Sampul Novel Wanita Simpanan Nakhoda

Wanita Simpanan Nakhoda

9.6 / 10.0
Dalam romance novel Wanita Simpanan Nakhoda, Kemuning mencari Amer yang menghilang setelah sebulan menikah. Menghadapi pengkhianatan selama lima tahun, ia nekat ke kota demi membalas dendam. Baca kisah modern novel ini untuk mengungkap nasib pernikahan mereka melalui web novel seru.
Ringkasan Wanita Simpanan Nakhoda
Kemuning merasa terkhianati setelah ditinggal pergi oleh suaminya yang berprofesi sebagai nakhoda, padahal usia pernikahan mereka baru sebulan. Setelah lima tahun menanti tanpa kabar dari Amer, ia harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya hidup. Didorong rasa sakit hati, Kemuning akhirnya memutuskan pergi ke kota untuk melacak keberadaan suaminya tersebut. Ia tidak mencari rekonsiliasi, melainkan datang untuk menuntut balas atas penderitaan yang ia alami.
Baca Selengkapnya

Wanita Simpanan Nakhoda Bab 1

"Kamu kapan nikahi aku, Mas?"

Amer menatap ragu ke arah Kemuning.

"Aku diomongin terus sama anak-anak di sini loh, katanya kamu gak bakal nikahi aku."

Menarik napas panjang Amer tidak tahu harus menjawab apa.

"Itu semua gak bener kan?!"

Kemuning namanya, seorang gadis berparas ayu dan menawan dengan kedua bola mata sayunya setiap kali menatap, ia hanya gadis Pesisir Pantai yang ditemui oleh Amer dua tahun lalu saat Kapal bersandar.

Bukanlah waktu yang sebentar Kemuning menunggu kedatangan Amer lagi, mengharapkan pertemuan mereka yang tidak pasti, hingga pada akhirnya hari ini pun tiba membawa harapan itu kembali hadir.

"Gak bener dong, aku udah janji bakal nikahi kamu." Pria dewasa itu mengusap lembut kepala Kemuning, lalu mengecup keningnya dengan penuh perasaan.

"Tapi kapan, Mas?" Kemuning mendesak.

"Kalau udah waktunya," jawab Amer tidak pasti.

Wajah Kemuning yang awalnya bersemangat seketika meredup, gadis cantik itu pun menarik diri dari pelukan Amer, kali ini ia benar-benar sangat kecewa. Dua tahun Kemuning menunggu Amer, tetapi sakitnya harapan itu tidak kunjung menjadi kenyataan.

Entah kenapa Amer lagi-lagi mengulur waktu, padahal sejak pertemuan pertama mereka ia sudah berjanji akan menikahi Kemuning, lalu membawanya ke Kota.

"Kamu udah punya pacar ya?" Gadis itu merajuk.

"Punya, pacar aku kan kamu," balas Amer.

Ketika Amer berusaha meraih tangannya Kemuning, dengan cepat gadis itu menghindar, hatinya telanjur sakit dan kecewa, bahkan ia pikir hubungan ini tidak akan berlangsung lama.

"Kalau kamu begini terus, mending kita putus aja," tukas Kemuning sambil memunggungi Amer, ia tahu janji yang diberikan padanya hanyalah omong kosong. "Aku juga pengen nikah, Mas, kalau kamu gak ada kepastian lebih baik aku nikah sama orang sini aja."

Amer sontak menggeleng, ia jelas panik saat melihat Kemuning tegas begini. "Jadi, kamu gak percaya?"

"Aku butuh kepastian juga, Mas, kita udah empat kali ketemu, bahkan janji itu udah kamu berikan dua tahun yang lalu. Tapi apa, sampai sekarang kamu masih gak ngasi kepastian apa-apa kan?!"

"Tapi aku selalu datang untuk kamu," katanya.

Kemuning mendengus dan melipat kedua tangannya di dada, hampir dua tahun ia mengalah, membiarkan semua orang menghinanya dengan berbagai kalimat menyakitkan, bahkan sampai disangka tidak waras karena memilih tinggal di dekat Pantai.

Angin badai, hujan petir, panas kerontang, semuanya Kemuning hadapi selama menunggu kedatangan Amer dengan Kapal Pesiar kebanggaan, dan semua itu ia lakukan demi cinta.

"Aku gak mau berhubungan sama kamu lagi!"

"Kemuning ... Tapi aku cinta kamu," lirih Amer.

"Yang bilang cinta sama aku tuh banyak, Mas, jadi bukan cuma kamu aja!"

"Tapi cintaku beneran tulus, Kemuning, kalau aku gak cinta aku gak bakalan balik ke sini cuma buat nemuin kamu lagi!" Amer masih berusaha meyakinkan gadis cantik di depannya, meskipun Kemuning sudah malas.

