
Will Never Say Good Bye
Bab 3
Siapa gadis ini sebenarnya? Mengapa orang-orang itu mengejarnya? Apa Kenzo harus melindunginya? Berada di posisi yang sangat dekat membuat Kenzo dapat merasakan tubuh Yoan yang bergetar sangat hebat.
“Tuan, silakan masuk ke dalam mobil!” ujar Raka. Tangan kanan Kenzo ini datang tepat waktu.
“Tetaplah berada di posisimu yang seperti ini dan bergeraklah seirama dengan langkahku!” titah Kenzo.
“I-iya,” sahut Yoan patuh.
Ketika Raka hendak menarik Yoan, Kenzo segera memberi tanda agar Raka tetap tenang dan melindungi mereka.
Kenzo lantas memeluk Yoan dan membawanya masuk ke dalam mobil.
“Sudah aman, tetapi sebaiknya kamu tetap menunduk!” ujar Kenzo.
Yoan bisa bernapas lega sekarang, tetapi dia takut Kenzo akan membatalkan niat untuk memberinya pekerjaan.
Ah, kenapa orang-orang suruhan Barra itu masih saja berkeliaran di dekat cafe? Bukankah tadi mereka seharusnya sudah pergi? Bagaimana kalau mereka mengikuti mobil milik Kenzo? Apa yang harus dikatakan Yoan pada Kenzo? Yoan tidak ingin kembali ke rumah Barra.
Kenzo menoleh ke belakang sejenak sebelum melirik ke arah Yoan yang masih setia menunduk.
“Duduklah dengan baik! Sekarang sudah aman,” ujar Kenzo pelan.
Perlahan Yoan mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Kenzo. Lalu, dia bertanya, “Benarkah?”
Kenzo hanya mengangguk sebagai respons.
Yoan segera duduk dengan benar dan merapikan rambut serta pakaiannya.
“Maafkan saya, Tuan. Itu tadi—“
“Kita langsung pulang ke mansion,” titah Kenzo. Lebih tepatnya, saat ini Kenzo sedang bicara dengan Raka dan Suparmin, supir pribadinya.
“Baik, Tuan,” sahut Raka.
“M-maaf, T-tuan. A- apa s-saya masih boleh bekerja sebagai pelayan di mansion?” tanya Yoan. Dia merasa sangat gugup dan khawatir.
“Bukankah kamu sudah memilih untuk bekerja di mansion?” jawab Kenzo sambil menampilkan raut wajah yang bertanya-tanya.
“Iya, benar,” sahut Yoan pelan. Diam-diam Yoan menghela napas lega. Rupanya Kenzo tidak berubah pikiran.
Di sepanjang perjalanan, sesekali Kenzo memperhatikan Yoan sambil memikirkan sesuatu. Sedangkan Yoan yang merasa diperhatikan justru menjadi salah tingkah dan memilih untuk melihat ke arah luar jendela.
Yoan hanya berharap, keputusannya untuk ikut Kenzo ini tidak salah. Dia harus bekerja agar memiliki uang dan bisa hidup mandiri.
Sementara Kenzo sendiri juga berharap, keputusannya untuk membantu Yoan itu tidak salah. Firasatnya harus benar.
Beberapa saat kemudian, kendaraan masuk melewati pintu gerbang mansion.
Yoan yang masih pada posisinya menatap ke arah luar jendela mobil, melihat mansion dengan berbinar. Mansion ini mirip seperti hotel bintang lima. Ralat! Mungkin Yoan terkesan terlalu berlebihan. Mansion ini ukurannya tidak sebesar hotel bintang lima. Namun, untuk ukuran tempat tinggal ini termasuk sangat luas dan sangat mewah.
Apa masih terlalu dini kalau Yoan merasa bersyukur bisa bekerja di sini? Ini tempat kerja yang sangat bagus.
Suara pintu mobil yang ditutup membuat Yoan terkesiap.
Ah, rupanya Yoan terlalu mengagumi mansion sehingga tidak sadar kalau Kenzo sudah turun dari mobil.
Tanpa berpikir lebih lama, Yoan bergegas keluar dari mobil dan melangkah mengikuti Kenzo. Hingga mereka tiba di ruang tengah.
“Tolong panggil kepala pelayan!” titah Kenzo pada Raka sambil melirik ke arah Yoan yang masih menunduk.
“Baik, Tuan,” sahut Raka.
Tidak membutuhkan waktu lama, Raka sudah kembali bersama Hena, kepala pelayan.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Hena.
“Gadis ini ….” Kenzo menatap ke arah Yoan dengan raut wajah bertanya-tanya. Dia baru ingat kalau mereka belum berkenalan.
“Perkenalkan, nama saya Yoan,” ujar gadis itu sambil membungkuk.
