Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel We Are Married

We Are Married

Taekyung dan Yerim terikat pernikahan rahasia sejak usia empat belas tahun di desa. Hanya keluarga yang mengetahui status mereka. Kini, sebagai mahasiswa di kota besar, keduanya mulai tinggal serumah di tengah lingkungan sosial yang kian luas. Tantangan besar muncul saat mereka harus bersandiwara di depan teman-temannya. Mampukah Taekyung dan Yerim menjaga rahasia pernikahan dini tersebut, ataukah pergaulan modern akan mengungkap segalanya ke permukaan?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Halo semuanya!

"Halo!"

"Wah udah datang."

"Yerim cantik banget."

"Yerim, duduk di sini!"

"I-iya." Yerim duduk di samping Hana yang memanggilnya tadi dan mendapat sambutan hangat dari teman-temannya yang lain. Sekarang adalah pesta penyambutan angkatan baru dari senior seperti kata Jey tadi pagi. Dan Yerim baru saja datang untuk menghadiri.

"Kok datangnya lama?" tanya Sonnie yang duduk di sebelah Yerim satunya.

Yerim tertawa canggung. "Aku ketinggalan bis."

Semuanya tertawa mendengar jawaban Yerim yang polos kecuali Taekyung yang sedang dilirik Yerim. Memang sengaja pria itu datang lebih dulu dengan mobilnya dan Yerim dengan bis karena tidak tau cara menggunakan transportasi pribadi.

"Padahal gue udah kangen banget sama lo." Osen tersenyum menampakkan sederetan giginya pada Yerim yang duduk di depannya.

"Bisa aja, Kak." Yerim tertawa canggung lagi.

"Yerim bisa minum?"

Yerim menoleh pada pria yang duduk di dua selisih dengan Osen.

"Dia siapa?" bisik Yerim pada Hana.

"Namanya Jeon Junggie. Dari jurusan komunikasi. Keren, kan?" Hana menyenggol bahu Yerim.

"Eh?" Yerim gelagapan. "Apaan sih?" malunya. "Bukannya ini untuk jurusan kimia aja, ya?" bisik Yerim lagi.

"Dia teman karibnya Kak Jey, makanya diizinin ikut."

Yerim manggut-manggut lalu menatap Junggie lagi.

"Hm, sedikit," jawab Yerim pada Junggie.

"Tapi bisa, kan? Ini minum!" Junggie menuang segelas soju dan menyerahkannya pada Yerim. Yerim menerimanya dan menyium aromanya sedikit. Sejujurnya ia belum pernah merasakan soju. Tapi sepertinya menolak tidak sopan.

"Hentikan!"

Baru Yerim ingin meneguk soju tersebut, suara Taekyung membuat semuanya mengheningkan cipta. Mereka semua menatap Taekyung dengan aneh.

"Sini birnya!" Taekyung kembali bersuara. Tangannya seperti meminta pada Yerim. Yerim yang masih terbengong mengopernya pada Hana, Hana mengopernya pada Sindy, lalu Sindy menyerahkannya pada Taekyung. Taekyung meminum soju tersebut lalu meletakkan gelasnya ke atas meja dengan kasar yang membuat Yerim memekik kaget.

"Hey! Kenapa lo yang minum?" tanya Osen.

"Dia nggak boleh minum!" titah Taekyung tegas.

"Kenapa? Lo punya hubungan sama Yerim?" tanya Junggie. Taekyung menatap Yerim. Yerim menatap Taekyung dengan setengah-setengah karena takut.

Please, jangan kasih tau!

"Dia sepupu gue."

"Serius?!"

Semua orang terkejut.

"Jangan ada yang kasih dia minum! Ketauan, mampus orangnya!" Ucapan terakhir Taekyung sebelum ia pergi dari kerumunan. Seluruh tatapan yang tadinya mengarah pada Taekyung kini beralih pada Yerim. Ada yang menatap tak menyangka, bingung, senyam-senyum, dan lainnya.

"Wah, sepertinya bahaya nih punya sepupu seperti Taekyung. Ya kan, Rim?" ucap dan tanya Yena. Yerim hanya menanggapi dengan kekehannya.

Terlepas dari masalah tersebut, pesta kembali dimulai. Dua jam berlalu. Sebagian besar teman Yerim sudah mabuk, ada yang bernyanyi untuk meramaikan acara, dan menari-nari tak jelas. Sedangkan Yerim, ia bingung harus apa. Ia hanya duduk menatapi teman-temannya dengan bertopang dagu. Bersama Taekyung yang duduk semeja dengannya. Untungnya meja tersebut sama dengan meja saat mereka duduk bersama yang lainnya tadi, yang panjangnya kira-kira dua meter. Yerim duduk di sudut yang satu dan Taekyung di sudut yang satunya. Walaupun begitu, Yerim merasa terlalu dipantau.

"Yerim ...." Osen datang dengan mabuknya yang langsung merangkul Yerim. "Ayo nari ...."

