
Wanita Simpanan Tuan Presdir
Bab 3
Seperti biasa Lia tidur di rumah sakit untuk menemani ibunya. Dia tak mungkin bisa meninggalkan wanita paruh baya itu sendiri. Karena kini hanya dia satu-satunya keluarga yang dia punya. Lia menggeliat pelan saat telinganya sayup-sayup mendengar percakapan beberapa orang di sampingnya. Maklum, ibunya di rawat di ruangan yang berisi enam pasien. Jadi, selain ada Lia dan ibunya disana juga ada pasien lain dan keluarganya juga. Saat Lia menegakkan badannya sang ibu ternyata sudah bangun. Dia tersenyum sambil mengelus rambut panjang Lia.
"Ibu sudah bangun?" tanya Lia sambil mengucek matanya.
"Iya, Sayang. Ibu lihat kau tidur nyenyak sekali. Kau pasti kecapean kemarin. Iya, kan?"
"Ya. Lumayan sih, Bu. Kemarin di resto ada pelanggan yang mengadakan acara anniversary pernikahan gitu sampai malam. Makanya aku pulangnya terlambat karena harus lembur dulu. Tapi, karena itu aku mendapatkan uang lembur yang cukup banyak. Lihat ini!" Lia merogoh saku jaketnya lalu memperlihatkan dua lembar uang seratus ribuan dengan wajah gembira.
"Wah. Banyak sekali."
"Iya, Bu. Pelanggan kami ini merasa puas dengan pelayanan kami. Makanya dia kasih uang tambahan sebagai tanda terima kasih."
"Kamu patut mendapat itu dari kerja kerasmu, Nak," kata Ibu Lia.
"Hehehe. Oh, ya. Ibu pengen makan apa pagi ini? Aku tau ibu pasti udah bosen, kan? Makan makanan dari rumah sakit terus?" Sang ibu kembali tersenyum.
"Kamu simpan saja uang itu untuk keperluanmu sendiri. Ibu kan sedang sakit. Jadi, ibu tidak boleh makan makanan sembarangan."
"Tapi, Bu. Ibu kan sudah lama tidak makan sama rendang. Aku beliin nasi Padang ya?" tawar Lia.
"Tapi, Lia. Nasi Padang sama rendang itu mahal. Mendingan yang kamu disimpan saja. Siapa tau nanti kamu butuh sesuatu?"
"Udah. Nanti Lia cari uang lagi. Lia kan sehat. Lia masih bisa bekerja. Tak lama lagi Lia juga dapat pekerjaan yang gajinya lebih baik. Ibu jangan khawatir!" ujar Lia sambil mengelus tangan ibunya. Mata sang ibu berkaca-kaca melihat kebaikan sang anak padanya.
"Kau memang anak yang baik, Lia. Maaf ibu belum bisa membahagiakanmu." Air mata sang ibu pun tiba-tiba menetes begitu saja.
"Lah kok Ibu menangis? Ibu tidak boleh berkata seperti itu. Dengan Ibu sehat dan bisa pulang seperti dulu. Itu sudah cukup membuat Lia bahagia. Karena cuma Ibu satu-satunya kebahagiaan yang Lia miliki," balas Lia sambil memeluk tubuh ibunya. Ibu Lia pun menyeka air matanya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan anaknya.
"Kau benar, Sayang. Ibu pasti akan segera sembuh dan kita akan kembali ke rumah seperti dulu," timpal wanita paruh baya itu kemudian mereka pun berpelukan satu sama lain. Ibu Widya menderita penyakit autoimun. Dimana sel antibodi dalam tubuhnya justru menyerang sel-sel tubuh lain yang sehat. Karena penyakit ini sudah komplikasi, Bu Widya kini juga menderita penyakit jantung dan beberapa sarafnya rusak. Makanya, dia harus terus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.
"Ibu tunggu sebentar ya! Aku akan segera kembali," kata Lia sambil melepaskan pelukannya. Ibu Widya pun langsung mengangguk mantap. Ia tersenyum melihat kepergian sang anak melewati tirai pembatas yang masih tertutup.
Setengah jam kemudian Lia kembali dengan dua bungkus nasi Padang di tangannya. Langkahnya tampak sangat riang menuju ruang rawat sang ibu yang sudah sangat ia hafal. Namun, baru saja melewati pintu masuk mendadak matanya membulat melihat sosok sang ibu sedang dibentak-bentak oleh wanita bergaya glamor dengan dua bodyguardnya. Orang-orang sampai tak tega melihat ibu Widya yang hanya bisa menangis sesenggukan.
"Dasar wanita jalang! Berhentilah mengganggu uang suamiku! Kau bukan istrinya lagi! Kau tidak berhak atas apapun dari kekayaan suamiku!" teriak wanita itu. Lia segera berlari mendekat lalu mendorong wanita itu hingga terjatuh.