Kalau bicara soal kecantikan dan daya tarik Kemuning memang juaranya, tidak ada seorang pria pun yang tidak jatuh hati kepadanya, bahkan Amer sendiri bisa jatuh hati berulang kali di setiap kali mereka bertemu.

"Kemuning ..." Amer maju beberapa langkah ke depan, sehingga berhadapan langsung dengan Kemuning yang masih merajuk. "Aku janji akan nikahi kamu secepatnya, kita akan segera menikah!"

"Kapan kamu datengin orangtuaku?" tanya Kemuning.

"Ya, aku akan menemui mereka sekarang juga!"

Kedua bola mata Kemuning yang sayu seketika berseri-seri, ia menatap wajah tampan Amer yang saat ini menatap ke arahnya juga, lalu gadis itu pun tersenyum lebar.

"Beneran?"

Amer menganggukkan kepalanya, lalu menarik tubuh ramping Kemuning ke dalam pelukannya yang hangat.

***

Kemuning terbangun dari tidurnya yang tidak nyaman, menyibakkan selimut, dengan perasaan hampa gadis malang itu pun bangkit, bahkan masih mendambakan seseorang yang telah berjanji akan datang.

Tetapi hingga detik ini Amer tak kunjung balik.

"Udahlah, lupain aja," kata Nanci yang baru muncul.

"Kamu gak nikah sama dia gak mati juga kan?"

Wanita itu mencebik, lalu menyerahkan secangkir teh hangat kepada Kemuning.

"Tapi aku kepikiran aja, Nan!" balas Kemuning sedih.

"Memikirkan pria gak tahu diri itu?!"

"Nan ..." Kemuning berusaha menghentikan Nanci.

Menyesap teh buatannya, Nanci menatap iba gadis di depannya, entah dengan cara apalagi supaya Kemuning melupakan Amer, padahal pria itu sudah menipu mereka mentah-mentah.

"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku masih ngarepin kedatangan Mas Amer."

"Tapi mau sampai kapan?" tanya Nanci.

Tidak ada seorang pun yang percaya kepada Amer, termasuk kedua orangtuanya Kemuning sendiri, hanya Nanci satu-satunya yang tinggal, meskipun tidak menyukai sosok Amer, tetapi setidaknya ia tidak pergi seperti yang lain.

"Gak ada yang bisa diharapkan lagi, Ning," tuturnya.

Kemuning diam, tidak menyahut lagi.

"Mending kamu buka hati buat pria lain," saran Nanci.

Menggeleng gusar Kemuning pun beranjak, tidak ada yang bisa menggantikan Amer di hidupnya, ia merasa hanya pria itulah yang memenangkan hatinya, bahkan jika dibandingkan dengan pria seluruh dunia sekalipun ia tidak sudi memilih salah satunya.

"Kemuning," panggil Nanci seakan lelah.

"Pergilah, tinggalkan aku sendiri," sahutnya malas.

Tanpa alas kaki gadis malang itu berjalan menyusuri Pesisir Pantai, tatapannya yang kosong menatap ke arah ombak, sesekali ia harus menahan napas setiap kali mengingat kenangan yang Amer berikan di hati.

"Ayo, ulurkan tanganmu!" Amer menatap Kemuning, menunggunya mengulurkan tangan, dan bersedia ikut dengannya ke atas kapal.

"Tapi aku takut," aku Kemuning.

"Gak apa-apa, Sayang, kan ada aku."

Perlakuan khusus yang Amer berikan pada Kemuning benar-benar membuatnya jatuh hati, pria itu memiliki tempat di hatinya, sejak pertama kali mereka bertemu, bahkan hingga detik ini.

"Kamu ke mana aja, Mas, aku kangen," lirihnya pilu.

Tidak bisa menahan lagi, akhirnya tangis Kemuning pecah, ia sangat kecewa dan sakit hati dengan Amer, tetapi perasaan rindu itu juga sangat menyiksanya. Kemuning dijanjikan sebuah pernikahan, seharusnya ia tidak membolehkan Amer berlayar sebelum akad dilangsungkan.

"Malam itu kupikir akan menjadi malam yang sempurna, tapi nyatanya kamu pergi lagi, Mas." Mengusap asal air matanya Kemuning berusaha tegar, meskipun rasa sakit semakin menghimpit.

Di kejauhan Nanci berlari ke arah Kemuning, wanita itu tampak heboh dengan wajahnya yang berseri-seri.

"Kemuning ..."

Menolehkan kepalanya Kemuning menatap Nanci, gadis itu mengernyit tidak mengerti, lalu bertanya. "Ada apa Nanci?"

