Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Withered

Withered

Arini tak kuasa menahan tangis meski Rexy melontarkan ancaman keras untuk merobek pakaiannya. Di bawah kucuran air shower yang dingin, ia terus terisak sambil memeluk erat tubuh pria itu sebagai satu-satunya tumpuan. Rexy yang diliputi amarah besar tampak menyesali keputusannya karena tidak menghabisi nyawa semua orang yang terlibat. Ketegangan dan emosi yang memuncak menyelimuti pertemuan mereka di tengah kemelut konflik yang membahayakan nyawa.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Ada apa, Ken?"

Tanya manja itu membuatku menahan napas. Dadaku berdebar keras berharap topi kelebaran yang menutupi kepalaku bisa menyamarkan tampilan diri yang mungkin akan Ken kenali, sebagaimana aku menyadari siluetnya begitu mudah.

"Bukan apa-apa, hanya salah lihat."

Namun, aku merasa kecewa setelah mendengar jawaban Ken sampai bibirku menarik garis senyum yang terasa menyakitkan. la yang rasanya melihatku tak mengenali punggungku, istrinya yang bersembunyi.

Ken menjauh dengan terus menggandeng erat tangan wanita itu, sementara mataku masih terus menatap punggungnya dari kaca toko yang pegawainya memperhatikanku curiga.

Bagaimana tidak curiga? Aku berdiri di samping maneken tokonya begitu lama. Namun, menatapi toko lain dengan pandangan awas. 'Tentu saja ia akan curiga padaku.'

"Sa-saya beli ini," ucapku tapi meminta warna lain.

Meski aku yakin, tidak akan pernah memakai topi kebesaran yang sudah terbungkus rapi di tanganku. Itu hanya akan mengingatkan diriku pada hari ini. Hari di mana aku memilih bersembunyi dari suamiku dan wanita itu. Hari di mana aku merasa takut suamiku yang sedang bersama selingkuhannya melihatku.

Namun, toko ini hanya menyediakan satu warna topi dan tinggal satu, topi yang ku pegang. 'Bisa seberuntung apa diriku?"

Aku tahu, aku takkan bisa terus-terusan seperti ini. Aku bisa gila sendiri. Namun, siapa yang bisa ku ajak bicara?

"Siapa- Ibu?"

Ya, ku rasa se-tak suka apapun mertuaku pada keberadaanku, ia bisa memberiku solusi atau paling tidak nasihat. Namun, apa yang harus kukatakan padanya? "Ibu, anakmu dan wanita itu berselingkuh, bisakah Ibu memberiku solusi?"

Gila!

Bukannya diberi solusi malah aku mungkin akan langsung diminta bercerai dengan putranya.

Apa pemikiranku saja yang terlalu buruk? Tidak mungkin Ibu akan membiarkan putranya berbuat asusila, bukan?

'Ah, kepalaku makin pusing, aku sudah lelah menangis sendiri, menyalahkan diri dan mencari kesalahan diri sendiri!'

"AWAS!"

Seruan itu terdengar bersama botol selai yang jatuh ke lantai dingin lalu pecah.

Tidak hanya satu, bahkan botol berikutnya menyusul. Hanya saja, botol itu lebih beruntung karena ada tangan yang menangkapnya sebelum jatuh. Tangan besar yang terlihat sangat bisa diandalkan itu membuatku mendongak. Dan, barisan gigi yang rapi langsung terlihat saat lelaki di hadapanku tersenyum. Rasanya aku pernah melihat barisan gigi nan rapi itu, tapi di mana? Namun, itu tidak penting sekarang!

"Maaf, apa Anda baik-baik saja?" tanyaku. Namun, lelaki di hadapanku malah menautkan alis, manik matanya bahkan membesar menatapiku..., tidak- ia menatapi dahiku.

"Ng," keluhku pelan saat aku mengusap dahiku yang berkeringat di dalam gedung perbelanjaan yang pendingin udaranya menusuki kulit.

"Jangan diusap seperti itu!" ucapnya membuatku berhenti dan baru sadar kalau belakang tanganku sudah dipenuhi cairan merah.

Darah? Apa dahiku berdarah? Kenapa? Apa aku jadi pelupa? Aku bahkan tak ingat apa yang menggoresku. Ataukah rasa sakitku jadi tumpul kini?

"Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya pegawai supermarket yang terlihat takut-takut pada lelaki ramah yang tersenyum. Aku tak begitu paham apa yang dikatakan lelaki di hadapanku ini, sampai aku sadar aku sudah duduk di sebuah ruangan yang aromanya harum.

Kopi, teh, dan musk.

BRAKK!!

