Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel When We Were In Love

When We Were In Love

Alice Reeves terjebak dalam dilema hati terhadap Douglas Handerson, sahabat sekaligus kakak tirinya yang memilih pergi. Di tengah kepedihan cinta tak berbalas, hadir Maximilliam Callyps yang berupaya menyembuhkan luka Alice dan memenangkan perasaannya. Alice merenungkan kebahagiaannya, sementara Douglas menyesali kegigihannya di masa lalu. Akankah kehadiran Maximilliam mengubah takdir Alice, ataukah bayang-bayang Douglas tetap menjadi pemenang utama?
Bab
Bagikan

Bab 2

Douglas Handerson, namanya yang terdengar mengintimidasi memang sangat sesuai dengan sosoknya. Rambutnya yang berwarna hitam dengan alis tebal sangat kontras dengan matanya yang berwarna coklat hazel. Bentuk hidungnya terpahat sempurna dengan bibir tipis dan rahang tajam. Tubuhnya yang tinggi menjulang sangat menonjol saat ia berada di kerumunan. Semua yang ada pada diri Douglas selalu mampu membuat orang lain menoleh jika dia lewat.

Dan yang membuatnya lebih menarik adalah kenyataan bahwa Douglas bukan lelaki tampan yang bodoh dan hanya mengandalkan wajah. Ia memang terkadang bersikap manja dan kekanak-kanakan tapi nilai olahraga dan prestasi akademiknya selalu masuk urutan tiga besar di sekolah. Dan seakan tidak cukup, Douglas juga merupakan anak tunggal pemilik Handerson Company.

Awalnya Alice kurang menyukai sosoknya yang sangat menonjol dan mendekati sempurna. Karena menurutnya orang tampan selalu bersikap angkuh jika mereka sadar kalau dirinya tampan. Tapi setelah mengenal sosok Douglas selama tiga tahun, Alice tahu kalau ia adalah pria yang baik. Ia selalu ada di saat Alice membutuhkan seseorang untuk bersandar. Seperti yang terjadi di hari pemakaman mendiang ibu Alice.

___

___

POV Alice

Aku menatap foto ibuku yang di hiasi dengan bunga di sekeliling fotonya. Tanganku memegang guci yang berisi abu ibuku. Tidak ada lagi air mata yang menetes. Semua sudah tumpah saat menemani ibuku di rumah sakit selama berbulan-bulan. Ibuku meninggal dunia karena sakit jantung. Jantungnya memang lemah sejak lahir. Kelahiranku adalah keajaiban baginya.

"Aku turut berduka cita Alice" ujar Chloe teman dekatku sambil memegang kedua tanganku ketika mengucapkannya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum lemah. Lalu Chloe memelukku erat seperti mencoba untuk menguatkanku. Aku tahu pelukannya tulus tapi entah kenapa hatiku mendingin dan tidak bisa merasakan kehangatan di balik pelukannya. Apa aku menuju depresi setelah kematian ibuku?

Selang setengah jam berlalu, Chloe pamit pulang agar aku bisa beristirahat. Aku melihat sekeliling. Rumahku sudah sepi. Hanya tinggal beberapa kerabat yang masih tinggal dan menghibur ayahku. Karena bosan, aku meletakkan guci abu di meja.

"Otousan, aku akan keluar sebentar" kataku pamit pada ayahku. Ayahku hanya mengangguk dan tidak banyak bertanya, mungkin ia tahu bahwa aku juga butuh waktu untuk menyendiri.

Aku menyusuri taman yang terletak di belakang komplek rumahku dan berjalan menuju sebuah pohon besar yang rindang. Aku duduk di sana sendirian, hanya diam melihat rumput yang tumbuh di sekitar pohon dan tidak ingin melakukan apapun.

Cukup lama aku duduk termenung sampai gerimis turun dan menyadarkanku. Aku menadahkan tanganku ke atas, berusaha untuk menggenggam tetesan airnya meskipun mustahil. Semakin lama gerimis turun deras dan berubah menjadi hujan.

Aku tidak bergerak sama sekali dari tempatku duduk. Karena udara semakin dingin, aku menekuk kedua kakiku dan meringkuk. Susana yang basah dan dingin tiba-tiba membuat dadaku terasa sesak. Air mata yang aku kira sudah habis ternyata hanya tertahan dan akhirnya tumpah. Aku menangis sesenggukan di bawah hujan, melipat kedua tanganku dan bertumpu pada kakiku. Semua kenangan tentang ibuku datang seperti film yang di putar di pikiranku. Hatiku sakit sekali. Aku merindukan ibuku.

