Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel YAKUZA IN LOVE

YAKUZA IN LOVE

Kehidupan normal Kanae yang berusia 17 tahun berubah total saat ia dipaksa masuk ke dunia Yakuza. Kakeknya, Iyoto Matsumoto, menuntutnya menjadi pemimpin kelompok kriminal berbahaya. Di bawah bimbingan mentornya, Haru Shima, Kanae harus bertahan dari serangan musuh sambil beradaptasi di Jepang. Di sekolah, ia bertemu Daiki Koga, berandal yang ditakuti. Bersama Daiki, Kanae mulai mendalami sisi gelap dunia hitam yang kini menjadi realitas barunya yang penuh konflik.
Bab
Bagikan

Bab 2

Membutuhkan waktu hampir setengah jam lebih untuk Kanae akhirya kembali tersadar dari tidurnya. Gadis itu memerhatikan ke sekitar dengan wajah bingung sekaligus heran. Seingat gadis itu, Kanae telah membukakan pintu untu seorang tamu yang datang dan setelah itu, dirinya tidak mengingat apa pun lagi.

Kanae mencoba mengingat-ingat dengan lamat alasan dirinya berada di dalam kamar kedua orang tuanya saat ini, namun dirinya masih tidak mengerti bagaimana caranya. Dan ketika gadis itu sibuk memikirkan ulang apa yang terjadi pada dirinya saat ini, pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar menampakkan seorang pria tampan yang juga tengah menatap ke arahnya.

Kanae tertegun sejenak menatap kehadiran pria itu, sebelum kemudian gadis itu terperanjat kaget dan langsung bangun dari tidurnya. Kanae merasa terkejut melihat ada seorang pria asing yang sudah masuk ke dalam rumah, bahkan kamarnya. Ah maksudnya kamar kedua orang tuanya.

“Kau, kau siapa?!” seru Kanae yang menatap waspada kepada pria itu. gadis itu merapatkan diri pada dashboard kasur. Shima yang masih berdiri di dekat pintu, lalu mulai melangkah masuk semakin ke dalam kamar dengan wajah datar menatap Kanae.

Melihat pria itu mendekat ke arahnya sontak membuat Kanae semakin panik. Gadis itu langsung menyebarkan pandangan matanya ke arah sekitar untuk mencari alat yang bisa digunakannya sebagai senjata. Mata bulatnya hanya bisa menangkan sebuah kamus tebal berbahasa inggris di atas meja nakas.

Segera gadis itu meraih kamus tersebut dan memegangnya dengan erat. Melihat tingkah laku gadis di depannya itu yang terlihat begitu panik dan waspada ke arahnya, Shima hanya terdiam membiarkan gadis itu berlaku semaunya saat ini. Dilihatnya gadis itu kembali memasang sikap waspada ke arahnya.

Dilihat dari tingkah lakunya yang dinilai memasang sikap waspada layaknya seorang marmut kecil yang tengah terpojok di sudut ruang membuat pria itu menatapnya dengan pandangan mata kasihan, sekaligus kecewa. Tidak ada yang spesial dalam diri gadis itu dalam penilaian pribadinya.

Kanae merupakan gadis biasa yang lemah. Sangat mudah untuk mengalahkn dan merusaknya. Shima merasa kecewa karena gadis yang mereka cari, sayang sekali adalah gadis yang ada di depannya ini. gadis itu tidak kn bisa bertahan dalam dunia yang tengah mereka geluti saat ini.

“Aku bertanya, siapa kau?! Kenapa kau bisa masuk ke sini ha?!” tanya Kanae lagi dengan suara lebih keras. Napasnya masih terlihat memberat, menunjukkan bahwa gadis itu masih dalam kondisi lemahnya saat ini.

“Bisakah kita berbicara dengan tenang? Aku datang ke sini untuk menemuimu, nona Kanae. Putri dari mantan pelayan tuan kami yang bernama Ayuni,” jawab pria berwajah dingin itu dengan tegas sembari menatap Kanae dengan lekat. Sontak Kanae mengernyitkan kedua alisnya merasa bingung dengan ucapan pria tampan itu. Tidak diduga bahwa pria asing itu mengetahui nama bundanya.

