Sampul Novel Pernikahan Kontrak Sang Mafia

Pernikahan Kontrak Sang Mafia

9.8 / 10.0
Dunia Allea Maxwell runtuh saat ibunya tewas misterius. Merasa ayahnya menutupi kebenaran, gadis dua puluh tahun ini berubah menjadi pemberontak dan sering melampiaskan amarah di kelab malam. Ketegangan memuncak ketika sang ayah menjodohkannya dengan Morgen William, pria temperamental yang paling ia benci. Di tengah misi mengungkap konspirasi kematian sang ibu, Allea harus berjuang membatalkan pernikahan kontrak dengan pria brengsek tersebut sebelum hidupnya terjebak selamanya.

Pernikahan Kontrak Sang Mafia Bab 1

Terdengar keras dentuman musik di dalam diskotik dengan ciri khas suara bass yang menggelegar. Tampak seorang gadis cantik sedang duduk di meja yang berada di depan bartender.

Meneguk satu sloki minuman yang baru saja dia pesan. Sesekali kepalanya terlihat mengangguk-angguk seiring berjalannya irama musik kreasi sang DJ yang terdengar membahana, menghiasi ruangan. Semakin kencang musik berdentum, semakin bersemangat pula para pengunjung. Sama sekali tidak keberatan dengan suara musik yang terdengar memekakkan telinga bagi orang biasa di luaran sana. Namun, bukan untuk mereka penyuka keramaian tentunya.

"Ayo pulang!" ucap seorang gadis lain yang sedang duduk di sebelahnya.

"Sebentar!" balas gadis yang sedang menikmati alunan musik tersebut.

Gadis berwajah manis yang sedari tadi tak berhenti minum itu adalah Allea Maxwel. Usianya hampir menginjak dua puluh tahun dan ia akan merayakan hari ulang tahunnya sekitar dua bulan lagi. Wajahnya sangat cantik, bertubuh mungil, hidung mancung, bibir tipis merah muda, surai panjang lurus berwarna coklat terang, dengan netra bermanik biru, sangat kontras dengan warna kulit putih susunya. Semua yang ada di tubuhnya terlihat begitu pas. Dan semakin menambah daya tarik Allea terhadap kaum pria.

"Ayolah! Terlalu banyak minum bisa membuatmu bodoh!" ujar gadis yang ada di samping Allea.

"Hmpt! Bodoh ya?" dengus Allea seraya mengela napas pendek.

Tiba-tiba saja Allea berteriak sambil melempar gelasnya. Gelas kaca yang beberapa menit lalu masih terisi penuh oleh tequila, dan dia sesap habis dalam sekali tegukan, sebelum membantingnya.

Praaang!! Pyaaar!!!

"Aaargh, sialan!!!" Berbagai umpatan langsung ke luar dari mulutnya.

"Aku membencimu. Sangat membencimu!" Bibir Allea kembali meracau seiring pecahan gelas kaca yang baru saja dia banting hancur berkeping-keping dan berhamburan di lantai.

Wajahnya terlihat memerah. Entah karena sedang menahan amarah atau karena gadis itu sedang mabuk karena sudah menghabiskan puluhan gelas tequila sejak dua jam lalu, saat dia mendatangi club malam tadi.

Allea adalah seorang mahasiswi semester empat di sebuah universitas ternama di dunia. Ya, ia adalah gadis yang cerdas dengan segudang prestasi di balik sikap urakan yang sering dia perlihatkan di hadapan banyak orang.

"Beri aku satu gelas lagi!" Allea kembali berteriak pada seorang bartender yang tengah meracik minuman di belakang meja bar.

"Allea, kau harus berhenti minum sekarang!" Sheira, gadis yang sedari awal bersama dengan Allea berusaha mencegah agar sahabatnya itu berhenti minum. Pasalnya, Allea sudah terlihat sangat mabuk dan mulai hilang keseimbangan.

"Sudah terlalu banyak minuman beralkohol yang kau teguk malam ini. Jarak rumah kita jauh dan aku tidak bisa menyetir. Siapa yang akan mengantarkan kita pulang jika kau tidak bisa mengendalikan dirimu?" Sheira memberi alasan yang tepat agar sahabatnya itu mau menuruti keinginannya.