"Iya? Ta-tapi-“ Yerim tampak gugup. Ia berusaha melepas rangkulan Osen.

"Ayolah ...." Osen menarik Yerim agar bangkit dan mengikutinya. Tentu saja aksi itu tak lepas dari tatapan Taekyung. Tangannya sudah mengepal kuat bersama giginya yang menggeretak.

Tahan emosi. Tahan emosi.

Osen yang dalam keadaan mabuk mungkin tidak sadar kalau ia sudah melingkarkan tangannya di leher Yerim.

Tahan emosi selesai.

Taekyung bangkit dan melangkah dengan langkah lebar mendekati mereka berdua. Taekyung melepas tangan Osen dari Yerim dengan sekali hentakan lalu memberi tinjuan di pipi Osen sampai pria itu terjungkal. Aksi tersebut menarik seluruh perhatian seluruh orang.

"Taekyung ...," panggil Yerim dengan lemah. Ia menatap Taekyung dengan cemas.

Napas Taekyung naik turun. "JANGAN MAU DISENTUH SEMBARANGAN!" teriak Taekyung pada Yerim. Yerim tersentak dan spontan matanya memerah. Yerim menunduk dalam tak berani lagi menatap Taekyung.

"Hey! Jangan gitu sama perempuan!" Jey datang di antara Taekyung dan Yerim untuk melerai. Jey mendorong bahu Taekyung agar menjauh dari sana sedangkan Yoga dan Junggie membantu Osen untuk berdiri. Hana dan Sonnie juga mendekat untuk menenangkan Yerim.

Perlahan terdengar isakan dari Yerim. Yerim memijat tangannya sendiri sambil terus menunduk. Tak lama isakan Yerim semakin deras sampai bahkan ia menangis menjerit. Saat itulah kesadaran Taekyung kembali. Ia sadar telah melukai hati Yerim.

"Sher-Yerim ...." Taekyung mendekat dan menyentuh tangan Yerim tetapi Yerim menepisnya. Yerim lebih memilih memeluk Sonnie.

"Lo jahat banget, sih! Lo emang sepupunya, dan wajar kalau lo peduli sama dia tapi nggak usah se-possesive gini juga. Dia juga punya kehidupan lain," ceramah Sonnie.

"Gue nggak sengaja."

"Alesan lo!" bantah Sonnie lagi.

Yerim menarik tangan Sonnie. "Jangan berkelahi," mohon Yerim. "Aku mau pulang ...."

Sonnie menghela napas, "Ya udah, ayo!" lalu mengajak Yerim untuk pergi dari tempat tersebut.

>>><<<

Yerim merendam dirinya di bathup sisanya ia hanya melamun. Perlakuan Taekyung saat di pesta tadi benar-benar membuatnya tidak nyaman. Seumur-umur Taekyung tidak pernah berteriak padanya. Jangankan padanya, setiap Taekyung berteriak di hadapannya saja sudah membuat Yerim ketakutan setengah mati. Tadi itu, adalah momen paling menakutkan seumur hidup Yerim. Yerim jadi ingin seperti dirinya yang dulu lagi. Yang selalu penyendiri dan tidak pernah bersosialisasi sehingga Taekyung tak menghajar setiap pria yang mendekatinya.

Nggak. Aku harus punya teman. Aku nggak boleh menyendiri seperti dulu. Biar aja Taekyung begitu. Palingan beberapa lama lagi ia akan terbiasa melihatku dekat dengan cowok lain.

Sekarang Yerim memiliki senior yang baik dan mau menjadi temannya. Yerim tidak akan menyia-nyiakan hal itu. Yerim akan terbiasa. Begitu pula dengan Taekyung. Mereka akan terbiasa akan kehidupan di universitas. Begitu, kan?

Setelah selesai dari mandinya. Yerim bersiap untuk tidur. Ia naik ke kasur dan memakai selimut lalu memejamkan mata.

Tok! Tok! Tok!

Yerim membuka matanya lagi. Itu pasti Taekyung.

Buka nggak, ya?

Kalau melihat wajah Taekyung malam ini, Yerim pasti sedih lagi. Sebaiknya jangan.

Tok! Tok! Tok!

"Ada yang ingin gue bicarakan. Buka pintunya."

Yerim menghela napas. Tanpa punya pilihan lain, Yerim bangkit dan berjalan menuju pintu. Yerim menguatkan diri sejenak lalu membuka pintu.

Sosok Taekyung berdiri tegak di hadapan Yerim yang menunduk. "Lihat gue, Rim!" pinta Taekyung. Yerim masih menunduk. "Yerim, lihat gue!"

Masih tidak digubris.

Taekyung maju selangkah. Yerim spontan mundur selangkah juga. Taekyung maju lagi, Yerim mundur lagi. Begitu sampai kaki Yerim menyentuh tempat tidur. Yerim tidak bisa mundur lagi saat Taekyung semakin mengikis jarak di antara mereka.

