
WARISAN CINTA DAN DENDAM DARI MASA LALU
Bab 3
Saat pikiran warasku mulai menguasai, mulutku pun mulai berkata,”idiiih, amit-amit deh Pak. Mending aku jualan krupuk dan nasi saja di alun-alun kota seperti saat kuliah dulu. Hati tentram karena hasil dari pekerjaan halal”.
“Nah, itu Suti tau”.
“Yaah, tapi saya sedikit kecewa, karena tidak bisa memenuhi harapan pak Yono”.
“Mengenai apa? Yang mau kujadikan mantu itu kah?”
“Iiih, bapak ada-ada saja ya. Memangnya masih punya stok anak laki-laki?”
“Gak ada, anaku ya hanya Dewi, itu pun sudah sold out”.
Aku tergelak,“memangnya mbak Dewi penyuka sesama jenis ya pak?”
“Hus…ngawur kamu”, di acaknya rambutku dengan sedikit kasar.
“Mbak mu Dewi itu, perempuan tulen Suti. Ngak neko-neko anaknya. Sudah ah, ngomong sama kamu, tambah ngawur saja. Cepat pergi bergabung dengan temanmu yang lain sana! Sapa tau ada info lowongan pekerjaan di tempat lain”, usirnya.
“Siap pak, doain ya, segera dapat pekerjaan lagi. Nanti kalau dapat bapak saya tarik deh, jadi manager bagian marketing sama seperti dulu”.
Beliaunya tergelak, “ngak usah, aku mau menikmati masa pensiunku dengan tenang. Serta momong cucu saja. Coba bayangkan setiap hari ditemani Dewi sama anaknya jalan-jalan pagi ke alun-alun kota sambil ngasih makan burung yang ada di sana. Menghirup udara pagi, merasakan hembusan angin dari pepohonan di sepanjang jalan. Oooh segernya, nikmat kehidupan yang siap kujalani”.
Kulihat pancaran mata atasanku yang berbinar ceria dan pipi tembemnya menggembung seolah angin itu nyata dihadapannya.
“Oalah, pak. Enak benar yang sudah memasuki usia non-produktif”, pikirku.
Anganku melayang ke kejadian beberapa hari yang lalu. Banyak rekan-rekan kerjaku yang menangis terutama Dona, si cerewet itu. Dia menangis bukan karena menjadi pengangguran. Tapi karena tidak akan bertemu denganku lagi.
Susah payah aku membujuknya, tak dihiraukan, seolah lupa kalau kami masih satu kosan. Hanya terpisah oleh pintu ruang yang berbeda. Padahal setiap hari dia ribut membangunkanku jika molor. Pun sebaliknya.
“Suti, gimana donk, hubungan kita nantinya?”
“Maksudmu apa Don?”
“Dona suti Dona, bukan Don. Kamu kira aku Doni atau Don yuan gitu?”
“Iya, Dona cerewet nan centil”.
“Nah, gitu donk. Manggil jangan setengah-setengah. Bisa menimbulkan persepsi yang salah. Apalagi yang dengar orang yang tak dikenal. Bisa-bisa aku dikiranya transgender nanti”.
“Memangnya kamu perempuan tulen?” tanyaku lagi sambil mengedip-ngedipkan mata.
“Ouuh brengsek loe. Apa perlu kubuktikan nih, genderku”, tukasnya sambil mengangkat rok sepannya.
“Aduh…duh gak usah Donald. Nanti dilihat ibu kos pas lewat, malu. Dikira kita mau mesum lagi!”
“Ya sekalian saja. Biar tambah hot gossip yang menyebar di tempat kos ini”.
“Gila loe ya. Sudah-sudah topik kita apaan tadi?” tanyaku sedikit bloon.
“Haaish…ini belum tua sudah pikun duluan”, ditoyornya kepalaku pelan.
“Tentang kita, Suti. Nanti aku kangen kalau tidak bertemu denganmu setiap hari”.
“Kita kan masih satu kosan, Donald. Cuma terhalang tembok ruang saja. Masa iya, tidak bisa bertemu. Kamu aneh deh”.
“Aku mungkin pulang kampung. Si mbok sudah kangen pingin kumpul sama anak-anaknya. Jadi aku mau pamit sama bu kos. Mulai besok aku sudah tidak tinggal disini lagi”.