“Dari mana kau tahu nama Bundaku? Siapa kau?” tanya Kanae sekali lagi. Gadis itu mulai menatap Shima dengan tatapan menyelidik. Meski begitu, nampak pertahanan dirinya mulai menurun ketika mengetahui bahwa pria itu juga mengenal bundanya.

Shima sendiri meraih kursi terdekat dan menariknya untuk menempatkannya di dekat ranjang Kanae. Dengan santai pria bertubuh tegap itu mendudukinya, membuat Kanae yang melihat pria itu yang bergerak tanpa terlihat melakukan sesuatu yang mencurigakan, menjadi semakin menatapnya dengan wajah heran. Gadis itu mendudukkan tubuhnya di bagian ranjang yang paling jauh dari Shima berada.

“Perkenalkan nona Kanae. Nama saya Shima. Haru Shima. Saya telah ditugaskan oleh tuan Iyoto untuk menjemput anda.”

“Ha? Iyoto? Siapa dia? Aku tidak mengenal kau, apalagi seseorang yang bernama ... Iyoto?!”

Shima terdiam sejenak mendengar penjelasan dan pertanyaan gadis itu. Sebelum kemudian pria itu menjawab ucapan Kanae.

“Sepertinya nyonya Ayuni tidak mengatakan apa pun kepada anda, nona Kanae. Yang bisa saya katakan hanyalah tuan Iyoto merupakan kakek anda. Iyoto Matsumoto menyuruh saya untuk menjemput anda, nona Kanae.”

“A—apa maksudmu sebenarnya? Menjemput ke mana?”

“Menjemput ke Jepang.”

***

Seketika terjadi jeda sejenak di antara mereka berdua setelah Kanae mendengar penjelasan singkat dari pria asing itu. Kanae merasa linglung mendadak. berpikir bahwa mungkinkah dirinya kini tengah bermimpi? Atau kah mungkin ini hanya semacam permainan Kamera Tersembunyi?

Yang lebih jelas, Kanae yakin bahwa dirinya tengah dibohongi oleh pria tampan di depannya ini. Tapi pertanyaan besar dalam kepala Kanae saat ini adalah, bagaimana pria itu bisa mengetahui nama ibunya? Kenapa dia harus datang tepat di saat Papa dan Bundanya telah tiada?

Kanae tidak memiliki sanak saudara lagi yang bisa dihubungi untuk memastikan kebenaran tersebut. Tentu saja Kanae tidak bisa mempercayai tiap ucapan pria itu dengan mudah.

“Aku tidak bisa ikut denganmu. Apa lagi ke Jepang? Aku tidak pernah pergi ke sana. Dan tempat sejauh itu, mana bisa aku akan ikut begitu saja. Aku tidak mengenalmu atau pun tidak pernah mendengar cerita yang kau katakan itu. Mungkin saja kau telah membohongiku,” jawab Kanae dengan mantap.

Tentu saja dirinya tidak mungkin akan mengikuti ucapan pria asing itu begitu saja, walau pria itu memiliki wajah tampan sekali pun. Jaman sekarang banyak aksi penculikan yang dilakukan orang pro, lalu mereka tidak sean untuk membunuhnya. Kanae tidak ingin terjebak dalam situasi mengerikan itu.

Sementara pria di depannya itu nampak tetap tenang mendengar penolakan Kanae, seolah hal itu bukanlah masalah berarti baginya. Dengan santai pria itu menyandarkan punggung tegap serta lebarnya pada punggung kursi dengan tetap memerhatikan Kanae dengan lekat.

Mata jelaga hitam itu seolah tengah mengawasi Kanae dengan begitu tajam tanpa sedikit pun pergerakan yang terlewat. Membuat Kanae merasa semakin tegang di tempat. Kanae merasa pria itu tengah menilai dirinya dengan kedua mata tajam itu, dan Kanae sangat tidak suka. Pria itu sangat tidak sopan bagi Kanae.

