Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Way To Love

Way To Love

Impian Ethan akan bulan madu romantis yang penuh cinta setelah pernikahan sempurna seketika sirna. Alih-alih berbagi ranjang dengan istrinya, ia justru dipaksa tidur di sofa bed yang dingin dan sempit. Meski Ethan mencoba memelas, sang istri tetap tak acuh dan memintanya berhenti bersikap berlebihan. Kini, Ethan hanya bisa mendekap guling dengan penuh penyesalan dan rasa cemas, sambil berharap hari esok akan membawa perubahan nasib bagi malam pengantinnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah 6 purnama.

Pagi yang cerah menyapa New York, dan Sweet bangun dengan semangat baru. Apartemennya terletak di jantung kota, dikelilingi oleh suara bising kota yang tak pernah tidur. Dia merasakan getaran kehidupan metropolitan yang bisa menghanyutkan siapa saja. 

Sebagai seorang pemula dalam dunia modelling, Sweet tahu bahwa hidup di New York bakal penuh tantangan dan peluang. Dia melangkah ke jendela, menatap kerumunan orang yang berlalu-lalang, mobil-mobil yang melaju cepat, dan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit. "Apakah mimpiku bisa jadi kenyataan di sini?" gumamnya sambil tersenyum manis, membayangkan semua kemungkinan yang ada di depan matanya.

Setelah menyegarkan diri, Sweet memilih gaun sederhana namun elegan dari koleksinya. Penampilannya adalah hal pertama yang akan menarik perhatian, dan hari ini dia ingin tampil maksimal. Dengan riasan minimalis yang menonjolkan kecantikan alaminya, dia merasa siap menghadapi dunia luar yang menantinya.

Hari itu, dia punya jadwal audisi di sebuah perusahaan yang ternama. Langkahnya mantap saat menyusuri trotoar, merasakan energi kota yang mengalir dalam dirinya. Setiap langkah membawanya lebih dekat pada mimpinya, dan dengan senyum percaya diri, dia berharap bisa mendapatkan tempatnya di dunia glamour ini.

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Sweet tiba di lokasi audisi. Gedung itu sudah ramai dengan para kontestan yang juga memiliki mimpi yang sama. Saat dia melangkah masuk, suara bisik-bisik dan tawa mengisi udara, menciptakan suasana yang penuh harapan dan ketegangan.

"Audisi kali ini dihadiri tuan muda Johnson, lho. Dia sendiri yang akan memilih model yang akan bekerjasama dengan perusahaan mereka," ucap salah seorang peserta audisi, matanya berbinar-binar penuh antusias.

"Oh ya? Bukankah dia masih kuliah?" tanya yang lain, terlihat penasaran.

"Dia di tahun akhir dan kebetulan magang di perusahaan keluarganya," sahut peserta lain, seakan memberikan informasi berharga.

Sweet mendengarkan percakapan tersebut dengan penuh rasa ingin tahu. 'Wah, sehebat apa sih tuan muda Johnson itu? Kenapa semua orang terkesan?' batinnya, membayangkan sosok yang membuat semua orang teruja.

Waktu berlalu, dan setelah sekian lama menunggu, akhirnya tiba saatnya untuk Sweet. Dia bisa merasakan detak jantungnya mulai berdebar saat nomor antriannya dipanggil.

"Nomor 89, Sweet Felicia."

Dia mengangkat tangannya, sedikit gelisah, takut dianggap tidak hadir. Dengan nafas dalam-dalam, dia melangkah maju, siap menghadapi tantangan yang ada di depan.

"Come in."

Sweet melangkah dengan penuh percaya diri, menolak pintu kaca di depannya dengan senyum termanis yang ia miliki. Namun, senyumnya tiba-tiba pudar saat ia bersitatap dengan seorang pria di depannya, yang tampak tidak kalah kaget.

'Kenapa dia ada di sini? Bukankah aku sudah menyembunyikan diri dengan cukup baik selama enam bulan ini?' pikir Sweet, hatinya berdebar.

"Tuan Muda Johnson, apakah sudah boleh dimulai?" tanya salah seorang juri, mengalihkankan perhatian ke arah Ethan.

"Sure!" jawab Ethan, matanya tak bisa lepas dari Sweet, seolah waktu berhenti di antara mereka.

'Astaga! Kenapa aku bisa lupa jika nama panjangnya adalah Ethan Johnson? Apes!' gerutu Sweet dalam hati, merasa terjebak dalam situasi yang tidak diinginkan.

