Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel With Mr. Old

With Mr. Old

Marlon, pria 37 tahun yang mapan, seharusnya sudah berkeluarga. Namun, ia justru terobsesi mengejar Belle, gadis pemalu berusia 17 tahun yang belum pernah mengenal cinta karena rasa takutnya pada lelaki. Ketegangan memuncak saat Marlon yang terpaut usia dua dekade ini nekat mendatangi orang tua Belle untuk melamarnya secara resmi. Akankah Belle menerima pinangan pria dewasa berjenggot tersebut demi sebuah pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Belle menyumpal kuping dengan headseat. Lebih memilih mendengarkan lagu-lagu dari ponselnya daripada mendengarkan celotehan panjang Rose yang membanggakan si Tarzan tua menyebalkan. Selepas bertemu Marlon kemarin, Belle jadi malas mendengarkan cerita Rose, ia hanya mengangguk setiap kali Rose bercerita soal pamannya.

Rose bilang Marlon itu teman curhat terbaik sepanjang zaman. Huh! Andai Rose tahu kelakuan Marlon sesungguhnya. Karena Belle tahu Rose sangat menyayangi Marlon dan demi menjaga pertemanan mereka, maka kejadian kemarin sore tidak dia ceritakan. Untuk ke sekian kali, Belle bergidik ngeri ketika teringat apa yang telah dilakukan Marlon kepadanya. Dia merasa dilecehkan.

"Pamanku itu paling bisa mengerti aku. Dia selalu menyempatkan diri mendengar seluruh curhatanku, meski yang kuceritakan padanya mengenai kampus." Rose sangat bersemangat, mulutnya bergerak cepat memuji sosok Marlon.

Bahkan saking semangatnya, Rose sampai tidak menyadari jika Belle sedang asyik sendiri. Mengaduk-aduk minuman sambil menikmati lagu tua keluaran tahun 1980-an. Seketika wajah Marlon muncul di ingatannya, Belle membeliak untuk seperkian detik, lantas mematikan pemutar musik itu.

Perasaan, yang Belle putar tadi sederet lagu hits terbaru, kenapa bisa berubah jadi lawas? Ini pasti akibat memikirkan Marlon terus. Bukan dalam artian baik, melainkan buruk, karena Isabeau Chambell membenci Marlon setelah pelecehan yang dilakukannya.

"Bell, aku ingin meminta pendapat. Kau kan sudah bertemu Paman Marlon kesayanganku. Menurutmu, dia bagaimana?" tanya Rose menggebu, menatap Belle dengan pandangan berbinar.

"Jelek, tua, dan mesum." Tanpa keraguan Belle menjawab, mengatakan apa adanya. Sontak Rose terperangah, tidak terima. Tetapi Belle tak peduli, dia hanya ingin berkata jujur.

"Bagaimana bisa kau bilang paman Marlon mesum?! Pamanku itu penyayang, wajahnya memang sangar bak singa lapar, tapi kau harus tahu jika dia sangat rajin membelikan makanan untuk burung-burung di sepanjang jalan komplek."

"Itu namanya bukan penyayang, Rose, tapi kurang kerjaan."

"Belle!" Rose memekik, wajahnya merah padam. Dia memang sangat menyayangi sang paman jadi wajar saja marah.

Belle hanya mencibir saat Rose berlari meninggalkan kantin. Mereka berteman sejak awal semester, baru kali ini keduanya terlibat adu cekcok karena beda pendapat. Biarkan saja! Selain manja, Rose sangat kekanakan. Dipikirnya Belle akan datang mengejar? Tentu saja itu tak akan terjadi.

Meneguk sisa minuman hingga tandas, Belle bangkit setelah menumpuk buku-buku di atas meja, lalu membawanya. Sepanjang jalan, Belle masih memikirkan Marlon dan memaki pria itu di dalam hati.

Belle meringis manakala menyadari telah menabrak seseorang, dia mundur seraya berdoa dalam hati supaya orang itu tidak memarahinya. Dengan perlahan, Belle mengangkat kepalanya. Matanya membeliak kala melihat orang yang berada di hadapannya. Si lelaki tua jelmaan Tarzan tengah tersenyum lebar padanya. Marlon? Belum sempat Belle mengelak maupun berteriak, Marlon dengan sigap menarik tangannya. Melewati para mahasiswa tanpa rasa canggung.

