Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel WURAKE

WURAKE

Wurake merupakan sebutan bagi pengikut ilmu hitam yang haus akan janin, bayi, serta wanita hamil maupun nifas. Meski mirip dengan Kuyang, identitas Wurake jauh lebih luas karena penganutnya bisa laki-laki maupun perempuan. Ancaman mereka tidak terbatas pada kelompok tertentu, melainkan menyasar seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang usia atau jenis kelamin. Kisah horor fantasi ini murni fiksi, sehingga kesamaan nama atau tempat hanyalah kebetulan.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Maafkan saya, Bara," bisik Rania.

Rania, yang entah dari mana datangnya, tetapi tiba-tiba pula ia sudah berada di belakangku.

Aku sedikit terkejut. Akan tetapi, pikiran kosong lebih dominan dalam diriku. Aku tak menghiraukan Rania, padahal aku tahu ia terus saja memelaskan kata maaf yang ia sertakan dengan elusan di punggungku.

Pada suatu kesempatan, ia memintaku untuk berlapang dada. Mungkinkah?

Tanpa menghiraukan Rania, aku kembali pada jasad bayi kami. Kusentuh ubun-ubunnya, lalu berpindah ke bagian yang lain, ke seputaran dada.

"Ya, Tuhan! Ini?" gumamku dalam hati.

Saat menyentuh bagian dada, jariku terperosok, sekonyong-konyong tidak ada lagi isi di balik dada bayi ini. Demi lebih meyakinkan, kembali kuraih lampu minyak, lalu mendekatkannya ke jasadnya.

"Tidak salah lagi, ini pasti ulahnya. Tunggu kau!?" batinku penuh amarah.

Berpenerangkan cahaya lampu minyak, di dada bayi kami, tampak beberapa jejak lebam berwarna kemerahan seukuran uang logam.

Sudah menjadi rahasia umum jika yang mampu melakukan hal seperti ini dalam waktu singkat hanyalah makhluk jadi-jadian, yang di tanah ini kami menamainya Wurake.

"Tidurlah dengan tenang, Nak. Maafkan kelalaian bapakmu yang tidak berguna ini," sesalku dalam hati.

Puas menerawangi sembari menyesali ketidakbecusan diri dalam menjaga putra sendiri, aku bangkit dari dudukku, berancang-ancang untuk beranjak menuju beranda belakang.

Sebelum berlalu, aku sempat beradu pandang dengan Rania yang duduk meringkuk di pojokan kamar.

Ada apa dengan Rania?

Sekilas pandang, seperti ada pendar cahaya api di dalam bola mata perempuan yang aku ninikahi satu setengah tahunan silam ini.

Merinding! Bulu kudukku sampai berdiri saat coba menantang tatapannya.

Sejenak, sempat terlintas pikiran aneh di dalam diriku. Akan tetapi, buru-buru pula aku menepis.

"Tidak! Tidak mungkin. Ini pasti hanya pikiranku saja," batinku sembari buru-buru beredar.

Nyaris semalam suntuk aku berpekur di beranda belakang. Bermacam prasangka berkecamuk dalam pikiranku. Bayang-bayang kematian putra kami yang pagi ini seharusnya genap berusia sembilan hari, telah meraja di minda ini. Karenanya, aku tidak dapat memejamkan mata walau barang sekejap pun juga. Itu berlangsung hingga fajar menyingsing.

Hingga, malam telah berganti siang.

Dari mulut ke mulut, berita kematian bayi kami tampaknya telah beredar dengan sebegitu cepatnya. Ini bisa terlihat bagaimana hanya dalam hitungan jam, kabarnya sudah menyebar hingga ke desa tetangga. Entahlah jika desa tempat tinggal kami ini hanyalah sebuah desa kecil dengan penghuni kurang dari tiga ratusan Kepala Keluarga.

Entahlah pula jika ini adalah hal yang wajar bila ada berita apa pun, terlebih itu sesuatu yang dianggap tidak wajar, akan sesegera itu juga diketahui oleh penduduk setempat.

Akan tetapi, yang jelas, yang datang melayat di pagi ini, sebagiannya berasal dari desa sebelah.

Sekira pukul delapan pagi, para pelayat mulai berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa. Semakin ke sini, semakin ramai.

Berhubung ada satu kebiasaan yang mungkin tidak lazim di daerah lain, tetapi menjadi seakan-akan wajib di kampung ini, yaitu tidak ada proses pemakaman jenazah di siang hari, dan hanya boleh dimakamkan di malam hari jika tidak ingin mendapatkan sesuatu yang sial, kononnya begitu, maka kami pun punya cukup banyak waktu untuk bertutur sapa.

