
Wilhem Village
Bab 2
Percakapan dua penghuni kos itu membuat Ilya ke pikiran semalaman, hingga dirinya tidak bisa tidur. Ilya berniat menanyakan kepada penghuni sekitar, tapi Ilya belum mengenal mereka. Tiba-tiba, Ilya ingat Mira sudah tiga bulan bekerja di perusahaan sebelum dirinya. Maka Ilya menganggap, Mira pasti mengetahui soal Rupert, dan sejarah tentang vampir itu.
Esok harinya Ilya menghubungi Mira, untuk mampir ke kamar kosnya.
Beberapa jam kemudian, Mira datang mengunjungi Ilya. Namun Ilya agak terkejut, karena penampilan Mira agak berbeda dari yang biasanya. Mira terlihat kusut, dan pucat. Melihat Mira, membuat Ilya semakin yakin soal Rupert.
“Mira, apa kau tahu? Hari ini aku mendengar, ada orang yang meninggal di kos ini tiga minggu lalu. Nama korban itu Rupert, bukankah dia adalah orang yang bekerja di perusahaan tempat kita bekerja sekarang?” Ilya memperhatikan ekspresi Mira yang berubah begitu mendengar nama Rupert.
“Bagaimana kau tahu soal Rupert? Apa kau mengenalnya? Apa kalian pernah bertemu?” Mira menggebu-gebu.
Perkataan Mira baru saja membuat Ilya yakin, bahwa Rupert yang meninggal tiga minggu lalu adalah Rupert yang ia dengar waktu itu. Itu berarti, Mira mengenal Rupert, karena mereka bekerja di perusahaan yang sama.
Tetapi Ilya merasa kecewa, kenapa Mira diam saja, dan tidak memberitahukan dirinya soal Rupert? Padahal Ilya, dan Mira masih sering bicara satu sama lain.
“Kenapa kau tidak mengatakan soal Rupert?”
Namun Mira tidak menjawab dan malah berbalik bertanya pada Ilya. Mira terlihat sedikit terkejut, dan tampak kesal. “Apa? Jangan bilang kau menyesal akan bekerja di sini? Jika kuberitahu, apa kau akan menolak tawarannya?”
Keduanya pun bertengkar, Ilya tidak percaya Mira begitu egois pada dirinya. Mira hanya mementingkan dirinya sendiri, dan tidak mengkhawatirkan Ilya sama sekali. Sebagai seorang teman, Ilya menganggap Mira seharusnya malah yang melarangnya bekerja di tempat itu, paling tidak memberitahukannya soal kematian Rupert.
Pada akhirnya, Mira berujung meminta maaf, dan menangis kepada Ilya. Mira meminta Ilya agar tetap bekerja bersamanya, dan tidak pergi dari Kota Wilhem.
“Maafkan aku Ilya, tapi aku takut kau tidak akan bekerja di sini, jika kau mengetahui beritanya... Aku sangat takut!! Terserah jika kau mau bilang aku egois!!! Tapi aku tidak bisa... Rasanya aku tidak punya siapa-siapa, aku takut... La-lagi pula meskipun pembunuhnya belum ditemukan, tapi asal kita waspada, tidak sendirian keluar di malam hari, maka akan baik-baik saja kan?” Mira mengucapkan dengan suara bergetar.
Ilya menghela napasnya... Ilya berpikir seandalnya Mira memberitahukan soal Rupert sebelum dirinya menandatangani kontrak kerja, apakah Ilya akan menolak tawaran untuk bekerja di perusahaan? Ilya mengingat Vincent.
Padahal bukan hanya karena membutuhkan pekerjaan, alasan utama Ilya menerima tawaran pekerjaan ini adalah karena dia bertemu dengan Vincent, orang yang sangat mirip dengan Elias.
Ilya terdiam tidak menjawab, melihat Mira menangis, membuat Ilya menjadi tidak tega. Pada akhirnya mereka berdua berbaikan. Meski begitu, Ilya terlanjur kehilangan kepercayaan pada Mira. Padahal Ilya menganggap Mira selama ini sebagai temannya. Ilya bahkan ingin menceritakan soal Vincent yang mirip dengan Elias, namun Ilya mengurungkan niatnya.
****
Seminggu kemudian, Ilya masuk kerja untuk pertama kalinya di perusahaan. Tidak disangka Ilya bertemu dengan Lyra, mereka berdua tinggal di tempat kos yang sama, bahkan kamar kos mereka bersebelahan. Lyra adalah rekan kerja senior di tim data analis yang sudah bekerja hampir setahun. Keduanya jadi lebih dekat, terutama karena Ilya adalah pengganti Lyra nantinya.