Kemudian, ia menarik tangan Allea agar segera beranjak dan pergi meninggalkan club. Sementara jarum jam sudah menunjukan pukul satu dini hari, waktu yang terlalu larut untuk mereka berkeliaran di luar seperti ini. Seharusnya mereka sudah terlelap di atas kasur nyaman, seperti yang dilakukan anak-anak seusia mereka.

Namun lain halnya bagi kedua remaja ini, tidur awal bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Rumah hanyalah tempat persinggahan sesaat, atau kau akan mati kesepian karena terlalu lama berada di tempat itu. Allea adalah tipe gadis yang menyukai keramaian, tepatnya sejak dua tahun lalu.

"Berhenti mengurusi aku. Jangan menceramahi aku seperti yang dilakukan pria tua itu! Aku bosan mendengarnya!" Bukannya berhenti, Allea justru berteriak marah dan menyentak tangan Sheira yang tengah menarik lengannya hingga terlepas.

Sheira tak bisa berbuat banyak, ia hanya diam sambil kembali duduk di kursinya. Pikirannya mulai berkelana mencari cara untuk segera membawa pulang sahabat terbaiknya. Ia membayangkan banyak hal jika Allea sampai hilang kendali, bahkan pikiran-pikiran buruk pun mulai muncul untuk menghantui dan menakuti angan-angannya.

Namun, tak jauh dari tempat mereka duduk, terlihat seorang pria tampan yang sedang berjalan ke arah mereka. Rupanya tindakan Allea yang membanting gelas itu berhasil menarik perhatiannya.

"Permisi, Nona! Ada yang bisa saya bantu?" sapa pria itu sambil duduk di kursi sebelah Sheira.

Sheira yang terkejut saat mendengar suara itu langsung tersadar dari lamunannya.

"Emm ... tidak." balas Sheira dengan senyum yang dipaksakan.

"Hei ganteng, mau berjoget denganku?" Namun, jawaban berbeda ke luar dari mulut Allea yang sudah mabuk berat dan langsung menyela ucapan sahabatnya. Gadis itu menatap penuh minat ke arah pria muda yang terus mengamati wajahnya.

"Halo manis, dengan senang hati." Dengan segera pria muda itu mengulurkan tangan, menyambut hangat tawaran Allea. Gadis cantik yang sejak tadi memang menarik perhatiannya.

Selanjutnya Allea dan pria yang tidak mereka kenal itu segera turun ke bawah, tepatnya area dance floor yang disediakan oleh pihak diskotik. Meninggalkan Sheira duduk sendirian di depan meja bar. Di tengah kesadaran yang semakin menipis Allea terus berjoget, meloncat, menghentak-hentakkan kakinya berulang kali mengikuti alunan music dari DJ.

Sementara pria muda itu sekarang sudah terlihat puas. Gadis dalam pelukannya ini terus saja bergerak ke sana ke mari, sehingga dengan mudahnya tangan pemuda itu bisa memegang serta meraba bagian tubuh sexy Allea.

"Kau sudah sangat mabuk, sepertinya lebih baik kita duduk saja." Merasa lelah menopang berat badan Allea, akhirnya pria itu menyerah. Memilih mengakhiri sesi dance floor mereka berdua dan kembali ke tempat duduk semula.

"Hmm ...." Allea yang memang sudah di ambang batas kesadarannya hanya berguman pelan dan menuruti pria yang sedari tadi memeluk pinggangnya dengan erat.

"Kau yakin tidak memerlukan bantuanku, Nona?" Begitu sampai kembali di meja dan menempatkan Allea duduk di tempat semula, pria itu kembali bertanya pada Sheira.

"Tidak, sepertinya semua baik-baik saja. Aku tidak mabuk dan tidak minum alkohol sama sekali malam ini. Jadi aku bisa membawanya pulang." sahut Sheira menjawab pertanyaan pemuda tersebut.

Pria itu lantas menoleh ke arah Allea yang kini sudah terlihat mabuk berat dengan posisi duduk dan tertidur dengan kepala dan tangan berada di atas meja.