“Saya sudah mengatakan hal yang sesungguhnya, Nona Kanae. Dan sejujurnya saya juga tidak perduli akan pendapat anda. Baik menerima atau tidak, yang jelas saya sudah ditugaskan untuk membawa anda ke Jepang, bersama dengan saya. Untuk sekarang, tolong bersiaplah segera. Sebentar lagi kita akan berangkat,” ucap Shima menjelaskan.

Kening Kanae seketika mengerut tajam mendengar ucapan pria itu. Bagaimana bisa pria itu memutuskan pilihannya tanpa meminta persetujuannya lebih dulu? Kanae semakin tidak menyukai pria tersebut.

“Aku sudah mengatakannya padamu. Aku tidak akan ikut denganmu. Lagi pula bagaimana aku bisa berangkat dengan kondisi tubuhku seperti ini? Lebih baik sekarang kau pergi dari rumahku, dan jangan pernah mengganggu hidupku lagi. Apa kau mengerti itu?!” tegas Kanae sembari menunjuk pintu kamarnya yang tertutup, menyuruh pria bernama Shima itu pergi dari hadapannya.

Kanae sangat serius dengan ucapannya itu. Kepalanya saat ini terasa berat, dan tubuhnya terasa sangat lemas. Perutnya terasa begitu lapar. Kanae sudah cukup menderita untuk beberapa hari belakangan ini. Jadi gadis itu tidak ingin menambah beban hidupnya lagi dengan melibatkan diri pada pria asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dengan bebas dan menyuruhnya untuk ikut bersamanya ke Jepang ini.

Kanae hanya ingin makan, lalu beristirahat penuh dalam kamarnya seharian ini. Itu saja. Namun sepertinya penegasan Kanae itu tidak berarti apa-apa untuk Shima. Bahkan pria itu tidak berjengit sedikit pun dengan bentakan Kanae, atau bahkan menolehkan pandangannya ke arah pintu yang Kanae tunjuk.

Dia hanya tetap bersikap tenang tanpa beban dan menatap lurus ke arah Kanae dengan kedua mata yang begitu tajam, seolah dia siap membius tiap orang yang ada di depannya dengan sorot mata miliknya itu. Sikap tenang pria itu justru membuat Kanae semakin tidak sabar melihatnya.

“Kenapa kau hanya diam saja?! Kubilang cepat pergi dari rumahku sekarang juga! Aku tidak ingin berurusan denganmu atau siapa pun itu!” bentak Kanae sekali lagi dengan suara satu oktaf lebih tinggi.

“Sayangnya saya tidak bisa menuruti keinginan anda, Nona Kanae. Saya hanya menjalankan perintah yang diberikan pada saya. Jika anda ingin menolaknya, maka silahkan anda mengatakannya sendiri secara langsung pada Tuan Iyoto nanti,” balas Shima dengan wajah datarnya. “Di Jepang tentunya,” tambahnya.

“Dan untuk masalah kesehatan anda, anda jangan khawatir, Nona Kanae. Kami telah menyiapkan pesawat berkualitas terbaik. Anda bisa beristirahat di sana selama perjalanan nanti. Dan kami juga telah menyiapkan perawat yang akan menjaga anda selama penerbangan nanti. Lagi pula kami juga berencana akan tetap membawa anda jika pun anda belum sadarkan diri tadi. Untuk sekarang bawahan saya sedang menyiapkan keberangkatan kita yang akan dilakukan tidak lama lagi,” jelas Shima.

“Apa?”

Kanae mau tidak mau hanya bisa melongo di tempat mendengar ucapannya yang terasa tidak masuk akal itu. Bagaimana bisa pria itu akan membawa tubuhnya yang tidak sadarkan diri ke Jepang secara paksa.

“Bukankah ini tindakan kriminal? Dia berusaha menculikku?”