Ilya tidak menyangka, ia harus belajar semuanya, mulai dari report, pendaftaran barang baru, dari Lyra hanya dalam satu minggu. Bahkan karena terlalu sibuk, Ilya tidak punya kesempatan melihat Vincent.
Akhirnya hari terakhir Lyra bekerja di perusahaan pun tiba juga. Meskipun pertemuan Ilya dengan Lyra begitu singkat. Namun karena Lyra orang yang sangat ramah, Ilya merasa sedikit kesepian melihat rekannya itu berpamitan pada karyawan lain.
Semua karyawan bertepuk tangan, dan satu per satu mengambil donat yang Lyra bawa.
Di jam 6 sore, setelah satu tim foto bersama, Ilya dan anggota tim yang lain pulang ke rumah masing-masing.
“Ilya, kau pulang duluan ya, aku masih mau bertemu dengan manajer. Aku akan pulang dengannya,” ucap Lyra.
Ilya mengangguk, dan berjalan ke luar kantor. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, kemudian terbuka dari jendela, terlihat Vincent di kursi kemudi mobil.
“Ilya! Kau pulang sendirian? Tumben, bareng aku saja. Ayo aku antar pulang, sudah sore!”
Seminggu ini, Ilya biasanya pulang bersama Lyra.
“Eh tapi..” Ilya sedikit ragu, tentu saja ia ingin diantar pulang Vincent, tetapi Ilya mengkhawatirkan Jika karyawan lain yang melihatnya pulang bersama bos...
“Apa kau mau dibukakan pintunya?” tanya Vincent lagi.
“Eh??” Ilya pun langsung membuka pintu mobil, dan duduk.
Padahal hanya diantar pulang, tapi kenapa perasaan Ilya begini? Ilya merasa begitu senang dengan hanya diantarkan Vincent.
Sekitar jam 8 malam, Ilya menyadari kalau handphone miliknya tertinggal di kantor. Ilya berniat mengambil ponselnya. Agar lebih cepat sampai, Ilya berniat meminjam sepeda milik Lyra. Namun Ilya heran, mengingat sudah malam begini, kamar kos Lyra masih gelap, dan tidak ada sandal di luar pintu kamarnya. Akhirnya Ilya meminjam pada penghuni kos lain.
“Apa mereka berdua kencan sampai larut malam?” Pikir Ilya tersenyum membayangkan Lyra, dan manajer Edmond.
Kantor masih terang, namun Ilya tidak mendapati ada satpam sama sekali. llya pun bergegas masuk, mengambil ponselnya begitu tiba. Namun Ilya melihat kardus berisi barang Lyra masih ada di mejanya. Ilya bertanya-tanya, apakah Lyra masih ada di kantor?
Bukankah Lyra bilang akan menemui Edmond? Ilya yang penasaran lalu pergi ke ruangan Edmond. Ilya berjalan pelan-pelan berharap mereka berdua tidak menyadari kedatangannya. Ilya tidak habis pikir, kenapa keduanya berpacaran di kantor? Dan apa karena itu, manajer menyuruh satpam pulang?
“Huh?” Dari kejauhan Ilya melihat seorang pria tinggi berambut putih dari belakang tengah memeluk seorang wanita.
“Deg..” Ilya cemas, apakah mungkin itu Vincent? Merasa tidak percaya, Ilya mendekat. Seiring Ilya berjalan ke Ruangan Edmond, Ilya melihat sesuatu yang ada di luar nalarnya.
Ruangan Manajer, maupun ruangan bekerja lain, semua punya jendela yang transparan. Sehingga Ilya dapat melihatnya dengan jelas.
Ilya berusaha tidak berteriak, ia menutup mulutnya rapat-rapat. Matanya terpaku melihat leher seorang wanita berambut panjang hitam, mengeluarkan darah yang mengalir turun. Mata hitam perempuan itu memancarkan cahaya yang redup, seperti tidak ada kehidupan. Wajah panjang wanita itu putih pucat, tidak bergeming sama sekali, meski wanita itu seharusnya melihat Ilya.
“Lyra... bagaimana bisa? Kenapa bisa begini?” Dalam benak Ilya.
Ilya membayangkan wanita ramah nan ceria itu, kini hanya diam digigit oleh seorang pria.
Ilya tidak mengenali pria itu, sekilas terlihat seperti Vincent, tapi tubuhnya berbeda. Sayangnya, karena posisi pria itu membelakangi Ilya, sehingga Ilya tidak bisa melihat wajah pria itu. Ilya tidak percaya itu Vincent, tapi tidak ada orang lain di kantor yang berambut putih.
Anda Mungkin Juga Suka





