
X10
Bab 3
Setelah makan siang dan berganti pakaian seperti layaknya anak kuliahan X10 berjalan menuju Oxford University, dengan tujuan mencari keberadaan putri Tuan Park, yaitu Jeane Park.
X10 berkeliling di sekitar kampus yang luas tersebut mencari keberadaan Jeane Park. Namun sejauh ini belum ada tanda tanda keberadaan Jeane yang ia temukan.
Langkah kakinya kini membawanya masuk ke dalam perpustakaan, dengan arah pandangnya sibuk mengedarkan ke seluruh penjuru yang ada di perpustakaan tersebut.
Disaat arah pandangannya berakhir pada sudut perpustakaan, ia akhirnya menemukan sosok Jeane yang tengah menggunakan headset nya dengan tangannya yang berkutat pada sebuah buku dan juga laptop yang ada di hadapan nya.
Dengan santai X10 berjalan mendekati gadis itu, dengan tangannya yang secara cepat mengambil salah satu buku yang berada di sana guna sebagai pengalihan, jika secara tak sengaja Jeane yang menyadari keberadaannya.
Tanpa dicurigai, pemuda itu kini tengah duduk tepat berhadapan dengan Jeane, sembari berpura pura fokus terhadap buku yang ada di tangan nya.
Sesekali manik X10 sibuk mengedar pada orang orang yang berada di sekitar Jeane, mencari tahu apakah ada orang yang mencurigakan di sekitar gadis itu atau tidak.
Setelah memastikan aman X10 pun melanjutkan kembali membaca buku yang ia pegang, dan tentunya ekor manik X10 tetap fokus dengan aktifitas yang Jeane lakukan.
Jeane terlihat casual dengan sweater lengan panjang berwarna abu abu dengan bawahan celana jeans yang ia kenakan.
Sudah sekitar satu jam Jeane tidak berpindah dari tempat duduk nya, dengan aktifitas yang sama, tak lain gadis itu masih fokus terhadap buku dan juga laptopnya.
Besar kemungkinan Jeane tak menyadari keberadaan X10 yang sudah duduk dihadapannya layaknya menemani dirinya dari 1 jam yang lalu.
Jeane yang masih fokus dengan kesibukannya, tiba tiba saja di kejutkan oleh seseorang yang langsung merangkulnya dari belakang.
"Yak Ane bisa kah kau sudahi dulu pekerjaan mu di perpustakaan ini?! aku yakin kau belum makan siang bukan?" tanya gadis dengan tubuh mungil yang baru saja datang sedikit berbisik di telinga Jeane.
Jeane yang mendengar pertanyaan tersebut, hanya berdengung mengiyakan pertanyaan Daisy sahabatnya itu.
"Ayo Ane, kita ke kantin sekarang!” ajak Daisy sambil menarik tangan Jeane yang masih berkutat dengan laptop nya.
"Tunggu lima menit lagi Daisy, aku sudah hampir menyelesaikan pembahasan nya," balas Jeane merajuk, tanpa melihat ke arah Daisy.
Daisy yang sudah sangat hafal dengan karakter Jeane terpaksa mengalah, dan menunggu Jeane hingga selesai.
Disaat sedang menunggu Jeane, Daisy yang tak memiliki kesibukan akhirnya menyadari keberadaan X10 yang sedari tadi tengah memerhatikan tingkah mereka.
Sebuah senyuman manis sekaligus permintaan maaf Daisy berikan pada X10, yang ia kira pemuda itu mungkin saja terganggu atas tingkah mereka sebelumnya.
Dengan ramah X10 memberikan senyum balik, sembari menganggukan kepalanya seakan ia tak mempermasalahkan atas apa yang terjadi, lagi pula alasan X10 memperhatikan Jeane bukanlah karena ia terganggu, melainkan memang ia bertugas memastikan bahwa tak ada orang yang mencurigakan di sekitar Jeane.
Setelah Jeane selesai mengerjakan pekerjaannya, refleks ia menyenggol sahabatnya itu, dan mengajak nya ke kantin, seperti yang Daisy katakan sebelumnya.
Daisy menganggukan kepalanya menanggapi ajakan Jeane, yang setelah nya secara spontanitas ia langsung membantu Jeane merapikan laptop, serta buku buku yang ada dihadapan Jeane.
Daisy dan Jeane keluar dari perpustakaan tersebut, dan langsung menuju ke kantin.
X10 yang tadinya ada di hadapan mereka hanya mengamati keduanya dari jauh sampai kedua nya keluar dari perpustakaan.
"Yak Ane kenapa kamu suka sekali melupakan jam makan mu? Jika kau seperti ini terus kau bisa sakit Ane," dengus Daisy dengan nada sedikit kesal.
"Aku tak lapar Daisy, lagi pula aku harus menyelesaikan dengan cepat skripsiku agar aku dapat pulang lebih cepat ke kampung halamanku, aku rindu keluargaku, aku rindu Dad yang selalu memanjakanku, aku rindu Mom yang selalu memelukku, dan aku rindu dengan Oppa yang selalu menjahiliku," sahut Jeane sambil menundukan kepala dan memainkan jari jemarinya.
