Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Will Never Say Good Bye

Will Never Say Good Bye

Demi menyelamatkan diri dari niat bejat ayah tirinya, Yoan nekat melarikan diri hingga takdir mempertemukannya dengan Kenzo. Awalnya, hidup Yoan terasa jauh lebih tenang dan penuh kebahagiaan di samping pria itu. Namun, rasa aman tersebut rupanya tidak bertahan lama. Di saat cinta membutuhkan fondasi kepercayaan yang kuat, Yoan justru dihadapkan pada krisis batin yang hebat. Keadaan menjadi rumit ketika ia mulai kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Berhasil menghindari orang-orang suruhan Barra membuat Yoan merasa sangat kelelahan. Yoan hanya butuh tempat untuk bersembunyi dan menumpang duduk sebentar saja di dalam cafe.

Lagi pula, Yoan tidak membawa uang saat kabur tadi. Lebih tepatnya, Yoan tidak membawa apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuhnya.

“T-tidak perlu repot, Tuan. Saya hanya sebentar saja,” ujar Yoan merasa tidak enak hati. Sesekali pandangannya terarah ke jalanan, memperhatikan orang-orang suruhan Barra yang masih terus berlari. Jelas mereka tidak berhasil menemukannya dan itu membuat Yoan merasa lega.

“Jangan salah sangka! Aku hanya tidak ingin mendengar keributan,” jawab Kenzo. Nada suaranya terdengar begitu datar.

“Oh,” sahut Yoan ragu. Netranya melihat ke arah pemilik cafe dan Kenzo bergantian.

“Apa yang ingin kamu pesan, Nona?” tanya seorang pemilik cafe itu tidak sabar.

“Segelas air dingin,” jawab Yoan menentukan pilihan.

Dengan seringai mengejek, seorang pemilik cafe itu berlalu untuk menyiapkan pesanan.

“Kamu tidak ingin minum jus?” tanya Kenzo menawarkan.

“Itu sudah cukup, Tuan. Setidaknya saya bisa minum dan tidak diusir,” jawab Yoan sambil meringis.

Kenzo hanya mengangguk samar sebagai respons.

Tak lama kemudian, seorang pemilik cafe kembali untuk menyajikan segelas air dingin untuk Yoan dan secangkir kopi hangat untuk Kenzo.

“Terima kasih,” ucap Yoan pelan.

Kenzo memperhatikan gadis itu sejenak, lalu menyeruput minumannya.

“Kamu kabur dari rumah?” tanya Kenzo.

Deg!

Pertanyaan yang tepat sasaran. Apa penampilan Yoan memperlihatkan dengan jelas kalau dia sedang kabur dari rumah?

Tidak tidak … laki-laki ini tidak boleh tahu masalah yang sedang dia hadapi. Yoan tidak mau kembali ke rumah orang tua angkatnya.

“Tidak,” jawab Yoan singkat.

Kenzo kembali menyeruput kopi tanpa memberikan respons.

Sesekali Yoan melirik ke arah Kenzo dengan kedua tangan yang memegang gelas berisi air dingin.

Tampan!

Mau dilihat dari sisi mana pun, Kenzo terlihat sangat tampan dan kaya. Ah, benar … mendadak Yoan memiliki ide.

“Saya membutuhkan pekerjaan,” ujar Yoan memberanikan diri.

Merasa diajak bicara, Kenzo menoleh ke arah Yoan dengan raut wajah bertanya-tanya, “Ya?“

“Saya membutuhkan pekerjaan. Apa Tuan bisa membantu?” Yoan mengulangi pertanyannya.

“Apa keahlianmu?” tanya Kenzo.

“Eee, itu … saya baru saja lulus kuliah,” jawab Yoan sedikit gugup.

Bagaimana ini? Yoan baru sadar kalau dia membutuhkan ijazah untuk melamar pekerjaan.

“Kamu bisa bekerja di perusahaan atau menjadi pelayan di mansion milikku,” ujar Kenzo.

“Pelayan di mansion?” Yoan mengulangi perkataan Kenzo.

“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Kenzo.

Yoan menggeleng cepat.

Tidak, Yoan tidak sedang berpikir tentang tinggi atau rendahnya suatu pekerjaan. Dia justru merasa alam semesta sedang berpihak padanya.

“Apa saja fasilitas yang bisa saya peroleh dengan menjadi seorang pelayan?” tanya Yoan berbinar.

