Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel We Are Married

We Are Married

Taekyung dan Yerim terikat pernikahan rahasia sejak usia empat belas tahun di desa. Hanya keluarga yang mengetahui status mereka. Kini, sebagai mahasiswa di kota besar, keduanya mulai tinggal serumah di tengah lingkungan sosial yang kian luas. Tantangan besar muncul saat mereka harus bersandiwara di depan teman-temannya. Mampukah Taekyung dan Yerim menjaga rahasia pernikahan dini tersebut, ataukah pergaulan modern akan mengungkap segalanya ke permukaan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Keadaan di dalam mobil senyap seperti biasa. Taekyung dan Yerim sedang dalam perjalanan menuju kampus. Yang tidak biasa, kecanggungan dalam diri Yerim. Ia tidak habis pikir, untuk pertama kalinya Taekyung berani menyelinap masuk ke kamarnya seperti semalam dan melihatnya hanya memakai handuk. Wajar memang, tetapi berbeda bagi Yerim. Itu keterlaluan!

"Aku turun di sini aja."

Sekitar seratus meter dari kampus, Yerim meminta turun sama seperti semalam. Ini demi rahasia hubungannya agar tetap terjaga. Tanpa menolak, Taekyung menghentikan mobilnya dan menunggu sampai Yerim turun lalu beranjak pergi.

Yerim melayangkan tinjuan di udara. Sayangnya, kata-kata kasar yang ia umpati sekarang tidak bisa ia katakan di hadapan Taekyung langsung, bisa-bisa ia dikunci seharian di kamar mandi oleh pria menyebalkan itu.

"Yerim!"

Yerim menoleh. Yang ia dapati hanya gadis asing yang melambai ke arahnya.

"Inget gue?" tanyanya begitu berdiri di samping Yerim. Yerim memiringkan kepala tanda berpikir.

Cewek itu melengos. "Gue yang duduk di samping lo semalam. Ya, kita belum kenalan, sih. Gue tau nama lo dari buku catatan lo," jelasnya dengan ceria.

Yerim manggut-manggut tidak menyangka akan ada seseorang yang memanggilnya dan mengajaknya bicara semudah ini. Sama seperti saat ia pertama kali bertemu dengan Hyewon.

"Nama gue Jung Hana." Hana memberi sambutan tangan.

Dengan canggung, Yerim membalas sambutan tersebut. "Salam kenal."

"Gue harap kita berteman baik." Hana langsung merangkul Yerim. "Ayo jalan!" Yerim tersenyum. Hana terlihat menggemaskan dengan wajah tembem dan gigi kelincinya, juga sisi cerianya. Mudah-mudahan memang akan jadi teman baik.

Sesampainya di area kampus.

"Hai guys!" Hana melambaikan tangannya. Ke tiga cewek yang bergosip tampak menoleh. Hana menarik Yerim agar mendekati mereka. Saat sudah dekat, Hana terkejut mendapati salah satu temannya sedang menangis. "Lho? Ada apa dengan Sindy?"

Sindy yang duduk menyeka air matanya dengan sapu tangan. "Gue ... gue, gue ditolak sama Taekyung."

Deg!

Astaga! Taekyung mana ini? Apa mungkin Kim Taekyung? Nggak mungkin, sih.

"Taekyung cowok dingin itu?" tanya Hana lagi. "Yang rambut sama irisnya warna silver itu?"

Sindy mengangguk.

Ya Tuhan, kenapa dia menyatakan perasaan pada suamiku? Oh tidak! Mereka kan tidak tau.

"Udah-udah, jangan nangis. Lebih baik kenalan. Gue punya temen baru." Hana merangkul leher Yerim.

Semuanya menyambut Yerim dengan senyum manis.

"Halo, salam kenal. Nama gue Yena." Yena melambai pada Yerim.

"Kalau gue Sonnie. Salam kenal."

Yerim membalasnya dengan anggukan ditambah senyuman.

Sindy menghentikan tangisnya walau masih sesenggukan. "Nama gue Sindy. Maaf udah nangis pertama ketemu gini."

Yerim tertawa canggung. "Nggak masalah. Namaku Yerim. Senang berkenalan dengan kalian."

Sonnie tertawa. "Polos banget sih. Jadi gemes."

Yerim menggaruk tengkuknya masih dengan tawa canggung.

"Tapi kamu cantik."

"Iya, babyface banget."

"Ma-makasih."

"Nanti kita ke kantin bareng ya, Yerim."

"De-dengan senang hati."

>>><<<

Istirahat tiba, kantin terlihat sangat bising. Yerim berada di antrian pengambilan makanan bersama empat teman barunya. Tanpa sepengetahuan mereka, sekumpulan anak cowok membicarakan mereka.

