Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Young Master's Love

Young Master's Love

Hidup Zeana berubah drastis saat seorang pria tampan misterius muncul dan memohon tempat tinggal kepadanya. Meski mengira pria itu gelandangan, Zeana terpaksa menampungnya di rumah. Tanpa disadari, sosok yang kini tinggal bersamanya adalah putra CEO dari perusahaan tempatnya bekerja. Rahasia besar mulai terkuak saat identitas aslinya terungkap. Mengapa tuan muda kaya raya tersebut begitu terobsesi untuk mendekati Zeana yang sederhana?
Bab
Bagikan

Bab 3

Zeana mengemudikan kendaraannya dalam diam, sibuk dengan pikirannya yang terus berputar tanpa henti. Sedangkan Revan sedang ada di sampingnya, ikut diam dan mengikuti apa yang sedang Zeana lakukan.

"Di mana rumahmu?" tanya Zeana tiba-tiba, memecah keheningan yang melingkupi keduanya sejak tadi.

"Tidak ada." Revan menjawab singkat.

"Tidak mungkin! Minimal sebelum terlunta-lunta di jalanan, kau tinggal di sebuah tempat."

"Aku tinggal bersama dengan nenek. Kebetulan nenek menempati sebuah rumah yang bukan milik kami, alias menumpang. Dan karena nenek baru saja tiada, maka tidak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal di sana karena pemilik aslinya ingin segera menempatinya lagi."

"Lalu, bagaimana dengan kedua orangtuamu?" Zeana bertanya lagi karena penasaran.

"Entahlah. Aku tidak tahu mereka ada di mana."

Zeana terdiam. Apakah itu alasan Revan harus tinggal bersama dengan neneknya selama ini? Hati Zeana tersentuh, mulai merasa kasihan. "Lalu, apa kegiatanmu sekarang, hm? Kau masih sangat muda dan memiliki paras yang sangat tampan, tidak mungkin jika tidak memiliki aktivitas sama sekali. Sungguh memalukan."

"Aku masih kuliah, Tante. Dan karena kau begitu sangat menginginkanku, bukankah seharusnya kau juga harus bertanggung jawab untuk membayar kuliahku?"

"Kenapa harus aku?" protes Zeana sebal.

"Karena aku adalah simpanan Tante mulai dari sekarang." Revan menjawab polos.

"Simpanan apanya?" Ya Tuhan! Zeana sampai menyentuh kening. Tapi mau bagaimana lagi. Inilah resikonya ketika Zeana ingin berbuat baik dan tidak mau mengalah dari wanita itu.

Kebetulan dirinya sudah bekerja dan memiliki penghasilan tetap di setiap bulannya. Semoga saja itu cukup untuk menghidupi mereka berdua.

"Baiklah. Aku akan membiayai kuliahmu mulai dari sekarang, namun tidak untuk selamanya. Kau harus mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai dirimu sendiri. Dan lebih bagus lagi jika selama tinggal denganku, kaulah yang bisa menghasilkan uang dan akulah yang akan menikmati semuanya."

Dalam hati Zeana merutuk. Kenapa tiba-tiba dirinya ingin sekali menjadikan Revan sebagai mesin pencetak uang? Mungkinkah paras dan perawakan Revan yang sangat sempurna mampu mempengaruhi kehidupannya yang dipenuhi oleh kesialan?

"Siap, Tante!" Zeana menoleh dan melotot, sehingga Revan harus segera meluruskan. "Maksudku ... Siap, Zee!"

Beberapa saat kemudian setelah sampai di rumah.

Zeana terduduk lemas, dengan mulut yang menganga ketika melihat universitas seperti apa yang pemuda itu sedang jalani dalam selembar kertas. Sebuah Universitas ternama, dengan biaya yang tak main-main besarnya. Bahkan, gaji selama 1 tahunnya hanya cukup untuk membayar satu semester saja.

Gawat!

***

"Apakah ini sungguh rumah milikmu?"

Berbeda dengan Zeana yang masih tercengang di kursinya karena fakta yang sangat mengejutkan ini, Revan justru malah sibuk mengamati keadaan rumah Zeana dan melihat-lihat.

Rumah sederhana, tidak bertingkah dan memiliki sebuah halaman yang baginya tidak terlalu luas. Jika dibandingkan dengan kediamannya, luas rumah ini hanya setara dengan setengah garasi mobilnya saja.

"Menurutmu ... ?" Zeana menjatuhkan wajahnya di atas meja, tampak menyesali sendiri akan keputusannya untuk menampung pria muda ini.

"Menurutku lumayan."