"Kau yakin itu baik-baik saja, Nona?" Pria itu bertanya sambil tersenyum manis.

"Emm .... emm ...." Sheira tampak gugup untuk menjawab pertanyaan itu, karena ia merasa malu sekaligus bingung dengan keadaan yang sedang ia hadapi.

Seperti memahami perasaan Sheira, pria itu langsung bangkit dan berjalan ke arah Allea. Tanpa basa-basi, ia langsung mengangkat tubuh gadis itu.

"Ayo, aku akan mengantar kalian pulang!" ucap pria itu sambil tetap memperlihatkan senyuman manisnya.

Sejujurnya, Sheira merasa senang dengan apa yang akan dilakukan pria itu. Namun, ia juga khawatir jika pria tersebut bermaksud jahat kepada dirinya dan Allea. Tapi, situasi dan kondisi saat ini memaksa ia untuk melupakan semua itu dan berharap segera keluar dari tempat ini, sekarang juga.

"B-baiklah, ikuti aku!" Sheira berkata pelan sambil berjalan mendahului pria yang sedang menggendong Allea. Tanpa perlu menjawab, pria itu lantas mengikuti langkah Sheira menuju ke arah mobil Allea yang sedang terparkir rapi di tempat khusus parkir.

Sesampainya di sana, Sheira langsung membuka pintu dan pria itu dengan cepat menidurkan Allea di kursi belakang. Setelah melihat sahabatnya dalam posisi aman, Sheira lantas menutup dan mengunci pintunya. Kemudian giliran dia yang duduk di kursi depan bersama sang pria baik hati yang akan menjadi sopir mobil itu dengan sukarela.

"Sudah, terima kasih ya!" ucap Sheira pelan sambil menatap lembut ke arah pria itu.

"Tak masalah, aku sengaja ingin membantumu saat mendengar kau tak bisa menyetir. Aku pernah berada di posisimu, jadi sangat mengerti apa yang kau rasakan," balas pria itu sambil menghidupkan mesin mobilnya.

"Terima kasih. Tapi maaf, aku tak bisa membalas kebaikanmu," sahut Sheira dengan nada sedikit kecewa.

Mendengar ucapan Sheira barusan, Pria itu pun langsung tertawa seiring dengan laju mobil yang mulai memasuki jalan raya. Jalanan sepi membuat mobil bisa melaju dengan lancar tanpa hambatan, tapi pria itu sengaja melajukan mobilnya hanya di kecepatan empat puluh kilometer per jam.

"Jangan khawatir! Aku sudah membantumu dan kau harus membantuku, itu saja sudah cukup," ujar sang pria sambil membuka resleting celananya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya fokus memegang stir. Pria itu tidak bisa lagi menahan syahwatnya setelah bergumul dengan Allea di dance floor beberapa saat lalu.

Sheira yang sudah paham dengan kode itu langsung melakukan tindakan yang seharusnya ia lakukan. Sebagai gadis yang hidup di zaman modern dan terbiasa dengan kehidupan malam, ia paham betul cara membalas budi dengan cara ini. Dalam sekejab, Sheira bermetamorfosis menjadi gadis liar.

"Ohhh shit ...." Bahkan saat ini ia pun terlihat sangat menikmati kegiatannya, hingga tak terasa mobil yang mereka bertiga tumpangi sudah sampai di tempat tujuan, seiring lenguhan keras dari mulut sang pria. Yaitu apartemennya.

**

Sementara di dalam diskotik, tepatnya dua meja dari tempat Allea dan sahabatnya duduk, serta baru saja mereka tinggalkan, terlihat seorang pria lain tengah mengepalkan kedua tangannya erat. Rahangnya pun ikut mengeras, tatkala melihat kepergian mereka bertiga. Pria yang sedari tadi mengawasi dan memperhatikan Allea, Sheira, serta pria yang bersikap sok pahlawan itu, tanpa mereka sadari.

Sorot mata tajam dan penuh kebencian, ditujukan untuk sang pria yang tengah menggendong Allea. Bak pedang yang siap menghunus jantung lawan hingga terkapar.