Pikiran Kanae tidak bisa berhenti memikirkan hal buruk karena ucapan pria itu. Bukankah ini tidak bisa dibiarkan? Pria itu ingin menculiknya secara terang-terangan. Tidakkah seharusnya Kanae pergi keluar untuk mencari bantuan sekarang? Ya, hanya itu yang bisa dipikirkan Kanae saat ini.

Gadis itu langsung memegang kepalanya ketika secara tiba-tiba dia merasakan nyeri di sana. Kanae harus menahan tubuhnya yang condong ke depan untuk tetap menegak, sembari menahan rasa nyeri yang melanda kepalanya. Sepertinya berbicara dengan pria Jepang itu membuat demam Kanae menjadi semakin parah.

“Ugh, menyebalkan!” keluh Kanae dengan suara lirih.

“Lebih baik anda beristirahat saja, Nona Kanae. Sebentar lagi bawahan saya akan datang untuk membawa kita pergi,” celetuk Shima yang menyadari kondisi gadis itu menjadi semakin parah.

“Diam. Aku tidak ingin berbicara denganmu lagi,” sambut Kanae dengan ketus. Sungguh, Kanae hanya tidak ingin berdebat saat ini. Apa lagi dengan pria asing tidak jelas seperti Shima. Namun di waktu yang tepat, pintu kamar Kanae tiba-tiba diketuk dari luar.

“Shima-san, persiapan sudah selesai. Kita bisa berangkat kapan pun yang diperintahkan,” lapor salah satu pria di luar sana. Membuat Kanae langsung tertegun mendengarnya. Kanae tidak tahu apa yang tengah pria itu katakan karena pria luar di sana berbicara dengan Bahasa Jepang.

Namun apa pun itu, Kanae bisa merasakan bahwa pria itu mengatakan hal yang tidak Kanae inginkan. Tubuh Kanae kembali menegang secara otomatis. Gadis itu melirik ke arah Shima yang masih menatap lurus ke arahnya.

“Penerbangan kita sudah selesai dipersiapkan, Nona Kanae. Kita akan pergi sekarang juga,” ucap Shima yang lalu bangkit berdiri dari duduknya. Membuat Kanae seketika mendongak dan membolakan kedua matanya dengan bingung sekaligus panik secara bersamaan.

“Ap—apa ... apa yang kau katakan itu?!” tanya Kanae dengan nada gagap menatap Shima dengan pandangan waspada. Namun pria itu bersikap tidak perduli dengan respon yang ditunjukkan Kanae. Pria itu menoleh ke arah pintu kamar yang masih tertutup.

“Masuklah. Bawa Nona Kanae sekarang juga!” titah pria Jepang itu dengan mantap. Detik kemudian pintu kamar terbuka lebar menunjukkan 3 pria besar yang sempat Kanae lihat sebelum gadis itu tidak sadarkan diri tadi. Melihat ketiga pria itu tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya begitu saja, membuat Kanae semakin panik di tempat.

“Hei hei! Siapa kalian?! Siapa yang menyuruh kalian masuk begitu saja?! Pergi! Pergi!” teriakan Kanae semakin mengencang ketika ketiga pria itu langsung mengelilingi tubuhnya dan mulai mengangkatnya dengan mudah. Kanae ketakutan. Bahkan mereka langsung menutup mulut Kanae untuk mencegahnya berteriak lebih keras.

Kanae berusaha memberontak sebrutal mungkin. Namun tentu saja tenaganya yang lemah dan dalam kondisi lemas seperti itu tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan dari tenaga 3 pria besar berotot seperti mereka. Kanae tidak bisa melakukan perlawanan lebih.

Mata lebar Kanae sempat melihat ke arah Shima yang menatapnya dengan wajah dingin tanpa bermaksud untuk menolongnya sama sekali. Pria itu bahkan mengalihkan pandang ke arah lain untuk berbicara dengan satu pria yang berdiri di sebelahnya. Tidak memedulikan Kanae lagi.

