
Wilhem Village
Bab 3
Tubuh Ilya gemetaran, kakinya lemas, hingga rasanya Ilya tidak kuat untuk berjalan. Ilya tidak percaya, dia melihat vampir di depan matanya. Ilya tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ilya terus melihat Lyra, bagaimana caranya untuk menyelamatkan Lyra? Jika Ilya tidak pergi ke sana, apa Lyra akan mati?
Akan tetapi Ilya sadar dirinya hanya seorang manusia biasa, apa yang bisa ia lakukan? Ilya berbalik arah berjalan pelan-pelan menjauhi mereka. Saat mencapai cukup jauh, Ilya akan menghubungi polisi untuk meminta bantuan, hanya itu yang terbesit dalam benak Ilya.
Ilya menarik napas berulang, berusaha tetap tenang, kemudian berjalan dengan pelan selangkah demi selangkah sambil memohon di dalam hatinya agar tidak ketahuan.
“Krieet!!” Tiba-tiba Ilya berhenti, begitu mendengar suara pintu terbuka dari belakang.
Jantung Ilya berdebar begitu cepat. Secepat mungkin, Ilya menengok ke belakang. Ilya begitu ketakutan melihat seorang pria berlari mengejarnya. Dengan spontan Ilya berlari sambil menengok ke belakang beberapa kali.
Edmond?? Ilya tidak percaya, kenapa Edmond yang berambut hitam, mewarnai rambutnya? Namun tidak ada waktu bagi Ilya untuk memikirkannya, Ilya hanya berlari secepat mungkin.
“KENAPA KAU YANG MENEMUKANKU???” teriak Edmond dengan amarah, menatap punggung Ilya yang tengah berlari dengan pandangan tajam.
“TOLONG!!!!” Ilya berteriak sekeras-kerasnya, berharap siapa pun ada yang mendengarnya. Meski Ilya tahu tidak ada siapa-siapa di kantor.
Koridor berasa tak berujung bagi Ilya yang berusaha menghindar. Napasnya tersengal-sengal, karena berlari. Sayangnya Ilya tidak berhasil kabur. Edmond berhasil memegang tangan Ilya, lalu menjatuhkan Ilya ke dasar lantai dengan kasar.
Ilya melihat Edmond mengeluarkan pisau, dan hendak menusuk dirinya. Ilya ingin kabur, tapi cengkeraman Vincent terlalu keras, belum lagi badannya juga terasa sakit. Ilya pun menangis, “Apa ini akhirnya? Hanya seperti kehidupannya?” gumam Ilya dalam hati.
Elias... terbesit wajah Elias dalam benak Ilya. Kemudian Ilya menutup matanya, Ilya merasa berakhir sudah semuanya...
“Arrghhh,” Ilya terkejut mendengar suara Edmond berteriak kesakitan. Ilya refleks membuka matanya, dan melihat sebuah jarum suntik ditancapkan di lengan Edmond yang tengah memegang pisau.
Ilya melihat orang yang menancapkan suntikan berwarna kehijauan itu. Vincent?? Bagaimana bisa dia kembali ke sini? Apa dia juga punya barang yang ketinggalan di kantor? Ilya bertanya-tanya dalam hatinya.
“Aku tidak menyangka, kau menyamar seperti diriku. Jika ada yang melihat kau kabur dari sini dalam kegelapan, aku bisa dalam masalah,” ucap Vincent.
“Maaf, aku terlambat Ilya,” Vincent lalu menarik Edmond dan melemparnya ke pojok dinding.
Melihat Edmond tidak bergerak, Ilya penasaran, apa Edmond sudah mati? Bukankah dia vampir? Apa semuanya berakhir begitu mudah karena suntikan?
“A-apa dia sudah mati?” tanya Ilya gemetar sambil berusaha bangkit berdiri.
“Tidak semudah itu, lagi pula aku ingin menanyakan beberapa hal padanya!” Vincent lalu mencabut rambut palsu Edmond.
Vincent yang melihat Ilya kesulitan berdiri, kemudian membantu Ilya, “Lebih baik kau tunggu di sini, aku akan mengantarmu pulang. Kau sepertinya masih terkejut, kakimu masih gemetaran.”
“Aku baik-baik saja,” jawab Ilya singkat.
Vincent mengeluarkan ponselnya, berusaha menghubungi seseorang, namun tidak ada yang menjawab panggilannya. Sekilas Ilya mengintip, seseorang bernama Sera tertera di layar ponsel Vincent.
Beberapa menit berselang, Ilya mulai tenang, dan Ilya langsung teringat pada Lyra. Sontak Ilya berlari menuju Ruang Edmond.
Vincent memanggil Ilya, dan mengikutinya.
Sementara, Lyra sudah tergeletak di lantai dekat meja kerja. Ilya langsung menghampiri Ilya, mengambil tangan untuk mengecek denyut nadi Lyra. Mata Ilya berkaca-kaca, Lyra sungguh sudah tidak bernyawa lagi.