"Maaf, membuat Anda menunggu."

Aku langsung berdiri dari kursi empuk yang terasa nyaman. "Sa-saya bisa sendiri," ucapku saat tangan wanita yang pakian formalrnya berbunyi setiap ia bergerak mendekatkan kain kasa yang sudah diolesi cairan antiseptik ke dahiku.

"Maaf, Nona. Tapi, Tuan Arga bilang saya harus mengobati Anda," ucapnya dengan pandangan mata malas tapi tetap memaksa, "tolong, pahami posisi saya! Terima kasih," lanjutnya.

Aku hanya bisa mengangguk, ingin rasanya bertanya siapa Tuan Arga yang ia sebut namanya. Namun, aku terlalu takut bertanya pada wanita yang wajahnya terlihat lega saat tugasnya sudah selesai.

"Ma-maaf, berapa yang saya harus ganti?"

"Apa?" tanya wanita dengan name tag 'TIANA BESTARI' menatapiku heran.

"Botol selai yang jatuh, sa-saya harus menggantinya berapa?" tanyaku jadi bingung memanggil wanita di hadapanku 'Mbak' atau 'Bu'?

"Oh. Tidak perlu, Nona."

"Nyonya."

"Ya?"

"Saya seorang Nyonya," ucapku pada wanita yang mengernyitkan dahinya dalam lalu mengangguk saat aku menunjukan cincin di jari manisku.

Entah kenapa, tatapan malasnya berubah sedikit bersahabat sebelum ia keluar ruangan, meninggalkanku duduk sendiri setelah aku berterima kasih.

Aku yang jadi bingung harus apa dalam ruangan yang aroma maskulinnya begitu terasa menatap berkeliling. Kesan pertamaku pada tempat asing ini hanya luas dan nyaman-

PING!

Tubuhku selalu kaku setiap kali ponselku berbunyi saat Ken tak di sampingku. Rasanya, meski belum melihat barisan kalimat yang ia kirim, mataku sudah bisa membaca isi chatnya, batinku juga sudah mampu menebak. Dan, perutku bergejolak tanpa mampu ku cegah.

Aku yang berada di tempat asing langsung masuk ke dalam kamar mandi, mengeluarkan apapun yang ku makan.

"Tuhan, sampai kapan aku akan seperti ini?"

Ku pikir dengan berjalannya waktu aku bisa terbiasa. Namun, aku merasa makin buruk juga lemah di saat yang sama. Bahkan, aku tak mampu menahan air mata di tempat asing ini. Menahan seperti apapun, isakku tetap keluar dan aku hanya bisa menggigit keras bibir agar isak yang keluar tak akan didengar benda-benda mati yang ada di luar sana. Di dalam ruangan nyaman dan luas itu.

Entah berapa lama waktu berlalu, sampai isakku usai dan aku langsung keluar setelah memastikan wajah sembabku tertutupi make up.

Lega rasanya saat tak ada seorang pun yang masuk ataupun duduk di salah satu sofa empuk itu. Meski aku jadi merasa canggung sendiri.

Cklekk!

Suara pintu yang terbuka membuatku berdiri, senyum lelaki yang giginya begitu rapi itu menyuruhku kembali duduk.

"Tidak perlu berdiri," ramah suara bariton itu terdengar. Seramah wajah lelaki yang kini duduk di hadapanku.

"Tuan, berapa banyak yang harus saya ganti?"

Alis hitam lebat itu menyatu menatapku yang jadi merapatkan kaki juga tangan di atas pangkuan, "Sa-saya harus segera pulang, suami saya sudah hampir pulang dari kantor."

Ah, semudah ini bohongku terucap, saat aku tahu Ken tidak akan pulang sampai hari berganti esok. Sekalipun saat pulang hanya sepi yang akan menyambut diri dan ku rasa, aku tak bisa ke rumah Ibu hari ini. Itu akan mencurigakan saat dalam chatnya, Ken menulis ia akan menginap di rumah Ibu.

"Anda terlihat lebih kurus dari saat terakhir kita bertemu."

"Maaf?" tanyaku mendongak, menatap lelaki yang duduk begitu nyaman di kursinya lalu menggeleng.

Aku jatuh dalam pikiranku sendiri. Ah, betapa sopannya diriku pada lelaki yang menolongku, menyuruh orang mengobati lukaku, juga membiarkan aku menggunakan kamar mandinya begitu lama meski ia tidak tahu, ''Tapi, tetap saja betapa sopannya diriku?"

"Anda cukup membayar untuk satu botol selai yang pecah, Nona," ucap suara bariton yang membuatku mengalihkan pandangan dari jemariku yang bertautan.

