Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Withered

Withered

Arini tak kuasa menahan tangis meski Rexy melontarkan ancaman keras untuk merobek pakaiannya. Di bawah kucuran air shower yang dingin, ia terus terisak sambil memeluk erat tubuh pria itu sebagai satu-satunya tumpuan. Rexy yang diliputi amarah besar tampak menyesali keputusannya karena tidak menghabisi nyawa semua orang yang terlibat. Ketegangan dan emosi yang memuncak menyelimuti pertemuan mereka di tengah kemelut konflik yang membahayakan nyawa.
Bab
Bagikan

Bab 2

Tetesan air yang menyentuh kulit wajahku terasa dingin.

"Ng..." Aku mengeluh dan suara tawa yang begitu ku hafal terdengar seketika diikuti pelukan yang membuat bibirku yang terasa kering, tersenyum dengan mata masih terpejam rapat. Rasanya tubuhku lemas sekali. Aku sama sekali tak bertenaga bahkan saat suamiku mengecupi bagian belakang kepala juga telingaku, karena wajahku tenggelam dalam bantal yang aromanya penuh dengan aroma khasnya.

"Jangan tidur lagi, SLEEPY HEAD," protesnya yang ku jawab dengan tawa pelan, rasanya mataku berat sekali untuk ku buka.

"Memangnya ini jam berapa? Maaf, aku tak dengar kamu pulang," ucapku masih membenamkan kepalaku yang rasanya pening.

la terdiam, lalu tertawa dan kecupannya kurasakan lagi. "Kamu masih mimpi ternyata," ucapnya membuat diri mengernyitkan dahiku di atas bantal empuk yang aromanya menenangkan. "Aku sudah bilang kalo aku menginap di rumah Ibu, bukan?"

Mendengar itu, aku langsung membuka mataku cepat. Secepat aku bangun dan itu membuatnya yang sedang memelukku terkejut. Matanya yang sudah kaget itu makin membulat saat memperhatikan wajahku yang diusapnya. "Apa kamu menangis? Kenapa?"

Aku hanya membisu, menatapinya yang penuh tanya. Potret pernikahan kami yang tergeletak di atas kasur juga sebotol air mineral yang masih tersegel membuat tubuhku kaku.

"Yang? Kamu kenapa?"

''Aku kenapa?" ulangku berkali-kali dalam kepala, sampai kurasakan tubuhku ditarik dalam dekapan hangat yang tak terasa. Tanganku sama sekali tak bergerak, kecuali meremas kuat sprei kasur kami.

"Kamu kenapa, Yang? Kenapa menangis?"

Suaranya yang terdengar pelan sedikit bergetar, ia terus memelukku yang tak membalas. Aroma sampo dan sabun yang ku hafal menyeruak dari ceruk lehernya yang kokoh.

Lelaki yang sedang memelukku ini begitu hangat, begitu penuh kasih, begitu bisa diandalkan, begitu bertanggung jawab, begitu pandai menyimpan apa yang baru kuketahui.

Rasanya aku ingin mengatakan apa yang ku lihat, apa yang kuketahui, apa yang kulakukan kemarin. Namun, mulutku begitu kelu sampai tak ada kalimat yang keluar kecuali isak yang kembali kuperdengarkan.

Air mataku lolos begitu saja meski mulutku masih membisu tanpa kata. Namun, kini aku tak menangis sendirian karena sumber tangisku mengusapi punggungku, berusaha menenangkan diriku yang hanya terus menangis dalam bisu.

"Tuhan, kenapa aku mencintainya sampai seperti ini?"

Tanganku bergerak memeluk pria yang sudah membagi tubuh dan hatinya dengan wanita lain.

Kini, aku bahkan tak bisa mencium keringatnya yang pasti bercampur dengan wanita itu, karena aroma sabun dan sampo yang biasa kami pakailah yang menyeruak dari tubuhnya. Tubuhnya yang pasti sudah bertukar keringat juga cairan lain yang-

"Yang?"

Aku langsung mendorong suamiku yang terkejut, apalagi saat aku berlari cepat ke kamar mandi dan memuntahkan apapun yang ingin kumuntahkan meski yang keluar hanya air. Mengingat aku belum makan apapun sejak kemarin kecuali dua butir pil tidur.

Suamiku ikut berlari menyusulku, ia mengusapi punggungku tapi rasa mualku makin menjadi sampai ku dorong tangannya, "Keluarlah, aku hanya pusing."

"Jangan main-main, Ri! Kamu tidak baik-baik saja."

"Aku akan baik-baik saja, Ken! Please!"

Namun, suamiku tetap tinggal sampai perutku berhenti bergejolak. Ia masih Ken yang lembut, masih Ken yang bertanggung jawab, masih Ken yang ku ingat.