“Kamu akan tinggal di mansion dan mendapatkan makan sebanyak tiga kali dalam sehari,” jawab Kenzo.

“Itu semua di luar gaji yang saya terima setiap bulan, bukan?” tanya Yoan lagi. Dia hanya ingin memastikan saja.

“Benar. Selain itu, kamu bisa bertanya secara detail pada kepala pelayan setelah tiba di mansion nanti,” jawab Kenzo.

“Baik. Saya mau bekerja sebagai pelayan di mansion,” ujar Yoan mantap.

“Apa kamu tidak berminat memanfaatkan gelar sarjanamu untuk menjadi seorang karyawan di kantorku?” tanya Kenzo. Terlihat pemuda itu mengernyit keheranan.

“Bisa mendapatkan pekerjaan dalam waktu singkat saja sudah membuat saya sangat bersyukur,” jawab Yoan sambil tersenyum sangat lebar.

“Kapan kamu bisa mulai bekerja?” tanya Kenzo.

“Sekarang juga,” jawab Yoan cepat.

“Silakan kamu memberi tahu keluargamu terlebih dahulu! Sebab sepengetahuanku, menjadi pelayan di mansion tidak bisa sembarangan keluar dan masuk.” Kenzo kembali berkata.

“Saya tidak memiliki keluarga,” jawab Yoan. Suaranya terdengar melirih.

“Kamu tidak memiliki saudara?” tanya Kenzo lagi. Gadis ini benar-benar membuatnya terheran-heran.

“Saya hidup sebatang kara,” jawab Yoan. Kini raut wajahnya terlihat sangat sedih.

Padahal dulu Yoan merasa bangga bisa memiliki Barra dan Ayara yang sudah dianggapnya sebagai orang tua kandung. Bagaimana bisa keadaan tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat?

“Berarti kamu sama sepertiku,” gumam Kenzo sangat pelan.

“Apa Tuan percaya pada cerita saya?” tanya Yoan yang tidak mendengar perkataan Kenzo. Mendadak Yoan merasa sedikit khawatir.

“Apa aku punya alasan untuk tidak percaya?” Bukannya menjawab, Kenzo justru balik bertanya.

“Entahlah,” jawab Yoan pelan.

Dulu Ayara selalu mengingatkan Yoan bahwa di dunia ini hanya sedikit orang saja yang bisa dipercaya. Sekarang Yoan baru sadar, orang lain bisa saja tidak memercayainya.

Apalagi dengan penampilan yang berantakan dan tidak memiliki apa pun, Yoan bisa dicurigai sebagai seorang penipu.

Meskipun demikian, Kenzo yang tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan Yoan, tetap memilih untuk percaya dan berniat untuk membantunya.

“Aku akan membayar minuman ini terlebih dahulu,” ujar Kenzo.

Tanpa menunggu jawaban Yoan, Kenzo segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke kasir.

“Zaman sekarang banyak penipu. Jangan terlalu baik dengan wanita yang baru dikenal!” Seorang pemilik cafe itu berkata pada Kenzo.

Walaupun Kenzo tidak merespons, tetapi Yoan yang mendengarnya merasa tidak enak hati. Ternyata seperti ini rasanya dianggap rendah oleh orang lain.

Selama tinggal bersama Barra dan Ayara, Yoan selalu hidup berkecukupan. Tidak ada seorang pun yang berani merendahkan Yoan karena posisi Barra sebagai seorang presiden direktur di sebuah perusahaan keluarga.

Kini sudah waktunya Yoan mengingat akan jati dirinya sebagai seorang yatim piatu. Sejak lahir Yoan bukan siapa-siapa.

Yoan tidak ingin mendengar lebih banyak lagi perkataan sang pemilik cafe. Lebih baik dia segera keluar dan menunggu di luar cafe.

Dengan sangat hati-hati dan tanpa suara, Yoan berjalan keluar. Yoan lantas berdiri di depan pintu untuk menunggu Kenzo. Yoan meremat-remat ujung bajunya sambil mengedarkan pandang.

Namun, baru saja Yoan melihat ke arah pukul dua, dia melihat salah seorang anak buah Barra.

“Aduh, gawat!” gumam Yoan dengan mata membola. Seketika Yoan kembali masuk ke dalam cafe dan … bruk!

“Ouch!”

Yoan menabrak Kenzo yang ternyata sudah berjalan keluar dari cafe.