Daisy yang tak dapat berkata apa apa, kini hanya mampu memberi pelukan hangat pada sang sahabat.
"Thank you, kau adalah sahabat terbaik yang ku miliki,” ucap Jeane sambil memberikan senyuman manisnya pada Daisy.
.
.
X10 kini tengah berjalan di sekitar kampus Jeane, bukan karena dia tengah menikmati liburan atau merasa bosan yang kemudian memutuskan untuk berjalan jalan di sekitar Oxford University, melainkan dia sedang mengawasi Jeane dari jauh, yang sedang jalan bersama Daisy sahabatnya menuju apartemen yang mereka tinggali di Oxford, Lebih tepat nya X10 ingin tahu tempat tinggal Jeane selama disana.
Setelah ia berhasil mengetahui tempat tinggal Jeane, dan memastikan aman tidak ada orang yang sekira nya mencurigakan, X10 langsung pulang ke hotel yang ia tempati, dan mulai menyiapkan rencana yang akan ia lakukan untuk keesokan harinya.
***
Siang itu pria paruh baya yang di temani tangan kanannya sedang menikmati makan siangnya di resto yang tidak jauh dari kantornya mendapat sebuah pesan singkat dari nomer yang tidak ia kenal.
Sender : 12xxxx
Seperti nya anakmu cukup cerdas Tuan Park yang terhormat.
Sontak tangan Tuan Park mengepal dan hampir menghentakkan meja yang ada di hadapannya, kalau saja Jeha tidak cepat menahannya.
"Ada apa Direktur Park?" tanya Jeha bingung mendapati perubahan sikap atasan nya itu setelah membaca pesan dari handphone nya.
Dengan helaan nafas kasar Tuan Park pun menjawab dari pertanyaan sekretaris nya itu.
"Seperti nya mereka sekarang sudah menargetkan anak anak ku.”
Jeha yang mendengar jawaban dari atasannya itu langsung menggangguk paham maksud dari ucapan atasannya itu, dan bergegas mencari informasi keberadaan pasti kedua anak dari Tuan Park tersebut tanpa menunggu perintah dari sang atasan.
Setelah Jeha mendapat informasi keberadaan kedua anak dari Tuan Park, pemuda itu langsung melaporkannya kepada Tuan Park.
"Kini pak William sedang meeting dengan salah satu client di resto hotel di Seoul, sedangkan nona Jeane berada di apartemennya bersama sahabat nya Daisy di Oxford.".
"Baiklah, terimakasih Jeha atas laporanmu," ucap Tuan Park sambil merilekskan duduknya.
Setelah sedikit rileks, dan pikiran yang mulai tenang, Tuan Park pun akhirnya menyuruh Jeha untuk mengosongkan beberapa jadwal meeting yang seharus nya ada.
Jeha yang ada dihadapannya langsung dengan sigap menghandle perubahan jadwal beberapa meeting yang seharusnya telah terjadwal.
.
.
Tuan Park memutuskan untuk pulang lebih cepat ke rumah. Ia tak in berlama lama di kantor dengan pikirannya yang kian terus bercabang.
Dari kejauhan ia sudah mendapati istri nya yang sedang bersantai di ruang TV.
Seulas senyuman tanpa ia sadari sedikit terangkat dari kedua ujung bibirnya. Ia merasa jauh lebih tenang, dan perlahan mulai mengesampingkan kegelisahan nya sesaat.
Dengan langkah perlahan Tuan Park menghampiri istri nya. Ia tahu pasti istrinya sedang menunggunya, sebab memang sebelumnya ia sudah memberi tahu istri nya yang juga merupakan CEO Park Beauty Cosmetic Company bahwa ia akan pulang cepat hari ini, dan tentu saja mendengar pernyataan itu sang istri secara otomatis bergegas pulang dari kantornya, menunggu kehadiran suaminya di rumah.
Ia tahu pasti bahwa suaminya sedang ada masalah, pasalnya hal seperti ini adalah hal yang tak biasa untuk Tuan Park yang dimana notabene suami nya termasuk work holic.
"Hai sayang," ucap Tuan Park sembari memeluk dan mengecup kening istrinya itu.
"Hubby, masalah apa yang sebenarnya sedang kau tangani?" tanya sang istri sambil menatap lekat suami nya itu.
Sejenak Tuan Park terdiam, ia memilih untuk tidak langsung menjawab pertanyaan sang istri.
Helaan nafas kasar terdengar dari belah bibir Tuan Park. Sungguh ia merasa sedikit tertekan dengan masalah yang sedang ia hadapi.
Baru saja Tuan Park ingin menjelaskan masalah nya pada sang istri, tiba tiba dering handphone Tuan Park sedikit mengusik dirinya.
Refleks Tuan Park langsung mengecek nama yang tertera pada layar segiempat itu.
Untuk bebeapa saat Tuan Park tertegun menatap nama tersebut seakan tak percaya, tetapi jemarinya di bawah alam sadarnya segera menggeser tombol pada layar tersebut.
“Dad,” ucap seseorang di seberang telefon.