"Lihat, tuh. Cewek angkatan baru memang cantik-cantik," tunjuk salah satu cowok yang bernama Osen. Tiga cowok lagi melirik arah yang ditunjuk Osen. Ternyata salah satu dari mereka adalah Taekyung. Untung saja wajah datar Taekyung setia menemani saat ia melihat Yerim di sana.

"Bener. Cantik-cantik banget sumpah!" puji temannya.

"Hey! Cewek berbaju merah dengan rok lipat!" Osen menyebutkan Sonnie yang berdiri di antrian paling depan mereka. Sonnie yang merasa pakaiannya disebutkan, menoleh. Ia menunjuk dirinya sendiri untuk bertanya apakah yang dimaksud adalah dia. Osen mengangguk.

"Kakak kelas manggil kita, tuh. Ayo ke sana," ajak Sonnie pada temannya. Setelah mengambil makanan, mereka mendekati pria yang memanggilnya tadi.

"Apa ada, Kak?" tanya Sonnie memulai.

"Duduk aja. Nggak ada apa-apa, kita cuma mau ngobrol dengan kalian."

Yerim dan yang lainnya menanggapi dengan anggukan dan senyum canggung lalu mulai duduk. Belum sempat Yerim mendaratkan bokongnya, ia menoleh pada pria di sampingnya. Spontan Yerim melepaskan nampan makanannya. Untungnya sudah mendekati meja sehingga tak berserakan. Yerim sangat terkejut mendapati Taekyung-lah yang berada di sampingnya.

Tangan Yerim mulai gemetar. Apalagi saat iris mata Taekyung bertemu dengannya.

Astaga, bagaimana aku menjaga sikapku di depan teman-teman jika suamiku ada di sampingku begini?

Yerim ketakutan setengah mati. Ia mematung sesaat sampai tangan seseorang menariknya untuk duduk.

"Lo terpesona dengannya?" tanya seorang pria di sisi Yerim satu lagi. Pria itulah yang menarik tangan Yerim tadi. "Ya, dia memang ganteng, sih," pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Yerim dan berbisik, "tapi jangan deketin dia, gosipnya buruk."

"Bu-buruk?" balas bisik Yerim.

"Iya. Semasa orientasi sampai hari ini, dia udah nolak sembilan cewek yang nembak dia. Padahal cantik-cantik lho."

"O-oh .... Begitu rupanya." Yerim kira ada apa. Yerim menoleh lagi pada Taekyung. Pria itu sudah tidak menatapnya lagi melainkan mengosongkan pandangan lurus ke depan.

Apa dia memang sepopuler itu?

"Jadi, kalian jurusan Kimia?" Jey bertanya pada kelima gadis di sekelilingnya saat ini.

"Iya," jawab Sindy mewakili.

"Oh."

Mereka melakukan perkenalan secara satu per satu. Jey, Osen, dan Yoga yang satu meja dengan Yerim sekarang adalah kakak kelas. Osen dan Yoga adalah jurusan hukum sedangkan Jey adalah jurusan Kimia. Dan jangan tanya tentang Taekyung lagi.

"Gue denger kalian berlima memiliki peringkat kecantikan di atas di antara seluruh angkatan baru tahun ini di jurusan Kimia." Yoga menjelaskan dengan wajah ngantuknya. Yang dipuji hanya tertawa canggung.

"Jangan terlalu memuji. Kami nggak menginginkan hal itu," simpul Sonnie.

"Tapi di antara kalian berlima, gue lebih suka liat nih cewek." Tanpa ragu, Osen merangkul Yerim. Yang lain bersorak kecuali Taekyung tentunya.

"Wah, kalian memang tampak serasi. Sepertinya akan ada sweet couple di ajaran kita." Sindy nenjelaskan dengan menahan tawanya sambil melihat betapa akrabnya Osen dengan Yerim. Yerim tidak tau ia harus bersikap seperti apa. Mungkin tertawa canggung adalah pilihan yang tepat.

"Kalau gue lihat, Sindy dan Taekyung terlihat cocok." Jey menunjuk Sindy dan Taekyung bergantian. Sindy tampak terkejut. Ia menoleh pada Taekyung yang duduk di sampingnya.

"Ah, jangan gitu. Gue takut Taekyung jadi nggak nyaman." Sebisa mungkin Sindy menutupi hatinya yang senang karena dijodohin. Mau bagaimana pun ia telah ditolak oleh pria ini.

"Pura-pura nggak mau, ya? Gue juga ngerasa hal yang sama, kok," balas Hana yang mencoel bahu Sindy. "Iya nggak, Yerim?"

"Eh?" Apa yang harus kujawab? Apa? "I-iya."

"Senangnya, kita udah punya dua couple saat ini." Jey tersenyum lebar.

"Apa kalian setuju kalau gue melakukan love shot dengan Yerim?"

Yang lain terperangah lalu mengiyakan dengan semangat.

"Love shot! Love shot!"

