemudikan kendaraannya dalam diam, sibuk dengan pikirannya yang terus berputar tanpa henti. Sedangkan Revan sedang ada di sampingnya, ikut diam dan mengikuti apa yang sedang Zeana lakukan.
"Di mana rumahmu?" tanya Zeana tiba-tiba, memecah keheningan yang melingkupi keduanya sejak tadi.
"Tidak ada." Revan menjawab singkat.
"Tidak mungkin! Minimal sebelum terlunta-lunta di jalanan, kau tinggal di sebuah tempat."
"Aku tinggal bersama dengan nenek. Kebetulan nenek menempati sebuah rumah yang bukan milik kami, alias menumpang. Dan karena nenek baru saja tiada, maka tidak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal di sana karena pemilik aslinya ingin segera menempatinya lagi."
"Lalu, bagaimana dengan kedua orangtuamu?" Zeana bertanya lagi karena penasaran.
"Entahlah. Aku tidak tahu mereka ada di mana."
Zeana terdiam. Apakah itu alasan Revan harus tinggal bersama dengan neneknya selama ini? Hati Zeana tersentuh, mulai merasa kasihan. "Lalu, apa kegiatanmu sekarang, hm? Kau masih sangat muda dan memiliki paras yang sangat tampan, tidak mungkin jika tidak memiliki aktivitas sama sekali. Sungguh memalukan."
"Aku masih kuliah, Tante. Dan karena kau begitu sangat menginginkanku, bukankah seharusnya kau juga harus bertanggung jawab untuk membayar kuliahku?"
"Kenapa harus aku?" protes Zeana sebal.
"Karena aku adalah simpanan Tante mulai dari sekarang." Revan menjawab polos.
"Simpanan apanya?" Ya Tuhan! Zeana sampai menyentuh kening. Tapi mau bagaimana lagi. Inilah resikonya ketika Zeana ingin berbuat baik dan tidak mau mengalah dari wanita itu.
Kebetulan dirinya sudah bekerja dan memiliki penghasilan tetap di setiap bulannya. Semoga saja itu cukup untuk menghidupi mereka berdua.
"Baiklah. Aku akan membiayai kuliahmu mulai dari sekarang, namun tidak untuk selamanya. Kau harus mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai dirimu sendiri. Dan lebih bagus lagi jika selama tinggal denganku, kaulah yang bisa menghasilkan uang dan akulah yang akan menikmati semuanya."
Dalam hati Zeana merutuk. Kenapa tiba-tiba dirinya ingin sekali menjadikan Revan sebagai mesin pencetak uang? Mungkinkah paras dan perawakan Revan yang sangat sempurna mampu mempengaruhi kehidupannya yang dipenuhi oleh kesialan?
"Siap, Tante!" Zeana menoleh dan melotot, sehingga Revan harus segera meluruskan. "Maksudku ... Siap, Zee!"
Beberapa saat kemudian setelah sampai di rumah.
Zeana terduduk lemas, dengan mulut yang menganga ketika melihat universitas seperti apa yang pemuda itu sedang jalani dalam selembar kertas. Sebuah Universitas ternama, dengan biaya yang tak main-main besarnya. Bahkan, gaji selama 1 tahunnya hanya cukup untuk membayar satu semester saja.
Gawat!
***
"Apakah ini sungguh rumah milikmu?"
Berbeda dengan Zeana yang masih tercengang di kursinya karena fakta yang sangat mengejutkan ini, Revan justru malah sibuk mengamati keadaan rumah Zeana dan melihat-lihat.
Rumah sederhana, tidak bertingkah dan memiliki sebuah halaman yang baginya tidak terlalu luas. Jika dibandingkan dengan kediamannya, luas rumah ini hanya setara dengan setengah garasi mobilnya saja.
"Menurutmu ... ?" Zeana menjatuhkan wajahnya di atas meja, tampak menyesali sendiri akan keputusannya untuk menampung pria muda ini.
"Menurutku lumayan."
"Lumayan?" Zeana mendelik. Pria macam apa yang terlihat tidak memiliki apa-apa namun bisa merendahkan? Atau jangan-jangan ... Pria muda ini terbiasa berlagak hidup mewah bersama sang nenek seperti apa yang sering ia lakukan? "Apa kau sedang ingin mengkritik ataupun menyindir gaya hidupku yang terlihat mewah dan sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan? Aku akui, kau adalah orang asing pertama yang bisa memasuki rumah ini dan mengetahui kondisiku yang sebenarnya."
Revan tersenyum. "Bagiku tidak masalah. Sesekali aku pun melakukan hal yang demikian agar orang-orang tidak terus merendahkanku."
Zeana terpana. Sudah ia duga sebelumnya jika pemuda ini memiliki kebiasaan yang sama dengannya. "Coba aku lihat isi tasmu. Jangan-jangan kau membawa uang ataupun emas curian di dalamnya," tuduh Zeana sambil menengadahkan tangan.
"Tasku?" Revan duduk di sebuah kursi dekat Zeana, dan menyodorkan tasnya. "Tidak ada apapun, Tante. Aku sungguh tidak memiliki apapun selain beberapa berkas, buku, dan juga ponsel."