"Lumayan?" Zeana mendelik. Pria macam apa yang terlihat tidak memiliki apa-apa namun bisa merendahkan? Atau jangan-jangan ... Pria muda ini terbiasa berlagak hidup mewah bersama sang nenek seperti apa yang sering ia lakukan? "Apa kau sedang ingin mengkritik ataupun menyindir gaya hidupku yang terlihat mewah dan sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan? Aku akui, kau adalah orang asing pertama yang bisa memasuki rumah ini dan mengetahui kondisiku yang sebenarnya."

Revan tersenyum. "Bagiku tidak masalah. Sesekali aku pun melakukan hal yang demikian agar orang-orang tidak terus merendahkanku."

Zeana terpana. Sudah ia duga sebelumnya jika pemuda ini memiliki kebiasaan yang sama dengannya. "Coba aku lihat isi tasmu. Jangan-jangan kau membawa uang ataupun emas curian di dalamnya," tuduh Zeana sambil menengadahkan tangan.

"Tasku?" Revan duduk di sebuah kursi dekat Zeana, dan menyodorkan tasnya. "Tidak ada apapun, Tante. Aku sungguh tidak memiliki apapun selain beberapa berkas, buku, dan juga ponsel."

Tidak memiliki apapun katanya?!! Zeana terus menggeledah, dan terbelalak ketika melihat merk ponsel yang Revan miliki. Dan harganya sangat ia yakini bisa mencapai kisaran puluhan juta!

Astaga! Zeana bahkan tidak berani memperlihatkan ponselnya sendiri yang harganya sejuta lima ratusan, dan sering sekali mengajak berkelahi hanya karena masalah RAM.

"Aku tidak percaya jika kau tidak memiliki apapun!" Sambil menggebrak meja Zeana memberi tatapan tajam. "Bagaimana mungkin kau bisa berkuliah di universitas ternama dan memiliki ponsel yang tak main-main mahalnya, hah?"

"Mmm ... Bagaimana ya?" Revan menyentuh dagu dengan tenang.  Wajahnya yang begitu serius ketika berpikir, membuat Zeana merasa semakin gemas karena ketampanan pemuda itu ... menjadi naik berkali-kali lipat. "Nenek diam-diam sering menabung, hanya untuk membelikanku sebuah ponsel dan juga memasukkanku pada sebuah universitas yang sangat ia sukai. Katanya, tidak masalah jika dirinya tidak bisa masuk ke dalam sana untuk mengejar pendidikan impiannya, asalkan aku bisa."

"Kalau begitu, seharusnya nenekmu memiliki tabungan lain dan memikirkan biaya sampai kau lulus nanti, bukan?"

Revan tersenyum. "Sayangnya tidak sampai sejauh itu. Itulah sebabnya aku begitu sangat membutuhkanmu, Tante."

Tubuh Zeana mendadak lemas. Sial! Seharusnya ia membiarkan pemuda ini diambil saja oleh wanita tadi.

Revan tiba-tiba membuka pakaiannya, membuat Zeana panik. "Apa yang ingin kau lakukan sekarang?!"

"Tentu saja belajar melayanimu, Tante. Aku tidak mungkin tinggal di sini secara cuma-cuma, bukan?" ungkapnya penuh polosan.

Ya ampun! Rasanya Zeana ingin sekali pingsan melihat leher dan dada Revan yang sudah terbuka dan sangat menggoda.

"Cepat pakai bajumu! Atau aku akan segera berteriak." Zeana sengaja memalingkan wajahnya yang sudah memerah untuk menjaga kesadaran.

Revan menurut, ia menutup pakaiannya kembali dengan heran.

Ya ampun! Baru beberapa jam saja rasanya Zeana hampir dibuat gila dengan segala tingkah polos pemuda ini. Andai saja Revan mengikuti tante-tante tadi, Zeana tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

"Kalau begitu, di mana kita akan tidur, Tante? Aku sudah sangat mengantuk."

"Kita?" Zeana berdecak. "Kau tidur di kamar sebelah, sementara aku tidur di dalam kamarku. Tapi ingat! Aku hanya akan menampungmu untuk sementara waktu setidaknya sampai kau memiliki pekerjaan dan bisa mendapatkan tempat tinggal yang lain, meskipun itu hanyalah sebuah kontrakan kecil."

"Apakah Tante sungguh tidak ingin ditemani tidur?"

Zeana memutar bola matanya jengah. "Kau ini bicara apa? Aku menampungmu dengan hati, bukan dengan nafsu. Aku akan pergi ke kamarku, awas saja jika kau berani masuk. Maka aku tak akan segan-segan untuk mengusirmu!"