Namun, masih Ken yang sama berarti selama ini aku hidup dalam... "Ri?"

Aku terlonjak merasakan sentuhan tangan Ken yang besar di pipiku.

Matanya memperhatikanku yang jadi diam, "Pa-pakailah bajumu, Ken!"

Suamiku--Ken tertawa pelan, ku rasa ia bisa melihat wajahku menegang saat ia hendak menciumku, sampai ciumannya berakhir mendarat di kening,

"Aku penasaran kenapa kamu menangis, Ri? Ku harap kamu mau cerita padaku nanti."

Aku tidak menjawab, hanya menatap Ken yang senyumnya sama tapi terasa berbeda.

Punggungnya pun masih terlihat sama. Lebar dan bisa diandalkan. Namun, kenapa rasanya ada yang berubah dari penglihatanku? Ku rasa aku tak akan pernah lagi melihat suamiku dengan penglihatan yang sama lagi. Tidak akan pernah lagi.

'Ken masih sama, hanya aku yang berbeda.'

Kutatapi pantulan diri dalam cermin, sementara kran air menyala. Aku tidak pernah merasa diriku jelek, tidak sekalipun. Namun, saat aku menatap manik mataku sendiri, rasanya aku bisa menemukan kekurangan yang biasanya tak ku lihat.

Mataku kurang besar.

Hidungku kurang mancung.

Bibirku kurang seksi.

Pipiku kurang tirus.

Perutku kurang ramping.

Lenganku kurang kecil.

Tidak! Tidak! Tidak!

Mungkin aku kurang tinggi, mungkin aku kurang berisi, mungkin aku kurang putih, mungkin aku kurang-!"

Aku terkejut sendiri saat aku membandingkan diri dengan wanita yang bersama suamiku. Jika aku mau, mungkin aku bisa berubah sepertinya dengan bantuan dokter.

Aku bisa merubah tampilanku dengan berbelanja dan menghabiskan uangku, meski mungkin aku tak akan bisa setinggi wanita itu karena cangkok kaki belum ditemukan.

"Ha-ha..ha.." Aku tertawa! Aku menertawakan apa yang kupikirkan meski mataku kuyu seolah seluruh kehidupanku tersedot, menghilang entah ke mana.

"Yang?"

Suara panggilan itu membuatku kembali dari apapun yang kulamunkan, ketukan pelan di pintu membuatku sadar kakiku sudah kesemutan juga kebas, dan sebanyak apa tagihan PAM bulan ini nanti karena aku memutar kran sampai pol.

Aku langsung membasuh wajahku, pura-pura tak mendengar ketukan di pintu. Setelah melepas seluruh pakaian yang kukenakan, aku berdiri di bawah shower dan menyalakan air dingin.

Tubuhku kaget saat guyuran air menyapa. Aku bahkan sengaja membuka mata saat merasakan wajahku dijatuhi buliran air yang serasa memijiti kulit. Setidaknya, tubuhku terasa lebih segar saat aku selesai dengan higienisku, bukan? Namun, aku lupa membawa handuk ataupun baju ganti. Hanya ada baju kotor dalam keranjang. Tanganku ingin meraih kemeja suamiku tapi, tanganku berhenti seketika.

Dalam tiap langkah, aku berusaha menghilangkan pikiran burukku tak peduli pada tetesan air yang jatuh ke atas lantai.

Aku keluar dengan rambut basah tanpa sehelai benang pun menutupi. Meski mataku menatapi tumpukan pakaian di lemari yang lebar ku buka, pikiranku melayang jauh dan tanganku mengambil pakaian apapun yang ada di bagian paling atas.

Ku rasa, aku baru sadar suamiku ada di dalam kamar setelah aku selesai memakai baju. Ia diam di tempatnya duduk, melihatku seperti melihat makhluk asing yang baru pertama kali ia temui.

Aku yang juga diam di tempatku jadi lupa pada apa yang biasanya kami lakukan saat hari Minggu.

Memoriku seolah terdistorsi berkeping- keping yang rasanya sulit kusatukan, sampai ia berdiri dan mengajakku sarapan.

Pukul 10.12 kami sarapan.

Dua tangkup roti, sebutir telur mata sapi, juga 2 sosis goreng. Sambil menggoreng telur aku berusaha mengingat apa telur yang biasa ia makan itu setengah matang ataukah matang?'

Nihil. Aku tak ingat. Aku sama sekali tidak mengingat telur macam apa yang biasa kami makan.

Kopi ataukah teh? Atau hanya air putih sebagai pelengkap sarapan?

"Tuhan, aku sama sekali tak ingat hal-hal yang biasanya kulakukan. Apa pengaruh dua butir obat tidur masih menguasai sistem sarafku?"