Para pelayat, usai menyampaikan ucapan belasungkawa, ada beberapa di antara mereka yang bertanya tentang bagaimana proses kematian bayi kami. Selain itu, ada juga yang menyinggung tentang kondisi Rania.

Kenapa Rania tidak keliatan? Di mana dia?

Usai mendapatkan pertanyaan yang berulang-ulang itu, barulah aku tersadar, jika Rania memang tidak terlihat sejak awal pagi tadi. Rania tidak keluar walau hanya sekadar untuk menemui para pelayat. Cemas, aku pun coba menemui Rania.

"Maaf, Bara! Tolong jangan ganggu saya!"

Kembali aku terpana dengan perubahan sikap dan keadaan Rania. Ucapannya, bisa kumaklumi. Siapapun pasti akan butuh ketenangan pasca kondisi seperti yang dialami oleh Rania. Seharusnya, aku pun demikian.

Akan tetapi, sorot mata yang tersembul di antara helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Rania kala ia menatap, pagi ini, benar-benar membuat bulu romaku berdiri hebat. Bola mata itu seperti mengeluarkan nyala api membara.

Ya, Tuhan, ada apa denganmu, Rania?

Gentar! Aku kian gentar bersitatap dengan Rania. Karenanya, kembali pikiran yang tidak-tidak merasuki otakku.

Seharian penuh Rania tidak beranjak dari kamar walau barang sedetik pun juga. Bahkan, ia tidak ikut pada prosesi pemandian jenazah. Rania juga tidak turut serta ke pemakaman.

Karenanya, sepanjang hari pula aku terpaksa mengarang jawaban sekenanya jika ada pelayat yang bertanya perihal dia.

: Rania lagi tidak enak badan. Maklum orang yang belum lama habis melahirkan. Demikian sedikit jawaban yang aku karang sendiri demi menjaga kehormatan Rania.

Tiga hari berselang setelah kematian putra kami, bertepatan dengan hari Kamis, siang hari sepulang sekolah.

Seorang anak lelaki, siswa Sekolah Lanjutan Pertama, dikabarkan, pagi saat berangkat ke sekolah, anak tersebut berangkat dalam keadaan segar-bugar tanpa ada keluhan sedikitpun. Namun, ketika pulang dari sekolah, setiba di rumah, anak tersebut langsung jatuh sakit.

Di rumah, hanya berselang sekira satu jam, usai mulut anak tersebut mengeluarkan busa, lendir, hingga yang tidak masuk akal, pada busa tersebut terdapat belatung dalam jumlah yang cukup banyak, pada akhirnya anak tersebut mengembuskan napas terakhirnya.

Sebelum ajalnya, nenek dari anak yatim-piatu yang malang itu, sempat bertanya perihal apa yang dilakukan cucunya dari pergi hingga pulang sekolah, termasuk dalam perjalanan sebelum mencapai rumah.

Si cucu menjawab, ia tidak melakukan apa-apa. Katanya, ia hanya melakukan aktivitas sebagaimana biasa di setiap harinya. Masih kata si cucu, ada satu hal yang ia lakukan, tetapi apakah mungkin itu penyebab ia muntah-muntah?

"Saya hanya makan satu biji Jambu Air yang dikasi Mama Yohana."

Demikian pengakuan si nenek yang konon menirukan ucapan cucunya.

Spontan kejadian ini membuat kegemparan. Apalagi, telah sekian lama warga menaruh curiga kepada Mama Yohana, seseorang yang berprofesi sebagai Dukun Beranak di kampung ini.

Sore itu juga pihak keluarga korban menyiapkan segala keperluan untuk proses pemakaman jenazah. Tidak lagi menunggu usai waktu isya seperti biasanya. Usai waktu salat magrib, jenazah langsung dikebumikan.

Aku yang ikut hadir sejak proses pemandian hingga pemakaman jenazah, tanpa sengaja mendengar kasak-kusuk yang mengatakan, bahwa akan diadakan perburuan.

Ritual yang penuh resiko ini, konon akan dipimpin oleh seorang sepuh yang paling dituakan di kampung ini.

Tetua yang dimaksud adalah seorang Modin. Ia terkenal sakti mandraguna di kampung yang masih kental dengan laku perpaduan antara pagan dan agama.

Usai proses pemakaman, aku tidak langsung pulang ke rumah, tetapi lebih dulu mampir di rumah duka. Di sini, aku mendapati para Tetua tengah duduk berbincang dengan wajah tegang. Bapak Modin yang dimaksud tadi juga tampak ada di antara orang-orang yang berbincang.

Demi menyimak jalannya pembicaraan, aku pun berbaur dengan para laki-laki yang ada di rumah duka.