"Paman, aku masih ada kelas. Kau mau membawaku ke mana?" tanya Belle. Ia kerap kali kesandung kakinya sendiri, karena berusaha mengimbangi langkah Marlon yang lebar.

"Panggil aku Marlon, aku bukan pamanmu."

"Tapi ..."

"Hari ini kau bolos saja. Aku ingin membawamu menemui ibuku." Marlon memotong cepat, tidak memberi Belle kesempatan berbicara.

"Hah?" Belle melongo sambil menatap sisi wajah Marlon yang ditumbuhi rambut tebal, kemudian bergidik. "Paman tidak bisa seenaknya begitu padaku! Aku tidak mau!"

Terserah Belle mau berkata apa. Karena sekalipun Belle menolak, niat Marlon sudah bulat dan tidak akan melepaskan. Usianya tidak lagi muda. Maka, begitu menemukan gadis yang telah membuat hatinya bergetar hebat, Marlon bersikeras menikahinya.

"Besok atau mungkin sepulang dari rumah orang tuaku, aku akan menemui orang tuamu untuk meminta doa restu."

"Aku harus menemui orang tuamu, kau menemui orang tuaku dan meminta doa restu. Itu semua untuk apa, Paman? Aku tidak mengerti kenapa kau melakukan ini."

"Kita akan menikah."

"APA? MENIKAH?"

Spontan Belle menggeleng keras, tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Rasanya dia hanya ingin menangis ketika Marlon mendorong tubuhnya ke dalam mobil. Belle berusaha lepas dari Marlon. Ia memukul Marlon tapi sepertinya pria itu tak merasakan sakit sama sekali.

"Paman lepaskan aku! Aku tidak mau menikah denganmu, lelaki tua."

Marlon terlihat sedikit kesal. "Diam atau aku akan menciummu di hadapan semua orang!"

Mendengar ancaman itu, Belle mengatupkan mulut. Memilih mengikuti langkah Marlon untuk memasuki mobilnya. Sejujurnya, Belle sangat ingin berteriak, tapi ancaman Marlon nyatanya lebih menyeramkan dari kutukan.

Setelah memasang seatbelt pada tubuh Belle dan memastikan bahwa wanita itu tidak kabur, Marlon segera melajukan mobilnya. Menembus jalanan menuju kediaman Exietera, di mana Marlon diasuh dan tumbuh menjadi lelaki kekar idaman semua wanita.

"Ka-u benar-benar ingin menikahiku?" Suara Belle bergetar, menahan diri untuk tidak menangis.

"Siapa lagi?" tanya Marlon balik.

"Kenapa harus aku?" Dengan memberanikan diri Belle menatap Marlon, meski kulit wajahnya sudah seputih kapas.

Marlon menoleh sekilas, tak ayal bibir penuhnya mengukir seringai nakal. "Karena ... kau membuat hatiku bergetar, Bell."

Kening gadis itu mengerut sesaat mendengar suara serak Marlon menyebut nama singkatnya. Belle masih menatap sisi wajah Marlon dalam diam, memerhatikannya dengan saksama. Apa Marlon menyukai dirinya?

"Kau menyukaiku"

Sontak, Marlon terdiam. Tangan yang semula giat mengetuk-ngetuk stir, kini membatu seperti patung. Tak berselang lama Marlon menoleh lagi, untuk menatap wajah bingung Belle. Di mata Marlon, wanita itu tampak seperti boneka barbie. Ah! Marlon jadi ingin cepat-cepat menikahi Chambell, dia begitu lucu saat memikirkan ucapannya barusan. Seperti tidak menyangka.

"Hmm, iya. Mungkin aku jatuh cinta." Marlon menjawab lambat. Ia tahu jawabannya tak menyakinkan sama sekali tapi cukup membuat wajah Belle menegang, semakin ketakukan.

Belle mengamati Marlon dari samping dengan perasaan takut. Sebelumnya ia tidak pernah jatuh cinta, tidak berpacaran, dan tidak berpikir akan menikah. Apa pamannya Rose sedang bercanda? Dengan pemikiran seperti itu jantung Belle berdetak dua kali, wajahnya memucat saat membayangkan pernikahan. Marlon sebenarnya ingin terus menatao wajah menggemaskan itu tapi ia terpaksa mengalihkan pandangannya dan fokus menyetir. Ia tidak mau membuat mereka berdua celaka.