“Yaaah, tega kamu, Dona. Masa aku ditinggal disini sendiri sih. Kalau ada yang nyulik bagaimana?” kataku memelas.
“Biarin saja. Apalagi kalau yang nyulik kamu orangnya ganteng dan tajir, macam si Jay itu”.
“Bffuuuh, semburku keras ke mukanya”.
“Lu belum tau aja siapa yang membuat kita jadi pengangguran”, batinku.
Sedangkan Dona tertawa keras sampai terpingkal.
“Eh nie anak kesambet kali ya? tadi nangis-nangis karena mau berpisah. Sekarang tertawa-tawa kayak kerasukan setan. Amit-amit”, aku geleng-geleng kepala.
Setelah kejadian itu.
“Pulang kampung? Gengsi donk. Jadi disinilah aku sekarang, terjepit diantara para pelanggan setiaku. Yaah…para mahasiswa yang kelaparan serta para manusia pencari keringat untuk kesehatan”.
Alun-alun kota adalah tempat strategis untuku berjualan nasi pecel dan menu urap-urap serta lauk ayam goreng juga telur balinya. Aku senang tatkala para pencari kuliner pagi itu memborong beberapa bungkus untuk dinikmati sebagai menu pembuka kegiatan yang padat. Wajah-wajah puas kekenyangan merupakan pertanda bagiku untuk meraup lebih banyak rupiah.
Tepat jam delapan pagi, aku sudah menghitung penghasilanku hari ini. Dibawah pohon cemara rambut yang tumbuh rindang sepanjang tepian tempatku berjualan.
“Lima ratus ribu! Wow! Perolehan yang luar biasa. Hanya dengan modal dua ratus ribu rupiah, aku bisa menghasilkan sebanyak ini. Sebentar lagi aku bisa jadi owner restoran, nih”, batinku.
Sembari menikmati nasi empok jualan mbok Misnah, pikiranku kembali melayang ke kejadian satu tahun ini. Betapa sulitnya aku mencari pekerjaan baru, sudah kucoba melayangkan lamaran kesana kemari sesuai dengan ijasahku.
Dari yang melalui e-mail pun yang langsung kudatangi perusahaannya, tapi tak satupun diantaranya yang mau menerimaku.
“Aku heran, padahal standar kualifikasi kerja yang mereka minta sudah terpenuhi semua. Bahkan aku punya pengalaman yang lebih dari cukup. Apa yang membuat mereka menolak ku?” kugelengkan kepala berkali-kali, tak mengerti.
“Pagi, nona Suti!” aku terhenyak. Sapaan itu menarik kesadaranku ke alam nyata.
“Pa….pagi”
“Masih ingat saya?”
Kucoba melacak memoriku lagi terhadap sosok lelaki tampan gagah nan rapi di depanku ini.
“Emmm, sepertinya kita pernah bertemu, tapi dimana ya?”
“Anda betul-betul tidak mengingat saya nona?”
“Eh iya maaf, anda siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Oh my God, betul rumor yang saya dengar. Anda orangnya pelupa. Padahal yang saya tahu, nona adalah pekerja yang berprestasi di perusahaan dan banyak membawa kemajuan serta keuntungan, dulu”.
“Aah, anda bisa saja tuan….ehmm, tuan siapa namanya?” tegasku kembali.
Dia tertawa keras sebelum menjawab pertanyaan, melihat ekspresiku.
“Perkenalkan lagi, nama saya Andrew, nona. Andrew santoso, saya asisten pribadinya Mr. Jay”.
“Aha, saya ingat sekarang. Yeaah, kita pernah bertemu di acara presentasi perusahaan Dico hotel and travelling, sesaat sebelum pemutusan kontrak kerja masal”.
“Bisakah nona ikuti saya? Ada yang ingin bertemu dengan anda”.
“Siapa?” tanyaku keheranan.
“Nona lihat disana. Orang yang ada di dalam mobil Bentley hitam itu, ingin berbicara dengan anda”.
“Bos anda?” tanyaku meyakinkan lagi.
“Ya, Mr. Jay. Silahkan nona ikuti saya!” perintahnya lagi.
Aku membetulkan topi yang kukenakan sambil netraku melirik ke arah mobil seharga tiga koma enam milyar itu. Tampak disebelah pintu penumpang, ada dua bodyguard yang berjaga.