“Benar, namanya Yoan. Aku baru saja menerimanya sebagai pelayan di mansion. Mohon agar membimbingnya,” lanjut Kenzo.
“Baik, Tuan,” sahut Hena.
“Hena adalah kepala pelayan di sini. Kamu bisa bertanya perihal pekerjaan di mansion ini dengannya,” ujar Kenzo. Tatapannya beralih pada Yoan.
“Baik, Tuan,” sahut Yoan.
Kenzo mengangguk samar sebagai tanda kalau dia sudah selesai bicara.
“Mari ikut saya, Yoan,” ajak Hena.
“Terima kasih banyak untuk bantuannya, Tuan,” ucap Yoan sambil membungkuk untuk menghormati.
Yoan lantas berjalan mengikuti Hena melewati lorong, menuju ke sebuah ruangan.
“Ini ruangan yang bisa kamu gunakan untuk beristirahat,” ujar Hena memberi tahu.
Yoan mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan itu sambil bergumam, “Ini kamarku?”
“Benar. Ini kamar kamu,” jawab Hena.
“Baik,” sahut Yoan sambil menatap kagum ruangan itu. Ini melebihi harapannya.
“Dalam satu bulan para pelayan akan mendapat libur sebanyak dua hari. Kalian boleh pulang ke rumah untuk bertemu dengan keluarga. Tentu saja itu boleh dilakukan secara bergantian.” Hena melanjutkan penjelasannya.
“M-maaf, seandainya saya tidak menggunakan hari libur—“
“Kamu bisa mengumpulkan hari libur dalam satu tahun dan menggunakannya sekaligus,” tambah Hena.
“Ah, begitu rupanya. Akan tetapi, apa tidak masalah kalau aku tidak menggunakan hari libur itu?” tanya Yoan.
Pertanyaan Yoan membuat Hena praktis mengernyit.
“Kamu tidak berniat menggunakan hari libur?” jawab Hena dengan nada bertanya.
“Maksud saya … apa saya harus pulang menemui keluarga? B-bagaimana seandainya saya tetap tinggal di mansion?” Yoan memperjelas pertanyaannya.
“Itu tidak masalah,” jawab Hena.
“Baik,” sahut Yoan. Tanpa sepengetahuan Hena, Yoan menghembuskan napas lega.
“Apa kamu punya nomor rekening?” tanya Hena.
“Maaf, saya tidak punya,” jawab Yoan sambil menunduk.
“Baik, kalau begitu upah yang kamu terima tidak bisa dikirimkan melalui rekening,” ujar Hena.
“Tidak apa-apa. Saya bisa menerimanya secara langsung,” jawab Yoan.
“Jika ada kesempatan, bukalah rekening! Itu akan lebih memudahkan,” tutur Hena.
“Baik, Bu,” sahut Yoan. Setidaknya dia bisa merasa lega untuk saat ini.
“Dapur adalah salah satu tempat yang harus dijaga kebersihannya. Itu sebabnya, pelayan di mansion tidak diizinkan masuk ke dalam dapur. Apa kamu mengerti?” Hena menerangkan.
“Baik, saya mengerti,” jawab Yoan.
“Hari ini saya akan menjelaskan semuanya. Besok kamu baru mulai bekerja,” lanjut Hena.
“Baik, Bu,” sahut Yoan.
Yoan lantas berjalan mengikuti Hena dan mengingat baik-baik semua penjelasannya.
***
Sementara itu di ruang kerjanya yang ada di mansion, Kenzo tidak bisa berhenti memikirkan Yoan.
Tidak tidak … Kenzo tidak sedang jatuh cinta. Gadis yang baru ditemuinya itu hanya berhasil mencuri perhatiannya saja.
Kenzo yakin kalau Yoan sedang menghadapi masalah. Akan tetapi, untuk menghargai privasinya, Kenzo tidak mungkin bertanya secara langsung pada Yoan. Mereka baru saja bertemu.
“Jadi, namanya Yoan,” gumam Kenzo pelan.
“Bagaimana, Tuan?“ tanya Raka.
Mendengar suara Raka, tiba-tiba Kenzo memiliki ide. Ah, benar! Daripada merasa penasaran sendiri, sebaiknya Kenzo mencari tahu.
“Raka, aku memiliki tugas untukmu, tetapi kamu harus merahasiakannya,” ujar Kenzo.
“Apa yang bisa saya lakukan, Tuan?” tanya Raka.
“Tolong cari tahu tentang gadis itu!” titah Kenzo.
“Maaf, apa gadis yang Tuan maksud itu Yoan, pelayan baru itu?” tanya Raka.
“Benar,” jawab Kenzo.
Anda Mungkin Juga Suka