"Tutup mulutmu! Sesungguhnya kaulah wanita jalang itu! Kau yang sudah menghancurkan kehidupan kami. Kau merebut ayahku dan semua kekayaannya! Ingat! Ibuku yang sudah menemani ayah sejak dia masih kere. Dia diceraikan tanpa membawa apapun kecuali diriku. Uang kompensasi dari ayah tiap bulan itu tidak cukup untuk mengganti penderitaan yang kami lalui!" balas Lia penuh amarah. Wanita itu segera bangkit dengan bantuan kedua bodyguardnya.
"Kau hanya anak ingusan yang tidak tau apa-apa. Lebih baik kau urusi saja ibumu dengan baik. Karena lain kali aku tidak akan membiarkan Mas Arya mengeluarkan sepeserpun untuk pengobatan ibumu!" ancam wanita itu.
"Lakukan saja! Aku akan melaporkannya ke polisi karena sudah abai dan menelantarkan anaknya. Ingat! Mungkin ibu hanyalah mantan istri, tapi aku tidak akan pernah menjadi mantan anaknya. Selama aku belum menikah dia masih memiliki kewajiban untuk menafkahi aku!" tantang Lia penuh amarah.
Sarah tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya sambil menahan amarahnya yang sudah memuncak. Setelah itu Sarah pun akhirnya pergi.
'Dulu kau bisa menghancurkan kehidupanku. Tapi, sekarang aku tidak akan membiarkannya terjadi lagi,' batin Lia sambil menatap kepergian Sarah dengan penuh amarah. Setelah itu, Lia menyeka matanya yang berair. Dia pun segera balik badan dan menenangkan ibunya yang masih terus menangis.
"Sudah, Bu. Jangan takut! Lia ada disini untukmu," gumam Lia sambil memeluk tubuh ibunya dengan erat.
Sementara itu, di bagian VIP rumah sakit yang sama. Kenan kembali datang menemui Dokter langganannya untuk berkonsultasi.
"Wah. Apakah benar kau merasakan semua itu?" tanya sang Dokter dengan antusias.
"Iya, Dok. Aku juga merasa aneh. Padahal, dia hanya membuka bajunya saja. Pakaian dalamnya masih ada dan itu terjadi sangat singkat. Tetapi, mampu buat jantungku berdebar kencang," jawab Kenan.
"Ini sungguh menakjubkan. Setelah sekian lama kau berobat. Baru kali ini kau menunjukkan tanda-tanda kemajuan dan itu cukup signifikan. Aku mulai merasa optimis metode ini akan berhasil."
"Benarkah begitu?"
"Iya. Coba kau cari gadis itu lagi! Jika dia bisa merangsang gairahmu. Aku yakin dia bisa menjadi perantara kesembuhanmu."
"Baiklah, Dok. Aku akan pastikan dia akan segera kutemukan!" balas Kenan mantap sambil melirik ke arah Jimmy. Jimmy tak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk setuju. Meskipun dengan sedikit terpaksa.
Setelah menyelesaikan konsultasinya Kenan dan Jimmy meninggalkan ruangan Dokter Raymond. Di depan pintu masuk rumah sakit. Mobil mewah Kenan sudah menunggu. Jimmy segera melangkah lebih dulu untuk membukakan pintu.
"Kau sudah mendengarnya sendiri, bukan? Aku tidak mau mendengar alasan apapun. Cepat cari gadis itu bagaimanapun caranya! Aku harus sudah sembuh sebelum acara pernikahan dengan Jovanya diselenggarakan!" kata Kenan memerintah.
"Baik, Tuan," balas Jimmy yang sudah duduk di jok belakang kabin kemudi. Jimmy pun segera menyalakan mesin mobil itu. Tepat saat mobil berjalan tampak Lia sedang mendorong kursi roda ibunya dari sisi rumah sakit di belakang mobil Kenan.
"Bagaimana sekarang, Bu? Merasa lebih baik, kan?" tanya Lia sambil jongkok di depan sang ibu.
"Ya. Melihat bunga warna-warni selalu membuat Ibu tenang," balas Bu Widya. "Tapi, kenapa kau belum berangkat bekerja? Bagaimana jika nanti ketinggalan bus?"
"Ibu jangan khawatir. Sebentar lagi Randy akan datang untuk menjemputku."
"Ibu sangat senang melihat hubungan kalian yang selalu harmonis. Ibu harap dia bisa menjaga dan mencintaimu sampai tua. Tidak seperti ayahmu yang seorang pengkhianat," kata Ibu Widya dengan air mata yang tak terasa mengalir begitu saja.
"Hust. Ibu jangan mikirin ayah lagi ya! Percaya sama aku. Kita pasti akan bahagia meskipun hidup berdua. Aku sangat mencintaimu, Ibu. Janganlah menangisi ayah lagi! Kumohon," ujar Lia kemudian memeluk erat tubuh ibunya.
'Aku berjanji suatu hari nanti akan membalas semua yang pernah kau lakukan pada ibuku, Sarah,' ancam Lia dalam hati. Ia pun langsung mengusap air matanya sebelum sang ibu melihat.
Anda Mungkin Juga Suka