"Oh, ma-maaf, sepertinya aku akan membatalkan penyertaan ini," celetuk Sweet tanpa berpikir panjang, harap-harap cemas.

Kehidupan yang jauh dari konflik adalah hal yang ia inginkan. Di depan mata, peluang sukses terbentang luas, namun Sweet tak ingin mengambilnya. Ia tidak ingin memulai konflik baru.

"Sayangnya, aku tak mengizinkan kamu membatalkan penyertaan ini," ucap Ethan dengan nada tegas, seolah menantang keputusannya.

Sweet memperhatikan Ethan, yang kini terlihat lebih dewasa dan penampilannya pun jauh berbeda dari pria yang pertama kali ia temui di desa Sukawening. Rasa canggung mulai merayap di antara mereka.

"Maaf-"

"Mulai, setelah kamu siap," potong Ethan cepat, seolah tak memberi ruang bagi Sweet untuk mundur.

"Kenapa jadi memaksa?" gerutu Sweet, berusaha mengusir rasa gelisah yang menggerogoti.

Mendadak, ide brilian melintas di benaknya. Di luar, antrean peserta lainnya masih panjang. Mereka pasti lelah menunggu jika ia terus berlama-lama. Dengan tekad, Sweet pun memulai audisi, meski ia tahu tidak akan tampil maksimal. Itu semua direncanakannya.

Apakah Ethan bodoh tidak menyadari itu semua? Tentu tidak. Sebelum Sweet masuk ke dalam ruangan audisi, salah seorang juri sempat mengatakan pada Ethan bahwa ada peserta dengan bakat luar biasa, dan peserta itu adalah Sweet Felicia-istrinya.

Setelah audisi berakhir, Sweet melangkah keluar dari ruangan dengan napas lega. Ia yakin audisi kali ini gagal, dan ia bisa mengincar audisi lain di kemudian hari.

"Sweet..." panggil suara yang ia kenal.

Sweet menoleh, dan terkejut melihat pria paruh baya yang mendekat. "Om Mike!" serunya, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

'Loh! Setelah Ethan, sekarang Om Mike. Setelah ini siapa lagi? Apakah Amerika ini terlalu kecil?' pikir Sweet dalam hati, bingung.

"Kamu apa kabar?" tanya Mike, yang tak lain adalah papi mertuanya.

Sweet melangkah ragu, mencium punggung tangan pria paruh baya itu sembari menjawab, "Aku baik-baik saja, Om."

"Kamu ikut audisi di sini?"

"Iya, benar Om."

"Panggil papi saja, Sweet. Kamu tetap istrinya Ethan, menantu papi," kata Mike dengan nada hangat, tapi Sweet merasa canggung. Ia hanya mengangguk kecil, tidak tahu bagaimana harus menjawab.

"Lupakan tentang audisi ini. Yuk, ikut papi pulang ke rumah," ajak Mike, tersenyum lebar.

Pulang? Ke sana? Sweet merasa jantungnya berdebar. Di rumah, ada tante Lisa yang jelas tidak bisa menerima keberadaannya, ada juga Rania-sepupu yang manipulatif, dan tentu saja, ada Ethan!

"Sweet!" panggil Mike, menyentuh lembut bahu menantunya.

"Oh, sepertinya hari ini tidak bisa, karena aku harus..." Sweet terdiam, berusaha mencari alasan yang tepat. 'Come on, mikir Sweet, cari alasan cepat!' batinnya mendesak.

"Papi tahu kamu cuma beralasan. Ayo lah. Sudah enam bulan kamu di luar sana. Waktunya pulang ke rumah. Ini juga pesan dari tante mu," ucap Mike.

"Tante Lisa?" tanya Sweet, tidak percaya, dan Mike hanya mengangguk.

Jantungnya berdegup kencang. Ia bukan takut, tetapi malas bertemu dengan Rania.

"Stop berpikir panjang, ayo ikut papi," kata om Mike, menatapnya dengan penuh harap.

Merasa tidak enak jika terus menolak ajakan mertuanya, Sweet akhirnya mengangguk. Ia berjanji dalam hati, ini adalah pertama dan terakhir kalinya ia akan melangkahkan kaki ke sana. Tidak ada kesempatan kedua, apalagi tinggal di tempat itu. Amit-amit.

Setelah perjalanan yang cukup panjang, berjuang melawan arus kendaraan yang seolah tak ada habisnya, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah besar. Halaman rumah itu tampak asri, dikelilingi berbagai tanaman hijau yang tumbuh subur, seolah mengundang siapapun untuk masuk.