Sekira satu jam kemudian, pada akhirnya, aku pun tahu jika pukul 12 malam, malam ini juga perburuan dimaksud akan dilakukan. Oleh Bapak Modin, makhluk yang diduga adalah makhluk jadi-jadian tersebut, akan dipancing keluar dari sarangnya.

Informasi lainnya yang aku dapatkan, dikarenakan sudah berusia lanjut, Bapak Modin hanya akan memimpin mantra-mantra. Sedang untuk eksekusi, akan dilakukan oleh laki-laki dewasa. Demikian kesimpulan serta keputusan yang tercapai.

"Ini pasti seru," batinku. "Saya tidak boleh melewatkan ini. Siapa tau ini adalah kesempatan saya untuk balas dendam."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta berlapis Dusta
9.3
Setelah terlahir kembali, sang protagonis bertekad mengubah nasib tragisnya. Di kehidupan pertama, tunangannya, Jayden Hanson, berselingkuh dengan Clarisse Smith hingga melumpuhkannya demi merebut posisi penari utama. Kali ini, ia memilih menikah dengan Simon Hanson. Namun, kecelakaan serupa terulang sebelum audisi penting. Meski Simon menjebloskan Clarisse ke penjara, lima tahun kemudian terungkap bahwa Simon dan putra mereka sebenarnya mencintai Clarisse. Ia pun memilih meninggalkan suami dan anaknya.
Sampul Novel Mencintai Musuh Keluargaku
9.1
Perseteruan abadi klan Nocturn dan Dravein di Ravenbrook kian memanas saat Isabelle Greystone tanpa sengaja masuk ke wilayah lawan. Ia bertemu River Blackwood, vampir Nocturn yang terpikat tanpa tahu asal-usul Isabelle. Rahasia identitasnya yang terbongkar memicu perang besar antar keluarga. Di tengah tumpahan darah dan ujian kesetiaan, mampukah cinta terlarang mereka bertahan, ataukah mereka akan hancur oleh takdir permusuhan kuno yang mematikan?
Sampul Novel PEMBALASAN DENDAM SANG PUTRI SINDEN
7.8
Tujuh belas tahun usai kematian tragis Jernih Suminar, sang putri yang bernama Lintang Prameswari mencari dalang ruwat sakti demi menuntut balas. Namun, ia terkejut saat mengetahui bahwa Ki Narendra yang awet muda adalah ayah kandungnya sendiri. Narendra telah menumbalkan jiwanya demi kekuasaan hingga menelantarkan Lintang. Kini, Lintang harus menghadapi pembunuh ibunya yang keji sembari dibantu sosok misterius bernama Wage di tengah intrik klenik dan mitos.
Sampul Novel Perempuan dan Kuasanya
8.7
Kehidupan seorang ibu hancur setelah suaminya menyebarkan video persalinannya ke situs terlarang. Di tengah rundungan siber, upaya hukum orang tuanya justru berakhir dengan kematian tragis mereka akibat terlindas mobil pelaku. Masih dalam kondisi lemah, wanita ini diusir mertua dan suaminya pada tengah malam, lalu disiksa hingga tewas oleh sekelompok orang kejam. Jasadnya dikubur diam-diam di gunung terpencil oleh sang suami yang berdalih demi kebaikan. Namun, maut bukan akhir; ia mendadak terbangun kembali di hari bayinya lahir.
Sampul Novel Putra Rahasia Jodoh Alfaku, Penolakan Terakhirku
8.9
Sebagai pewaris Serigala Putih, aku dikhianati oleh Alpha Kaelan yang memiliki keluarga rahasia. Orang tuaku bahkan tega mencuri dana kawanan demi membiayai selingkuhannya. Aku hanya dianggap alat penghasil keturunan sebelum akhirnya dibuang. Saat mereka berencana membiusku di hari ulang tahun ke-18, aku berpura-pura pingsan lalu melarikan diri. Namun, sebelum menghilang, aku mengirimkan kado berisi bukti kejahatan mereka untuk menghancurkan segalanya.
Sampul Novel Putra Rahasia Sang Alfa, Penawarku yang Dicuri
9.6
Tiga tahun menderita racun, aku dikhianati Alpha Yudha. Suamiku memberikan satu-satunya obat penyembuh kepada ibu dari anak rahasianya, Elara. Selama ini dia hanya menungguku mati demi keluarga gelapnya. Bahkan, dia tega menghina martabatku di rumah orang tuaku sendiri. Namun, Yudha salah menilaiku. Aku memutus ikatan batin kami dengan sisa kekuatanku dan pergi membawa dendam. Aku bersumpah akan bertahan hidup demi menghancurkan seluruh dunianya yang penuh dusta.