
Wanita Simpanan Tuan Presdir
Bab 2
Jimmy, Asisten Pribadi Kenan melajukan mobil mewah sang bos besar menuju Panorama Hotel. Ini adalah cabang hotel terbaru yang dimiliki Kenan. Meskipun terbilang cukup anyar. Namun, pengunjung hotel ini sudah mulai ramai. Sebab, tarif hotel yang kompetitif dengan full fasilitas yang mewah, nyaman dan elegan. Tentu saja menjadi minat tersendiri bagi para pengunjung. Belum lagi jika ada modus tamu yang ingin bertemu dengan Kenan sang eksekutif muda yang sukses. Hanya sekedar untuk mengingat masa lalu pertemanan mereka ataupun sengaja datang untuk menawarkan bisnis bersama. Pasti mereka akan semakin betah tinggal di hotel itu.
"Kita sudah sampai, Tuan," kata Jimmy. Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran VIP khusus untuk mobil Kenan. Kenan yang sedari tadi merasa ada kotoran di ujung sol sepatunya. Merasa risih untuk memakainya.
"Kau masih membawa sepatu ganti untukku?" tanya Kenan.
"Oh, maaf. Apa sepatu Tuan Muda kotor kembali? Persediaan yang saya bawa sudah habis. Terakhir yang dipakai anda itu," balas Jimmy sambil memutar badannya ke jok belakang.
"Ish. Lalu ini bagaimana? Aku tidak bisa memakai sepatu kotor seperti ini. Seharusnya kau membawa lebih untuk persediaan."
"Maaf, Tuan. Ini adalah salahku," balas Jimmy.
"Lalu bagaimana sekarang? Pokoknya aku tidak mau memakai sepatu seperti ini."
"Bagaimana kalau saya cuci sebentar di dalam, Tuan. Bukankah hotel ini juga dilengkapi dengan fasilitas laundry?"
"Iya. Kau benar. Cepatlah lakukan! Aku masih memiliki banyak agenda selain menunggu sepatu itu kering kembali."
"Baik, Tuan."
Jimmy keluar dari mobil. Kemudian ia mengambil sepatu Kenan di jok belakang sebelum pergi. Sedangkan Kenan kembali sibuk dengan layar iPad-nya. Saat Jimmy sudah berlalu sepeda motor milik Lia datang. Gadis itu tampak celingukan sesaat. Sebelum akhirnya memilih untuk berjalan mendekati mobil Kenan. Kenan masih sibuk dengan pekerjaannya ketika Lia sedang menolah-noleh ke sekeliling. Baru saat Lia mulai membuka bajunya tanpa sengaja Kenan menoleh. Kenan langsung menutupi wajahnya saat melihat Lia melepaskan seragam restorannya. Namun, sedetik kemudian Kenan mengintip dari sela-sela jarinya. Entah mengapa dadanya mendadak berdebar kencang. Matanya tak berhenti menatap kemolekan tubuh Lia yang tampak dari atas kemeja putihnya yang masih terbuka.
Gluk!
Saliva Kenan seakan sangat sulit ditelan. Padahal, tenggorokannya terasa sangat kering. Kenan masih belum bisa mengontrol dirinya. Hingga akhirnya dia tersadar kala Lia memanyunkan bibirnya di balik kaca mobilnya.
Deg!
Jantung Kenan seakan berhenti berdetak. Mendapatkan rayuan seperti itu. Ia pun langsung membuka kaca mobilnya. Hingga membuat Lia terkejut.
"Apa yang kau kau lakukan dengan mobilku?" tanya Kenan dari dalam mobilnya. Lia tak membalas. Ia hanya mengangkat tangannya sambil menunjukkan jari tengah dan telunjuknya dengan wajah ketakutan. Pada menit berikutnya Lia segera tunggang langgang dari tempat itu. "Hei, tunggu!" teriak Kenan sambil turun dari mobilnya. Ketika Lia sedang celingukan mencari gadis itu. Jimmy sudah kembali.
"Tuan. Apa yang kau cari?" tanya Jimmy.
"Apakah kau melihat sosok gadis yang lari dari arah sini?" tanya Kenan. Jimmy tak langsung menjawab. Ia malah terlihat bingung.
"Gadis? Tidak. Aku tidak melihatnya," balas Jimmy jujur. Wajahnya terlihat bingung sambil ikut celingukan ke sekitarnya. Namun, tetap saja mereka tak menemukan siapapun.
'Shit! Siapa sebenarnya gadis itu? Kenapa melihatnya berganti pakaian sabisa membuat tubuhku bergetar?' pikir Kenan sambil terus mengedarkan pandangannya.