Suara hujan yang deras menutupi suara tangisku. Tapi itu tidak Tiba-tiba air hujan berhenti membasahi tubuhku. Aku mendongakkan kepala dan terkejut melihat sosok Douglas yang sedang menatapku. Tangannya yang memegang payung di arahkan padaku untuk melindungiku dari hujan.

Aku melihat bajunya basah dan tangannya mulai gemetar kedinginan. "Bodoh, sedang apa kau di sini?" teriaknya lalu menarik tanganku dengan sekali sentakan.

"Lepaskan" kataku. Douglas hanya diam dan tidak menghiraukan permintaanku. Ia menggenggam tanganku agar berlari mengikutinya.

Aku mencoba lagi untuk melepaskan genggaman tangannya di lenganku, tetapi sia-sia saja. Karena sedang bersedih aku tidak punya tenaga sama sekali. Akhirnya aku pasrah mengikutinya berlari. Kami sampai di depan sebuah pertokoan yang sudah tutup untuk berteduh. Douglas melepaskan tanganku.

Karena lelah, aku berjalan ke sudut tembok dan bersandar. Douglas menghampiriku dan mengeluarkan sapu tangan dari sakunya lalu memberikannya padaku. Sedikit basah.

Lalu ia mulai menceramahiku seperti yang biasa dilakukannya saat aku mulai bertindak konyol.

"Kau ini, otakmu terbuat dari apa sih?" katanya sarkas.

"Aku tidak menyangka kau sebodoh ini" lanjut Douglas sambil memijat kepalanya.

"Kau tahu'kan dilarang berteduh di bawah pohon saat hujan besar seperti ini. Apa kau mau mati tersambar petir?" teriaknya.

Aku hanya menunduk saat dimarahinya seperti ini dan tidak ingin membantah perkataannya sama sekali seperti yang biasa aku lakukan. Karena aku hanya diam, Douglas akhirnya berhenti memarahiku.

Setelah hening yang panjang di antara kami, tiba-tiba ia berjongkok di hadapanku dan mengambil sapu tangan dari tanganku. Douglas mengusap pipiku yang basah. Entah basah karena air mataku atau hujan yang jelas saat ini wajahku sangat berantakan.

"Kalau kau ingin menangis, menangislah. Jangan ditahan. Tapi jangan berbuat sesuatu yang bisa membahayakan nyawamu sendiri." Nada suaranya terdengar lembut, sangat kontras dengan saat ia marah tadi.

Aku menatap matanya. Sorot matanya terasa hangat. Kalau saat ini situasinya tidak seperti ini mungkin aku akan salah tingkah karena ditatap oleh Douglas seperti itu.

Douglas membalikkan badannya dan punggungnya menghadapku. Aku hanya menatap punggungnya yang lebar. Tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan. "Jangan menatap terpesona seperti itu" katanya melirikku dari balik bahunya dan tersenyum.

"Hari ini, hanya hari ini aku akan meminjamkan punggungku untukmu. Kau bisa menangis sepuasnya di sini" Douglas menepuk-nepuk punggungnya.

Karena diperlakukan dengan hangat seperti itu tangis yang sudah berhenti akhirnya keluar lagi. Aku menyandarkan kepalaku dan menangis dengan keras di punggungnya.

Suara tangisanku dan hujan menjadi satu. Aku menangis sangat lama hingga dadaku terasa sesak. Douglas tidak mengatakan apapun dan hanya menatap ke depan. Kemejanya kusut dan basah akibat tangisanku. Dua jam kami di sana dengan posisi seperti itu.

Setelah tangisanku reda, hujan juga ikut berhenti. Seperti tahu kalau hujan sudah berhasil menghiburku. Douglas mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Dia mengatakan akan mengantarku pulang karena hari sudah gelap. Dalam perjalanan pulang kami hanya diam dan tidak berbicara sama sekali.

"Terima kasih" kataku malu-malu saat sampai di depan rumahku, sudah sadar dengan tindakanku tadi. Douglas tersenyum.

"Masuklah dan jangan lupa mandi air hangat" sahutnya. Aku mengangguk. 

"Aku pulang dulu" izinnya. Tapi Douglas sama sekali tidak bergerak sedikitpun dan hanya menatapku.

"Apa?" tanyaku heran. 