"Terus awasi ke mana mereka pergi. Bawa pria itu ke hadapanku, setelah dia mengantarkan dua gadis itu!" titahnya kemudian pada seorang pria lain yang sedari tadi duduk di sampingnya.

"Hajar dia sesukamu, tapi jangan biarkan dia mati. Dia harus merasakan siksaan pedih berkepanjangan karena telah berani berurusan denganku!" Begitu arogan, pria itu mengucapkan perintah untuk menyiksa seseorang tanpa ada rasa berdosa sedikitpun di wajahnya.

Bersambung...

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pernikahan Kontrak Sang Mafia

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Tak Punya Siapapun Lagi
8.3
Menghadapi sisa hidup tiga hari akibat gagal hati akut, seorang istri harus menelan pil pahit saat suaminya, David, memberikan kuota pengobatan terakhir kepada adik angkatnya, Emma. Dianggap lebih pantas hidup, ia pun dipaksa mengalah. Demi menutupi ajal yang mendekat, ia menandatangani surat cerai, menyerahkan perusahaan perhiasan, bahkan membiarkan putrinya memanggil Emma sebagai ibu. Di balik pujian keluarga yang menganggapnya kakak yang baik, sebuah misteri kematian yang tragis siap mengejutkan mereka semua.
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Nada menyadari bahwa menjerat Ivander ke dalam pernikahan paksa adalah langkah yang keliru. Namun, baginya ini satu-satunya jalan untuk tetap berada di sisi pria yang hidupnya pernah ia hancurkan. Didorong rasa bersalah yang mendalam, Nada bertekad menebus dosa masa lalunya melalui pengabdian ini. Akankah segala pengorbanan Nada mampu mencairkan kebencian di hati Ivander, ataukah usahanya untuk mendapatkan maaf justru akan berakhir sia-sia?
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama, seorang yatim piatu, terpaksa menjalani hidup sebagai istri kedua dari pengusaha sukses bernama Raga Dirgantara. Terjebak oleh beban hutang budi di masa lalu, Kayla tidak memiliki pilihan selain menerima nasibnya yang pahit. Kehadirannya dalam pernikahan itu hanyalah demi memberikan keturunan bagi sang miliarder. Ia harus berjuang menghadapi kenyataan bahwa dirinya cuma dianggap sebagai alat tanpa memiliki posisi yang sesungguhnya.
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin
8.7
Amber Lim, sosialita cantik dengan reputasi buruk sebagai perusak hubungan, memutuskan untuk bertobat. Demi berguru pada desainer legendaris Adam Smith, ia nekat menembus musim dingin utara yang mematikan. Namun, Amber dirampok dan terdampar di hutan beku. Satu-satunya harapan hidupnya adalah pria misterius bernama Tuan Dingin. Duda yang membenci wanita ini dicap kanibal oleh warga sekitar. Akankah Amber mampu meluluhkan hatinya atau justru menjadi korban kebencian sang pria?
Sampul Novel My Bad Boss
8.6
Xavier Narendra Maximilian pernah bersumpah takkan menikah karena menganggap wanita hanya teman tidur. Namun, prinsip itu goyah sejak ia bertemu sekretarisnya, Adeeva Adelia Albert, yang sama sekali tidak tertarik menggodanya. Xavier merasa pertemuan ini adalah anugerah terindah, sementara Adeeva sempat menganggap Xavier sebagai hal terburuk dalam hidupnya. Kini, kebencian itu berubah menjadi hari-hari penuh keindahan bagi mereka berdua.
Sampul Novel Perceraian Aku dan Kakak Kembarku
9.0
Menikah dengan saudara kembar terpandang, Leo sang hakim dan Sam sang dokter bedah, tidak membawa kebahagiaan bagi sepasang kakak beradik kembar ini. Saat diculik perampok hingga kehilangan bayinya, sang istri diabaikan oleh Sam yang sibuk menemani wanita lain bernama Annie. Ketika sang kakak datang menyelamatkannya dari maut, suaminya, Leo, juga menolak membantu dengan alasan serupa. Setelah bertahan hidup dari badai salju yang ekstrem, kedua saudara ini sepakat untuk menggugat cerai suami mereka.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan