
WARISAN CINTA DAN DENDAM DARI MASA LALU
Bab 2
“Betapa bodohnya aku, yang setiap hari disetiap desahan napasku, masih berharap dan bergantung padanya”. Gumamku sambil menunduk sedih.
“Woii, kamu mulai gila ya”, teriak Ika dekat telingaku, saat dilihatnya aku yang tengah bersedih.
“Hadeew, bisa ngak pakai teriak begitu. Aku tidak tuli tau!”
“He…..he….syukur deh, kirain udah gila. Habis ngedumel sendirian sedari tadi. Ngapain loh, mbayangin si Hendri lagi. Sudah gak usah dipikir, nikmati saja hiburan malam ini. Dugem, girl! Kapan lagi kita bisa menikmati malam pentas seni menyenangkan ini. Bentar lagi kita akan disibukan dengan pekerjaan dan karir”.
“Oh ayolah, Suti, jangan cengeng, please! Move on! Masih banyak tuh cowok-cowok yang nganggur di luar sana untuk kita gebet, okay”, rayunya lagi.
“Malas, ah! Paling sama kayak dia, nyakitin hati”.
“Kalau malas ya tidur aja sono! Bikin tai mata sebanyak mungkin!”
“Tidur di atas panggung, gila loe ya. Bisa dilempar tomat gue, sama penonton. Apalagi anak FPOK tuh, pada beringas kalau dengar lagu kesukaan mereka. Loe lihat ngak, sebelah sana! Si Yono sama Hari, haduuh, goyangannya sampai segitunya. Senggol kanan kiri, untung mereka satu kelas kalau tidak, sudah dilempar ke ruang sebelah tu anak”, aku bergidik ngeri membayangkannya.
“Udah, ngak usah dipikir. Nikmatin aja girl, malam terakhir kita di kampus nie”, kata Ika lagi sembari geleng-geleng mengikuti musik yang di panggung.
“Eh, Suti, lihat tuh, siapa yang lagi tampil. Idolamu neeek! Wuuuuuh!” teriaknya pada penyanyi yang ada di sana.
“Oh, dasar makhluk tak ber akhlak”, umpatku dalam hati.
Ketika sosok itu muncul di panggung. Cinta pertamaku di kampus. Tapi aneh, tak ada yang berkesan dalam hubungan kami yang terjalin tiga tahun.
Tahun-tahun yang penuh canda dan tawa dengan gaya berpacaran yang konvensional, jalan bersama, makan-makan dan tak pernah ada free sex selayaknya sepasang kekasih lainnya.
Aku sedikit tersenyum mengingat momen tersebut. Seolah mengerti dengan sinyal yang aku lontarkan. Jodi menatap sebentar ke arahku sebelum dia memulai pertunjukannya.
Teriakan histeris dari ciwi-ciwi jurusan Bahasa dan keuangan memenuhi ruangan mengiringi penampilannya. “Sungguh-sungguh idola sejati”.
***
Rinai hujan rintik-rintik yang seperti dicurahkan dari langit tertangkap dalam netraku. Aku menunduk semakin dalam memandangi aliran air di jalan raya. Kuhela nafas keras-keras untuk mengusir penat dan lelah tubuh ini. Tapi hal itu tak mampu mengusir rasa jengkelku setelah seharian ini, aku disibukan dengan urusan kantor.
Pikiranku menerawang ke kejadian tadi pagi, ketika menemani sang bos menemui klien di restoran hotel ‘Daun’.
“Suti, sudah kau bawa semua file yang akan kita presentasikan hari ini?”
“Sudah, pak. Semuanya lengkap”, jawabku sambil menjinjing laptop di tangan kiri.
“Ehm, baguslah”.
Kulihat dia sedikit gugup saat mengambil sapu tangan dari saku celana serta mengusap peluh yang mulai bercucuran di sekitar dahi dan dagu.
“Aku harap kau nanti tidak mengecewakannya. Orangnya sangat sulit ditebak dan pemarah. Aku dengar dari rekan-rekan sesama pebisnis bahwa ia tidak menoleransi sekecil apapun kesalahan yang dibuat oleh orang disekitarnya”.