"Kau takut padaku?"

"Bagaimana bisa kau menyukaiku?" tanyanya tidak mengerti dengan pengakuan pria itu. Mereka baru sekali bertemu, bahkan tidak saling mengebal, rasanya sangatlah janggal.

"Sejujurnya aku sendiri tidak tahu kenapa, aku juga bingung. Yang kutahu, hatiku bergetar saat pertama kali melihatmu bahkan sampai detik ini."

Marlon jadi ikut terbawa suasana, perasaannya membuncah. Ia menyapu rambut gondrongnya beberapa kali, sebelum menarik hidung mungil Belle dengan gemas.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A-PD170
8.1
Winnie harus menelan pil pahit saat Jako membatalkan pertunangan mereka di depan umum, tepat ketika keluarganya jatuh miskin. Terdesak oleh keadaan, ia nekat mengaku tengah mengandung anak Dion, paman Jako yang sangat berpengaruh. Tak disangka, Dion justru menerima klaim tersebut dan mengajaknya bekerja sama. Dimulailah pernikahan kontrak yang penuh dengan intrik, perhitungan matang, serta kesalahpahaman rumit yang menjerat perasaan mereka berdua.
Sampul Novel Berbagi suami
8.7
Demi kemanusiaan, Sofia Marwah dengan tulus merelakan suaminya, Nizam, untuk menikahi Nurmala. Sahabatnya itu kini lumpuh dan sebatang kara setelah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nizam sendiri terikat janji pada almarhum sahabatnya untuk melindungi Nurmala. Di tengah pengorbanan besar ini, Sofia harus berjuang menghadapi realitas poligami. Akankah ketulusannya berbuah kebahagiaan sejati, atau justru pengkhianatan pahit yang menantinya di masa depan?
Sampul Novel Cinta yang dinantikan
9.2
Hidup Anggun Nirmala hancur saat sang ayah menjadikannya jaminan untuk melunasi hutang. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius muncul menyelamatkannya dari nasib buruk. Merasa berhutang budi, Anggun bersumpah akan melakukan apa pun demi membalas kebaikan penyelamat yang tak ia kenal itu. Namun, komitmen tersebut langsung diuji saat sang pria mengajukan satu permintaan tak terduga yang membuat Anggun terdiam seribu bahasa. Akankah ia sanggup memenuhinya?
Sampul Novel Cinta yang Tersulut Kembali
8.0
Pasca persalinan tragis yang hampir merenggut nyawanya, Selina memilih menghilang demi melindungi anak-anaknya dari Raditia yang menuntut hak asuh. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Raditia yang hancur oleh kabar kematian palsu Selina di masa lalu, kini berupaya keras mengejarnya meski Selina telah memiliki kehidupan baru. Di tengah luka lama dan keributan yang dipicu Raditia, Selina harus memilih antara memaafkan atau terus melangkah.
Sampul Novel CUKUP SETAHUN AKU DI SISIMU, MAS
9.0
Menjalani peran sebagai istri kedua di bawah bayang-bayang pernikahan siri bukanlah hal mudah. Namun, segalanya menjadi rumit saat aku menyadari bahwa istri pertama suamiku adalah sahabat karibku sendiri. Terjebak dalam rahasia besar ini, aku memilih untuk bermain cantik dan menyembunyikan identitas asliku demi bertahan di sisinya. Dalam waktu setahun yang penuh drama dan kepura-puraan, mampukah aku menjaga rahasia ini tanpa menghancurkan persahabatan kami?
Sampul Novel Dangerous Touch (Sentuhan Berbahaya)
9.7
Pasca kehilangan ibu dan kakaknya, Isabel menjalani hidup yang penuh duka. Beban sebagai Putri Mahkota terasa kian menyesakkan tanpa keluarga di sisinya. Namun, takdir mempertemukannya dengan Joseph, seorang miliarder playboy yang terbiasa hidup mewah. Pertemuan tersebut memicu gairah membara di antara keduanya. Meski ketertarikan mereka begitu kuat, jalan menuju kebahagiaan terhalang rintangan besar. Mereka dipaksa berjuang melawan badai masalah yang mengancam hubungan tersebut.