"Selamat datang! Ini rumah kita," ucap Mike dengan senyum lebar, seakan rumah tersebut adalah hadiah terindah yang pernah ada.

'Rumah kalian, bukan kita,' bisik Sweet dalam hati, menahan kalimat yang hampir terucap.

Tak lama, seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu, dan seketika, Sweet merasa seolah kakinya terpasung di tempatnya berdiri. Ia tidak tahu harus berbuat apa, dan suasana terasa sangat canggung.

"Sweet... kamu kenapa masih berdiri di sana?" tanya Tante Lisa dengan nada lembut, seolah menyadari kegugupan yang menyelimuti Sweet.

"Tan... ma-maaf ini bukannya..." suara Sweet tercekat, kata-katanya terputus di tengah jalan. 

Astaga, kenapa ia harus tergagap-gagap seperti ini? Di mana Sweet Felicia yang dulu berani bicara tegas, yang tak ragu mengekspresikan pendapatnya? Keresahan itu menyelubungi dirinya, membuatnya merasa kecil dan terasing di tempat yang seharusnya hangat dan ramah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ANAK CEO TAMPAN
8.1
Candice menjadi korban jebakan keji mantan suaminya yang berujung pada malam bersama pria asing. Empat tahun berlalu, ia kembali ke tanah air bersama putra kecilnya yang cerdas, tampan, dan jenius. Tak disangka, takdir mempertemukannya kembali dengan ayah biologis sang anak. Di tengah rencana balas dendam yang membara terhadap pria yang telah menghancurkannya, akankah Candice menemukan kebahagiaan sejati bersama keluarga kecilnya yang baru?
Sampul Novel Bodyguard I'm In Love
9.7
Jhon Christy terobsesi pada Aleta Louison sejak pandangan pertama. Seiring waktu, perasaan tersebut berkembang menjadi obsesi yang kelam. Demi mendekati sang pujaan hati, Jhon rela melepas hidup mewahnya dan bertolak ke Rusia untuk menjadi seorang bodyguard. Ambisi terbesarnya hanyalah terus mendampingi Aleta. Jhon bertekad menyembuhkan sisi psikopat dalam diri gadis itu dan membimbingnya kembali menjadi sosok wanita yang normal sepenuhnya.
Sampul Novel Gadis Nakal Sang Bidadari Surga
7.9
Ayana adalah pemimpin geng motor The Wild Ants yang terkenal pemberontak. Kenakalannya membuat sang Papa mengirimnya ke pesantren untuk dibina. Di sana, ia terkejut saat mengetahui dirinya dijodohkan dengan Gus Farhan, putra pemilik pesantren. Ayana tak berdaya menolak karena perjodohan tersebut merupakan wasiat terakhir almarhumah ibunya. Kini, ratu jalanan itu harus berjuang menghadapi kehidupan religi dan komitmen pernikahan yang tak pernah ia duga.
Sampul Novel Get Pregnant Please!
8.3
Hidup Caca selalu dirundung nasib buruk hingga seorang peramal menyarankan agar ia segera memiliki anak demi mengubah takdirnya. Sayangnya, suami misterius yang menikahinya setahun lalu tak pernah menampakkan diri, meski ia hidup mewah di rumah elit. Menduga suaminya adalah pria tua yang buruk rupa, Caca nekat mencari pria idaman di klub malam untuk dihamili. Tak disangka, pria tampan yang menjadi targetnya justru adalah suaminya sendiri yang selama ini ia hindari.
Sampul Novel Kakak Ipar
9.2
Hanifah yang mandul memaksa adiknya, Nur Naila Habibah, untuk menikahi suaminya, Raihan, demi mendapatkan keturunan. Naila merasa tidak pantas bagi dosen agama itu karena ia dikenal sebagai mahasiswi nakal yang belum berhijab. Namun, sebuah rahasia besar tersembunyi bahwa Naila sebenarnya bukan adik kandung Hanifah, melainkan putri dari Azizah. Akankah Naila menerima permintaan sang kakak untuk menjadi istri kedua iparnya sendiri?
Sampul Novel Menikah Dengan Keponakan
9.0
Akibat satu kesalahan fatal, Aeris dan Leon terjebak dalam pernikahan tanpa landasan cinta. Perbedaan usia serta kepribadian yang kontras memicu konflik terus-menerus di antara mereka. Sanggupkah Leon yang berhati dingin menghadapi tingkah abnormal Aeris setiap hari? Tantangan semakin berat saat cinta pertama Leon muncul kembali di hidupnya. Akankah ia tetap setia menjaga komitmen rumah tangga ini atau justru memilih berpaling demi masa lalunya?