Baiklah, Yerim kalah lagi.

Taekyung mengulurkan tangannya menyentuh dagu Yerim dan perlahan mengangkat kepala gadis itu. Yerim tidak lagi menolak. Perlahan matanya bertubrukan dengan mata tajam Taekyung. Kaki Yerim melemas dan tangannya mulai gemetar.

Cup

Yerim mematung. Tepat saat bibir Taekyung mendarat di keningnya. Mengecupnya selama lima detik sebelum ia mundur kembali untuk memberi jarak.

"Maaf."

Yerim tertegun mendengar kata itu.

"Gue nggak akan mengulanginya lagi."

Untuk sejenak hening. Tidak ada yang berkata lagi.

Yerim tersenyum simpul. "Nggak apa-apa. Kak Osenlagi mabuk berat. Pikirannya pasti bisa mengarah kemana-mana. Tapi aku baik-baik aja berkat kamu. Jadi ... makasih."

Tatapan Taekyung masih mengarah pada Yerim tapi tidak ada ekspresi apa pun di sana.

Dalam diam hati Taekyung menghangat. Ternyata Yerim memaafkannya semudah itu.

"Sama-sama. Berkat lo, gue jadi punya seseorang yang gue pedulikan."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BILANG SAJA KAMU JANDA
8.6
Rania hancur saat suaminya sendiri memintanya berpura-pura menjadi janda demi uang. Di balik kerudung pastelnya, ia memendam luka mendalam sekaligus berjuang melawan kanker ganas yang menggerogoti raga. Meski tubuhnya kian melemah, Rania bertahan demi kedua buah hatinya. Ini adalah kisah perjuangan seorang ibu yang bangkit dari pengkhianatan dan rasa sakit, mengumpulkan sisa kekuatan demi tetap hidup untuk anak-anak yang mencintainya.
Sampul Novel Bukan Teman Tapi Sekamar?
8.4
Amanda, sosialita kaya raya yang sombong, terjebak dalam masalah besar setelah menyetujui syarat ayahnya. Ia terbangun di pulau terpencil bersama Senja, pria dingin yang tak ia kenal. Keduanya terpaksa tinggal serumah demi misi reality show televisi dengan tujuan berbeda. Amanda yang manja membuat Senja kewalahan, sementara ketus pelayan itu membuat Amanda frustrasi. Di tengah konflik kepribadian yang kontras, mampukah mereka bertahan di lingkungan yang asing?
Sampul Novel Dikira Pelayan Miris, Ternyata Pewaris
9.2
Hidup Danny Laksana hancur setelah dikhianati kekasih dan kehilangan orang tuanya dalam tragedi memilukan. Di tengah luka mendalam, ia menemukan fakta mengejutkan bahwa dirinya adalah ahli waris konglomerat terkaya. Demi menuntaskan dendam pada sang mantan dan mengungkap misteri kematian orang tuanya, Danny memutuskan untuk menikah. Namun, ia tidak menyadari bahwa dalang kriminal yang ia cari selama ini berada sangat dekat di lingkup sekitarnya.
Sampul Novel Duda kesayangan Gladis
9.3
Pasca dua kali gagal membina rumah tangga, Awan memilih menutup hati dan hanya fokus membesarkan putri tunggalnya. Namun, kehadiran Gladis yang memiliki masa lalu kelam perlahan menggoyahkan prinsipnya. Meski Gladis sangat yakin pernikahan mereka akan abadi, bayang-bayang pria dari masa lalu Gladis justru menghantui Awan. Gladis pun berjuang membuktikan cintanya demi meyakinkan Awan agar tidak menyerah pada perceraian untuk ketiga kalinya.
Sampul Novel Luka Kakiku, Tawa Mereka
8.8
Demi menyelamatkan Yudha, suamiku yang politisi, aku kehilangan kaki dan karier balet. Namun, pengorbanannya sia-sia saat aku memergoki Yudha berselingkuh dengan terapisku, Selvia. Mereka tega menertawakan kecacatanku, sementara ibu mertuaku terus mencaci sebagai beban keluarga. Meski Yudha memujiku di depan publik untuk citra politiknya, kenyataan pahit ini memicu dendam. Tanpa air mata lagi, aku bertekad menghancurkan mereka yang telah mengkhianatiku.
Sampul Novel Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan
8.3
Hilda terpukul saat suaminya, Marsel, meminta untuk menjual rumah warisan orang tuanya demi investasi. Baru setahun menikah, Hilda tak menyangka Marsel begitu pragmatis hingga tega ingin melenyapkan satu-satunya memori fisiknya terhadap mendiang orang tua. Meski Marsel berdalih demi masa depan, Hilda tetap teguh mempertahankan aset tak ternilai tersebut. Konflik ini memicu keretakan besar, membuat Hilda mempertanyakan kembali sosok pria yang ia cintai.