Sementara itu, Lia berlari dengan cepat meninggalkan parkiran. Dia benar-benar kaget bercampur ketakutan tadi. Sampai di tempat yang cukup aman dia berhenti untuk mengatur nafasnya lagi.
"Hosh. Hosh. Hosh. Untung saja aku bisa kabur. Pasti aku akan mendapatkan masalah. Jika masih berada di sana," gumam gadis itu. Ketika menyadari banyak pelamar kerja yang sudah mengantri di ruangan tempatnya melamar kemarin. Lia pun tak membuang banyak waktu untuk segera mendekatinya.
"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang gadis yang berdiri di balik meja resepsionis.
"Hari ini saya ada wawancara kerja, Mbak."
"Dengan atas nama siapa?"
"Camelia." Lia menjawab mantap. Gadis itu terlihat sedikit sibuk dengan layar komputer di depannya.
"Baiklah. Anda bisa menunggu untuk dipanggil. Data anda sudah saya forward ke HRD," ujarnya.
"Baik. Terima kasih."
Waktu berlalu. Sudah lebih dari satu Minggu sejak interview. Lia belum juga mendapatkan panggilan untuk bekerja di Panorama Hotel. Makanya dia masih bekerja di restoran itu dengan gaji yang kecil. Malam itu, teman sang bos baru saja mengadakan acara di restoran tempat Lia bekerja. Makanya semua karyawan pun harus kerja lembur untuk membereskan sisa-sisa pesta mereka.
"Lia! Tolong antarkan menu ini ke meja sebelas ya!" ujar teman Lia saat gadis itu sedang membersihkan salah satu meja.
"Lah. Kenapa nggak kamu antar langsung saja?" tanya Liam bingung.
"Aku masih ada kerjaan di belakang!" balasnya sambil berjalan menjauh. Lia tentu tak bisa mengelak lagi. Ini sudah menjadi tanggung jawabnya juga. Akhirnya dia mengakhiri urusannya dengan meja itu. Kemudian mengangkat nampan berisi dua porsi iga bakar, dua piring kentang goreng dan dua gelas lemon tea. Gluk! Lia menelan ludahnya sendiri melihat menu makanan kesukaannya itu. Dia pun baru sadar jika memang sedari siang dia belum makan apa-apa. Karena begitu sibuknya melayani pelanggan.
"Ini pesanannya, Tuan. Silahkan dinikmati!" kata Lia sambil meletakkan makanan-makanan tadi ke depan meja seorang lelaki yang sedang sibuk membaca buku menu.
"Mbak tunggu!" ujarnya saat Lia hendak berjalan pergi.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?"
"Iya. Bisakah anda menemani saya menikmatinya?" tanya lelaki itu sambil menurunkan buku menu tadi. Lia pun langsung tersenyum manis melihat sosok lelaki yang sudah dua tahun ini menjalin asmara dengannya itu.
"Randy? Sejak kapan kau datang?" tanya Liam tanpa melunturkan senyumannya.
"Sejak pacarku lembur dan tak bisa dihubungi," ujar sambil meraih tangan Lia. Lia pun duduk di bangku terdekat dengan Randy. Wajahnya seketika terlihat bersalah.
"Maaf ya. Tadi keadaan sangat ramai sekali. Aku tidak ada waktu untuk membuka ponselku," ujar Lia. Randy pun mengembangkan senyumannya. Tangannya terangkat untuk menyelipkan poni rambut Lia ke belakang telinga.
"Aku tau kok. Bahkan, aku juga tau kalau kamu belum makan sejak siang. Makanya aku buru-buru kesini untuk mengingatkan."
"Terima kasih ya. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan lelaki seperti dirimu. Wajahmu tampan, hatimu baik dan pengertian. Kau begitu sempurna untuk orang seperti diriku ini, Ran," kata Lia. Selain parasnya yang tampan dan sikapnya yang perhatian dengan Lia. Randy juga sebenarnya anak orang kaya. Meskipun, sampai saat ini Lia belum pernah bertemu dengan keluarganya secara langsung.
"Kau juga cantik, Sayang. Kau dulu adalah primadona kampus dan aku sangat beruntung bisa mendapatkanmu," ujar Randy. Ia meraih tangan Lia lalu mengecup punggung tangan dengan lembut. Lia pun tersenyum bahagia. Kemudian mereka melanjutkan waktu berdua dengan menikmati makanan mereka.
Anda Mungkin Juga Suka