“Mau apa dia?” pikirku.
“Banyak banget musuhnya, musti pakai pengawal segala hanya bertandang ke tempat aman nan sejuk ini?”
Dengan langkah ragu ku ikuti Andrew. Sesaat kemudian salah satu pengawal yang berbadan besar itu, membukakan pintu untuk ku. Aku hanya diam termangu memandangi celana kerja berbahan mahal yang membaluti kaki panjangnya.
Aku terpesona dengan sepatu kulit berwarna coklat terang, yang berkilau menyilaukan mataku. Sedetik….dua detik hingga tak terasa hampir dua menit aku hanya terpekur di tempat yang sama.
“Masuk, sampai kapan kamu berdiri di situ!” bentaknya kasar.
Aku terhenyak, “eh…tidak nanti mobil Mr. Jay kotor”, jawabku gugup.
“Ray!” gelegarnya lagi.
“Ya bos”.
“Paksa wanita itu ke dalam mobilku. Kalau perlu gendong dia!”
“Bos yakin?”
“Sejak kapan kau menjadi tidak yakin dengan perintahku, Ray?”
Aku semakin terkejut,“tidak! Aku tidak mau dipermalukan dengan hal tersebut. Apalagi disini masih banyak pelanggan dan teman-teman pedagang seperjuanganku”.
“Bahkan disudut sana mbok Misnah memperhatikanku dari tadi. Kang Tono yang jualan cendol pun melihatku secara intens. Kuatir hal buruk akan menimpaku. Ya, persaudaran antar pencari nafkah disekitaran alun-alun kota ini memang sangat kental”. Sedetik kemudian ku ikuti kemauannya tanpa bantahan.
Selama perjalanan, aku hanya diam menikmati kegugupanku. Netraku lebih banyak memandang keluar jendela mobil. Menikmati lajunya bayangan benda-benda yang semakin tertinggal di belakang.
‘Jay’ terlihat acuh dan dingin, dia memainkan tablet yang ada ditangannya. Tak sedikitpun menoleh atau sekedar bertanya,
“Bagaimana kabarku? Setelah sekian lama tak jumpa. Ah, apalah aku ini dihadapannya?” kuhembuskan napas pelan.
“Bos, kita sudah sampai”, Bondan sang bodyguard sekaligus sopir berkata.
“Heeemm”.
“Silahkan nona”, kata Bondan sambil membuka pintu mobil di sisiku.
“Terima kasih”.
Langkah Jay yang lebar membuatku tertinggal jauh. Dua langkahku satu langkah buatnya. Sesampai di ruang tengah dari rumah megah bergaya Eropa itu, aku tertegun saat menikmati lampu Kristal yang tergantung di tengah ruangan.
Andai boleh, mungkin air liurku sudah jatuh berceceran di lantai mengkilap ini. Bagaimana tidak, aku yang notabene pengagum keindahan ini dihadapkan dengan kemewahan yang hanya ada di negeri dongeng. Sedetik….dua detik….sampai hampir lima menit, kakiku tak kunjung beranjak dari tempat semula sampai,
“Heiii, perempuan sampai kapan kamu berdiri disitu?” bentaknya kasar.
Telingaku sampai berdengung mendengarnya. Kupaksa alam khayalku kembali ke dunia nyata sambil mendengus,
“Apa?” ketusku.
“Watiii, persiapkan wanita itu untuk nanti malam!” teriaknya pada salah seorang asisten rumah tangga yang berjejer di dekat tangga lantai dua.
“Hei, apa maksudmu dengan untuk nanti malam?” sahutku keras.
Jay tidak memandangku sama sekali, dia terus melangkah menuju lantai dua, sejurus kemudian kudengar
“Blaammm’, suara pintu yang ditutup dengan keras.
Aku terlonjak sesaat sebelum kewarasanku menyapa lagi, aku pun teriak,
“Jaaaay awas saja kau kalau macam-macam denganku. Aku tidak akan melepaskanmu sampai ke akhirat pun akan kucari kamu, kuhantui kamu. Lebih baik aku mati dalam kemiskinan dari pada menjual diriku padamu, brengsek!” umpatku panjang lebar.
Anda Mungkin Juga Suka