Vincent yang mengikuti Ilya terkejut, dan berteriak pada Ilya.
“Menjauh darinya!!” sontak Vincent panik mengambil tangan Ilya, “Apa yang kau hendak lakukan?”
Ilya terkejut mendengar Vincent meneriakinya. Apa Vincent berpikir, dirinya yang membunuh Lyra? Ilya marah, dan berbalik membentak Vincent.
“Aku hanya mengecek dia masih bernafas atau tidak!!! Memangnya kau pikir aku yang membunuhnya???” Air mata Ilya mengalir, suaranya pun bergetar karena tangisan.
Vincent terdiam, merasa bersalah karena sudah berteriak. “Maaf, tapi sebaiknya kau tunggu di luar saja. Biar aku yang menanganinya!” Vincent memegang tangan dan leher Mira, seperti memeriksa sesuatu.
Ilya mundur dari Vincent, namun dia tidak keluar dari tempat itu, meski Vincent memintanya. Ilya memperhatikan Vincent dari belakang, bertanya dalam hati apa yang Vincent lakukan pada Lyra? Apa Vincent ingin memastikan penyebab Lyra mati?
Ilya tidak sengaja menengok ke luar jendela ruangan, matanya terkejut melihat Edmond berdiri dari luar tengah mengarahkan pistol ke Vincent. Ilya bingung, bukankah tadi Edmond sudah pingsan??
Kejadian terjadi begitu cepat, Edmond hendak menarik pelatuk itu, dan sontak badan Ilya bergerak sendiri.
“ELIAS!!!" Ilya berteriak memanggil Vincent dengan nama yang salah secara spontan. Vincent menoleh, melihat Ilya melompat melindungi dirinya, dan “Duarrrr,” Ilya tertembak, terpental ke depan Vincent.
Sontak Vincent menangkap Ilya.
“ILYA!!!” Vincent berteriak, namun Ilya tidak merespons.
Edmond terlihat kaget, “Apa aku salah?? Sekarang aku harus bagaimana?” Edmond kebingungan, dia hendak menarik pelatuk kembali untuk melancarkan tembakan berikutnya.
Namun Vincent berlari, dengan cepat menendang pistol Edmond, lalu mengambil pistol yang terlempar itu, dan menembakkan peluru ke kepala Edmond.
“Duarr,” Edmond tergeletak seketika.
Vincent lalu membuang pistol itu, lalu berlari kembali menghampiri Ilya. Vincent merangkul Ilya yang sudah setengah sadar.
“Ilya aku mohon bertahanlah.........” teriak Vincent bergetar.
Ilya tidak mendengar apa pun perkataan Vincent. Perlahan pandangan Ilya mulai kehilangan cahayanya, dan menjadi gelap.
****
Terdengar teriakan wanita sebelum suara tembakan. Seorang wanita yang kini tergeletak di lantai. Tidak lama tembakan yang sama menjatuhkan seorang pria dewasa ke sebelah sang wanita.
Dengan kesadaran yang tersisa, pria itu berusaha menggapai anak kecil di depannya, “I..Ilya la..ri.......” Kata-kata pria itu tidak jelas, tapi setelah mengucapkan kata singkat itu, dia menghembuskan napas terakhirnya.
Anak perempuan kecil itu menangis, dan tiba-tiba seseorang mendekatinya. Anak kecil itu sempat menengok, dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap bagi anak kecil itu.
“Mimpi??” Ilya terbangun menyadari dirinya baru saja mengingat, bagaimana ia kehilangan orang tuanya. Ini pertama kali bagi Ilya mengingat kejadian penembakan itu, karena setelah penembakan, Ilya disekap selama 7 tahun, sehingga ia syok berat, dan tidak mengingat apa-apa. Ilya sampai sekarang tidak tahu apa yang penculik itu lakukan terhadap dirinya.
Pasti karena tembakan kemarin, Ilya berpikir dia jadi mengingat masa lalunya, walau masih samar-samar. Bahkan Ilya tidak mengingat wajah kedua orang tuanya itu.
“Jangan bergerak sembarangan!! ucap seorang perawat di dekatnya. “Aku panggilkan dokter ya,” perawat itu pun pergi tergesa-gesa.
Ilya melihat kedua tangannya, dia tidak percaya dirinya masih hidup setelah melihat vampir. Tapi Ilya sedih, karena dirinya sudah memastikannya sendiri, Lyra tidak selamat...
Namun sebenarnya apa yang terjadi? Ilya masih tidak habis pikir, kenapa Edmond bisa terbangun kembali? Apa Edmond hanya pura-pura pingsan? Ilya kira suntikan itu semacam bius.
Karena Ilya berhasil dirawat di rumah sakit, Ilya menganggap Vincent berhasil melumpuhkan Edmond. Ilya berharap Vincent baik-baik saja, tapi apa Edmond masih hidup?
Ilya menunggu-nunggu siapa pun datang mengunjunginya, memberinya kabar.
Anda Mungkin Juga Suka