“Maaf … saya minta maaf, Tuan. Saya tidak sengaja,” ucap Yoan sambil berusaha mendorong Kenzo agar masuk kembali ke dalam cafe.

“Hei, kita sudah selesai dan aku mau mengantarmu ke mansion sekarang,” ujar Kenzo.

“M-maaf, Tuan. Saya hanya perlu memeriksa, barangkali ada barang-barang Tuan yang tertinggal,” jawab Yoan. Di dalam hati, Yoan merutuki dirinya yang begitu bodoh. Jawaban macam apa itu?

“Tidak ada barang yang—“

Kenzo menghentikan perkataannya dan melihat orang-orang Barra yang melihat ke arah mereka. Firasatnya berkata, orang-orang itu sedang mengincar gadis yang berada di dalam pelukannya ini.

Benar, posisi Kenzo dan Yoan saat ini memang seperti pasangan yang sedang berpelukan. 

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Yang Penuh Rahasia
8.0
Risa jatuh hati pada Bima, dosen mudanya, meski hubungan itu tabu. Saat mereka dijodohkan, Risa merasa mimpinya terwujud, namun Bima justru menyimpan rahasia kelam di balik senyumnya. Begitu kebenaran pahit terungkap, hati Risa hancur hingga ia berubah menjadi sosok pendiam. Ia pun memilih pergi menghilang tanpa jejak. Kepergian Risa meninggalkan luka dalam bagi Bima, yang akhirnya terjebak dalam penyesalan tanpa akhir selama bertahun-tahun lamanya.
Sampul Novel Dilepas Manajer, Didekap CEO Kaya
9.6
Lima tahun membina rumah tangga dengan Reynald tak membuat Riana bahagia. Alih-alih cinta, ia justru terjebak dalam lingkaran KDRT dan tekanan dari Mayang, ibu mertuanya yang membenci Riana karena belum juga memiliki keturunan. Penderitaannya mencapai puncak saat kehadiran wanita lain merusak pernikahan mereka. Merasa lelah dengan segala pengkhianatan dan kekerasan yang dialaminya, Riana akhirnya mengambil langkah tegas untuk mundur dan pergi.
Sampul Novel Gairah
8.4
Banyak yang menganggap bahwa jatuh cinta adalah pengalaman yang sangat indah. Namun, apakah perasaan itu akan tetap terasa manis jika hati tertambat pada sosok yang sudah menjadi milik orang lain? Situasi menjadi semakin rumit ketika orang tersebut adalah pasangan dari sosok yang sangat kita sayangi. Kisah romansa dewasa ini mengeksplorasi konflik batin dan gairah terlarang yang menguji kesetiaan serta nurani dalam sebuah hubungan yang sangat rumit.
Sampul Novel GAIRAH CINTA CEO DINGIN
8.8
Karin Arvantie merasa canggung saat wawancara kerja di Atmaja Corp karena tatapan intens sang CEO, Ryan Atmaja. Meski Ryan merasa pernah bertemu dengannya, Karin justru memberikan jawaban diplomatis. Namun, pesona pria bermata hitam itu memicu gejolak emosi yang sulit diredam. Kini, Karin terjebak dalam dilema antara menjaga profesionalisme atau terhanyut dalam ketertarikan yang membara. Mampukah hubungan mereka tetap sebatas atasan dan bawahan saja?
Sampul Novel Hidden Baby Girl
9.1
Laras memutuskan pergi menjauh saat David menyuruhnya melenyapkan janin di rahimnya. Namun, pelarian itu tak lantas membawa ketenangan karena bayangan masa lalu terus mengejarnya. Bertahun-tahun berlalu, takdir justru mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang telah berubah total. Akankah mereka memilih bersatu demi sang buah hati, atau justru tetap pada jalan masing-masing meski benih cinta sebenarnya masih tersimpan rapat di dalam lubuk hati mereka?
Sampul Novel KENIKMATAN SELINGKUH
8.7
Arsyla yang berusia 23 tahun menjalani biduk rumah tangga bersama Edi, pria yang tiga tahun lebih tua darinya. Meski dua tahun menikah tanpa anak, mereka tetap tenang demi fokus menata finansial. Edi bekerja sebagai OB dengan upah terbatas, apalagi ia harus membiayai sekolah adik-adik yatimnya. Arsyla dengan tulus menerima kondisi tersebut. Suatu sore, Edi kembali ke kontrakan sederhana mereka setelah lelah bekerja demi menyambung hidup keluarga.