Membuat gadis itu merasa semakin membencinya. Mereka dengan serempak membawa Kanae ke dalam mobil hitam yang terparkir persis di depan rumahnya. Entah kenapa tidak ada siapa pun orang yang melihat dan datang untuk menolongnya. Membuat aksi penculikan itu berjalan begitu lancar.

Kanae hanya bisa menangis dalam diam, memikirkan masa depannya setelah ini. Dan pintu mobil akhirnya tertutup rapat, menyembunyikan Kanae yang berada di dalam mobil bersama dengan semua pria besar itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bodyguard Mafia Seksi
8.4
Drystan Cordner tidak menyangka akan menjadi pengawal pribadi Avyana Burcardo, putri mafia yang gemar mengoleksi pria tampan. Di tengah godaan Avyana yang intens, Drystan berjuang keras menjaga profesionalitas meski hatinya goyah. Avyana sendiri merasa geram karena Drystan terus menekankan batasan status atasan dan bawahan di antara mereka. Akankah Avyana berhasil mengubah sosok Drystan yang polos menjadi pria yang lebih agresif dalam hubungan ini?
Sampul Novel BRIDE OF THE MAFIA
8.1
Milan dikuasai Vicenzo, bos mafia kejam yang mendadak hilang usai misi gagal. Bertahun-tahun kemudian, ia muncul demi menemukan Jill, seniman tunanetra yang buta akibat peluru nyasarnya. Di kota kecil, takdir mempertemukan mereka dalam pusaran cinta dan dendam. Vicenzo harus melindungi Jill dari ancaman musuh lama, sementara Jill berjuang memaafkan pria yang merenggut penglihatannya. Di tengah bahaya, mereka menghadapi masa lalu demi sebuah penebusan.
Sampul Novel Collateral Fate
9.5
Letnan Arya Pradipta dari pasukan khusus mengemban misi berisiko tinggi demi menyelamatkan Alana Weston, relawan yang diculik teroris internasional. Namun, operasi rahasia ini berubah menjadi perjuangan hidup mati saat mereka terjebak di zona musuh yang berbahaya. Arya segera menyadari bahwa penculikan Alana bukan sekadar aksi kriminal biasa, melainkan bagian dari konspirasi politik besar yang mengancam keselamatan mereka di tengah pelarian.
Sampul Novel Dilema Cinta Narkoboy
8.9
Andrean Kenzo, seorang gembong narkoba, terjebak dalam perjodohan dengan Tita Shanum yang menawan. Demi memenangkan hati gadis itu, Andrean harus bersaing sengit melawan musuh bebuyutannya sendiri. Namun, situasi semakin rumit saat Tita menyadari sebuah rahasia besar bahwa pria yang selama ini ia patuhi bukanlah ayah kandungnya. Di tengah konflik mafia dan asmara, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Tita untuk mendampingi hidupnya?
Sampul Novel Cinta, Pengkhianatan dan Dendam: Godaan Mantan Istri yang Tak Tertahankan
8.0
Dikhianati hingga menjadi pembunuh, Maria menceraikan James dan pergi membawa dendam. Enam tahun berselang, ia kembali bersama rival mantan suaminya dengan identitas baru yang tangguh. Meski bekerja sama dengan James hanya demi membalas sakit hatinya, Maria tidak menyadari bahwa ia justru masuk ke dalam jebakan pria itu. Di tengah pergolakan antara gairah dan niat balas dendam, mereka terjebak dalam permainan perasaan yang sangat berbahaya.
Sampul Novel Gerhana
9.6
Gerhana Putri Alam tak menyangka perselisihannya dengan preman garang bernama Tangguh Langit Ramadhan justru menumbuhkan benih cinta. Meski Tangguh bersikap dingin dan merasa tidak pantas bersanding dengan putri seorang jenderal, Gerhana tetap yakin ada perasaan tulus di balik sikap acuh tersebut. Tangguh bersikeras menepis kenyataan itu, namun Gerhana balik menggoda rahasia sang pria yang diam-diam sering menatap fotonya. Akankah perbedaan status menyatukan mereka?