“Kamu tahu, Suti? Beberapa hari yang lalu, Arman kena damprat beliau dan proposal kerjasama yang dia ajukan langsung dilempar di tong sampah. Gara-gara hanya berbicara sedikit belibet pada saat presentasi. Padahal dia membawa Selly, sekretarisnya yang sexy dan bahenol itu. Pun pada saat selesai presentasi dia mencoba mendekatkan diri dengan cara yang kamu tahu lah si Arman itu, dia akan menggunakan segala cara agar proyeknya goal”, jelasnya lagi panjang lebar sambil sesekali mengusap peluh di dahinya yang tampak semakin deras mengalir dari dahinya yang semakin lebar.
Aku bergidik ngeri membayangkan kata segala cara yang digunakan oleh bos ku ini.
“Tapi pak Yono, tidak akan menjual saya kepada orang ini kan?”
“Hus, ngomong apa kamu! Aku masih waras untuk tidak melakukan hal seperti Arman. Aku juga seorang ayah dan kakek dari satu cucu. Anak perempuanku dapat suami orang baik-baik meskipun mereka hidup sederhana. Suaminya yang lulusan pondok itu pekerjaanya diperoleh dengan cara halal. Bahkan aku yang setua ini belajar banyak ilmu agama dari dia”.
“Kamu tahu, Suti?” Katanya kembali. “Anak semata wayangku tak mau menerima sepeserpun bantuan yang kuberikan, walau hanya uang saku buat cucuku.”
“Dia malah berkata, “simpan saja uang itu buat ayah. Siapa tahu nanti ayah butuh buat berobat. Kami tidak membutuhkannya, nafkah dari mas Pepeng sudah lebih dari cukup”, selalu itu yang dia ucapkan. Aku sangat bersyukur sekali punya mereka. Dan aku harap kerjasama ini berhasil sehingga aku punya bonus yang banyak dari perusahaan untuk tunjangan pensiunku nanti”.
“Amiin ya rabbal alamiin”, sahutku dengan penuh semangat.
Bergegas kami menuju ruang meeting dari hotel “daun” yang terletak di lantai dua.
‘Ting’ pintu lift pun terbuka tepat di lantai yang kami tuju.
Di sudut ruangan, tampak dua orang berbadan besar serta berseragam hitam berdiri tepat depan pintu ruang yang akan menjadi tempat meeting. Dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, aku yakin mereka adalah bodyguard pribadi dari ‘Mr. J’.
“Eits….tunggu. Nama itu mengingatkan pada panggilan yang sering kugunakan dulu pada saat menjalin kasih dengan seseorang”.
“Ah tidak, mungkin inisialnya saja yang sama. Mana mungkin dia mau berkecimpung di dunia bisnis yang kejam ini. Dia tidak pernah serius, kan?” monologku lagi.
Aku terkesiap ketika memasuki ruangan. Kutatap lagi degup jantungku yang tak karuan.
“Kok bisa dia sih? Jadi Mr. J yang terkenal sadis itu dia”, monologku dalam batin.
Pembukaan rapat yang dilakukan oleh Andrew, asisten pribadinya terasa panjang dan lebar. Fix, dia orangnya detil dalam memaparkan apa saja yang menjadi hak dan kewajiban peserta tender kali ini. Wajah-wajah antusias dari perwakilan berbagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa hotel dan travelling memenuhi setiap sudut ruang meeting nan luas.
Sebentar netraku melirik kearah Mr. J, dia tampak dingin dan acuh. Wajah tampan dan rambut klimisnya, terasa aneh bagiku. Tatapan tajam dan membunuh miliknya, membuatku bergidik ngeri. “Apa yang membuatmu berubah, Jay?” pikirku berkata.
Kuhela napas agar mampu mengurangi kegugupan saat aku akan melakukan presentasi proposal perusahaan kami. Kulihat dijajaran kursi depan, pak Yono, mengacungkan ibu jarinya, seolah memberiku amunisi tambahan untuk mentalku yang mulai rapuh, ketika melihat Jay di depan sana.
“Semangat, Suti. Kamu harus bisa memenangkan tender ini, demi kelangsungan perusahaan dan para karyawan. Ingat mereka tergantung denganmu!” gumamku pelan.
Kubagi print out proposal kepada Andrew, sesaat dia berjalan kearah bosnya dan sedikit berbisik, kulihat Jay mengangguk tanpa ekspresi. Kurasakan kadar kegugupanku meningkat.