"Ada apa sayang, tumben gadis kecil Dad menghubungiku lebih dulu?” goda Tuan Park disertai kekehan kecil.
Gadis kecil yang dimaksud tak lain adalah Jeane yang memang merindukan keluarganya itu.
Tanpa malu ia mengatakan pada sang Ayah bahwa ia merindukannya, tak lupa ia juga menanyakan keberadaan sang Ibu dan kakak kandung nya itu.
"Mommy mu ada di samping Dad, Apa kau mau bicara dengannya?” Balas Tuan Park pada Jeane.
Belum sempat Jeane menjawab pertanyaan Tuan Park, dengan cepat Nyonya Park meraih handphone nya setelah mengetahui bahwa putri mereka lah yang menghubungi Tuan Park.
Nyonya Park merindukan Jeane!
Pembicaraan Nyonya Park dan Jeane berakhir dengan Jeane yang tampak antusias menceritakan mengenai kehidupan nya yang selama ini jauh dengan keluarganya.
Sungguh jika saja ia dapat pulang dengan mudah nya, maka detik itu juga mungkin saja ia akan langsung memilih melakukan perjalanan bolak balik dalam satu kali waktu.
Ia sangat merindukan keluarganya itu!
Tanpa sadar kelopak manik Nyonya Park tampak menggenang menahan tangis yang suatu waktu dapat pecah dengan sendirinya.
Dilain sisi, pada waktu yang bersamaan…
“Mom, Dad ... Will pulang,” ucap William setengah berteriak mencari keberadaan kedua orang tuanya itu.
Merasa tak ada yang menyahutinya, pemuda itu melangkahkan kakinya menuju ruang TV mencari kedua orang tuanya.
Sesuai dengan dugaan William ia mendapati kedua orang tua nya yang tengah berada di sofa.
Hanya saja …
“Apa yang sedang mereka lakukan? Mengapa mereka seperti itu? Aneh sekali,” lirih William ketika mendapati tingkah kedua orang tuanya yang sibuk mendekatkan telinga mereka pada satu handphone seakan keduanya tak mau mengalah untuk berbicara lebih dahulu pada orang di seberang telefon.
Tanpa ragu William pun mendekat pada kedua orang tuanya sambil memanggil kedua nya.
"Mom, Dad!”
Spontan kedua orang tua nya yang kaget membalikkan badannya dan setengah berteriak serempak.
"William!”
Jeane yang berada diseberang pun ikut kaget akan teriakan kedua orang tua nya, dan refleks menjauhkan handphone nya dari telinganya.
"Maaf,” kekeh William sembari menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Kedua orang tuanya hanya dapat menghela nafas nya pelan menatap putranya itu.
Butuh beberapa detik keduanya dapat kembali tersadarkan akan apa yang mereka lakukan sebelumnya.
"Ane, kamu masih disana kan sayang?”
Dengan cepat Jeane mengiyakan perkataan Nyonya Park memberitahukan bahwa ia masih dalam sambungan telefon.
‘Ane?!’ Monolog William dalam benak.
Tanpa aba aba William segera meraih handphone tersebut dari kedua orang tuanya.
"Yakkk gembul, Mengapa kau baru menghubungi kami sekarang? Kau kesulitan disana? Kau tak merindukanku? kau baik baik saja? Kau tak lupa makan bukan? Apakah kau masih jadi gadis cengeng? Apakah ada yang menjahilimu disana?" tanya William panjang lebar tanpa ada jeda pada setiap pertanyaannya.
Tak heran jika kedua orang tuanya seketika mematung mendengar pertanyaan bertubi tubi yang di lontarkan begitu saja pada Jeane.
"Yak Oppa!! Bisakah kau memberikan pertanyaan padaku satu persatu? Aku bukan seorang rapper seperti mu,” keluh Jeane pada William.
Mendengar jawaban sang adik tentu saja membuat William terpingkal dibuatnya, pasalnya ia sendiri tak menyadari bahwa ia dapat membuat pertanyaan seperti bagaikan seorang rapper.
“Oke oke, maafkan aku Jeane,” lirih William yang belum dapat menghentikan tawanya.
Jeane hanya membalas dengan dengungan singkat dan tentu saja ia ikut tertawa dengan William.
Sudah lama ia tak bercanda gurau dengan kakak kesayangannya itu.
“Aku merindakanmu Oppa.”
William yang merasa asing dengan kata kata itu tentu saja seketika menghentikan tawa nya.
Selama dua puluh tahun lebih ia hidup bersama sang adik tak pernah sedikit pun ia mendengar adik kesayangannya mengucapkan kata sakral itu secara sukarela.
“Are you serious? Apakah aku tak salah mendengar?”
Jeane yang mendengar pertanyaan sang kakak hanya dapat tertawa dan enggan menjawab pertanyaan itu.
Jujur saja ia sedikit malu saat ini setelah secara tersirat diingatkan oleh William.
“Sepertinya disini sudah semakin malam, aku tidur dulu Oppa, bye Oppa, sampaikan salamku pada Mom dan Dad.”
‘Sepertinya malam ini aku dapat tidur nyenyak!’
———
Anda Mungkin Juga Suka