Dahi Ken sedikit mengerut saat aku meletakkan telur matang di hadapannya, "Aku kelamaan memasak telurku, Ken." Alasan paling mudah, bukan?

"Tidak apa-apa, Yang. Ayo kita sarapan!"

Aku mengangguk dan duduk. Selama makan, aku hanya diam memakan sarapanku tanpa rasa. Dua butir pil tidur sama sekali tak mampu mengganjal perutku yang nyatanya masih bisa merasa lapar dan haus tak peduli dengan apa yang kurasakan. Aku lapar hanya tak berselera.

"Apa kamu tak mau menungguku?" tanya Ken saat aku menyuapkan potongan terakhir dari sosis yang ku kunyah cepat lalu ku telan.

"Kamu ingin ku tunggu?"

Ah, wajah Ken terlihat kaget mendengar tanyaku.

Apa aku selalu menunggunya?

Jawabannya iya, aku selalu menunggunya.

Aku seperti anjing setia yang akan menunggu Ken selesai dengan apapun. Belajar, bekerja, makan, mandi, aku bahkan akan menunggunya berbaring di ranjang kami sebelum benar-benar menata tubuhku di sampingnya. Aku selalu menunggunya. Dan itu juga yang akan kulakukan saat piringku sudah kosong.

"Apa kamu akan diam saja dan menatapiku, Ri?"

"Tak bolehkah?" tanyaku pada suamiku yang makan dengan senyum di wajahnya, "Ibu apa kabar?"

WAJAH Ken sedikit berubah sebelum menelan lalu menatapku. "Baik, seperti biasa."

Aku hanya mengangguk saat melihat wajah suamiku terlihat tak nyaman,

"Apa Minggu depan kamu juga akan ke rumah Ibu lagi?"

Mata Ken membesar sesaat.

"Aku tau Ibu tak akan suka melihatku, tapi mungkin aku bisa mengiriminya opor dan sambal goreng kentang."

"Ibu pasti akan menyukainya," ucap Ken meremas tanganku yang tak menemukan balasan apapun saat senyumnya yang kukenali nampak sama.

Mungkin ibu tak akan benar-benar menyukai makananku. Namun, aku tahu di rumah itu akan ada orang yang mau memakannya. Hanya saja, apa makanan yang ku buat akan benar-benar sampai di rumah mertuaku atau tidak?

"Masih tak ingin bercerita kenapa kamu menangis?"

Aku merasakan tanganku yang diremas Ken rambut halusnya berdiri.

"Suatu hari- mungkin." Aku tak tahu kenapa bibirku bisa tersenyum saat melihat wajah Ken yang alisnya bertautan heran, "dan habiskan sarapanmu, Ken!"

Aku tidak tahu, apa yang kulakukan ini sungguh diriku atau hanya impuls semata. Namun, yang manapun itu rasanya tidak penting lagi. Karena yang terpenting Ken ada bersamaku sekarang. Bukan bersama wanita itu.

Namun, sampai kapan aku akan merasa aman?

Karena saat Ken jauh dariku, seluruh kesadaranku membayangkan ia sedang bersama wanita itu. Sedangkan aku duduk sendirian di rumah kami. Menunggu. Menunggu. Dan menunggu dalam bisuku yang menyesakkan.

Sampai kapan aku akan merasa aman? Jika saat keluar, mataku akan berkeliling mencari keberadaan wanita itu dan suamiku. Aku merasa takut sendiri jika mereka yang sedang bersama melihatku.

'Bodohnya diriku.'

Dengan pikiran seperti itu, aku memilih berbelanja di tempat yang jauh dari rumahku tinggal. Melewati tol panjang yang berlawanan arah baik dari lingkunganku tinggal maupun lingkup kerja suamiku. Namun, mataku yang sudah hafal siluet Ken tak bisa berpaling saat aku melihat bayangannya.

Dan aku hanya bisa bersembunyi memperhatikan suamiku menemani wanita itu masuk ke dalam toko pakaian.

Aku, istrinya, hanya bisa melihat di samping maneken tak bernyawa yang seolah menertawakan diri dan pilihanku.

Meski tak mendengar suara mereka, Ken terlihat memuji tiap kali wanita itu keluar dengan pakaian yang berbeda, tawanya ... 'apa Ken juga tertawa seperti itu saat bersamaku? Apa wajahnya berseri-seri saat menemaniku? Apa Ken terlihat bersenang-senang saat ia keluar bersamaku? Apa ia terlihat bahagia saat berada di sampingku?'

Pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul silih berganti tanpa mau berhenti, meski aku hanya diam membisu di samping maneken yang bisa menyembunyikan diriku begitu rapi tak terlihat.