Zeana memasuki kamarnya sambil tak henti-hentinya menggerutu. Di usia 27 tahun saja ia sudah disebut tante-tante, bagaimana nanti ketika ia menginjak usia 30 tahunan, mungkin lebih layak disebut nenek-nenek.

Revan menatap kepergian itu, dan juga pintu kamar yang sudah tertutup itu. Menyadari jika Zeana sudah tidak lagi terlihat, ekspresi wajahnya pun berubah cepat menjadi kaku dan dingin. Terpancar aura yang cukup misterius di sepasang matanya yang menajam, sedangkan bibirnya menipis dan mengetat dengan sangat tegas.

Sungguh! Seluruh senyuman dan keramahan yang sejak tadi terpasang di sana, seakan terhempas jauh tanpa meninggalkan bekas.

“Jadi ini adalah rumahmu?” gumamnya setengah mendesis. Matanya menjelajah secara rinci, lalu berdecih. “Bagaimana bisa wanita miskin sepertimu mampu mengambil banyak perhatian papa?"

Rahang Revan mengetat, begitu pun dengan setiap tangannya yang mengepal di sisi tubuh.

Wanita itu telah menjadikan wajah cantik dan juga tubuhnya yang indah untuk memikat banyak pria. Penampilannya yang selalu menarik, akan membuat siapapun bisa saja tercengang jika mengetahui keadaan Zeana yang sesungguhnya. Hanya memiliki rumah yang kecil, dan menurutnya sangat tidak layak untuk ditempati. Sungguh menyebalkan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FKB" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FKB
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Andai Aku Boleh Memilih
7.9
Kenanga Wulan, mahasiswi berprestasi, menderita akibat tekanan ibu tirinya, Mirna, hingga akhirnya diusir dari rumah. Mirna sengaja menyembunyikan kekayaan kiriman ibu kandung Kenanga demi memisahkan Bastian dari kenangan mantan istrinya. Di sisi lain, Firda mendesak putranya, Ghaffarel, untuk menikahi Kenanga demi menyelamatkannya dari hubungan tak wajar dengan Raiya. Meski Kenanga mencintai Arkatama, ia terjebak dalam skema pernikahan yang penuh rahasia dan pengkhianatan.
Sampul Novel Balas Dendam Sang CEO
8.8
Dahulu Adnan dicampakkan oleh kekasihnya karena kemiskinan yang ia derita. Wanita itu memilih pergi demi mengejar pria kaya. Sepuluh tahun berlalu, Adnan kembali dengan kekayaan melimpah untuk membalas rasa sakit hatinya. Namun, ia terkejut saat menemukan sang mantan kini justru menjadi wanita panggilan demi menyambung hidup. Rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi? Akankah Adnan tetap menjalankan dendamnya saat melihat kondisi tragis wanita itu?
Sampul Novel Bayiku Bukan Untukmu
8.7
Nayla, asisten rumah tangga yatim piatu, terjebak dalam tragedi berdarah yang menewaskan majikannya. Setelah menyelamatkan bayi sang majikan, ia bertemu Arkan, pria misterius yang menawarkan perlindungan. Arkan mengajukan kontrak pernikahan senilai satu miliar rupiah agar Nayla bersedia menjadi istri palsu sekaligus ibu bagi bayi itu. Demi masa depan si kecil, Nayla setuju. Namun, rahasia dan bahaya mengintai saat benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Sampul Novel Dari Cinta ke Benci: Kejatuhannya
8.8
Lima tahun menikah, identitas asliku terungkap sebagai pengganti Clara, kekasih Baskara. Setelah melahirkan pewaris Adhitama, aku justru disiksa dan dikurung. Puncaknya, Baskara membiarkan putra kami, Banyu, tewas demi menyelamatkan Clara yang bersandiwara. Kini, duka itu berubah jadi dendam dingin. Baskara tak sadar telah menandatangani surat kuasa fatal di balik dokumen arsitekturku. Keangkuhannya akan kuhancurkan lewat hak yang dia remehkan.
Sampul Novel Dikira Pelayan Miris, Ternyata Pewaris
9.2
Hidup Danny Laksana hancur setelah dikhianati kekasih dan kehilangan orang tuanya dalam tragedi memilukan. Di tengah luka mendalam, ia menemukan fakta mengejutkan bahwa dirinya adalah ahli waris konglomerat terkaya. Demi menuntaskan dendam pada sang mantan dan mengungkap misteri kematian orang tuanya, Danny memutuskan untuk menikah. Namun, ia tidak menyadari bahwa dalang kriminal yang ia cari selama ini berada sangat dekat di lingkup sekitarnya.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?