“Semoga presentasiku lancar, bantu aku ya Allah”, doaku pelan.
Aku mengangguk sopan, sesaat setelah presentasi panjang kulakukan. Sementara disana kulihat ‘Jay’ mengepalkan tangan kirinya. Sedangkan tangan yang digunakan untuk memegang proposal sedikit terangkat ke udara. Dag dig dug perasaan ini, hatiku semakin menciut melihat hal tersebut.
“Please, Jay. Beri kesempatan pada perusahaan kami”, netraku terpejam serta sedikit meremas kedua tanganku. “Semoga ada keajaiban”.
“Andrew!” bentaknya memenuhi ruang.
“Ya bos”.
“Buang sampah ini ke tempatnya! Bubarkan mereka, hanya buang-buang waktuku saja!”
“Siap bos”.
Aku hampir menangis melihat hal tersebut. Pun pak Yono, mulai mengelap peluh yang kembali bercucuran di dahinya. Senyum itu terlihat sedikit kecut. Aku salah tingkah memandang beliau. Netra kami beradu pandang seolah mengerti. Dia hanya angkat bahu seolah pasrah dengan takdir. Dengan secepat kilat kubereskan laptop dari meja. Sedikit berlari kuhampiri Andrew.
“Mr. Andrew, please! Tolong pertimbangkan lagi proposal perusahaan kami”.
“Hemmm, tergantung si bos, nona. Aku hanya seorang pekerja disini”.
“Jay! Eh maaf, Mr.Jay. Tak bisa kah anda meluangkan waktu barang sebentar untuk melihat proposal kami?”
Dia menoleh, serentak semua orang dalam ruangan itu menghentikan aktifitasnya. Dengan penuh kekuatiran mereka menantikan responnya.
Dia melihat wajahku sekilas kemudian memandangiku dari ujung rambut sampai sepatuku. Sejurus kemudian menatap dadaku sedikit lama.
“Ehem, itu tergantung dengan performamu, nona”, bisiknya di telingaku.
“Dasar mesum, bajingan”, kutendang dengan jurus kungfuku baru tau rasa kau. Otak miring!” tentu saja kata-kata itu hanya ada dalam pikiranku.
Sedangkan aku sedikit tersenyum dengan tingkah lakunya. “Brengsek!” umpatku pelan sebagai balasan atas tingkah lakunya.
Jay tampak santai serta melangkahkan kaki menuju keluar ruangan bersama Andrew di belakangnya. Di lorong aula, Andrew mengacungkan jempolnya ke arahku.
“Apa maksudnya?”
“Yaaah”, disinilah aku sekarang. Merenungi nasib sebagai seorang pengangguran. Tepat satu bulan semenjak presentasi brengsek itu. Aku dirumahkan, ah tidak, lebih tepatnya lagi semua karyawan ‘Dico hotel and travelling’, di pecat dengan hormat dan diberikan kompensasi sesuai dengan masa kerja masing-masing.
Sedikit menyesal, tentu saja. Karena aku tak mampu memenuhi keinginan pak Yono, untuk membawa bonus yang banyak di saat beliau memasuki purna tugasnya. Dalam acara perpisahan perusahaan aku mengucapkan beribu permintaan maaf.
Dengan bijaksananya pak Yono menasehatiku,“lebih baik begini Suti, daripada kamu menggadaikan harga dirimu demi tender yang tidak seberapa itu”.
“Maksud, bapak bagaimana? Itu tender besar loh, Pak. Harapan bos besar satu-satunya untuk menyelamatkan perusahaan dari kehancuran”.
“Maksudku kamu mungkin bisa memenangkan tender itu, tapi dengan menjual tubuhmu ke Mr. J. Memangnya kamu mau hal itu terjadi. Kamu ingin mengikuti jejak si Selly?”
Pertanyaan bosku ini membuat aku terbengong. Membayangkan punya uang banyak, mau apapun tinggal tunjuk. Kemana-mana diantar pakai mobil. Kulit tidak gosong terkena sinar matahari. “Ah, betapa menyenangkannya,” pikirku sembari menelan ludah.
Anda Mungkin Juga Suka