Tidak memiliki apapun katanya?!! Zeana terus menggeledah, dan terbelalak ketika melihat merk ponsel yang Revan miliki. Dan harganya sangat ia yakini bisa mencapai kisaran puluhan juta!
Astaga! Zeana bahkan tidak berani memperlihatkan ponselnya sendiri yang harganya sejuta lima ratusan, dan sering sekali mengajak berkelahi hanya karena masalah RAM.
"Aku tidak percaya jika kau tidak memiliki apapun!" Sambil menggebrak meja Zeana memberi tatapan tajam. "Bagaimana mungkin kau bisa berkuliah di universitas ternama dan memiliki ponsel yang tak main-main mahalnya, hah?"
"Mmm ... Bagaimana ya?" Revan menyentuh dagu dengan tenang. Wajahnya yang begitu serius ketika berpikir, membuat Zeana merasa semakin gemas karena ketampanan pemuda itu ... menjadi naik berkali-kali lipat. "Nenek diam-diam sering menabung, hanya untuk membelikanku sebuah ponsel dan juga memasukkanku pada sebuah universitas yang sangat ia sukai. Katanya, tidak masalah jika dirinya tidak bisa masuk ke dalam sana untuk mengejar pendidikan impiannya, asalkan aku bisa."
"Kalau begitu, seharusnya nenekmu memiliki tabungan lain dan memikirkan biaya sampai kau lulus nanti, bukan?"
Revan tersenyum. "Sayangnya tidak sampai sejauh itu. Itulah sebabnya aku begitu sangat membutuhkanmu, Tante."
Tubuh Zeana mendadak lemas. Sial! Seharusnya ia membiarkan pemuda ini diambil saja oleh wanita tadi.
Revan tiba-tiba membuka pakaiannya, membuat Zeana panik. "Apa yang ingin kau lakukan sekarang?!"
"Tentu saja belajar melayanimu, Tante. Aku tidak mungkin tinggal di sini secara cuma-cuma, bukan?" ungkapnya penuh polosan.
Ya ampun! Rasanya Zeana ingin sekali pingsan melihat leher dan dada Revan yang sudah terbuka dan sangat menggoda.
"Cepat pakai bajumu! Atau aku akan segera berteriak." Zeana sengaja memalingkan wajahnya yang sudah memerah untuk menjaga kesadaran.
Revan menurut, ia menutup pakaiannya kembali dengan heran.
Ya ampun! Baru beberapa jam saja rasanya Zeana hampir dibuat gila dengan segala tingkah polos pemuda ini. Andai saja Revan mengikuti tante-tante tadi, Zeana tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
"Kalau begitu, di mana kita akan tidur, Tante? Aku sudah sangat mengantuk."
"Kita?" Zeana berdecak. "Kau tidur di kamar sebelah, sementara aku tidur di dalam kamarku. Tapi ingat! Aku hanya akan menampungmu untuk sementara waktu setidaknya sampai kau memiliki pekerjaan dan bisa mendapatkan tempat tinggal yang lain, meskipun itu hanyalah sebuah kontrakan kecil."
"Apakah Tante sungguh tidak ingin ditemani tidur?"
Zeana memutar bola matanya jengah. "Kau ini bicara apa? Aku menampungmu dengan hati, bukan dengan nafsu. Aku akan pergi ke kamarku, awas saja jika kau berani masuk. Maka aku tak akan segan-segan untuk mengusirmu!"
Zeana memasuki kamarnya sambil tak henti-hentinya menggerutu. Di usia 27 tahun saja ia sudah disebut tante-tante, bagaimana nanti ketika ia menginjak usia 30 tahunan, mungkin lebih layak disebut nenek-nenek.
Revan menatap kepergian itu, dan juga pintu kamar yang sudah tertutup itu. Menyadari jika Zeana sudah tidak lagi terlihat, ekspresi wajahnya pun berubah cepat menjadi kaku dan dingin. Terpancar aura yang cukup misterius di sepasang matanya yang menajam, sedangkan bibirnya menipis dan mengetat dengan sangat tegas.
Sungguh! Seluruh senyuman dan keramahan yang sejak tadi terpasang di sana, seakan terhempas jauh tanpa meninggalkan bekas.
“Jadi ini adalah rumahmu?” gumamnya setengah mendesis. Matanya menjelajah secara rinci, lalu berdecih. “Bagaimana bisa wanita miskin sepertimu mampu mengambil banyak perhatian papa?"
Rahang Revan mengetat, begitu pun dengan setiap tangannya yang mengepal di sisi tubuh.
Wanita itu telah menjadikan wajah cantik dan juga tubuhnya yang indah untuk memikat banyak pria. Penampilannya yang selalu menarik, akan membuat siapapun bisa saja tercengang jika mengetahui keadaan Zeana yang sesungguhnya. Hanya memiliki rumah yang kecil, dan menurutnya sangat tidak layak untuk ditempati. Sungguh menyebalkan.
Anda Mungkin Juga Suka