Osen mengambil dua gelas kecil dan menSherahkan salah satunya pada Yerim. "Bolehkah, nona Yerim?"

Yerim tidak tau bagaiman caranya menolak. Ini pasti juga karena Taekyung yang semua permintaannya harus dituruti jadi Yerim lupa cara menolak itu seperti apa. Jadilah Yerim mengambil gelas tersebut dan dengan canggung hendak melakukan love shot di samping suaminya.

Taekyung memejamkan mata, kepalanya pusing dengan semua ini. Tangannya sempat mengepal kuat tetapi sebisa mungkin ia menahannya. Takut karena tak bisa mengontrol emosi terlalu lama, Taekyung bangkit dan pergi meninggalkan mereka yang tak lepas menatapnya heran. Saat love shot itu hampir dilakukan, ponsel Yerim berbunyi.

"Ah, sebentar!" Yerim membatalkan love shot-nya karena ingin memeriksa ponselnya. Ada sebuah pesan.

Taekyung.

| Pergi dari sana! Masuk ke mobil! Kita pulang.

Yerim gelagapan.

Bodoh, Taekyung pasti akan menghukumku.

"Maaf. Aku harus pergi. Sampai jumpa." Dengan segera Yerim membereskan tasnya dan melenggang pergi begitu saja. Yerim berlari menuju parkiran dan langsung masuk ke dalam mobil Taekyung setelah memastikan tidak ada yang melihatnya. Jantung Yerim memompa saat ia melihat wajah Taekyung terlihat kesal.

"Hm .... Ma-maaf. A-aku nggak tau harus seperti apa di depan mereka. Kalau kamu nggak suka, aku minta maaf," jelas Yerim penuh ketakutan. Taekyung menelan salivanya dengan susah payah. Ia mulai menyalakan mobilnya tanpa membalas ucapan Yerim. Yerim meringis. Pria ini memang susah diajak berbincang dengan kepala dingin.

Aku pasti dihukum.

Benar saja. Begitu sampai di halaman rumahnya. Taekyung keluar dari mobil diikuti Yerim. Lalu dengan langkah lebar, Taekyung menarik Yerim memasuki rumahnya. Oh tidak, maksudnya memasuki kamar mandi. Seperti biasa, beginilah Taekyung menghukum Yerim. Menguncinya di kamar mandi seharian.

"Taekyung ...." Yerim memohon dengan mengetuk pintu kamar mandi yang telah dikunci Taekyung dari luar. "Kim Taekyung, maaf." Tapi Taekyung tidak mendengarkan. Ia pergi menjauh dari bilik itu menuju kamarnya.

>>><<<

Esoknya di meja makan.

"Hari ini aku pergi naik bis aja," simpul Yerim menusuk-nusuk rotinya dengan garpu.

"Kenapa?" tanya Taekyung tanpa menoleh.

"Kamu pikir cuma kamu yang bisa marah? Aku juga bisa. Aku marah kamu udah ngunci aku semalam!"

"Biasanya kan emang gitu." Taekyung masih tak menoleh.

"Sekarang aku udah mahasiswi. Aku bukan anak kecil yang bisa dikurung begitu. Lagipula semalam itu bukan kesalahanku sepenuhnya. Wajar mereka bersikap gitu sama aku, karena bagi mereka aku hanya mahasiswi tanpa seorang pacar. Apalagi suami."

"Jadi?"

"Jadi apa?"

"Mau gue jelaskan semua pada mereka?"

"Kok jahat?" Yerim memelas secara langsung. "Kamu mau aku diejek sama orang lain karena udah nikah?"

Ucapan itulah yang berhasil membuat Taekyung menoleh sepenuhnya pada Yerim. Yerim yang ditatap langsung menundukkan kepalanya.

"Karena lo udah mahasiswi, kalau lo ngelakuin kesalahan akan gue kurung di gudang bawah tanah."

Yerim mendengus. "Sama aja!"

"Beda."

"Apa bedanya?"

"Di sana ada tikus. Biar lo takut."

Yerim melongo. "Kamar mandi aja, deh," jawab Yerim pasrah. Ingin sekali rasanya Yerim menenggelamkan garpu ke mulut tajam pria ini.

"Jadi aku naik bis?"

"Terserah." Taekyung berucap sambil bangkit lalu melenggang pergi.

>>><<<

"Hai!"

Yerim yang sedang berjalan sendirian menuju kelasnya berhenti saat tiba-tiba seseorang berjalan mendekatinya.

"Hai!, Kak," sapa Yerim ramah. Ternyata yang menyapanya adalah Jey.

"Apa nanti sore lo sibuk?"

"Iya?" Yerim melongo.

"Ada acara minum bareng buat penyambutan angkatan baru khusus dari senior. Lo mau ikut?"

Yerim tertawa hambar. "Bagaimana ya?" Kalau diiyakan tanpa sepengetahuan Taekyung akan bahaya.

"Eh, Taekyung!" Jey memanggil. Yerim ikut menoleh. Taekyung yang tadinya berjalan sambil membawa tasnya dengan satu pundak, berhenti. Ia menatap Yerim dan Jey bergantian.

"Nanti sore ada acara minum bareng, lo ikut nggak?"

Tadinya Taekyung ingin menjawab 'nggak' tapi setelah melihat Yerim, gadis ini sepertinya tidak bisa menolak sedangkan dirinya tidak mau membiarkan Yerim pergi sendiri.

"Oke." Setelah itu Taekyung pergi setelah membungkuk singkat pada seniornya itu.

"Aku juga akan ikut." Yerim akhirnya dapat menyimpulkan. Yerim yakin, Taekyung mengiyakan juga karena dirinya. "Kalau gitu aku masuk kelas dulu."

"Oke. Sampai jumpa nanti." Jey tersenyum lalu meninggalkan Yerim. Yerim menatap kepergian Jey. Ia tersenyum penuh keyakinan sambil menguatkan pegangan pada tas selempangnya.

Aku harus menyiapkan mental. Jangan sampai Taekyung menghukumku lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BILANG SAJA KAMU JANDA
8.6
Rania hancur saat suaminya sendiri memintanya berpura-pura menjadi janda demi uang. Di balik kerudung pastelnya, ia memendam luka mendalam sekaligus berjuang melawan kanker ganas yang menggerogoti raga. Meski tubuhnya kian melemah, Rania bertahan demi kedua buah hatinya. Ini adalah kisah perjuangan seorang ibu yang bangkit dari pengkhianatan dan rasa sakit, mengumpulkan sisa kekuatan demi tetap hidup untuk anak-anak yang mencintainya.
Sampul Novel Bukan Teman Tapi Sekamar?
8.4
Amanda, sosialita kaya raya yang sombong, terjebak dalam masalah besar setelah menyetujui syarat ayahnya. Ia terbangun di pulau terpencil bersama Senja, pria dingin yang tak ia kenal. Keduanya terpaksa tinggal serumah demi misi reality show televisi dengan tujuan berbeda. Amanda yang manja membuat Senja kewalahan, sementara ketus pelayan itu membuat Amanda frustrasi. Di tengah konflik kepribadian yang kontras, mampukah mereka bertahan di lingkungan yang asing?
Sampul Novel Dikira Pelayan Miris, Ternyata Pewaris
9.2
Hidup Danny Laksana hancur setelah dikhianati kekasih dan kehilangan orang tuanya dalam tragedi memilukan. Di tengah luka mendalam, ia menemukan fakta mengejutkan bahwa dirinya adalah ahli waris konglomerat terkaya. Demi menuntaskan dendam pada sang mantan dan mengungkap misteri kematian orang tuanya, Danny memutuskan untuk menikah. Namun, ia tidak menyadari bahwa dalang kriminal yang ia cari selama ini berada sangat dekat di lingkup sekitarnya.
Sampul Novel Duda kesayangan Gladis
9.3
Pasca dua kali gagal membina rumah tangga, Awan memilih menutup hati dan hanya fokus membesarkan putri tunggalnya. Namun, kehadiran Gladis yang memiliki masa lalu kelam perlahan menggoyahkan prinsipnya. Meski Gladis sangat yakin pernikahan mereka akan abadi, bayang-bayang pria dari masa lalu Gladis justru menghantui Awan. Gladis pun berjuang membuktikan cintanya demi meyakinkan Awan agar tidak menyerah pada perceraian untuk ketiga kalinya.
Sampul Novel Luka Kakiku, Tawa Mereka
8.8
Demi menyelamatkan Yudha, suamiku yang politisi, aku kehilangan kaki dan karier balet. Namun, pengorbanannya sia-sia saat aku memergoki Yudha berselingkuh dengan terapisku, Selvia. Mereka tega menertawakan kecacatanku, sementara ibu mertuaku terus mencaci sebagai beban keluarga. Meski Yudha memujiku di depan publik untuk citra politiknya, kenyataan pahit ini memicu dendam. Tanpa air mata lagi, aku bertekad menghancurkan mereka yang telah mengkhianatiku.
Sampul Novel Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan
8.3
Hilda terpukul saat suaminya, Marsel, meminta untuk menjual rumah warisan orang tuanya demi investasi. Baru setahun menikah, Hilda tak menyangka Marsel begitu pragmatis hingga tega ingin melenyapkan satu-satunya memori fisiknya terhadap mendiang orang tua. Meski Marsel berdalih demi masa depan, Hilda tetap teguh mempertahankan aset tak ternilai tersebut. Konflik ini memicu keretakan besar, membuat Hilda mempertanyakan kembali sosok pria yang ia cintai.