Lelaki pemilik barisan gigi rapi ini terlihat tak tersinggung karena aku tidak mendengarkan ucapannya.

Syukurlah.

"Nyonya, Tuan."

"Nyonya adalah panggilan yang terlalu tua untuk Anda, Nona."

"Tapi saya lebih nyaman dipanggil seperti itu, Tuan," Jawabku membuka tas dan mengeluarkan uang, "Saya benar-benar minta maaf, Tuan. Dan-" Aku menggigit bibir bagian bawahku ragu, menatap lelaki yang senyumnya terlihat menenangkan, "-terima kasih. Saya harus segera pulang."

"Apa Anda bisa menyetir, No-Nyonya?"

Aku mengangguk lalu berdiri dengan lembaran uang di tangan. Bingung sendiri pada siapa aku harus membayar sebotol selai yang kupecahkan

"Berikan saja pada saya, Nyonya!"

Aku merasa lega meski tak kukatakan,

"Terima kasih, Tuan," ucapku lalu menunduk sebelum keluar dari ruangan luas nan nyaman yang aroma maskulinnya masih bisa ku cium.

Di luar, aku bisa melihat secangkir teh dingin yang hanya dipandangi wanita yang rok pendeknya memperlihatkan kakinya yang mulus, "Apa yang harus kulakukan pada teh ini, Tuan Arga?"

Wanita dengan rok super pendek itu terlihat terkejut saat melihatku yang menunduk pamit, matanya beralih antara diriku dan gelas teh di hadapannya beberapa kali.

'Arga? Apa itu nama lelaki yang menolongku?'

Aku bahkan tak menanyakan namanya, sudah jadi sesopan inikah diriku kini?

Saat sampai rumah, hari sudah begitu gelap. Aku yang membawa mobil jauh melewati tol malah lupa belanja dan hanya membawa topi lebar yang tak akan ku pakai juga sebungkus nasi goreng yang kubeli di jalan depan. Rasa aku akan langsung tidur saja karena sama sekali tak merasa lapar. Nasi goreng ini bisa kumakan esok hari-

"Tunggu!"

Aku langsung menahan tombol 'hold' agar pintu lift yang kunaiki tak-

Derap langkah kaki yang memecah area parkir sepi, membuat diri sadar aku akan berdua saja dengan siapapun yang sedang berlari dan ia lelaki. Namun, saat melihat CCTV aku merasa sedikit aman meski tanganku memegang erat plastik berisi nasi goreng yang aroma sedapnya tak menggodaku.

"Terima kasih," ucap suara bariton yang membuatku mengangguk. Suara itu rasanya tidak asing di telingaku. Namun, aku terlalu takut untuk menoleh sampai ia memencet nomer lantai yang sama dengan tempat tinggalku.

"Saya pikir Anda sudah pulang sejak tadi, Nyonya."

Aku tertegun sebelum memberanikan diri untuk menatap tampilan lelaki yang mernyandarkan badannya pada dinding lift.

Barisan gigi yang rapi tersusun terlihat begitu mata kami bertemu di pantulan dinding lift yang naik ke atas.

"!" lelaki itu, 'Arga?'

DING!

Belum sempat merespons apapun, aku langsung menatap pintu lift yang terbuka. Seorang bocah yang begitu semangat masuk, berjinjit, dan tersenyum saat aku mengangkatnya agar bisa menyentuh nomor manapun yang ia mau.

"Thanks, Aunty."

"You are welcome," jawabku.

Suasana lift jadi ramai dengan manusia yang asik dengan dunia mereka sendiri, hanya bertukar pandang lalu kembali pada layar ponsel, sedangkan aku hanya diam di samping bocah yang mendongak menatapi nomor lift yang menyala lalu terbuka tiap kali ada yang masuk ataupun keluar.

Aku ingin bertanya apa ia akan mudah menemukan pintu apartemennya nanti? Namun, kehawatiranku hilang saat di depan pintu lift yang terbuka sudah ada yang menunggu bocah kecil yang melambai semangat padaku.

Nyut!! 'Ugh... Sakit.."

Rasa menusuk di bagian perut membuatku menyenderkan badan ke dinding lift. Aku bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi bagian punggungku. Lantai tempatku tinggal masih jauh.

Aku ingin duduk tapi lift yang penuh sesak membuat itu tak mungkin kulakukan. Rasanya, perutku seperti ditusuki ujung pisau meski aku tak pernah menusuki perutku sendiri dengan pisau.

Ini pasti karena aku jadi jarang makan, kalau tahu akan sesakit ini sedang seburuk apapun rasaku, aku tetap akan memaksakan diri menelan.

Mataku jadi menatapi nomor yang menyala, rasanya bahkan jadi tak sabar saat pintu terbuka tapi bukan di lantai tempatku tinggal.

Namun, bibirku yang terasa kering tersenyum mengingat aku melakukan hal sama seperti bocah kecil tadi. Meski rasa sakit di perutku tak berkurang mengingat anak lucu yang tampaknya belum bisa berbahasa Indonesia. Mengingat segembil apa pipi bocah lucu itu aku jadi sedikit terhibur dan segera keluar begitu lift terbuka di lantai tempatku tinggal.

Aku ingin berjalan cepat, tapi rasanya ada yang menahan kakiku. Tidak. Bahkan kakiku terasa melayang dan tubuhku miring ke depan.

BRUGG!!

"NYONYA?"

'Suara itu lagi ... lagi? Ugh. Lantai ini nyaman sekali, Ken.'

Rasa sakit di perutku hilang bersama kesadaranku.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARANJO
8.1
Aranjo, dewi muda keturunan iblis, harus menjalani hukuman sepuluh kehidupan fana demi melewati bencana cinta. Meski tumbuh di alam langit, ia terus dikucilkan dan dijebak oleh ibu tiri serta saudarinya. Namun, Kaisar Langit memiliki rencana terselubung di balik sanksi ini. Sang Kaisar ingin Aranjo kehilangan perasaannya agar bisa meraih kekuatan absolut sebagai Dewi Agung. Akankah takdir berjalan sesuai ambisi sang penguasa, atau justru sebaliknya?
Sampul Novel Dangerous Girl
9.7
Aliya kehilangan segalanya saat kekayaan orang tuanya memicu tragedi berdarah. Gadis lembut ini bertransformasi menjadi dewi kematian yang haus balas dendam demi mengungkap dalang pembunuhan keluarganya. Di tengah teka-teki rumit di sekolah, ia harus mencari Samudra, pangeran bermata biru yang kini tak lagi mengenalinya. Meski penolakan terasa menyakitkan, Aliya tetap mengejar jawaban di balik badai rahasia yang mengancam nyawanya. Darah harus dibayar darah.
Sampul Novel Danny Hatta
9.2
Saat memburu target di Swiss, Danny Hatta menemukan petunjuk krusial mengenai kematian ayahnya, seorang hakim tinggi. Penyelidikan itu justru menjebaknya dalam fitnah pembunuhan aparat dan mantan sekretaris sang ayah. Kini berstatus buronan, Danny harus melarikan diri bersama Sarah Hartono, jurnalis yang mengikuti jejaknya. Di tengah ketegangan yang mendebarkan, keduanya terlibat dalam petualangan berbahaya demi mengungkap kebenaran di balik konspirasi ini.
Sampul Novel Gairah Cinta Mr. Luca
8.8
Pertemuan maut terjadi saat Luca tertembak di tengah konflik mafia. Kondisinya memburuk akibat kesalahan suntikan hormon yang memicu gairah tak terkendali. Sarah, kurir makanan yang menolongnya, terpaksa menjadi pelampiasan hasrat Luca. Demi menutupi jejak, keluarga mafia memutuskan menghabisi semua saksi. Sarah pun dibuang ke jurang oleh pengawal Luca setelah kehormatannya direnggut. Akankah takdir mempertemukan mereka kembali setelah pengkhianatan keji ini?
Sampul Novel Istri Jaminan Sang Laksamana
8.2
Admiral Shawn Miller, Jenderal bintang satu termuda AS, terjebak perjanjian gelap dengan mafia Yousef Kanishka. Demi data rahasia negara, ia menyetujui pernikahan rahasia dengan putri Kanishka, Kiran, sebagai jaminan. Syaratnya mutlak: Shawn dilarang menyentuh istrinya tersebut. Tanpa pernah bertemu sebelumnya, Shawn terpana saat menyadari jaksa cantik di pengadilan militer adalah sosok wanita yang kini terikat secara hukum dengannya.
Sampul Novel JERAT CINTA DETEKTIF TAMPAN
9.3
Tiga tahun mendampingi Arsen sebagai asisten detektif spesialis kasus berbahaya, Leina memendam perasaan yang dalam. Meski begitu, pria itu terus menolak cinta Leina karena perbedaan usia dan risiko pekerjaannya yang penuh musuh. Sikap Arsen yang dingin membuat hati Leina terluka, namun ia tetap bersikeras berjuang. Kini, para musuh mulai mengincar Leina sebagai titik lemah Arsen. Akankah Arsen tetap menjaga jarak demi keselamatan Leina atau akhirnya mengakui perasaannya?