Sampai suamiku menyambut uluran tangan lentik wanita yang terus ia gandeng. Bahkan, setelah keluar dari toko pakaian, pegawai toko pun tampak terkesima melihat keduanya.

Rasanya, aku bisa mendengar pujian seberapa serasi suamiku dan wanita itu. Sesabar apa suamiku menunggu wanita itu, sebaik apa suamiku mau memuji kecantikan wanita yang memang memesona itu?

"Sudah selesai?"

"Tentu saja sudah, kecuali kamu masih mau berkeliling."

Mendengar suara manja itu Ken tertawa, tangannya mengusap kepala dari pemilik suara manja yang rasanya bak duri untuk telingaku. Bahkan, dua punggung yang menjauh dariku memancarkan kebahagiaan.

Pembicaraan mereka terdengar begitu menyenangkan.

Sampai aku mencopot topi lebar maneken di sampingku lalu berbalik cepat saat Ken menoleh ke belakang.

Dadaku berdebar kencang, takut suamiku yang sedang bersama wanita itu menyadari keberadaanku.

Menyedihkan sekali, bukan?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARANJO
8.1
Aranjo, dewi muda keturunan iblis, harus menjalani hukuman sepuluh kehidupan fana demi melewati bencana cinta. Meski tumbuh di alam langit, ia terus dikucilkan dan dijebak oleh ibu tiri serta saudarinya. Namun, Kaisar Langit memiliki rencana terselubung di balik sanksi ini. Sang Kaisar ingin Aranjo kehilangan perasaannya agar bisa meraih kekuatan absolut sebagai Dewi Agung. Akankah takdir berjalan sesuai ambisi sang penguasa, atau justru sebaliknya?
Sampul Novel Dangerous Girl
9.7
Aliya kehilangan segalanya saat kekayaan orang tuanya memicu tragedi berdarah. Gadis lembut ini bertransformasi menjadi dewi kematian yang haus balas dendam demi mengungkap dalang pembunuhan keluarganya. Di tengah teka-teki rumit di sekolah, ia harus mencari Samudra, pangeran bermata biru yang kini tak lagi mengenalinya. Meski penolakan terasa menyakitkan, Aliya tetap mengejar jawaban di balik badai rahasia yang mengancam nyawanya. Darah harus dibayar darah.
Sampul Novel Danny Hatta
9.2
Saat memburu target di Swiss, Danny Hatta menemukan petunjuk krusial mengenai kematian ayahnya, seorang hakim tinggi. Penyelidikan itu justru menjebaknya dalam fitnah pembunuhan aparat dan mantan sekretaris sang ayah. Kini berstatus buronan, Danny harus melarikan diri bersama Sarah Hartono, jurnalis yang mengikuti jejaknya. Di tengah ketegangan yang mendebarkan, keduanya terlibat dalam petualangan berbahaya demi mengungkap kebenaran di balik konspirasi ini.
Sampul Novel Gairah Cinta Mr. Luca
8.8
Pertemuan maut terjadi saat Luca tertembak di tengah konflik mafia. Kondisinya memburuk akibat kesalahan suntikan hormon yang memicu gairah tak terkendali. Sarah, kurir makanan yang menolongnya, terpaksa menjadi pelampiasan hasrat Luca. Demi menutupi jejak, keluarga mafia memutuskan menghabisi semua saksi. Sarah pun dibuang ke jurang oleh pengawal Luca setelah kehormatannya direnggut. Akankah takdir mempertemukan mereka kembali setelah pengkhianatan keji ini?
Sampul Novel Istri Jaminan Sang Laksamana
8.2
Admiral Shawn Miller, Jenderal bintang satu termuda AS, terjebak perjanjian gelap dengan mafia Yousef Kanishka. Demi data rahasia negara, ia menyetujui pernikahan rahasia dengan putri Kanishka, Kiran, sebagai jaminan. Syaratnya mutlak: Shawn dilarang menyentuh istrinya tersebut. Tanpa pernah bertemu sebelumnya, Shawn terpana saat menyadari jaksa cantik di pengadilan militer adalah sosok wanita yang kini terikat secara hukum dengannya.
Sampul Novel JERAT CINTA DETEKTIF TAMPAN
9.3
Tiga tahun mendampingi Arsen sebagai asisten detektif spesialis kasus berbahaya, Leina memendam perasaan yang dalam. Meski begitu, pria itu terus menolak cinta Leina karena perbedaan usia dan risiko pekerjaannya yang penuh musuh. Sikap Arsen yang dingin membuat hati Leina terluka, namun ia tetap bersikeras berjuang. Kini, para musuh mulai mengincar Leina sebagai titik lemah Arsen. Akankah Arsen tetap menjaga jarak demi keselamatan Leina atau akhirnya mengakui perasaannya?