"Aku akan pulang kalau kau sudah masuk ke rumah. Siapa yang tahu kalau kau akan pergi lagi dan melakukan tindakan bodoh yang bisa membahayakan nyawamu." 

Aku tersipu malu atas tindakanku yang ceroboh. Aku berbalik dan segera masuk ke dalam rumah, sebelum menutup pintu aku melambaikan tanganku padanya. Douglas hanya mengangguk menyuruhku untuk segera masuk.

Setelah menutup pintu aku langsung berlari ke kamarku yang berada di lantai dua dan melihat Douglas yang berjalan pulang. Aku memperhatikan sosoknya sampai menghilang dari pandanganku. "Terima kasih" bisikku pelan sambil tersenyum.

Keesokan harinya Douglas tidak masuk sekolah karena demam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Atlet Sekolah Menyebalkan Jadi Suamiku
8.7
Alina hanya ingin lulus tenang dari Horizon International Academy, namun takdir menyeretnya ke hidup Arion Mahendra Kwon. Arion adalah atlet elit berkuasa yang dingin dan ditakuti. Perbedaan status sosial yang kontras tak menghalangi mereka terikat dalam rahasia pernikahan tersembunyi. Di balik kebencian yang membara, muncul benih cinta yang tak terduga. Kini Alina terjebak dalam dilema: bertahan di sisi Arion yang berbahaya atau hancur dalam api asmara mereka.
Sampul Novel Pengantin Sempurna Sang CEO: Kesepakatan dengan Iblis yang Menyamar
8.1
Leyla sering dicap sebagai wanita licik yang pandai menggoda pria demi ambisinya. Namun, publik terkejut saat ia mendadak dinikahi oleh Colton, sang miliarder playboy, setelah pertemuan singkat. Meski awalnya dianggap sebagai kesepakatan bisnis tanpa rasa, dinamika mereka berubah drastis saat Colton menunjukkan kerapuhannya di sebuah pesta. Leyla akhirnya menyadari bahwa seluruh pertemuan dan pernikahan mereka adalah rencana matang yang telah disusun Colton sejak awal.
Sampul Novel Cinta Setelah Menikah
9.4
Bunga, wanita cantik dengan bayang-bayang masa lalu, dipertemukan dengan Rio Xen Zhin. Rio adalah CEO asal Jepang yang kaya, berwibawa, namun sangat dingin. Sosoknya sangat mirip dengan mendiang mantan tunangan Bunga yang telah tiada. Rio memutuskan untuk menikahi Bunga hanya demi membalas sebuah jasa. Di tengah pernikahan tanpa cinta ini, mampukah Bunga merelakan masa lalunya dan menghadapi kenyataan bersama pria yang memiliki wajah serupa?
Sampul Novel GODAAN PAK DOSEN
8.8
Naina Alexandra terjebak dalam dilema besar saat harus menikahi Arhan Bramantio, dosen pembimbing skripsinya yang sangat dingin dan angkuh. Meski membenci sifat kaku sang dosen, Naina tak berdaya menolak wasiat terakhir mendiang ibunya. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan ini pun dipenuhi ketegangan dan tantangan emosional. Mampukah Naina bertahan menjalani rumah tangga bersama pria yang paling ia benci demi sebuah janji masa lalu yang sakral?
Sampul Novel Menikah Demi Perceraian
9.3
Sebastian Alvero Abraham terjebak dalam pernikahan dengan Latasha Revalina Mahendra, gadis yang delapan tahun lebih muda darinya. Meski awalnya Vero merasa seperti pengasuh bagi Reva yang kekanak-kanakan, keceriaan Reva justru membawa kebahagiaan baru yang tak terduga. Namun, saat kemesraan mulai tumbuh, motif asli Reva menikahi Vero terbongkar. Akankah kekecewaan Vero menghancurkan rumah tangga mereka yang baru seumur jagung setelah rahasia itu terungkap?
Sampul Novel Mutiara Istri Yang Dijual
8.5
Kebahagiaan Tiara hancur saat Andre, suaminya sendiri, menjualnya kepada pengusaha bernama Dewa demi melunasi utang. Meski awalnya pahit, benih cinta mulai tumbuh di hati Tiara saat hidup bersama Dewa. Namun, Dewa justru mengusir Tiara yang tengah hamil saat mantan kekasihnya kembali. Bertekad membesarkan bayinya sendirian, Tiara menata hidup baru. Saat kandungannya berusia tujuh bulan, Dewa datang memohon kembali, namun Tiara tak akan menyerah semudah itu.