"Pak Tejo mendapat telepon dari kota, Ning, katanya dari Mas Amer," lapor Nanci pada Kemuning yang saat ini menatapnya antusias, bahkan tanpa bertanya lagi gadis itu langsung bergegas pergi.

Satu bulan lamanya Kemuning menunggu, bahkan ia sampai di titik pasrah jika nantinya Amer tidak datang menunaikan janji.

"Apa yang Mas Amer katakan, Pak?" tanya Kemuning berharap cemas, meski ia tahu bapaknya tak pernah setuju, tetapi hatinya sudah mantap.

"Dia akan datang bersama keluarganya hari ini."

Wajah muram Kemuning seketika berubah cerah, dengan tatapan yang bahagia ia memperhatikan wajah datar kedua orangtuanya, lalu tersenyum lebar.

"Ini pilihanmu, Ning, jika nantinya ada masalah dengan pernikahan kalian, maka Ibu dan Bapak gak mau ikut campur!"

Bersambung ...

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Wanita Simpanan Nakhoda

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
9.2
Setelah delapan tahun berjuang demi kehamilan, Amelia justru mendapati suaminya, Aditya, berselingkuh dengan Nasywa yang tengah mengandung. Dorongan kasar Aditya mengakibatkan Amelia keguguran dan kehilangan segalanya. Lima tahun berlalu, Amelia bangkit menjadi sosok sukses dan berkuasa. Saat Aditya kembali dalam kondisi hancur untuk memohon pengampunan, Amelia hanya menatapnya dingin. Baginya, wanita lemah yang dulu mencintai suaminya itu telah lama mati.
Sampul Novel Istri Yang Tersiksa
8.7
Tiga tahun Rania Alvi menderita dalam pernikahan dingin bersama pengusaha sukses, Rizky Wira. Sebagai istri kedua, ia merasa terasing oleh kehadiran mantan istri Rizky, Inez. Saat divonis kanker stadium dua, Rania yang hancur fisik dan mental akhirnya meminta cerai. Namun, Rizky dengan tegas menolak dan bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Kini Rania terjebak dalam obsesi suaminya, berjuang di antara rasa sakit dan ikatan pernikahan yang menyesakkan tanpa jalan keluar.
Sampul Novel Istri yang Tidak Disentuh
8.1
Nasib membawaku dari kemiskinan menuju pernikahan dengan pria kaya raya yang mengaku jatuh hati sejak awal. Suamiku adalah sosok sempurna yang tampan dan setia, namun tindakannya justru memicu tanya. Meski tak ada celah untuk beradu argumen, sikap dinginnya terasa sangat janggal bagi pasangan yang saling mencintai. Aku terjebak dalam kebingungan mendalam tentang siapa dia sebenarnya. Rahasia besar apa yang sengaja ia sembunyikan dariku selama ini?
Sampul Novel JATUH DI PELUKAN LELAKI BERISTRI
9.2
Terjebak dalam situasi sulit bukanlah pilihanku, hingga takdir mempertemukanku dengan seorang pria yang menjadi penyelamat hidup. Seiring waktu, benih cinta mulai tumbuh di hatiku bagi dirinya. Sebagai wanita biasa, aku tak mampu membendung perasaan mendalam ini. Meski menyadari bahwa ia telah beristri, aku sepenuhnya siap menghadapi segala kepedihan dan konsekuensi berat yang akan menyertai perjalanan cinta terlarang ini ke depannya.
Sampul Novel Tak Lagi Berharap
8.7
Tragedi masa lalu saat berusia tujuh belas tahun merampas kemampuan tokoh utama novel modern Tak Lagi Berharap ini untuk memiliki keturunan akibat tusukan pisau di rahimnya. Meski sang suami pernah berjanji untuk setia selamanya, pernikahan lima tahun mereka hancur saat pria itu berselingkuh dengan wanita yang dahulu merusak hidup istrinya. Setelah memiliki anak dari hubungan gelap tersebut, sang suami kini memaksanya bercerai demi memberikan posisi istri sah kepada wanita itu.
Sampul Novel Thief Girl
9.7
Pelarian Arabella setelah mencopet dompet di angkot berujung sial saat ia terjatuh di tengah kejaran warga. Di ambang bahaya, seorang remaja asing datang menawarkan tumpangan motor untuk menyelamatkannya. Abel terpaksa menerima bantuan itu demi menghindari amukan massa. Sebagai gadis yang tumbuh di lingkungan kriminal, ia terpaksa mencuri hanya untuk bertahan hidup. Kisah ini mengikuti perjuangan Abel yang harus dewasa sebelum waktunya di tengah kerasnya dunia.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan